
Lima buah mobil telah berjajar rapi di halaman rumah Rama-Ellana. Setelah semua berkumpul, kini tiba saatnya bagi mereka untuk bersegera berangkat ke kediaman Rumana, yang tak lain adalah calon pengantin yang akan dipersunting oleh Fakhru. Setelah semua bersiap di posisi masing-masing, mobil-mobil itupun mulai bergerak perlahan meninggalkan kediaman Rama-Ellana.
Membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk dapat tiba di kediaman Rumana. Meski sedikit jauh, namun sama sekali tidak menyurutkan semangat mereka untuk melewati hari ini dengan penuh kebahagiaan. Rasa bahagia, karena salah seorang putra dari Rama-Ellana akan melepas masa lajangnya.
Beberapa kotak seserahan telah siap memenuhi bagasi-bagasi mobil. Sebagai salah satu adat yang memang harus dipersiapkan dan sebagai bentuk pengistimewaan teruntuk calon mempelai wanita.
Anak-anak sinar matahari yang menelusup di sela pohon-pohon pinus yang menjulang tinggi dan dipenuhi oleh sisa-sisa evaporasi di kanan-kiri jalan seakan kian menyisakan kesan suasana dramatis. Suasana yang akan menemani laju kendaraan roda empat yang beriring-iringan itu hingga tiba di kediaman Rumana.
"Nak, kita hampir tiba di rumah Rumana, tapi mengapa kamu masih terlihat begitu gelisah seperti ini?"
Ellana yang duduk di bangku belakang, sesekali melirik raut wajah sang putra melalui spion. Wanita yang telah memasuki usia paruh baya itu masih saja kebingungan karena sedari tadi, wajah sang putra terlihat begitu muram. Di tambah dengan kaca mobil di sisi Fakhru yang sengaja ia buka lebar-lebar seakan semakin menegaskan jika ia didera oleh rasa sesak di dada dan ingin meraup udara banyak-banyak untuk mengusir segala sesak itu.
Senyum manis itu terbit di bibir Fakhru. Hingga membentuk dua cekungan di tulang pipi dan menampilkan gigi gingsul pemuda itu. "Mama bicara apa? Fakhru baik-baik saja Ma. Apakah raut penuh kebahagiaan di wajah Fakhru ini tidak terlihat di depan mata Mama?"
Sesekali pemuda itu terdengar tergelak lirih. Entah memang tergelak atau hanya sekedar berupaya untuk menyembunyikan segala kekalutan yang ia rasakan. Meski pemuda itu berupaya untuk menutupi segala kekalutan hatinya, namun entah mengapa di mata Ellana, sinyal kegetiran masih saja nampak jelas di wajah sang putra.
Ellana mengusap bahu sang putra dengan penuh kelembutan. "Nak, hampir sembilan bulan kamu berada di dalam perut Mama. Dan di saat saudara-saudara kembarmu memilih untuk menggapai cita-cita mereka dengan cara berada jauh dari Mama, kamu tetap berada di sisi Mama. Begitu dekatnya Mama dan juga kamu apakah masih membuatmu berpikir bahwa Mama tidak merasakan sesuatu yang saat ini tengah kamu rasakan?"
Fakhru masih bergeming, tak mengeluarkan sepatah katapun. Kedua bola mata yang dengan manik mata berwarna cokelat itu masih menatap ke arah depan dengan tatapan menerawang. Entah, apa yang sedang bermain-main di dalam pikirannya yang membuat pemuda tampan itu seakan kehilangan separuh kesadarannya.
Ellana menggeser telapak tangannya untuk bisa meraih jemari sang putra yang terasa begitu dingin. Ia genggam jemari itu dengan erat. Memberi sebuah isyarat bahwa ia akan selalu ada di sisi sang putra. "Ayo Nak, katakan! Apa yang sebenarnya mengganggu pikiranmu?"
Netra Fakhru yang sebelumnya tertaut pada suasana ruas jalan yang berada di hadapannya, kini ia geser untuk menatap wajah sang mama. Lagi-lagi pemuda itu hanya mengulas sedikit senyumnya dan berupaya menghela nafas dalam-dalam. "Fakhru hanya takut Ma, takut jika yang sudah-sudah akan kembali terulang. Fakhru takut jika akan mempermalukan keluarga papa dan Mama lagi."
Ellana sedikit melirik ke arah sang suami yang saat ini fokus dengan kemudinya. Seakan mengerti dengan makna yang tersirat di balik lirikan mata sang istri, Rama pun sesekali turut menatap wajah sang putra dengan intens.
"Nak, perbanyaklah beristighfar. Barangkali yang kamu rasakan itu salah satu cara setan untuk menggoyahkan benteng hatimu. Ingat Nak, setan tidak pernah berbahagia tatkala melihat manusia melangsungkan acara sakral seperti yang akan kamu laksanakan nanti. Bisa jadi kerisauan hati yang kamu rasakan saat ini merupakan salah satu tipu dayanya."
__ADS_1
Rama berupaya untuk kembali menarik tubuh Fakhru yang nampaknya sudah tenggelam ke dalam bayang masa lalu yang pernah menghampiri hidupnya. Dan mungkin saat ini, bayang-bayang itu kembali hadir menyapanya. Wajar jika sang putra merasakan sebuah ketakutan. Namun, yang bisa Rama lakukan hanyalah memberikan dukungan moril agar sang putra tidak lagi tenggelam di dalam ketakutan itu.
"T-tapi Fakhru takut jika saat ini akan terulang kembali dan membuat Papa dan Mama malu. Sungguh, Fakhru tidak bisa jika harus mempermalukan keluarga besar kita lagi."
Rama menyunggingkan senyumnya. "Nak, Papa, Mama dan seluruh keluarga besar kita tidak pernah sedikitpun merasa malu akan apa yang pernah terjadi terhadapmu. Itu semua karena kita sebagai manusia hanya bisa berencana sedangkan Allah yang menentukan. Jadi sedikitpun jangan pernah kamu merasa bahwa kamu telah mempermalukan Papa dan juga mama."
"Lalu bagaimana dengan para tetangga yang bergunjing di belakang Papa dan mama? Apakah itu semua tidak membuat risih?"
Rama tergelak lirih mendengar ucapan sang putra. Ternyata, putranya ini masih sibuk memikirkan apa kata tetangga. "Nak, kita melakukan sesuatu yang baik dan yang buruk pasti akan selalu mendapatkan gunjingan orang-orang. Dan seperti yang selalu Papa tanamkan kepadamu sejak dulu, bahwa kita tidak akan mungkin bisa membungkam mulut-mulut orang yang bergunjing tentang kita. Yang bisa kita lakukan hanyalah menutup telinga kita. Itu bisa berarti, jangan terlalu fokus dengan gunjingan orang yang merendahkan kita. Fokuslah hanya pada orang-orang yang berupaya untuk membuat kita jauh lebih baik lagi."
Mendengar kata demi kata yang terlisan dari bibir sang Papa, membuat hati Fakhru sedikit lapang. Ia yang sebelumnya dipenuhi oleh kekalutan, kini mulai memudar dan terganti dengan hati yang semakin ikhlas.
"Terima kasih, Pa, Ma. Terima kasih karena Papa dan juga Mama selalu ada untuk menguatkan Fakhru."
Rama dan Ellana sama-sama menganggukkan kepala. Senyum sumringah juga menghiasi bibir sepasang suami istri itu. "Sama-sama, Nak!"
🍁🍁🍁🍁🍁
Sebuah meja berukuran sedang dan enam buah kursi tiffany bewarna putih telah tertata rapi di depan panggung pelaminan yang sudah di hias begitu cantik. Fakhru duduk berhadapan dengan Ridwan yang tak lain adalah ayah dari Rumana yang akan menjadi wali nikah. Sedangkan di sisi Fakhru, telah duduk Rama, Juna, dan Fakhri yang akan menjadi wali dan saksi dari pihak laki-laki.
Keringat dingin pemuda itu, mulai merembes melalui pori-pori kulit. Hati yang sebelumnya mulai tenang, kini kembali didera oleh rasa takut yang luar biasa. Pemuda tampan nan rupawan itu menghela nafas dalam dan ia hembuskan perlahan.
Astaghfirullahalazim... Astaghfirullahalazim... Astaghfirullahalazim...
Berkali-kali Fakhru beristighfar di dalam hati. Berharap agar Allah membuang seluruh kerisauan hati yang kembali merajai. Jika apa yang ia rasakan adalah salah satu tipu daya setan, maka tidak ada tempat untuknya berlindung selain meminta perlindungan dari Allah SWT.
"Mas Fakhru, apakah sudah siap?"
Ucapan bapak penghulu sukses membuyarkan lamunan Fakhru. Pemuda itu mengangguk samar. "Iya Pak. Saya sudah siap."
__ADS_1
"Baiklah pak Ridwan dan mas Fakhru silakan berjabat tangan. Akan kita langsungkan prosesi akad nikah ini."
Ridwan dan Fakhru saling berjabat tangan.
"Saudara Fakhru Miftahul Haq!"
"Saya!"
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri kandung saya Rumana Eka Saputri binti Ridwan Aji Saputra dengan mas kawin seperangkat alat shalat dibayar tunai!"
"Saya..... "
"Bapak!"
Suara teriakan wanita paruh baya yang tiba-tiba terdengar di tempat ini, sukses memangkas kalimat qabul yang akan diucapkan oleh Fakhru. Orang-orang yang duduk mengelilingi meja akad itupun sama-sama menautkan pandangan mereka ke arah sumber suara.
Ridwan bangkit dari posisi duduknya. "Ada apa Bu?"
"Rumana, Pak, Rumana!"
Ridwan sedikit terkesiap. "Ada apa dengan Rumana, Bu? Coba ibu berbicara yang benar!"
"Rumana kabur Pak! Dia kabur dari kamar!"
Ucapan wanita paruh baya ini seakan menjadi
suara petir di siang hari yang terdengar di indera pendengaran Fakhru. Hatinya kembali patah. Tubuhnya seketika melemas dan ia pun hanya bisa menundukkan kepalanya. Tanpa terasa bulir-bulir bening dari pelupuk matanya berjatuhan tanpa permisi. Hari ini, untuk ketiga kalinya pemuda itu gagal untuk menikah.
.
__ADS_1
.
🍁🍁🍁🍁🍁