
"MashaAllah .... cucu Kakek benar-benar terlihat tampan dan gagah!"
Suasana kediaman Rama dan Ellana terasa begitu ramai dengan berkumpulnya seluruh keluarga besar di pagi hari ini. Keluarga Juna-Widya, keluarga Arsyad-Arumi, keluarga Alan-Nana, keluarga Hanan-Lintang, keluarga Yudha-Yuni, dan keluarga Agum-Sarah.
Fakhru yang sudah siap dengan pakaian beskap berwarna putih itu hanya bisa tersenyum simpul tatkala mendengar sang kakek memuji dirinya. "Kakek Juna juga sama, sama nampak tampan dan gagah."
Arjuna Rahmanu Wijaya, lelaki yang telah memasuki usia senja itu nampak begitu sumringah karena Allah masih memberikan kesempatan kepadanya untuk bisa menyaksikan secara langsung prosesi akad nikah yang sebentar lagi akan dilaksanakan oleh sang cucu.
Entah sudah berapa kali Arjuna ikut menyaksikan salah satu fase kehidupan seperti ini, namun ia teramat bersyukur karena masih diberikan umur panjang dan kesehatan.
Satu per satu semua orang yang berada di sekelilingnya telah mendapatkan jodoh mereka masing-masing.
Raina dan Raisa telah mendapatkan seseorang suami yang sama-sama berprofesi sebagai dokter di salah satu rumah sakit di Jogja. Raina dikaruniai tiga orang anak laki-laki, sedangkan Raisa dikaruniai dua anak perempuan.
Farhana, salah satu saudara kembar Fakhru. Selepas menyelesaikan pendidikannya sebagai perawat, ia bekerja di salah satu rumah sakit di Surabaya. Menetap lama di sana, saudara kembar Fakhru itu menemukan jodohnya pula di kota itu. Satu tahun yang lalu ia menikah dan kini sedang mengandung janin berusia enam bulan.
Fakhri, yang juga merupakan salah satu saudara kembar Fakhru, saat ini ia menjadi seorang dokter muda di salah satu rumah sakit di Bandung. Dokter umum yang juga sudah menikah dengan seorang gadis yang berasal dari kota kembang dan kini sang istri juga tengah hamil tiga bulan.
Sedangkan Fakhru, diantara ketiga anak Rama-Ellana, dia sendiri lah yang masih berstatus lajang. Ada banyak lika-liku hidup yang ia jalani terlebih perihal jodoh. Selepas menyelesaikan pendidikan di fakultas isipol jurusan ilmu komunikasi, ia justru banting setir untuk mengurus bisnis kafe yang didirikan oleh sang papa. Dan Fakhru lah yang saat ini menjadi satu-satunya harapan Rama untuk melanjutkan bisnis yang ia rintis sejak dulu.
"Waaaaa... Akhirnya sebentar lagi Fakhru melepas masa lajangnya! Aku turut berbahagia, Ru!"
Killa, putri pasangan Alan dan Nana nampak begitu heboh dengan pernikahan saudara sepupunya ini. Karena diantara dia, Fira, Fakhri dan Farhana hanya Fakhru lah yang belum menikah. Jadi hari ini ia teramat berbahagia dengan akad nikah yang sebentar lagi akan dilangsungkan di kediaman sang mempelai wanita.
Fakhru tersenyum simpul. "Terimakasih La. Aku rasa kamu jangan terlalu banyak tingkah. Ingat, kamu sedang hamil juga bukan?"
"Ckckckck hamil bukan alasan bagiku untuk tidak lincah Ru. Lihatlah, meski sedang hamil, aku masih bertenaga!"
Fakhru hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Karena sampai saat ini, Killa tetaplah Killa. Putri pasangan Alan-Nana yang memiliki kelakuan sedikit.... hmmmm seperti itulah.
"Percuma kamu ngasih tahu Killa, Ru. Dia akan tetap seperti itu. Tidak pernah bisa diam orangnya!" timpal Fira yang tak lain adalah saudara kembar Killa.
__ADS_1
"Issshh, issshh, issshh... Tapi Kakak jangan salah. Karena ada aku yang membuat suasana semakin hidup. Daripada diam-diam melulu seperti kuburan!"
Fira dan Killa... Sepasang anak kembar yang saat ini juga telah memiliki pendamping hidup masing-masing. Keduanya sama-sama mendapatkan pasangan hidup seorang dosen muda di salah satu universitas terkemuka di Jogja. Entah bagaimana sang penulis cerita ini menggoreskan tinta takdir untuk mereka. Karena saat ini, semua saudara-saudara Fakhru tengah hamil dalam waktu yang sama. 😆
"Bun, kalau melihat acara seperti ini, jadi teringat masa-masa kita muda dulu ya. Rasa-rasanya jadi ingin mengulang lagi."
Widya, yang duduk di samping sang suami hanya bisa mencebik. "Kamu bicara apa sih Mas? Ingin mengulang akad nikah lagi begitu kah?"
"Ya, kalau bisa sih ingin seperti itu Bun!"
Buru-buru Widya mencubit pinggang Juna dengan gemas. Meski usianya sudah senja bahkan sudah bau tanah, namun lelaki ini tidak pernah berubah. Tidak pernah hilang selera humor yang ia punya.
"Mau menikah dengan siapa kamu Mas?"
"Ya, kalau bisa dengan daun muda Bun!"
"Tidak ingat umur kamu Mas? Sudah tua tapi masih ingin menikahi daun muda?"
Ucapan Rama sukses membuat Widya mengalihkan pandangannya ke arah sang putra. "Benarkah seperti itu Nak? Memang siapa yang mau dinikahi oleh ayah kamu ini?"
Rama tergelak. "Banyak Bunda. Kak Novi Aryani sama kak Ahmad Affa, mau jadi istri kedua ayah Juna."
Widya yang juga telah memasuki usia senja itu hanya bisa mencebik. Rupa-rupanya, pesona sang suami tidak luntur sama sekali meski ia sudah menjadi aki-aki.
Juna terkekeh geli melihat ekspresi wajah sang istri. Ia tarik lengan tangan pendamping hidupnya itu untuk ia bawa ke dalam pelukannya. "Cup, cup, cup... Jangan cemberut seperti ini Bunda. Meski pesona ketampanan suamimu ini tidak luntur bahkan masih menjadi idola para pembaca novel mbak Rasti, namun percayalah bahwa hati ini hanya untuk Bunda seorang. Tidak mungkin terbagi lagi!"
Tidak sedikitpun merasa malu, Juna menghujani pucuk kepala Widya dengan kecupan-kecupan intens. Dari sorot mata lelaki berusia senja itu masih nampak jelas binar-binar cinta yang membuncah untuk sang istri. Itulah yang membuat Widya selalu berbahagia menjalani kehidupannya sebagai istri dari Arjuna Rahmanu Wijaya. Dan mungkin karena hal itulah yang membuatnya awet muda.
"Sudah, sudah. Kalau pak Juna sudah masuk scene cerita, bisa-bisa semua yang ada di ruangan ini dan yang membaca part ini hanya gigit jari. Tidak ada yang bisa mengalahkan keromantisan pak Juna terhadap sang istri."
Ucapan Arsyad yang tidak lain adalah sang besan sukses membuat orang-orang yang berada di ruangan ini tergelak seketika. Memang banyak benarnya yang dikatakan oleh Arsyad. Sampai saat ini, keromantisan Juna-Widya tidak luntur sama sekali.
"Hahahaha, kalau mbak Rasti mengadakan acara penghargaan 'Lelaki sweet awards', mungkin saya yang jadi pemenangnya ya Pak!"
__ADS_1
"Hahhaha bisa jadi itu pak Jun!"
Suasana penuh kebahagiaan nampak jelas di kediaman Rama-Ellana ini. Meski nampak begitu bahagia, namun sang calon mempelai pria justru menampakkan raut wajah yang dipenuhi oleh kekalutan.
"Nak, ada apa denganmu? Hari ini hari bahagiamu namun mengapa wajahmu nampak begitu murung?"
Dengan lembut, Ellana mengusap lengan tangan Fakhru. Sebagai seorang ibu, ia paham betul jika saat ini sang putra tengah dilanda oleh kekalutan.
Fakhru menggeleng samar. "Tidak apa-apa Ma. Fakhru baik-baik saja."
"Jangan gugup Bang. InshaAllah semua akan berjalan lancar," timpal Fakhri yang sedikit menangkap sinyal keresahan dari raut wajah saudara kembarnya ini.
"Iya Bang. Selalu berprasangka baik kepada Allah. Niscaya, hati Abang akan selalu tenang." Farhana juga ikut memberikan semangat untuk saudara kembarnya ini.
Fakhru hanya mengangguk pelan. "Doakan semua lancar ya Dek."
"Iya Bang. Doa terbaik akan senantiasa teruntai untuk bang Fakhru."
Fakhru mengedarkan pandangan matanya ke arah luar jendela. Sorot matanya terlihat kosong dan menerawang.
Allah, jauhkan aku dari segala pikiran-pikiran buruk seperti ini. Meski aku mencoba untuk membuang jauh segala keresahan hati ini namun entah mengapa aku merasa kejadian yang telah lalu akan terulang kembali. Astaghfirullahal 'adziim... Besarkan hatiku untuk bisa menerima semua ketetapan dariMu ya Rabb...
.
.
🍁🍁🍁🍁🍁
Satu part khusus untuk keluarga besar Arjuna Rahmanu Wijaya... Hihihihi hihihihi😆😆 Semoga bisa sedikit mengobati kerinduan kakak-kakak semua ya.. 🥰🥰
Terimakasih banyak untuk kakak-kakak yang masih setia menemani perjalanan author remahan kulit kuaci ini... Sungguh, tanpa kakak-kakak semua, saya bukanlah siapa-siapa.... Semoga semua bentuk dukungan yang Kakak berikan mendapatkan ganti yang berlipat dari Allah SWT.. Banyak cinta untuk kakak-kakak semua.. 😘
__ADS_1