
Tidak terasa Dua minggu berlalu begitu saja, Kini Hari yang di nantikan telah tiba yaitu Pernikahan Daren dan Sheela.
Keluarga dari kedua belah pihak calon mempelai sedang sibuk mempersiapkan diri karena malam ini akan di laksanakan acara resepsi pernikahan anak mereka di Hotel berbintang tepat pukul 07.00 malam.
Setelah melalui suatu proses yaitu Pemberkatan nikah kemarin hari.
yaitu peristiwa sakral dan sangat penting bagi calon mempelai sebagai momen persatuan menjadi suami isteri di dalam Tuhan dan langkah awal memasuki kehidupan keluarga yang bahagia.
Sejak pagi keluarga Daren dan Sheela sudah berkumpul di hotel beserta kerabat dekat mereka, terutama keluarga dari Tuan Hardi dari Kota B.
Kini Sheela sudah berada di dalam ruang Suit Room bersama dengan Salon yang merias dirinya yaitu patner dari Ibu Anne yang merancang Gaun Pengantin Sheela.
Sasa sahabatnya selalu setia menemani dirinya saat ini dan selalu memberi semangat buat Sahabatnya, kini Ia menunggu Sheela di sofa ruang tamu.
1 jam kemudian Sheela pun keluar dari kamar menuju ruang tamu tempat Sasa berada.
"Hari ini kamu terlihat sangat cantik Sheel.."
Puji Sasa pangling melihat riasan Sheela.
"Gue memang cantikkan dari sononya.!"
puji Sheela pada dirinya namun hanya sekedar menghilangkan kegugupannya saat ini.
"Iya dech loe memang sudah cantik semenjak gue kenal sama loe."
"Ha.ha.ha.."
tawa mereka berdua....
"Pokoknya Loe harus bahagia Sheel..."
ucap Rara saat memegang tangan Sheela,.
"Makasi Sa,
Lu memang sahabat gue yang terbaik di dunia.."
puji Sheela sembari mengelus pundak sahabatnya.
Kini tawa mereka berubah menjadi rasa yang terharu.
Sheela dan Sasa tidak menyadari jika Dira berada di belakang mereka saat ini.
"Hmmm...."
dehem Dira mengagetkan mereka..
"Eh Dira.."
sapa Sheela pada Dira karena memang mereka seumuran hanya beda bulan,
Sasa nampak bengong
"Sa kenalin ini adik iparku.!
Namanya Dira,
dan
Ini sahabatku Rara"
Ucapnya tanpa jeda pada Rara dan Dira.
Saat keduanya sudah berkenalan,
Kini Dira menyuruh Sheela untuk bersiap2 karena acara akan segera berlangsung.
"Apa kamu sudah siap.."
tanya Dira.
"Iya..."
__ADS_1
jawab Sheela sambil mengelus dadanya
karena sedikit gugup.
"Ayo...!"
Ajak Dira kemudian mengikuti Sheela dari arah belakang bersama dengan Sasa untuk mengangkat gaun Sheela yang lumayan panjang.
Dalam waktu bersamaan, Daren saat ini berada di kamar sebelah, yang sedang gelisah, perasaannya kali ini campur aduk sekaligus bahagia.
Seperti yang di alami kebanyakan orang dalam menghadapi sebuah pernikahan.
Ketiga sahabatnya pun sudah berada di kamar bersama Daren.
Revan, dan Romi duduk di sofa kamar sedangkan Riko duduk di samping Daren di atas kasur tempat tidur.
"Wajah Loe tegang amat sech Ren...
Kenapa dengan dirimu."
Ujar Riko saat melihat wajah Daren yang tegang..
Padahal Daren sudah berusaha menutupi rasa tegangnya namun di wajahnya terlihat tidak seperti biasanya.
"Lu harusnya bahagia bro. Bukan tegang begini."
ledek Revan dan mereka bertiga terkekeh dengan sepuasnya mengerjai Daren.
"Hei,
Brengsek Lu pada....!
pekik Darren.
"Apakah nampak jelas di wajahku...?"
tanyanya.
"Ya...."
Kami tidak menyangka seorang Ceo yang dingin dan di segani di mana2, bisa setegang ini menghadapai pernikahannya.
"Ha.ha.ha.."
tertawa puas karena sudah berhasil kerjain Daren.
"Loe pada belum merasakan apa yang gue alami sekarang.
Gue tunggu giliran kalian..!"
sindir Daren..
Ketiga sahabatnya memang masih singgle, Daren berharap mereka bertiga juga akan segera mengikuti jejaknya ke jenjang pernikahan.
"Iya dech.
kami ngalah demi sang calon pengantin.!"
Ujar Revan.
"Semoga Lu bahagia bro.."
ucap Riko...
Dan segera berikan kami jagoan kecil...
Ha.ha.ha
timpal Romi.
"Nah gitu dong.
Biar gue lebih semangat.!
__ADS_1
Tapi jujur gue merasa terhibur karena kedatangan kalian hari ini.
ThankS bro...."
Ucap Daren
Dari luar Sek.Haris mengetuk pintu..
Tok.tok.tok
"Tuan Muda di persilahkan ke gedung utama, karena sebentar lagi acaranya akan di mulai."
ucap Sek.Haris
Daren kini melangkahkan kakinya masuk ke pintu Ballroom hotel yang desainnya cukup mewah dan di hiasi
dengan dekorasi yang romantis dan sangat elegan.
Nyonya Shita tak tanggung2 mengeluarkan bajet yang sangat fantastis buat pernikahan sang putra.
Hotel yang mereka tempati sekarang ini adalah milik keluarga Tuan Vincent, jadi semua keluarga dari kedua belah pihak mempelai di beri waktu seminggu untuk nginap di hotel mewah ini.
Kini Daren sudah berada di depan Altar pernikahan menunggu kehadiran Sheela yang sudah resmi menjadi isterinya secara agama.
Kini Sheela juga sudah berjalan memasuki ballroom di temani sang ayah tercintanya sambil menggandeng tangannya putrinya.
Semua mata tertuju pada pengantin wanita karena masih banyak yang belum mengenal dirinya, terutama dari kerabat serta rekan kerja dari keluarga Tuan Vincent.
Namun banyak wanita yang patah hati dan merasa iri terhadap Sheela karena bisa menikah dengan seorang Daren yang sangat tampan dan keren menurut mereka.
Sheela terlihat sangat cantik malam ini, Ia mengenakan gaun berwarna putih yang sangat elegan bak princes.
Kaum Adam tentunya sangat iri terhadap Daren.
Karena memiliki isteri yang sangat cantik.
Kini Tuan Hardi menyerahkan tangan putrinya kepada Daren.
Raut wajahnya menandakan rasa bahagia bercampur sedih,
Karena melepas sang putri di hari pernikahannya.
Ya, hampir semua orang tua merasakan hal yang sama terutama sebagai seorang Ayah, yang merasa putrinya masih seperti gadis kecil di matanya.
Kemudian Daren mengambil alih sang mertua untuk menggandeng tangan Sheela ke altar pernikahan mereka.
Saat berjalan di samping Daren, jantung Sheela berdegup kencang dan merasa gugup.
"Kenapa raut wajahmu setegang ini....?"
ujar Daren sambil mengeratkan tangan Sheela ke gandengan lengannya.
Mereka berjalan sambil diringi musik yang mellow.
Sheela hanya terdiam, tidak menanggapi ucapan Daren.
Karena rasa haru bercampur tegang menyelimuti dirinya.
"Siapa coba yang ngga tegang, dalam keadaan seperti ini."
ucap Sheela dalam hati.
Tiba di altar, mereka duduk berdampingan di kursi pelaminan bak seorang Raja dan Ratu, yang kini di apit oleh kedua orang tua mereka masing2.
Senyum bahagia terpancar dari kedua orang tua mempelai saat satu persatu kerabat dan rekan kerja memberi ucapan selamat ke pada mereka.
Begitu pun dengan Daren dan Sheela, senyum selalu menghiasi raut wajah mereka entah karena bahagia atau sekedar menghargai tamu2 yang silih berganti memberi ucapan selamat.
Tidak terasa jam berlalu begitu saja, kini ballroom nampak sepi dari tamu2 undangan.
"Akhirnya selesai juga.."
ucap Sheela sambil berjalan meninggalkan tempat duduknya menuju
__ADS_1
kamar untuk beristirahat.
Sedangkan Daren entah kemana batang hidungnya pun tidak nampak sejak turun dari altar untuk menyambangi klien dan rekan kerjanya saat pesta berlangsung hingga acara selesai.