Calon Istri Yang Manja

Calon Istri Yang Manja
Bab 85


__ADS_3

"Sayang..!"


pangil Darren tiba2 memecahkan suasana.


Sheela terdiam sejenak tanpa merespon ucapan Darren dan masih memunggunginya.


"Hari ini papi akan kembali ke Jakarta bersama pak Budi.!"


Sheela terperangah mendengar ucapan suaminya.


Lalu perlahan membalikkan tubuhnya menghadap Darren, tanpa mengucapkan satu kata pun.


Namun sorotan matanya begitu tajam seakan menguliti wajah Darren.


Darren pun terdiam sejenak dan berusaha untuk tenang serta membuat suasana menjadi tidak tegang dan panas.


"Begini say..."


"Pergilah..!"


pekik Sheela tiba2 memotong ucapan Darren.


Lalu segera bangkit dari kasur menuju pintu keluar.


"Sayang.!"


panggil Darren sambil berlari pelan kearah pintu, dan meraih lengan Sheela yang hendak memutar gagang pintu.


"Dengar dulu penjelasan papi.!"


ucap Darren menarik nafasnya dalam2 lalu menghempaskannya dengan perlahan.


"Penjelasan apa lagil coba.!"


ucap Sheela ketus.


Dipikirannya, Darren itu mau ke Jakarta karena lebih mementingkan kerjaan dari pada dirinya dan buah hati mereka.


"Prusahaan pa...."


ucap Darren terputus.


Lagi lagi ucapan Darren terputus karena Sheela menepis tangan Darren dari lengannya dan segera membuka pintu dan meninggalkan Darren seorang diri.


"Honey..!"


pekiknya namun Sheela sudah keburu pergi dan hilang dari pandangannya.


Darren menghembuskan nafasnya dengan kasar lalu pergi menyusul Sheela yang entah di mana karena Darren tak menemukannya.


Bahkan hingga ke seluruh ruangan yang ada di lantai satu.


"Kemana perginya.!"


pikirnya dalam hati karena begitu cepat Sheela menghilang dari jangkauannya.


Kemudian Darren berjalan ke arah pintu yang arahnya menuju ke taman samping rumah.


"Darren...!"


panggil nyonya Jeslin dari arah dapur saat melihat Darren berjalan seperti orang kebingungan dan agak terburu buru.


Darren langsung menghentikkan langkahnya dan menoleh ke arah suara ibu mertuanya.


"Mau ke mana, buru buru gitu.!"


"Anu Ma.!


Mama ada liat Sheela nggak.?"


tanya Darren balik sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, membuat nyonya Jeslin ikut bengong.


"Sheela.!"


Gumam nyonya Jeslin namun masih terdengar di pendengaran Darren.


"Iya Ma.!"

__ADS_1


ucapnya kemudian dengan muka cemas.


"Memangnya knapa Ren,


Apa kalian berantem lagi.?!?"


"Ngga Ma.!"


cuman Sheela nya yang salah paham.!


"Yawudah kamu duduk aja dulu,


biar mami yang nyari.!


Biasanya dia ke taman kalau lagi ngambek.!"


ucapnya pelan lalu segera beranjak ke taman.


Sampai di taman, pandangan nyonya Jeslin mengitari seluruh taman bunga dan benar saja, putrinya itu sedang duduk di sebuah ayunan.


Matahari cukup terik hari ini.


Namun Sheela cukup betah di bawah ayunan itu karena ayunannya berada di bawah sebuah pohon yang rindang.


Angin semilir kian menari nari di bawah pepohonan itu hingga membuat suasana hati yang panas pun terasa menjadi sejuk dan adem.


Taman itu merupakan tempat paling favorit bagi Sheela.


sedari kecil hingga sampai sekarang.


Jadi nyonya Jeslin tahu, jika putrinya itu pasti berada di taman.


namun tampaknya Sheela tak sendirian. Dirinya di temani oleh seorang pria paruh baya,


yang kini sedang duduk di sebuah bangku panjang.


"Ngobrol dengan siapa dia.!"


gumam nyonya Jeslin.


"Sheela.!"


Pria paru baya itu langsung berdiri sambil tersenyum dan menundukkan kepalanya dengan sopan sebagai rasa hormatnya.


"Nyonya.!"


"Dia ini pak Budi Ma, sopir pribadi Sheela di Jakarta.!"


ucap Sheela tiba2.


Nyonya Jeslin mengangguk pelan menanggapi ucapan putrinya.


Tak berapa lama, Darren pun muncul dari arah pintu dan ikut bergabung bersama mereka bertiga.


"Tuan muda.!"


sapa pak Budi kepada Darren.


Darren mengangguk pelan.


Lalu mengalihkan pandangannya ke arah Sheela.


Suasana hati Sheela langsung berubah.


Sifat dingin dan cuek menyelimuti dirinya.


Nyonya Jeslin menyadari hal itu dan segera mengajak pak Budi masuk ke dalam rumah, agar Darren dan Sheela bisa lebih leluasa untuk berbincang dan menyelesaikan masalah mereka.


Sheela ingin beranjak dari ayunan namun sontak Darren memeluk erat tubuhnya dari arah belakang.


Agar Sheela mau mendengarkan penjelasannya.


Sheela meronta ronta ingin melepas dirinya dari pelukan Darren.


Dirinya tak mau mendengar alasan atau penjelasan apa pun dari Darren.


"Lepas.!"

__ADS_1


pekik Sheela dengan keras.


"Kamu ingin ke Jakarta kan.!?


Silahkan anda pergi, ngga ada yang larang dan menghalangi anda.!


Kalau perlu, anda jangan kembali lagi kesini.!"


pekik Sheela dengan penuh penekanan.


Perlahan Darren melepas pelukannya dari tubuh Sheela.


Karena dirinya cukup terpukul dengan ucapan Sheela barusan.


Yang kini sudah pergi meninggalkannya seorang diri di taman.


Darren terdiam mematung di tempatnya sambil berpegangan di rantai ayunan itu dan menatap lurus ke depan.


Pikirannya sedang kacau memikirkan hubungannya dengan Sheela yang tak kunjung membaik.


Masalah yang dihadapi oleh Darren saat ini sangat berat hingga membebani pikirannya.


Karena masalah dengan isteri belum ada titik temunya dan di tambah lagi dengan masalah yang menimpa perusahaannya kini.


Tiba2 lamunannya terganggu ketika nada ponselnya berbunyi dari dalam kantong celana pendeknya.


Darren menatap sebentar layar ponselnya itu dan segera mengangkatnya.


"Iya ada apa.!"


ucap Darren saat sambungan teleponnya tersambung.


Raut wajah Darren terlihat sangat dingin dan mengeras ketika mendengarkan informasi yang penting dari sekertarisnya.


"Baik, segera hubungi pengacara itu dan slesaikan berkas berkasnya.!


Aku akan ke Jakarta sekarang.!"


ucapnya lalu mengakhiri panggilan teleponnya.


Tanpa menunggu lama, Darren bergegas meninggalkan taman itu dan pergi menemui pak Budi, yang kini sedang duduk di teras rumah sambil menikmati secangkir kopi dan semangkok camilan.


Saat pak Budi menyadari kedatangan tuan mudanya, Ia langsung berdiri sambil menundukkan kepalanya.


"Kita akan ke Jakarta sekarang.!"


ucapnya.


"Baik tuan muda.!"


sahut pak Budi dengan cepat.


Darren pun segera meninggalkannya dan pergi menemui ibu mertuanya yang kini sedang memangku cucu kesayangannya.


Namun pak Budi sedikit heran mendengar ucapan tuan mudanya itu.


Karena Darren tiba2 ingin kembali ke Jakarta bersamanya.


Pada hal Ia baru saja tiba di Bandung untuk mengantarkan satu buah koper, yang isinya penuh dengan pakaian milik Darren.


Pak Budi segera meneguk habis kopinya dan bersiap siap kembali ke Jakarta bersama tuan mudanya.


Setelah berbincang bincang sebentar dengan ibu mertuanya.


Darren mengecup lembut kening putranya.


"Doakan daddy ya boy.!


smoga bisa nyelamatin prusahaan kita.!"


ucap Darren lirih.


Sesudah itu Ia pamit kepada ibu mertuanya dan segera meninggalkan kediaman keluarga tuan Hardi.


Tanpa pamit kepada isterinya.


*******

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2