
Di pagi hari, terlihat jelas kesibukan di rumah sakit Ibu dan Anak tempat Sheela dan sahabatnya menjalani praktek kuliah kedokteran.
RSIA merupakan rumah sakit induk yang ada di Kota Jakarta dan memiliki cabang yang tersebar di berbagai kota di Indonesia.
Sebagai rumah sakit yang khusus memberikan pelayanan untuk penyakit anak dan obgym saja. Tentunya
Tiap hari hanya di padati pasien anak2 dan Ibu2 yang ingin memeriksakan kandungannya.
Kebetulan hari ini adalah hari pemberian vitamin dan vaksin untuk anak2 balita serta bayi2 yang baru lahir, jadwalnya
hanya di lakukan seminggu sekali.
Jadi tugas Sheela dan Sasa saat ini bertambah dari jadwal yang ada.
Mereka mendampingi dokter Raka untuk membantu memeriksa suhu tubuh bayi yang akan di vaksin.
Pasien dokter Raka kali ini lumayan banyak dan makin hari makin bertambah. Mungkin karena pelayanan di rumah sakit ini cukup memuaskan dan tidak membeda2kan pasiennya.
Jika ada pasien yang tidak mampu dan sangat membutuhkan penanganan medis yang khusus di luar kemampuan pasien,
Dokter Raka akan langsung menindak lanjuti dengan memberikan fasilitas yang memadai dan membiayai pasien tersebut.
Banyak yang tidak tahu, kalau dokter Raka adalah pewaris tunggal dari RSIA.
Ia tidak segan2 untuk turun tangan dalam menangani pasien.
Seperti hari ini, dokter Raka yang langsung menangani penyuntikkan vaksin kepada bayi2 yang ada dan saat penyuntikkan pun bayi2nya merasa nyaman, bahkan tidak ada tangisan bayi dalam ruangan tersebut.
Di sela2 kesibukannya, Sasa masih sempatnya melirik ke arah dokter Raka yang sedang asyik berinteraksi dengan bayi2 sebelum di suntik.
"Suami idaman banget...."
gumam Sasa.
"Hey..., liatin apa loe....?"
bisik Sheela sembari menoel pinggul Sasa.
Sasa hanya tersenyum malu, saat Sheela mendapati dirinya memandangi dokter Raka begitu lekat.
Tidak terasa jam istirahat pun tiba, setelah melayani pasien sekitar 4 jam lamanya.
Sheela dan Sasa sudah siap beranjak ke kantin untuk makan siang, namun sebelumnya mereka membasuh tangan terlebih dahulu di wastafel dalam ruangan mereka saat jam istirahat.
Dokter Raka pun menghampiri mereka di ruangan tersebut setelah mengganti jas dokternya dengan jas biasa.
Penampilannya kali ini sangat memukau dan terlihat sangat tampan. Sasa yang menyadari beberadaan dokter Raka di depan pintu, hanya terdiam melongo dan takjub akan ketampanan Dr. Raka saat ini.
"Hai...."
sapa dokter sembari melambaikan tangannya untuk menyadarkan lamunan Sasa.
"Hai juga dok...."
balas Sasa dengan senyum manisnya dan di susul oleh Sheela dari belakang Sasa dengan sedikit heran karena kehadiran dokter Raka di ruangan istirahat mereka.
"Maaf mengganggu jam istirahat kalian..."
Ucap dokter Raka.
"Nggak ganggu kok dok..., kami hanya bersiap2 hendak ke kantin...."
jawab Sasa.
"Kalau begitu kita bareng yuk..., kebetulan hari aku ingin mengajak kalian makan diluar...,
hitung2 sebagai traktiran dari aku selama satu bulan ini karena kalian sudah menjalankan tugas praktek kalian dengan baik.."
ucapnya dengan penuh harap.
__ADS_1
"Lagian kalian tinggal seminggu lagi berada di rumah sakit ini, bagaimana...?"
tambahnya, sembari memandangi Sheela dan Sasa secara bergantian untuk menunggu kepastian dari mereka.
"Baik dok..."
sahut Sasa.
"Sheel...., loe ikutkan.....?!?"
tambahnya saat menoleh ke arah Sheela yang hanya diam.
"Hmmm..., iya dok, aku dan Sasa akan ikut.."
jawab Sasa sedikit ragu karena mengingat kejadian malam itu, di pesta ultah ortu dari dokter Raka. Daren marah besar padanya karena kedekatannya dengan dokter Raka.
Di sisi lain, Sheela juga merasa tidak enak hati jika menolak ajakan dokter Raka.
Toh, ada Sasa ikut bersamanya dan sekadar menghargai dokter Raka yang sudah membagi ilmu kepada dirinya dan Sasa selama ini pikirnya.
Saat berjalan ke tempat parkiran, tersirat senyum bahagia dari wajah dokter Raka setelah Sheela memenuhi ajakan makan siangnya.
"Napa loe tegang gitu sech....!!"
ucap Sasa pada Sheela saat dokter Raka sedang mengambil kendaraannya,
karena sesuai kesepakatan, Sheela dan Sasa menumpang di mobil dokter Raka.
"Nggak kenapa2 Sa...., cuman gue takut kejadian malam itu terulang lagi..."
jawab Sheela lirih.
"Tenang aja.., loe kan perginya bareng ama gue..., lagian jarang2kan ada cowok ganteng yang traktir kita begini...?!?"
canda Sasa dengan senyum lebarnya.
Ketika asyik ngobrol, dokter Raka sudah memarkirkan kendaraannya tepat di samping Sheela dan Sasa, kemudian mempersilahkan mereka naik ke mobil.
Kendaraan pun melaju dengan kecepatan sedang menuju Restoran Jepang, yang tidak jauh dari rumah sakit hanya menempuh waktu setengah jam lamanya.
Saat mereka masuk ke restoran, petugas resepsionis menyambut mereka dengan sopan terutama kepada dokter Raka yang sudah menjadi pelanggan tetap di Resto ini.
Kemudian petugas resepsionis menunjukkan arah ruangan yang di pesan khusus oleh dokter Raka sebelumnya.
Nuansa segar dan sangat natural dirasakan dalam ruangan tersebut karena di sebelahnya ada taman yang begitu asri dan di penuhi dengan berbagai macam tanaman bunga yang indah di pandang mata.
Saat mereka sedang asyik menikmati udara segar dan harum semerbak bunga yang asalnya dari taman, beberapa waitress memasuki ruangan dengan membawa mampan di tangannya yang berisi sayuran segar, daging yang sudah di iris tipis2 dan berbagai macam seafood di dalamnya.
Kemudian meletakkannya di atas meja dan waitress yang satunya segera menyalakan ko mpor listrik yang sudah tersedia di atas meja mereka.
"Itadakimasu.." ( Selamat makan )
ucap waitress sembari menundukkan kepala sesuai tradisi Jepang lalu pamit undur dari hadapan mereka.
Di Resto ini hanya menyediakan menu hot pot. Berbagai varian bahan2 pilihan yang sangat fresh dan tentunya sangat menggugah selera bagi setiap pengunjung yang datang.
Sasa yang sudah berselera karena lapar, mulai memasukkan sayur2an ke dalam wadah/panci yang berisi air rebusan.
Ia memisahkan rebusan seafood dan sayuran karena Sasa tahu kalau Sheela alergi terhadap makanan seafood.
Sheela ikut mengaduk hingga sayurannya sampai matang dan siap untuk di santap.
Sedangkan
Dokter Raka bagian memanggang daging.
"Itadakimasu..."
ucap Sasa dengan senyum meniru ucapan waitrees sebentar tadi dan mulai menaruh sayuran ke dalam piringnya menggunakan sumpit lalu menyantapnya.
__ADS_1
"Hmmm..., sayurannya segar banget..."
seru Sasa.
Sheela dan Dokter Raka ikut tersenyum melihat tingkah laku Sasa yang sedikit lucu di hadapan mereka.
Saat itu juga keduanya ikut menyantap hidangan hot pot di hadapan mereka, setelah melihat Sasa makan begitu lahapnya.
*****
Di tempat yang sama, nampak dua orang pria yang ber jas rapi memasuki Resto ala Jepang.
Kelihatannya antara bos dan bawahan.
Staf Resto menyambut mereka dengan penuh hormat dan segera mengantar ke ruangan yang sudah di pesan sebelumnya.
Saat berjalan ke ruangan tersebut, ke dua pria ber jas berpapasan dengan seorang wanita yang hendak ke toilet.
Sontak Sasa terperanjat karena sangat mengenali ke dua pria di hadapannya kini.
Yaitu suami dari sahabatnya sendiri.
"Daren....."
gumam Sasa sedikit panik saat berpapasan dengan Daren dan sekertarisnya.
Sedangkan Daren hanya tersenyum ke arah Sasa dan terus berjalan memasuki ruangan mereka.
Walaupun sedikit penasaran dengan keberadaan Sasa saat ini.
Selang beberapa menit, dari arah belakang muncul seorang pria dan wanita menyusul masuk ke ruangan tersebut.
Sasa yang nampak bengong dan sedikit panik, buru2 kembali menghampiri sahabatnya yang sedang asyik ngobrol dengan dokter Raka dalam ruangan tempat mereka makan.
"Loe knapa Sa panik gitu...."
tanya Sheela lirih karena raut wajah Sasa kelihatan tegang saat buru2 duduk di seblahnya.
"Gue barusan ketemu ama Daren di Resto ini...."
jawab Sasa sembari berbisik di telinga Sheela.
"Mati gue....."
gumam Sheela dalam hati.
Dokter Raka yang melihatnya juga sedikit penasaran namun Ia anggap jika hal itu adalah privasi bagi Sheela dan Sasa.
"Bagaimana...., kalian mau nambah lagi....?!?"
ucap dokter Raka memecah keheningan setelah menghabiskan jus jeruknya.
"Nggak Dok..., kita uda kekenyangan..."
sahut Sasa sembari mengelus perutnya yang rata.
Kita langsung balik aja ke rumah sakit...
sambungnya dengan senyum tipis sambil melirik sahabatnya yang sudah tidak sabar ingin meninggalkan Resto.
"Baiklah kalau begitu...."
jawab dokter Raka setelah melihat jam tangannya yang memang sudah waktunya kembali untuk melanjutkan tugas mereka di rumah sakit.
Sheela dan Sasa juga sudah bersiap2 dan berjalan duluan di depan dokter Raka.
Namun secara bersamaan sekertaris Haris keluar dari ruangannya dan melihat isteri dari tuan mudanya yang berjalan ke arah pintu keluar Resto.
********
__ADS_1
Bersambung.....