
Suasana hening, sepi dan bisu seketika hadir menyelimuti seisi mobil mewah, yang sedang melaju cepat menuju mansion.
Raut wajah Darren nampak dingin dan sangar.
Namun Ia tetap fokus untuk mengemudikan mobilnya.
Hatinya panas karena tersulut oleh api cemburu.
Sosok Darren memanglah seorang pria yang sangat pencemburu, Ia tak senang dan tak suka jika isterinya disentuh oleh pria mana pun.
Darren sangat mencintai isterinya, walaupun sangat jarang Ia ungkapkan secara langsung kepada isterinya.
Semuanya itu hanya dibuktikan melalui tindakan saja.
Diam adalah hal yang terbaik saat ini, menurut Sheela.
Sheela paham betul dengan sifat suaminya itu, yang suka naik pitam.
Disaat suaminya marah, Darren tak ingin di bantah.
Apalagi saat ini, suaminya sedang mengemudikan mobilnya.
Percuma Ia mau jelaskan dalam keadaan seperti ini.
Darren pun tidak akan pernah mengerti dan tidak mau tahu, bila sedang dalam keadaan emosi.
Jauh beda dengan sifatnya yang lemah lembut.
Kini Sheela menyenderkan kepalanya ke sandaran jok mobil.
Pandangan matanya hanya tertuju pada setiap kendaraan yang lalu lalang di samping kendaraan mereka.
Lama kelamaan, mata sayupnya mulai lelah dan capek, hingga tertutup dengan sendirinya sampai Ia benar2 tertidur dengan lelap.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih setengah jam, Mereka sudah sampai di mansion.
Darren turun dari mobilnya dan hendak masuk ke dalam rumah.
Namun langkahnya tiba2 terhenti karena Sheela tak kunjung turun dari mobil.
Kemudian Ia berjalan dan mendekat kearah pintu mobil, di samping Sheela.
Darren mendapati isterinya sedang tertidur pulas.
Darren hanya menggeleng gelengkan kepalanya, lalu segera mengangkat isterinya kedalam rumah, hingga menuju kamar mereka.
Setelah membaringkan isterinya ke atas tempat tidur, Darren melepas dasi serta bajunya lalu menaruhnya ke keranjang khusus baju kotor mereka.
Kemudian Ia masuk kekamar mandi untuk membersihkan dirinya,
untuk menghilangkan rasa lelah dan stresnya, Ia merebahkan dan menenggelamkan sebagian tubuhnya kedalam buthup.
Pikirannya terbayang bayang dengan sosok pria yang menyentuh tubuh isterinya sebentar tadi, sembari mengepalkan kedua tangannya.
Setelah beberapa menit berendam di dalam buthup,
Darren segera berdiri dan langsung membilas tubuhnya di bawah air keran.
Kemudian keluar dari kamar mandi.
Saat berada di dalam kamarnya, Darren mengambil ponselnya dan segera menghubungi sekertaris Haris.
Sembari berbincang dengan sekertarisnya, Darren menoleh kearah tempat tidur tempat isterinya berbaring.
Darren memelankan suaranya karena tak ingin mengganggu waktu istirahat isterinya.
Namun masih terdengar jelas ditelinga Sheela, yang kebetulan baru terbangun dari tidurnya.
Sheela baru saja ingin bangun dari tidurnya dan duduk diatas kasur, tapi dia urungkan saat mendengar Darren sedang menghubungi seseorang karena Ia sedikit ingin menguping pembicaraan. Ia takut jika Darren melakukan hal2 yang tidak di inginkan.
Sheela sempat mendengar suaminya memberi perintah kepada sekertrisnya untuk menyelidiki seseorang.
Sheela hanya mendengar sampai disitu saja.
Karena Darren keburu keluar dari kamar menuju balkon.
Sheela kurang yakin, jika orang yang dimaksud suaminya itu adalah Dennis.
Namun siapa lagi.
Sheela berdebat dengan hati dan pikirannya sendiri.
Kemudian Sheela berjalan kearah kamar mandi, dan segera membasuh dirinya.
Sesudah itu Ia kembali ke kamar.
__ADS_1
Terlihat olehnya, Darren malah sedang berbaring diatas kasur sembari bermain dengan ponselnya.
Dengan cepat Sheela mengganti handuk kimononya dengan baju tidurnya.
Lalu perlahan berjalan kearah pintu keluar.
Namun Darren tiba2 memanggilnya.
"Mau kemana.?!?"
Seketika Sheela menoleh dan membalikkan tubuhnya kearah suaminya
"Mau siapin makan malam..!"
"Ngga perlu.!"
Bi Surti yang akan siapkan semuanya.
ucapnya singkat dan sedikit memekik.
Kemari..!
lanjutnya dengan menepuk kasur di sampingnya.
Kemudian Sheela mendekat kearahnya tempat tidur saat Darren menyuruhnya untuk mendekatinya.
Namun Sheela tidak mendekatinya dan hanya duduk ditepi bagian sudut kasur, tanpa menoleh kearah suaminya yang sedang menatap dirinya.
Darren memberang dan merasa jengkel di dalam hatinya.
Ia hanya mendecak kesal.
Karena Sheela tak menuruti perkataannya.
Sebenarnya Sheela pun masih kesal karena sifat suaminya itu yang cepat emosi dan suka membentak dirinya.
Padahal dirinya sedang dalam keadaan hamil dan hormonnya pun tidak stabil.
Dirinya hanya ingin selalu di manja dan di sayangi dan mendengar perkataan yang lembut2 saja dari suaminya.
Namun Sheela masih beruntung karena Darren tidak ringan tangan bahkan tidak pernah melukainya secara fisik.
Sorotan mata tajam Darren masih begitu melekat kearah wajah Sheela yang sedang duduk menyamping.
Kemudian Darren menarik nafasnya dalam dalam lalu menghembuskannya dengan kasar.
tanyanya sembari menatap layar ponselnya, namun telinganya siap mendengar jawaban dari isterinya.
Sheela mengernyitkan dahinya untuk memahami betul arah pertanyaan suaminya itu dan segera menoleh.
"Siapa.!"
tanyanya balik untuk memastikan.
"Pria yang menopang tubuhmu tadi.!"
jawabnya singkat menatap mata Sheela.
Sheela menghela nafasnya dengan perlahan.
"Dia itu, intrukstur dalam kelas senam ibu2 hamil.!
Mami baru tahu tadi, kalau dia itu teman masa SMA dulu dan namanya Dennis.!"
tegasnya.
Sheela sedikit berbohong jika Ia baru bertemu dengan Dennis hari ini.
Bukan dari hari sebelumnya.
Karena kalau Ia terlalu jujur, bisa panjang masalahnya.
Sheela tahu betul dengan sifat suaminya.
Yang selalu bertanya dari pokok hingga ke akar akarnya.
"Kenapa harus dia yang bantuin kamu.!"
tanya Darren membuat Sheela mengerlingkan ke dua matanya.
"Trus siapa donk yang mau bantuin aku.!?!"
ucapnya dalam hati.
Darren malah semakin kesal karena Ia merasa Sheela tidak menghargainya sama sekali karena sudah berani memutar kedua bola matanya dihadapan Darren.
__ADS_1
Yang menurut Darren, hal itu sangat tidak sopan dilakukan.
"Kenapa kau kerlingkan matamu padaku.!
apakah itu sopan.?!?"
geram Darren dengan sorotan tajam.
Jantung Sheela berdetak tak karuan jadinya.
Sheela menundukkan kepalanya menatap jemarinya yang sudah mulai kaku untuk Ia gerakkan.
Sheela nampak bengong.
"Ini salah.! itu pun salah.!"
gerutunya dalam hati sembari mengurut urut jemarinya satu persatu.
"Okey mami minta maaf.
Mami lakuin itu, karena merasa aneh dengan pertanyaan papi.!
Lagian mami ngga tahu kalau papi pulangnya hari ini.
Tahu gitu, mami pasti akan nungguin papi.!"
ucap Sheela dengan lembut, menjelaskan kesalahpahaman suaminya.
Sheela selalu mengalah tiap kali berdebat dengan suaminya, jika hal itu hanya masalah sepele.
Karena pikirnya percuma.
Suaminya itu umurnya saja yang tua 3 tahun darinya.
Namun pikirannya kadang seperti anak kecil.
Perlahan lahan hati Darren menjadi sejuk.
Namun rasa cemburunya masih meliputi pikirannya.
"Baiklah jawaban yang masuk akal.!"
kata Darren.
"Tapi ingat.!
Papi ngga suka kalau mami di sentuh oleh pria manapun.!"
tegasnya terus terang.
Sheela hanya mengangguk pelan.
Disaat perdebatan mereka hampir selesai, Bi Surti pun sudah berada di depan pintu kamar.
Menunggu dipersilahkan masuk.
Sheela berjalan keaarah pintu untuk segera membukakan pintu buat Bi Surti dan mempersilahkannya masuk.
"Kebetulan sekali Bi.!
perutku sudah mulai lapar."
ucap Sheela mengelus perut buncitnya.
Bi Surti hanya tersenyum sumringah mendengar ucapan Sheela.
Lalu meletakkan makanan yang Ia bawa.
Setelah itu, Bi Surti pun mempersilahkan mereka untuk makan, lalu segera pamit.
Darren dan Sheela pun makan dengan lahapnya.
Setelah itu mereka melanjutkan obrolan panjang mereka.
Kemudian Sheela bermohon agar Darren mengijinkannya untuk mengikuti kembali kelas senam ibu hamil di lain hari.
Namun Darren tidak mengijinkannya lagi.
Darren menyewa intruktur khusus untuk isterinya dalam olahraga tersebut dan akan Sheela lakukan dirumah saja.
Walau pun iya tahu, jika Dennis itu adalah pria setengah jadi.
Menurut penyelidikan sekertaris Haris.
Darren pun yakin setelah Haris mengirimkan data2 pribadi Dennis dan Video keseharian Haris selama menjadi instruktur senam.
__ADS_1
*********
Bersambung..........