Calon Istri Yang Manja

Calon Istri Yang Manja
Bab 60


__ADS_3

"Pi.., maafin mami ya.!"


ucap Sheela dengan lirih mengakui kesalahannya terlebih dahulu sebelum Darren menceramahi dirinya.


Karena seringkali Ia lalai dan tidak mengangkat panggilan dari suaminya itu.


"Hmmm, kali ini papi maafkan. Tapi dengan satu syarat."


ucapnya dengan jeda membuat Sheela penasaran dan segera bertanya.


"Maksud papi.!"


sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Malam ini mami harus menebusnya ditempat tidur.!"


goda Darren dengan lirih membuat wajah Sheela bersemu kemerahan sambil memainkan rambutnya yang terurai dan masih nampak basah karena baru selesai mandi dan Ia masih mengenakan handuk kimono.


"Oh iya. Malam ini kita kedatangan tamu dan sekalian makan malam bersama di rumah."


tambahnya.


Sheela melongo penasaran.


"Tamu dari mana Pi.! apa mami udah mengenalnya.?!?"


"Dari LN sayang.


Ntar papi jelasin dirumah okey. Papi mau keruangan meeting sekarang.!"


ucapnya buru2 sembari melihat jam ditangannya dan mengakhiri panggilan telponnya.


Tidak terasa jam berlalu begitu saja dan kini hari sudah menjelang sore, cahaya matahari pun sudah mulai redup.


Saat ini Sasa sudah berada dimansion.


Ia dan Sheela


sedang asyik ngobrol di taman samping rumah sambil ngemil rujak mangga setengah matang ala Bi Surti, dengan bumbu kacang dan sedikit cabai didalamnya.


Sheela dan Sasa sangat menikmati angin segar dan pemandangan bunga disekitarnya, dan sesekali melihat ke kebun sayur yang di penuhi dengan berbagai jenis sayuran serta kebun buah berupa buah manggis, duren, mangga dan apel.


Canda riuh dan tawa mereka terdengar begitu jelas dipendengaran Bi Surti serta suaminya yang sedang memetik sayuran dikebun.


Mereka ikut senang mendengar tawa majikannya yang sangat jarang mereka dengar.


Selama ini suami Bi Surti yang bertugas untuk bercocok tanam dan merawat tanaman di kebun milik Darren dan Sheela, yang letaknya tidak jauh dari taman samping rumah.


Jika sore hari, Bi Surti membantu suaminya menanam atau memanen sayuran, bila tugasnya sudah beres menjalankan tugasnya untuk mengurus Sheela secara khusus.


Lagian Sheela tidak ingin bila Bi Surti selalu berada didekatnya dan bolak - balik kekamarnya untuk mengurus segala keperluannya didalam kamar.


Sesaat pandangan Sheela teralihkan kearah Sasa.


"Ayo, itu pesan dari Dr. Raka ya..!?"


tanya Sheela tiba2 saat Sasa sedang sibuk membalas pesan diponselnya sambil senyum2 sendiri.


"Bu..bukan.!"


jawab Sasa tertatih dengan raut wajah memerah menatap Sheela.


"Kalau bukan dari Dr. Raka.., siapa lagi yang membuat diri loe senyum2 gini..?!?"


goda Sheela kepo' sambil mengintip layar ponsel Sasa yang sedang duduk diseblahnya dan tertera nama Dr. Raka disana.


Dengan cepat Sasa mengunci layar ponselnya dan menoel kening Sheela dengan pelan sehingga Sheela membalasnya dengan ledekan.


"Cieh2.., yang lagi bucin.."


"Loe itu, mau tahu aja atau tahu banget sech...!?!"


"Ngga perlu.! gue udah tahu segalanya kok, mengenai hubungan loe dengan Dr. Raka."


ucapnya membuat Sasa bengong penasaran dan mulai terpancing dengan perkataan Sheela.


"Maksud loe..!"


tanya Sasa menyelidiki dan mulai mengintrogasi Sheela dan mencercanya dengan berbagai pertanyaan sehingga membuat Sheela terkekeh pelan.


"Tapi bo'ong.!"


ucap Sheela kemudian.

__ADS_1


Sasa merasa sebal dengan kekonyolan sahabatnya itu.


Sheela suka sekali mengerjai dirinya.


Sasa kira,


jika sahabatnya itu betul2 sudah mengetahui hubungannya dengan Dr.Raka yang baru seumuran jagung.


Sasa pun merasa lega karena Sheela hanya sekedar menerka- nerka hubungannya dengan Dr. Raka.


Bagaimana tidak,


saat itu, Sasa lah yang terlebih dahulu mengungkapkan perasaan cintanya kepada Dr. Raka namun saat itu, Dr. Raka belum menanggapinya,


karena Dr. Raka merasa, dirinyalah yang harus menembak Sasa duluan.


Saat itu juga, Sasa pulang dengan membawa rasa kecewanya karena merasa dirinya ditolak serta Dr. Raka tidak menyukai dirinya.


Namun dua hari kemudian, Dr. Raka tiba2 menembak dirinya disebuah taman, yang sudah Dr. Raka persiapkan sebelumnya.


Sesaat keduanya terdiam membisu dan sedang menikmati suasana udara segar dari hembusan angin,


karena Rumah milik Darren dan Sheela di kelilingi oleh berbagai pepohonan yang rindang namun tertata dengan rapi.


Tak berapa lama,


Sasa tiba2 membuka suara tanpa menoleh kearah Sheela yang sedang memandangi bunga2 cantik nan indah di hadapannya dan yang ada di sekitar taman.


"Gue dan Dr. Raka udah jadian dari sebulan yang lalu.!"


ucapnya dengan malu2, lalu sedikit nyengir ketika Sheela tiba2 menoleh kearahnya.


"Oh ya.! selamat ya."


Sontak Sheela berdiri mendekati Sasa lalu sedikit membungkukkan tubuhnya dan memeluk tubuh Sasa dari arah belakang dengan melingkarkan kedua tangannnya di bagian punggung hingga kebagian dada Sasa yang sedang duduk bersandar di kursi.


"Apaan sech.., lebay banget loe.."


ucap Sasa terkekeh geli dan malu2.


"Gue ikut senang tahu, soalnya teman gue yang senang nge- jomblo dari dulu, dan sekarang udah punya gebetan.."


ledeknya dan tanpa menyadari kehadiran Darren dibelakangnya yang baru saja tiba.


tambahnya.


"Hmmmm."


dehem Darren tiba2 sambil menutup tubuh Sheela dengan jasnya dari arah belakang, karena hari sudah mulai senja dan saat ini Sheela hanya mengenakan gaun hamilnya yang panjangnya hanya selutut dan lengannya sebahu.


Sontak Sheela terperangah kaget dan melepaskan pelukannya dari Sasa, lalu berbalik kearah suaminya.


Dirinya sangat terkejut dengan kehadiran suaminya yang secara tiba2 dan mungkin mendengar ucapannya sebentar tadi.


"Papi udah pulang..?"


sambil menahan jas Darren dipundaknya agar tidak terjatuh.


Sasa pun ikut menoleh kearah Sheela dan Darren.


Kemudian tersenyum sambil menyapa Darren.


Darren pun membalasnya dengan anggukan Kemudian, Ia beranjak pergi kedalam rumah tanpa membalas ucapan Sheela.


Membuat Sheela sedikit kecewa.


"Suami loe udah balik. Gue pamit dulu ya.!"


ucap Sasa kemudian.


Sasa menyadari perasaan Sheela saat ini, namun Ia harus pulang karena Ia merasa itu adalah pilihan yang terbaik, agar Sheela bisa memperbaiki kesalahpahaman sepeleh dari Darren terhadap sahabatnya itu.


"Gue rasa laki loe ngambek dan cemburu.! loe harus segera ngerayu dia.


Bye- bye.!"


tambahnya dengan lirih.


Sheela hanya mengernyitkan matanya lalu menganggukkan kepalanya dan membiarkan Sasa pergi.


Kemudian Sheela juga bergegas masuk kedalam rumahnya dan menghampiri suaminya kedalam kamar, namun Darren sedang membersihkan tubuhnya dikamar mandi.


Sambil menunggu Darren selesai mandi, Sheela menyiapkan baju ganti Darren, yang akan dikenakan malam ini untuk menyambut tamu mereka.

__ADS_1


Setelahnya, Sheela pun berpindah kelemari bajunya untuk mencari dan memilah- milah gaun yang akan Ia kenakan malam ini.


Hampir setengah jam Sheela berada di depan kaca lemarinya sambil mencocokkan gaun ke tubuhnya.


Darren yang baru keluar dari kamar mandi, hanya menatap tubuh isterinya dari belakang sambil duduk di tempat tidur dan hanya mengenakan handuk yang dililitkan di pinggangnya.


Karena Sheela tak jua menyadari kehadirannya dikamar, Darren berdehem dan membuat Sheela berbalik kearahnya sambil tersenyum manis hingga semanis mungkin agar Darren tidak marah kepadanya.


Namun Darren pura2 cuek. Kemudian Sheela menghampiri suaminya itu yang sedang memegang ponsel ditangannya.


Kini Sheela berada di samping Darren dan Ia melingkarkan kedua lengannya ke tubuh suaminya itu dan membisikkan sesuatu ditelinga Darren.


"Mami kangen dengan aroma tubuh papi.!"


bisiknya membuat Darren menatap mata Sheela dengan tatapan tajam namun lembut.


Mami sudah berani ya, menyogok papi.!


ucapnya dengan memicingkan mata.


Darren tidak menyangka bila Sheela sudah berani merayu dirinya.


Bener kok, mami itu kangen ngan pelukan papi..!.


ucapnya tak mau kalah.


Benarkah..?!?


balas Darren membalas pelukan Sheela sambil memangku Sheela dipangkuannya.


mmmmmhh.


angguk Sheela dengan manja.


Seketika Darren menoleh kearah jam yang masih menunjukkan pukul 06 malam lewat 10 menit.


"Masih ada ada waktu 50 menit sebelum tamunya datang."


pikir Darren dalam hati.


Karena janji temunya itu jam 7 malam.


Tak mengambil waktu yang lama, Darren ******* bibir Sheela dengan lembut dan segera membaringkan tubuh Sheela ke tempat tidur.


Kali ini Darren sangat bergairah karena Sheela yang lebih dulu menggoda dirinya.


Nafsunya mengebu- gebu dan ingin segera menuntaskan birahinya itu.


Begitu pun dengan Sheela, Ia sangat menikmati persetubuhannya dengan Darren.


Terbukti dari lenguhannya dan desahannya yang terdengar memenuhi setiap sudut dalam ruangan kamar mereka.


Tak henti2 nya Darren menggoyangkan pinggulnya, naik turun ibarat memompa ban sepeda, menghantam li***ng kenikmatan Sheela.


Namun Darren tetap melakukannya dengan lembut. Mengingat bayi yang ada di rahim isterinya.


"Pi..., mami. ingin......."


ucapnya dengan tersengal- sengal sambil mendesah saat ingin mencapai *******.


"Keluarkan sayang...".


balas Darren melanjutkan ucapan Sheela sambil terus memompa.


"Papi juga sayang...


Kita sama sa...yang....!"


pekik Darren membuat Sheela semakin mendesah kenikmatan.


"Arrgghhhhhhhhh"


Darren dan Sheela mengerang secara bersamaan saat mencapai klimaks.


Hingga waktu menunjukkan pukul 6.50


jadi waktu Sheela untuk membersihkan tubuhnya hanya tinggal 5 menit lagi.


Bersambung....


Xi.xi.. maafin author ya.. kirain di bab ini, akan ada acara makan malamnya...


di tunggu di bab selanjutnya...

__ADS_1


Thank you all......


__ADS_2