
Sore hari di kediaman tuan hardi.
Sheela duduk termenung di dalam kamarnya.
Dirinya termenung memikirkan hubungannya dengan Darren yang tak kunjung membaik.
Hari2 yang Ia lalui begitu hampa tanpa didampingi oleh seorang suami.
Tiap kali ponselnya berdering atau ada email yang masuk
Sheela langsung memeriksa dan mengecek panggilannya itu.
Namun tak ada satu pun pesan yang masuk dari Darren bahkan dari sahabatnya yang bernama Sasa.
Karena sebelumnya Ia sudah berpesan kepada Sasa untuk mencari tahu keberadaan suaminya saat ini.
Hayalan Sheela semakin melambung jauh sehingga tak menyadari kedatangan ibunya yang kini sedang berjalan kearahnya.
Nyonya Jeslin mengelus lembut pundak putrinya, lalu duduk di sampingnya.
"Kamu baik baik aja kan nak.!"
ucapnya lembut menatap sang putri.
"Sheela baik2 aja Mi.!"
sahutnya sambil memeluk tubuh ibunya.
Tak terasa air mata Sheela mengalir membasahi pipinya.
Isak tangisnya mulai terdengar memenuhi seluruh ruangan kamar.
Nyonya Jeslin memeluk erat tubuh putrinya dan mengelus punggungnya dengan lembut.
Nyonya Jeslin ikut merasakan kepedihan yang di rasakan oleh putrinya saat ini.
Bagaimana tidak.
Anak menantunya itu belum pernah memberi kabar dan menghubungi putrinya.
Semenjak kepergiannya tiga hari yang lalu ke Jakarta.
Nyonya Jeslin juga belum mendapat kabar apa pun dari Darren hingga sampai sekarang.
Pada hal Darren sudah berjanji akan selalu memberi kabar.
Namun Ia berharap menantunya itu selalu dalam keadaan baik baik saja beserta perusahaannya.
Agar bisa kembali ke Bandung untuk berkumpul lagi dengan isteri dan putranya.
Darren juga sudah berjanji pada nyonya Jeslin akan segera menjemput putri dan cucunya, jika urusannya di Jakarta sudah kelar.
"Darren pasti kembali sayang,
kamu yang sabar ya.!"
bujuknya pada sang putri.
"Harusnya Sheela mensupport Dia Mi,
tidak marah2 dan caci dia.!"
pekiknya sambil menangis tersedu sedu,
menyadari kesalahannya tiga hari yang lalu sebelum Darren ke Jakarta.
"Udah2.
Kita doakan aja, smoga Darren cepat kembali.!"
bujuknya lagi sambil memandangi wajah putrinya yang kini mengangguk pelan di hadapannya.
Sambil menyemangati putrinya, nyonya Jeslin mengusap lembut lelehan air mata Sheela dari wajah putih pucatnya.
"Yawdah, skarang kamu mandi ya.!
__ADS_1
wajah putri mami jadi jelek dech kalau nangis gini.!"
candanya agar Sheela tak larut dalam kesedihannya.
Sheela tersenyum manja, lalu memeluk tubuh ibunya sekali lagi, sebelum dirinya masuk ke kamar mandi.
Karena hari sudah semakin nampak sore menjelang malam.
********
Sekitar jam 04.00 subuh menjelang pagi,
Suara ponsel
milik Sheela berbunyi berulang ulang kali menandakan panggilan masuk dari seseorang.
Sedangkan pemiliknya masih tertidur pulas di atas tempat tidur empuknya.
Namun lama kelamaan telinganya mulai peka dan sedikit terganggu karena ponselnya itu masih terus berbunyi seakan tak memberi waktu dan kesempatan bagi pemiliknya untuk beristirahat nyenyak.
Tangannya mulai meraba raba mencari keberadaan ponselnya namun tak Ia temukan.
Sedangkan kedua matanya masih tertutup rapat.
Selang beberapa detik.
Putranya juga ikut terbangun,
membuat kedua mata Sheela terbelalak lebar hingga rasa kantuknya pun hilang seketika.
Cepat cepat Ia mengambil ponselnya itu dari atas nakas yang berada di samping tempat tidurnya.
Mungkin ada berita penting, pikirnya.
Karena masih terlalu subuh.
"Sasa.!"
gumamnya dalam hati ketika menatap layar ponselnya dan tertera nama sahabatnya di sana.
"Ada apa ya.!
rasa kuatir mulai menghantui perasaannya.
"Halo,
ada apa Sa.!?"
tanya Sheela pelan karena jantungnya mulai deg.degan sambil berjalan cepat ke arah box babynya yang jaraknya tak jauh dari tempat tidurnya.
"Seblumnya gue minta maaf ya, udah bangunin loe jam segini.!"
ucap Sasa lirih.
"Ada apa Sa.!
cepet katakan.!
tanya Sheela tak sabar karena dirinya semakin penasaran.
"Jangan kaget ya, l...loe harus kuat.!
ini soal Darren suami loe.!"
ucap Sasa terbata bata karena gugup.
Jantung Sheela semakin berdetak kencang hingga tidak karuan dan dadanya mulai terasa sesak sambil mendekap erat bayi mungil ke dadanya.
Sheela mulai mengatur nafasnya dalam dalam.
"Cepat katakan, suami gue knapa Sa.!"
pekik Sheela menahan air matanya yang hampir tak terbendungkan lagi.
Sudah berada di sudut sudut kedua matanya.
__ADS_1
Pekikannya itu hampir membuat satu rumah terbangun.
Sedangkan Sasa sedang mengatur nafasnya.
"Okey..okey.!
Gue dengar info dari Raka barusan kalau Darren kecelakaan dan sedang di rawat di rumah sakit sekarang,
dan katanya sedang kritis.!"
ucap Sasa perlahan agar Sheela tak jantungan di buatnya.
Ponsel milik Sheela langsung terlepas dari genggamannya begitu saja hingga terjatuh ke bawah lantai.
Air mata
yang tak terbendungkan itu pun langsung pecah membasahi kedua pipi Sheela.
Bayi di pelukannya pun menangis, ikut merasakan kesedihan ibunya.
"Halo2.!
Sheel, loe ngga papakan.!
pekik Sheela dari balik telpon yang sudah terjatuh di bawah lantai.
Tak berapa lama kedua orang tua Sheela pun datang dan langsung membuka pintu kamar putrinya dari luar.
Karena kebetulan pintunya itu tidak terkunci.
"Ada ap Nak.!"
pekik nyonya Jeslin panik sembari berlari ke arah putri dan cucunya.
Lalu mengambil alih untuk menggendong cucunya yang masih menangis di dekapan Sheela.
Tuan Hardi pun tak kalah paniknya dan segera menghampiri sang putri.
Kamu knapa Nak.!
tanya ayahnya menenangkan putrinya sambil mengelus lembut pundaknya.
Darren Pi.!
ucapnya tersedu sedu.
Tuan Hardi mengerutkan keningnya.
Kenapa dengan Darren.!
"Darren kenapa sayang.!"
timpal nyonya Jeslin pelan sambil menimang nimang cucunya yang sudah mulai tertidur lagi dalam dekapannya.
"Darren kecelakaan Mi, Pi...!
Sasa barusan nelpon, katanya Darren sudah di tangani di rumah sakit sekarang dan keadaannya sangat kritis.!"
sahutnya sambil menoleh ke arah ibu dan ayahnya secara bergantian.
Nyonya Jeslin dan tuan Hardi terperangah kaget dan ikut terenyuh mendengar berita kecelakaan anak menantu mereka.
"Papi akan hubungi tuan Vincent sekarang.
Apakah kabar itu benar adanya.!"
ucap tuan Hardi merasa tak percaya dengan insiden yang menimpa Darren sebelum mendengar langsung dari salah satu orang tua Darren.
Tuan Hardi bergegas keluar dari kamar putrinya untuk mengambil ponsel miliknya dan ingin memastikan kabar insiden yang menimpa anak menantunya itu.
Walau pun dirinya sempat marah dan kesal terhadap Darren.
Namun hati nuraninya sebagai manusia dan seorang ayah dari putri tunggalnya masih melekat erat dalam tubuhnya.
Tuan Hardi berharap anak menantunya itu dalam keadaan baik baik saja.
__ADS_1
**********
Bersambung........