
Malam kian menjemput disebuah hunian baru dengan gaya arsiktektur yang elegan serta bangunan yang kokoh dengan pilar2 yang tinggi menambah kemewahan bangunan rumah tersebut.
Bangunan tersebut berlantaikan tiga, lantai pertama khusus untuk dapur dan ruangan tamu sedangkan lantai 2 di khususkan untuk kamar tamu dan anak mereka kelak.
Di lantai atas tentunya khusus kamar utama bagi pemilik rumah dan di sebelahnya ada ruangan untuk berbagai alat olahraga karena Tuan rumah sangat gemar dan rutin berolahraga..
Penghuni dari rumah baru tersebut pun sudah tertidur dengan lelapnya. Ya.., siapa lagi kalau bukan Daren dan Sheela mereka sangat lelah setelah seharian mengadakan acara kecil2lan khusus keluarga dan kerabat dekatnya saja.
Nyo. Shita sangat senang dan terharu setelah mendengar kehamilan anak menantunya yang sudah Ia nanti-nantikan dan sangat harapkan semenjak pernikahan putra tercintanya.
Untuk meluapkan rasa bahagianya, Nyo. Shita yang mengusulkan pada Darren untuk mengadakan acara tersebut.
Walaupun cukup sederhana dan itu atas keinginan Daren, karena Ia tahu betul bagaimana karakter isterinya yang tidak suka umbar2 kemewahan di hadapan banyak orang.
******
Pagi hari pun tiba, matahari sudah mulai memancarkan cahaya teriknya dari ufuk timur dan menyusuri setiap penghuni di Kota Jakarta dan sekitarnya.
Pelayan2 di lantai dasar sudah mulai sibuk melakukan berbagai aktifitas dan melaksanakan tugas mereka masing2.
Beberapa pelayan sedang sibuk di dapur untuk menyiapkan sarapan buat majikan mereka yang baru.
Mereka sangat beruntung karena dapat di pekerjakan di rumah pemilik pengusaha terkenal di Indonesia maupun luar negara.
Mereka telah melalui beberapa tahap seleksi agar bisa jadi pelayan dirumah tersebut.
Seorang koki handal pun di pilih oleh Daren sendiri atas saran dari sekertarisnya yang bertugas mencari koki terbaik yang pandai masak dengan berbagai resep dan tentunya sangat menggugah selera.
Karena Daren tahu kalau isterinya sangat gemar makan dan suka memesan jajanan di jalan apabila Ia akan pulang dari kantor,
Dan itu sangat bertentangan dengan cara hidupnya yang super sehat dan tidak suka dengan makanan yang ada di jalan2. Apalagi keadaan isterinya sekarang sedang mengandung buah hati cinta mereka berdua.
Menurutnya jajanan makanan yang ada di jalan2 itu sangat jorok dan tidak sehat.
Itu menurut seorang Daren ya guys...., tapi menurut Author makanan di jalan itu tidak jorok2 amat kok... Malah sangat enaak dan menggugah selera.
Terutama makanan dari berbagai pelosok daerah yang ada di negeri kita yang tercinta.
Sheela yang sudah merasakan lapar di perutnya pun terbangun dari tidurnya,
di pemandangannya kali ini berasa sangat berbeda dengan suasana di apartement mereka kemaren.
Berulang kali Ia mengerjapkan mata dan mengingat kalau dirinya sudah berada di rumah baru mereka dan bukan lagi di apartement.
Sheela pun menoleh ke sampingnya dan melihat Daren yang masih tertidur dengan lelapnya.
Perlahan Ia turun dari kasur menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya.
Kamar mandinya saat ini dua kali lipat lebih besar dan sangat sesuai dengan keinginannya dengan langit2 yang transparan dan langsung menikmati matahari pagi yang cerah.
Setelah membasuh wajahnya Sheela kembali ke kamar untuk merapikan rambutnya kemudian membuka pintu kamar dan menuruni anak tangga satu persatu.
Sebenarnya ada lift khusus ke lantai tiga namun Sheela lebih senang melalui tangga karena sekalian olahraga biar otot2 kakinya tidak kaku.
Sampai di lantai dasar, Sheela mencium aroma masakan dari arah dapur yang cukup menyengat penciumannya.
Ia pun berlari ke arah kamar mandi dekat dapur.
Hoek...hoek...hoek....
Pelayan yang melintas di depan kamar mandi pun merasa heran.
"Seperti ada suara orang muntah di dalam..., tapi siapa ya....?"
gumam pelayan tersebut dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Karena merasa penasaran, Ia bertanya kepada Susi yang sedang sibuk lalu lalang menghidangkan sarapan di atas meja.
Susi merupakan asisten Pak Tono yang merupakan kepala koki di rumah baru Daren dan Sheela.
"Mbak Susi..."
sapa Rani pelayan tersebut,
"Iya..., ada apa Rani...."
sahut Mbak Susi...
"Mbak Susi dengar tidak..., ada yang....."
perkataan Rani terputus saat melihat Nyonya muda mereka keluar dari arah kamar mandi dengan wajah pucatnya.
Sontak mereka menundukkan kepala tanda hormat kepada majikannya.
__ADS_1
"Slamat pagi nyonya...."
sapa ke dua pelayan tersebut.
"Hmm..., pagi....."
sahut Sheela dengan suara sengau karena sedang menutup hidung dan terus berjalan ke arah taman samping rumah, untuk mencari udara segar.
Mbak Susi dan Rani hanya bertatap muka dan merasa aneh.
Mereka segera mencium baju yang mereka kenakan, mencari asal bau yang membuat nyonya mereka tutup hidung saat berjalan di depan mereka.
"Nggak ada yang bau....."
ucap Mbak Rani bengong, begitu pun Rani merasa yakin kalau tubuhnya masih harum karena baru selesai mandi.
Namun saat melihat Tuan mereka keluar dari lift, mereka pun kembali ke tugas masing2.
"Tuan Daren sangat tampan ya...."
Bisik Rani pada mbak Susi saat menuju ke arah dapur.
"Hus....., kalau sampai nyonya muda dengar...., kamu bisa di pecat dari rumah ini...."
sentil mbak Susi.
"Ish..., mbak Susi sensi dech..."
balas Rani dengan muka juteknya.
"Slamat pagi Tuan Daren...., saya sudah menyiapkan sarapan untuk Tuan dan nyonya...."
sapa pak Tono kepala koki yang berjalan dari arah dapur.
"Hmm.., trima kasih..., apa kau melihat isteri saya....?"
tanya Daren.
"Tidak tuan..... saya tidak melihatnya.."
jawab pak Tono dengan sopan sambil menundukkan kepalanya.
"Maaf Tuan muda...., tadi saya melihat nyonya muda ke arah taman...."
Daren yang mendengar perkataan mbak Susi, langsung menyusul isterinya ke taman yang berada di samping rumah mereka.
Disana Ia melihat Sheela isterinya sedang duduk di ayunan sembari memandangi pekarangan bunga dan kebun sayur yang ada di sekitar taman.
"Sungguh pemandangan yang indah..."
gumam Sheela.
Saat tiba di taman Daren memeluk isterinya dari arah belakang, seketika senyum mengembang di wajah Sheela saat mencium aroma khas dari tubuh suaminya.
"Moning honey...."
sapa Sheela.
Daren hanya membalas sapaan sang isteri dengan sebuah kecupan di pipi.
Rona bahagia semakin terpancar dari raut wajah Sheela.
Anak daddy sudah sarapan belum...
ucap Daren sambil mengelus perut Sheela.
Belum dad...., anak kita pengennya makan mangga muda.....
sahut Sheela dengan manja.
Mangga muda....!!
ucap Daren lirih
Hmmm....
angguk Sheela.
"Kalau gitu...., ntar aku suru Haris untuk mencarinya.."
ucap Daren kemudian.
"Nggak perlu dad...., aku pengennya mangga muda yang itu....."
__ADS_1
tunjuk Sheela pada pohon dekat dengan rumah khusus para pelayan yang berada di belakang rumah mereka.
"Yang mana.....?"
tanya Daren penasaran karena belum tahu betul dengan seisi pekarangan di setiap halaman rumahnya karena begitu luasnya.
"Itu honey...., dekat bangunan di belakang rumah..."
jawab Sheela yakin karena Sebelum duduk di ayunan, Sheela sudah mengitari taman bunga dan pepohonan yang menghasilkan berbagai macam buah.
"Sekarang...."
tanya Daren sedikit ragu.
"Hmmmm...."
angguk Sheela.
Untuk memenuhi keinginan sang isteri, Daren pun beranjak pergi ke belakang rumah dan di ikuti oleh Sheela dari belakang.
"Pohonnya tinggi sekali honey...."
ucap Daren sambil menengadah ke atas.
"Iya juga sech... tapi kan aku pengennya makan mangga itu dad...., jadi bagaimana dong..."
bujuk Sheela sambil mengelus perutnya yang masih rata.
"Kamu ada2 aja sayang...."
ucap Daren bingung harus bagaimana cara mengambil mangga tersebut karena sangat tinggi.
"Ntar beli di luar aja...."
sambungnya.
Sheela hanya terdiam dengan wajah cemberutnya, karena sedikit kecewa permintaannya tidak di penuhi oleh suaminya sendiri.
Daren yang masih terlihat bingung di bawah pohon mangga hanya menggelengkan kepalanya karena melihat raut wajah isterinya seperti itu.
"Permisi tuan dan nyonya...., apa anda butuh bantuan.."
ucap penjaga kebun yang sedang bertugas membersihkan pekarangan di sekitar taman.
"Iya pak.., tolong ambilkan mangga itu..."
tunjuk Sheela ke atas pohon
"Baik nyonya......, panggil mang Ujang aja nyonya...
jawab penjaga kebun tersebut sambil memperkenalkan dirinya dan segera memanjat pohon mangga.
Perasaan Sheela sedikit lega karena keinginannya akan terpenuhi.
Sedangkan Daren terlihat cukup lega karena mang ujang siap menggantikan dirinya untuk mengambil mangga yang cukup tinggi bagi seorang Daren.
Tapi bagi mang Ujang itu masih terlalu rendah baginya.
"Hati2 mang Ujang...."
teriak Sheela.
Tak butuh waktu yang lama, mang Ujang sudah menjatuhkan beberapa buah mangga muda ke bawah pohon.
"Makasi mang Ujang...."
ucap Sheela dengan senyum.
"Sama2 nyonya...."
balas mang Ujang dengan senang karena nyonya mudanya sangat ramah terhadapnya.
Hati Sheela sangat senang kemudian memungut mangga tersebut dan membawanya ke dalam rumah tanpa memperdulikan suaminya yang menyusul dari arah belakangnya.
Sampai di dapur Ia menyuruh Mbak Susi untuk mengupasnya, setelahnya Sheela duduk santai di ruang tamu sambil menyantap mangga mudanya dengan lahap.
Daren yang masih di cuekin sama Sheela pun sedang menyantap sarapannya di meja makan seorang diri karena perutnya sudah kelaparan dan itu wajib bagi dirinya untuk sarapan tepat waktu.
******
Bersambung......
Jangan lupa like, komen and votenya....
__ADS_1
Thank you all....