Calon Istri Yang Manja

Calon Istri Yang Manja
Bab 72


__ADS_3

Pukul 2 siang, Darren, Emelly dan sekertarisnya tiba di Jakarta.


Sebelum kembali ke rumah masing, mereka pergi keè perusahaan terlebih dahulu, karena ada hal penting.


Sebelumnya Darren sudah menghubungi sekertarisnya yang bernama Rara untuk menyiapkan rapat dan memberitahukan kepada petinggi2 diperusahaannya untuk segera berkumpul.


Kini Darren, Emelly dan sekertaris Haris sudah dalam perjalalan dan sebentar lagi akan sampai.


Sedangkan Sheela saat ini tengah mempersiapkan dirinya dan menyiapkan berbagai perlengkapan senamnya yaitu mulai dari handuk kecil, baju dan masih banyak lagi yang berkaitan dengan olahraga yang khusus untuk ibu2 hamil seperti dirinya.


Hanya beberapa menit, perlengkapannya pun sudah siap dan sekarang Sheela keluar dari kamarnya, lalu menuruni tangga lifhtnya menuju teras rumahnya.


Senamnya hari ini akan dilaksanakan jam 3 sore.


Di depan teras, pak Budi sudah setia menunggu Sheela dan siap untuk mengantarkannya ke tempat tujuan.


"Ayo pak, kita berangkat.!"


ucap Sheela.


"Baik nyonya.!"


sahutnya dengan ramah.


Dalam perjalanan, ponsel milik pak Budi tiba2 berbunyi tanda panggilan masuk dan dilayarnya tertera nama tuan Darren disana.


Pak Budi segera menepikan mobilnya dipinggir jalan dan segera mengangkatnya setelah minta izin kepada Sheela.


Sheela pun sempat melihat dengan sepintas nama suaminya tertera di layar ponsel sopirnya itu, saat pak Budi menatap sebentar layar ponselnya sebelum diangkat.


Sembari menyimak percakapan pak Budi dengan suaminya, Sheela mengambil ponsel miliknya dari dalam tas kecilnya yang berisi handuk dan sebotol air mineral didalamnya.


Sheela sedikit berkecil hati, saat mengecek email dan pesan chatnya yang terlihat kosong.


Karena Darren tidak menghubunginya dan memberinya kabar lagi setelah menutup panggilan teleponnya siang tadi secara tiba2.


Dirinya sedikit penasaran dengan obrolan pak Budi dan suaminya itu, karena pak Budi hanya sekedar mendengar dan menganggukkan kepalanya saat katakan iya tuan, baik tuan.


"Apa sech yang mereka obrolin..?!?"


gumamnya dalam hati lalu menyenderkan kepalanya menghadap kearah jendela kaca mobil.


Kini pak Budi sudah selesai ngobrol dengan Darren. Ia hendak mengemudikan mobilnya dengan segera, namun Sheela tiba2 bertanya padanya.


"Apa yang dikatakan suami saya pak..?"


Pak Budi menoleh ke arah belakang dengan senyum khasnya yang tipis.


"Anu Nyonya, tuan hanya katakan jika saya harus temani dan menunggu anda sampai selesai senam nanti.!"


"Oh..!


Yawudah jalan gi, ntar telat lagi.!"


perintahnya lalu memejamkan matanya sembari bersandar di sandaran jok mobil.


"Maaf nyonya, saya harus berbohong kepada anda.!


Sebenarnya tuan udah dijakarta sekarang,


tuan hanya ingin memberi anda kejutan sepertinya.!"


ucapnya dalam hati saat melihat sepintas kearah Sheela melalui kaca spion tengah, lalu kembali fokus mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Tak mengambil waktu yang lama, kini mereka sudah sampai di parkiran di sebuah gedung yang cukup besar dan terlihat mewah.


Bangunan tersebut terdapat 2 pintu dari arah bagian depan.


Satu bangunan di bagi menjadi dua.


Ruangan disebelah tempat Sheela bersenam, merupakan tempat senam bagi pria dan wanita.


Kemudian Sheela turun dari mobil.

__ADS_1


Ia berjalan memasuki pintu kelas senam khusus ibu hamil sembari membawa tas nya yang berisi segala keperluan senamnya.


Pak Budi sempat menawarkan diri untuk mengantar tas milik Sheela, namun Sheela menolaknya dengan halus dan tetap membawanya ke dalam tempat senamnya.


Di depan pintu masuk, seorang penjaga sudah menyambut dirinya dengan sopan dan ramah.


"Silahkan masuk nyonya.!"


kata penjaga itu dengan senyum.


Sheela hanya tersenyum kecil kearah penjaga itu tanpa mengucapkan satu katakan pun sambil terus memasuki ruangan itu.


"Halo cantik.."


sambut instruktur senam dengan gaya khasnya yang sedikit gemulai dari arah samping Sheela.


Sheela sedikit terperanjat dan terkejut.


"Dennis..!"


pekik Sheela lalu menutup mulutnya karena pekikannya sedikit keras.


"Nissa jenk.!


sahut Dennis dengan lirih, karena orang2 yang hadir saat ini, mengenal nama panggilannya yaitu Nissa.


"Opps...!


Nissa ya, im sorry.!"


ucapnya dengan senyum manis dan sedikit jaim.


"Kamu ngapain di sini.!?!"


tanya Sheela dengan heran dan pandangan matanya tertuju pada penampilan Dennis alias Nissa yang sedang mengenakan baju olahraga yang singlet dan celana tranningnya yang panjang.


"Kamu akan tahu nanti.!"


sahutnya lalu berjalan kedepan untuk menyapa ibu2 hamil yang lainnya.


Tangan kekar Dennis terlihat begitu jelas dan sangat berotot saat dirinya mengenakan baju singlet.


Jika di lihat dari jauh, dan orang2 belum mengenal siapa Dennis sebenarnya. Dennis itu terlihat sangat tampan dan nampak seperti pria tulen.


Itu terlihat jelas dari bentuk tubuhnya yang atletis dan proposional.


Peran Dennis di sini sebagai instruktur senam bagi ibu ibu hamil.


Setelah tamat SMA, Dennis melanjutkan pendidikannya dan mengambil jurusan bagian kesehatan.


Sembari kuliah, Dennis menjadi intruktur senam di tempat ini.


Dennis dipekerjakan oleh dosennya yang sehari-harinya menjadi dokter spesialis kandungan di salah satu rumah sakit yang ada di kota Jakarta.


Kini jam Menunjukkan pukul 3 sore pas.


Waktunya untuk senam.


Para ibu2 hamil sudah berkumpul dan duduk di matras yang sudah di sediakan sebelumnya.


Sheela pun sudah duduk di matras dan duduk di bagian pojok.


Kini Sheela tahu, jika Dennis itu menjadi instruktur senam dalam kelasnya.


Senyum manis Sheela tersungging jelas di bibirnya ketika Dennis menatap kearahnya.


Karena hari ini senamnya harus didampingi oleh suami masing2, Sheela menjadi sedikit minder.


Karena hanya dirinya yang tak memiliki pendamping saat ini.


Dennis pun menyadari apa yang dirasakan oleh Sheela saat ini.


Kini Dennis berjalan mengitari satu persatu ibu2 hamil yang mengikuti senam dan memberi petunjuk kepada suami masing2, bagaimana posisi tangan mereka membantu isteri mereka untuk bersenam.

__ADS_1


Setelah berkeliling, kini Dennis berhenti tepat disamping Sheela.


Dennis menawarkan diri untuk membantu Sheela untuk senam.


Sheela pun menurutinya.


Karena pikirnya Dennis itu bukan pria seutuhnya dan tidak tertarik pada perempuan.


Namun saat Dennis baru saja duduk di belakang Sheela, Darren tiba2 muncul dari arah belakang.


Ia langsung berjalan kearah isterinya dan memperlihatkan wajah sangarnya yang dingin.


Darren menghentikan langkahnya tepat di depan Sheela yang posisinya sedang menyandarkan tubuhnya kebelakang dan di topang oleh Dennis dari belakang mengggunakan kedua tangannnya yang terlihat kekar di mata Darren.


Seketika Sheela terperanjat.


Dennis hanya melongo dan terdiam.


Ia tidak mengenal pria yang kini ada di depan matanya sembari melototkan mata kearahnya.


Sheela berusaha meluruskan badannya namun sangat susah dengan posisi seperti itu.


Darren pun menyadarinya, dan segera mengulurkan tangannya untuk membantu isterinya agar duduk tegak seperti semula dan segera menepis tangan Dennis dari belakang isterinya.


Namun sorotan matanya yang begitu tajam tak lepas dari wajah Dennis.


Kini Darren meraih baju dan ingin menarik baju Dennis keatas, namun


Sheela menyadari akan hal itu, lalu segera berdiri dan memeluk tubuh suaminya agar kemarahannya tidak menjadi jadi.


"Berani - beraninya kau sentuh tubuh isteriku.!"


pekik Darren.


"Honey, tolong hentikan.!


Dennis ngga salah. Dia hanya mau bantu aku...


ucapan Sheela terhenti saat Darren memotong ucapannya.


"Dennis.!


wah cepat skali kamu kenal dia.!"


pekiknya dengan nada tinggi, membuat orang2 di sekeliling merasa heran dan sedang memperhatikan mereka.


Lagi dan lagi, Dennis hanya terdiam dan cukup tenang.


Apalagi saat ia tahu, kalau pria yang sedang marah kepadanya itu adalah suami dari Sheela.


"Semua orang yang berada diposisinya saat ini, pasti akan marah jika melihat pasangannya di sentuh oleh orang lain."


pikir Dennis dalam hati.


Ia sangat memaklumi kemarahan Darren.


Semua orang yang menyaksikan hanya terdiam.


Kemudian Darren meraih lengan isterinya.


"Urusan kita belum selesai.!"


ancamnya kepada Dennis,


lalu menarik tangan Sheela dan membawanya keluar dari ruangan itu.


Kemudian menyuruh isterinya naik keatas mobil yang Ia kemudikan langsung dari kantornya sebentar tadi.


Pak Budi yang melihatnya, hanya terdiam dan heran.


Kemudian Ia berlari kecil memasuki ruangan itu untuk mengambil tas milik Sheela yang tertinggal.


Lalu mengikuti kendaraan tuannya dari arah belakang, yang arahnya menuju mansion.

__ADS_1


***********


Bersambung......


__ADS_2