
Tiga hari setelah menjalani pasca caesarnya, Sheela sudah pulih dari rasa sakitnya.
Semuanya itu nampak jelas dari raut wajahnya yang sedikit cerah.
Rencananya siang ini Sheela sudah di perbolehkan pulang kerumahnya,
menurut perkataan dokter kemarin.
Sasa sahabatnya pun selalu setia menemani dirinya dan saat ini, Sasa sedang membantu nyonya Jeslin untuk berkemas kemas mengumpulkan segala perlengkapan yang di butuhkan oleh Sheela dan bayinya selama berada dalam rumah sakit.
Sasa sangat mendukung keputusan sahabatnya yang akan ikut ke Bandung bersama kedua orang tuanya.
Tapi Sasa juga berharap Sheela sahabatnya itu tidak berlama lama di sana dan mau memaafkan suaminya dengan segera.
Karena sebelumnya Darren sudah curhat kepada Sasa tentang kesalahpahaman Sheela terhadap dirinya bersama Emelly beberapa hari yang lalu.
Saat itu juga Sasa mau memahami dan mengerti alasan Darren.
Namun Sasa tidak bisa berbuat banyak untuk membantu Darren.
Sasa hanya memberi saran kepada Darren agar memberikan waktu dan ruang kepada Sheela, untuk menjernihkan pikirannya.
Tentunya Sasa juga memberi saran agar Darren tak patah semangat dan berusaha mendapatkan kembali kepercayaan dari sahabatnya itu.
Sedangkan Darren saat ini masih berada di kantor karena ada urusan mendadak, yang mengharuskan dirinya hadir.
Perusahaannya sedang di landa masalah serius.
Perusahaannya saat ini telah di salahgunakan oleh investor asing yang ikut berinvestasi di perusahaannya.
Dengan adanya masalah ini, waktu cuti Darren pun sangat terganggu.
Namun Darren berusaha untuk menyelesaikannya dengan cepat dan tepat waktu.
Agar dirinya bisa mengantar Sheela dan putranya ke Bandung.
Sebelumnya Ia sudah berpesan kepada Sasa, untuk menyampaikan hal itu kepada Sheela isterinya.
Sasa pun sudah menyampaikan pesan Darren kepada Sheela.
Namun Sheela tidak menanggapinya dan hanya berkata jika dirinya sama sekali tidak mengharapkan bantuan dan kehadiran Darren saat ini.
Raut wajahnya menampakkan kekesalan dan amarah yang mendalam.
Bahkan hatinya semakin benci terhadap sosok lelaki yang masih berstatus sebagai suaminya itu.
Sasa sangat memaklumi perasaan sahabatnya itu.
Ingin rasanya Ia menyampaikan curhatan Darren kepadanya.
Tapi Sasa rasa untuk saat ini waktunya masih kurang tepat.
Apalagi saat ini ke dua orang tua Sheela sedang bersama mereka di kamar itu.
Beberapa menit kemudian, nyonya Shita juga muncul dari balik pintu dengan senyum khasnya.
Namun seketika hilang dalam sekejap.
Karena tak menemukan sosok sang putra dalam kamar tersebut.
"Kemana lagi anak itu.!?!"
gumamnya dengan kesal.
__ADS_1
Selang dua menit.
Dokter yang membantu Sheela saat proses melahirkan juga datang, bersama dua orang perawat di sampingnya.
Dokter itu tersenyum sumringah dan memberi selamat buat kesembuhan Sheela.
"Siang ini anda boleh pulang,
tapi ingat.!
selalu jaga kesehatan dan kurangi stress agar bayi dan ibunya selalu dalam keadaan sehat.!"
sarannya kepada Sheela.
"Amiin.!"
ucap Sheela dengan senyum.
Tak mengambil waktu yang lama, dokter itu segera pamit setelah memeriksa bekas caesar di perut Sheela yang kini sudah nampak membaik dan mengering.
Sepeninggalan dokter, tuan Hardi segera mengangkat satu persatu perlengkapan cucunya yang sudah terkumpul rapi dan membawanya ke mobil miliknya yang terparkir di parkiran rumah sakit.
Begitu pun dengan Sheela. Dirinya sudah siap untuk pulang.
Ia pun sudah mengganti baju seragam pasien yang Ia kenakan sehari hari selama berada di rumah sakit itu, dengan baju gaunnya yang sedikit longgar.
Agar
lebih leluasa dan membuatnya tubuhnya terasa nyaman.
Melihat anak menantunya sudah siap berangkat dan rapi dengan pakaiannya.
Kekesalan nyonya Shita semakin bertambah karena sampai detik ini Darren belum juga menampakkan dirinya.
Sehingga tak bisa di hubungi.
Untuk menghilangkan rasa kesalnya dan jenuhnya menantikan kemunculan putranya, nyonya Shita menimang cucunya itu dan mengecup lembut pipi kanan dan kirinya.
Sasa pun tak kalah gelisahnya menantikan kedatangan Darren.
Karena pikirnya, ini adalah kesempatan yang terbaik untuk Darren.
Bisa mengantar isteri dan putranya ke kota Bandung.
Setelah barang2 milik Sheela dan putranya sudah terangkut semua ke atas mobil.
Sasa segera memapah sahabatnya itu dan siap keluar dari dalam kamar ranapnya.
Nyonya Shita dan nyonya Jeslin juga mengikuti mereka dari arah belakang.
Nyonya Jeslin berjalan berdampingan dengan besannya yang kini sedang menggendong cucu mereka berdua.
Tiada hentinya nyonya Shita memohon maaf kepada nyonya Jeslin karena ulah putranya itu.
Apalagi saat ini, Darren belum juga menampakkan batang hidungnya sedikit pun.
Nyonya Jeslin pun menyambut baik permintaan maaf besannya itu.
Nyonya Jeslin bisa memahami posisi anak menantunya.
Tidak mudah untuk memimpin perusahaan2 yang lumayan besar.
Namun lain halnya bagi tuan Hardi dan Sheela.
__ADS_1
Ayah dan anak itu sifatnya hampir sama.
Tidak mudah memaafkan.
Setibanya di parkiran mobil, Sheela langsung naik keatas mobil dibantu oleh sahabatnya.
Kemudian nyonya Jeslin juga segera menyusul naik ke atas mobil karena tuan Hardi sudah menunggu di balik kemudinya.
Namun saat nyonya Shita hendak menyerahkan cucu kesayangannya ke pangkuan nyonya Jeslin.
Mobil Darren tiba tiba muncul dari arah depan dan berhenti tepat di samping mobil ayah mertuanya.
Darren bergegas turun dari atas mobilnya dan berlari menghampiri putra tercintanya yang masih ada dalam dekapan nyonya Shita.
Setelah mengecup putranya, Darren meminta maaf atas keterlambatannya itu dan memohon kepada ayah mertuanya, agar
dirinya juga di ijinkannya untuk ikut bersama, mengantarkan isteri dan putranya ke Bandung.
Sheela sempat menolaknya.
Sedangkan tuan Hardi hanya diam membisu dan tidak menanggapi permintaan anak mantunya itu.
Namun nyonya Jeslin dengan senang hati mempersilahkan Darren ikut bersama mereka dan segera menyuruhnya naik ke atas mobil.
Darren merasa lega dan senang.
Sebelum naik keatas mobil, Ia pamit kepada ibunya dan Sasa.
Sekaligus menyerahkan kunci mobilnya itu kepada ibunya.
Niatnya, ingin mengantar isteri dan putranya menggunakan kendaraannya.
Namun mustahil bagi Sheela untuk mau ikut bersamanya.
Lalu kemudian,
dirinya bergegas naik ke atas mobil dan duduk berdampingan dengan Sheela di jok bagian tengah mobil.
Mobil pun siap berangkat ketika nyonya Shita sudah menyerahkan cucunya ke tangan besannya, yang kini sedang tersenyum ramah kepadanya.
Setelah pamit.
Tuan Hardi segera mengemudikan kendaraannya meningalkan area rumah sakit.
Nyonya Shita dan Sasa merasa sedikit lega.
Karena kedatangan Darren tepat pada waktunya.
Mereka berharap Darren bisa meluluhkan hati seorang Sheela yang kini sedang di rundungi kesalahpahaman dan terlanjur sakit hati akan tindakan dan perbuatan Darren yang menurutnya sedikit bodoh, di mata sang ibu.
Mereka pun masuk ke dalam kendaraan masing2 dan segera meninggalkan area parkiran,
setelah nyonya Shita menitipkan kunci mobil Darren kepada security rumah sakit.
Karena sebentar lagi pak Budi akan datang mengambil mobil milik tuannya dan di antar oleh sekertaris Haris.
********
Bersambung....
Jangan lupa dukungannya ya..
Thank you all.....
__ADS_1