Calon Istri Yang Manja

Calon Istri Yang Manja
Bab 52


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 1 jam lamanya, Darren tiba di kantor polisi.


Jarum jam kini menunjukkan pukul 3.30 subuh menjelang pagi.


Daren bergegas turun dari mobilnya dan langsung menuju sebuah ruangan untuk menemui Kapolri.


Kebetulan Kapolri ini bernama pak Reza. Beliau adalah teman seangkatan Tuan Vincent, ayahnya Daren dari jaman kuliah dulu.


Demi anak sahabatnya, pak Reza rela turun tangan menggerakkan bawahannya untuk mengejar Sarah dan Helena.


Semenjak Sheela hilang, Darren tidak pernah memberitahukan kepada keluarganya mengenai kehilangan Sheela.


Baik itu kepada kedua orang tuanya, maupun kepada orang tua dari Sheela sendiri.


Darren tidak ingin membuat keluarganya menjadi panik dan kaget.


Terutama kepada Nyo. Shita yang lekas naik pitam.


Bisa2 Darren kena omelan bulan2nan dari ibunya itu.


Sesampainya di depan pintu ruangan milik pak Reza, Darren langsung dipersilahkan masuk dan duduk dalam ruangan itu sambil berbincang bincang sebentar.


Setelah berbincang, pak Reza mengajak Darren untuk melihat Sarah dan Helena di dalam ruang tahanan.


Hanya berjalan beberapa menit, Mereka sudah sampai di ruangan tahanan.


Dari luar, terlihat Helena dan Sarah duduk meringkuk dibawah lantai sambil menekuk kedua kakinya lalu kepalanya di benamkan di lutut kakinya.


Tiba2 pintu jeruji besi terbuka membuat Sarah dan Helena terperanjat kaget dan sedikit heran.


"Kalian berdua silahkan keluar..! ada seseorang yang ingin bertemu dengan kalian.."


perintah petugas tahanan yang sedang berjaga malam ini.


Kemudian Sarah dan Helena saling berpandang pandangan karena heran.


"Siapa...!"


"Nantinya kalian akan tahu sendiri..!


silahkan keluar sekarang juga.."


sahut petugas itu lalu segera mengantar Sarah dan Helena keruangan pengunjung.


"Darren..!"


ucap Sarah dan Helena dalam hati ketika sampai di ruangan tempat Darren berada.


"Cepat katakan, kalian sembunyikan dimana isteri saya...!?"


tanya Darren sedikit berteriak setelah Sarah dan Helena duduk berhadapan dengannya yang hanya di pisahkan sebuah meja saja.


Sarah dan Helena hanya menyeringai tanpa menjawab pertanyaan Darren.


Seakan mereka mengejek Darren dan merasa puas dan senang karena sampai sekarang Darren belum menemukan isterinya.


Sontak Darren berdiri dengan wajah berangnya lalu menghantam meja di depannya membuat Sarah dan Helena tersentak kaget.


Begitu pun dengan petugas2 yang sedang mengawasi mereka saat ini.


Mereka ingin menghampiri Darren yang sudah mulai terbawa emosi.


Takutnya Darren bertindak lebih jauh hingga menyalahgunakan aturan dalam menjenguk tahanan. Namun pak Reza menahan kedua petugas itu.


"Baiklah. Saya akan kasih tahu dimana isteri anda sekarang. Tapi dengan satu syarat, anda harus mengembalikan perusahaan milikku sekarang juga..!"


ucap Helena seakan menantang Darren.


Seketika raut wajah Darren memerah menahan amarah yang sewaktu waktu akan meledak dan ingin mencekik leher Helena saat ini, namun tiba2 ponselnya berdering dari dalam saku celananya tanda panggilan masuk.


Tanpa menunggu lama, Darren langsung mengangkat telponnya dan beranjak pergi meninggalkan ruangan itu dan di ikuti oleh pak Reza dari belakang.


"Ada apa nak Darren..?"


tanya pak Reza sedikit penasaran sesudah Darren menerima panggilannya dari anak buahnya.


"Saya harus kembali kepenginapan pak.

__ADS_1


Ada sekelompok preman yang menyerang anak buah saya di sana.."


sahutnya membuat pak Reza bengong dan kurang mengerti dengan penjelasan Darren.


"Nanti akan saya jelaskan lebih detailnya lagi pak.."


"Saya harus segera kesana..."


lanjutnya.


"Baiklah. Kalau begitu, saya akan menugaskan beberapa petugas polisi untuk mengikuti kamu dari belakang, ini demi keamanan kamu sendiri.."


"Trimakasih pak.."


ucapnya sekalian pamit dan segera beranjak pergi menuju tempat penginapan anak buahnya.


Dari arah belakang beberapa mobil patroli mengikuti mobil Darren.


*******


Di tempat penginapan sekelompok preman sedang mengepung di depan pintu lobby..


Ditangan mereka, masing2 membawa sebuah pistol hasil selundupan.


Dua orang petugas security sempat menghalangi sekelompok preman itu didepan pagar pintu masuk, namun preman itu langsung menghajar kedua security hingga terpental ke lantai.


Kedua security itu merasa tak berdaya menghadapi sekelompok preman yang mungkin mencapai puluhan orang.


Preman2 itu ingin menyelamatkan teman mereka yang di sekap oleh anak buah Darren dalam penginapan kecil itu, atas perintah bos mereka, setelah mendapat laporan dari anak buahnya yang lolos dari kejaran Darren beberapa jam yang lalu.


Bos preman itu merupakan juragan dalam kampung tersebut. Penduduk setempat selalu was2 dan di buat resah karena Juragan preman itu Selalu memerintahkan anak buahnya untuk merampas hasil panen petani dalam perkampungan itu.


Jarak dari penginapan dan kampung tersebut hanya berjarak setengah jam lamanya jika menggunakan kendaraan mobil.


Satu jam kemudian, Darren tiba di penginapan itu bersama personil polisi yang langsung mengangkat pistol dan melayangkan tembakannya keatas udara, agar preman itu menghentikan aksi mereka untuk membobol dan menghancurkan penginapan itu secara membabi buta.


Sontak preman itu menembak kearah Darren dan polisi.


"Pak Darren..! anda harus berlindung dan tetap berada di belakang kami.."


ucap polisi yang siap melayangkan tembakannya ke arah preman2.


Hingga terjadilah saling kejar kejaran dan saling baku tembak antara polisi dengan preman2 itu.


Hanya hitungan menit, polisi melumpuhkan sekelompok preman itu sampai tuntas. Tidak ada satu pun dari sekian preman yang berhasil lolos dari kejaran polisi.


Setelah di selidiki satu persatu, ternyata preman itu sudah menjadi incaran polisi dari jauh hari.


Banyak laporan dari masyarakat sekitar mengenai komplotan para preman itu yang sering meresahkan warga setempat dan sekitarnya.


Selain perampasan hasil panen petani, kelompok preman itu juga sering melakukan penculikan hingga pemerkosaan dan pembunuhan sekalipun.


Satu persatu preman itu diamankan dan berbaris sembari berjongkok dibawah lantai, tangan mereka langsung di borgol.


Walau pun mereka berbadan besar dan bertato namun saat ini, hanya jeritan2 terdengar dari mulut preman2 tersebut karena rasa nyeri pada luka tembakan di bagian lutut dan kaki mereka.


Sesudah di borgol, para preman itu, satu persatu di naikkan keatas mobil pick up patroli yang berjumlah 4 mobil, kemudian preman2 itu segera dibawah ke kantor polisi lalu di jobloskan kedalam penjara.


Sebagian petugas polisi masih tinggal di penginapan bersama Darren.


Mereka ingin melanjutkan perjalanan menuju perkampungan untuk menangkap juragan atau bos dari preman2 yang baru saja dilumpuhkan dengan timah panas polisi.


Sekaligus melakukan pencarian isteri Darren yang entah dimana keberadaannya saat ini.


Atas petunjuk dari salah satu preman yang dibekuk saat ini, mereka telah sampai diperkampungan itu dan tiba di depan pintu markas milik juragan, bos dari sekelompok preman.


Personil polisi langsung mengepung dan perlahan memijakkan kaki memasuki markas sambil mengacungkan pistol mereka kedepan dan selalu siap siaga apabila ada perlawanan dari dalam markas itu.


Hanya beberapa langkah, mereka disambut dengan tembakan beruntun dari dalam markas.


Personil polisi langsung melakukan serangan balik hingga terjadi lagi saling baku tembak antara preman2 dan pihak polisi.


******


Dalam perkampungan tersebut hanya terdengar suara tembakan hingga penduduknya merasa heran dan takut keluar dari rumah mereka, Walaupun hari sudah mulai pagi dan sebentar lagi cahaya mentari akan menyinari bumi.


Dari rumah Mbah Akung juga terdengar jelas dengan suara tembakan itu.

__ADS_1


Karena jarak antara rumah Mbah Akung dan markas juragan sangat berdekatan.


Tiba2 Sheela terbangun dan tersadar dari pingsannya ketika mendengar suara tembakan yang beruntun di telinganya.


Beberapa kali Sheela mengerjapkan matanya agar matanya terbuka dengan sempurna. Setelah itu, Sheela merasa heran dengan suasana kamar yang sangat asing baginya.


Kemudian Sheela perlahan bangun dari tempat tidur yang terbuat dari rotan, lalu duduk sebentar di atas tempat tidur untuk memulihkan ingatannya sambil memandangi dinding dan seisi kamar.


Tidak ada satu pun benda yang berharga di dalam kamar itu dipemandangan Sheela.


Sungguh sebuah rumah yang jauh dari kemewahan.


Sheela pun mulai memijakkan kakinya dengan perlahan, langkah demi langkah menuju pintu, lalu membuka kain pintu yang tergantung sebagai pengganti untuk menutupi ruangan kamar.


Di ruangan tamu, Sheela melihat ada pak Budi sambil berbincang bincang dengan dua orang yang kelihatannya orang baik di pemikiran Sheela.


Sheela sedikit lega, karena pak Budi masih ada bersama dirinya dalam rumah itu.


Kemudian Sheela menghampiri pak Budi.


"Nyonya..!"


seru pak Budi.


"Syukur ya Tuhan..! nyonya Sheela sudah sadar dari pingsannya.."


lanjutnya dengan mengucap syukur kepada Tuhan sang pencipta langit dan bumi.


Mbah Akung dan isterinya juga turut senang melihat Sheela sudah tersadar dari pingsannya.


Namun kesenangan mereka hanya sebentar karena tembakan semakin terdengar jelas ditelinga.


Ternyata diluar sana terjadi kejar kejaran. Beberapa preman sedang berlari dan ingin bersembunyi di dalam rumah Mbah Akung.


Salah satu dari preman itu menodongkan pistolnya kearah pak Budi, Sheela, Mbah Akung dan isterinya secara bergantian.


Preman itu mengancam akan menembaki mereka satu persatu apabila memberitahukan keberadaannya di rumah ini saat polisi datang mencari kedua preman itu.


Selang beberapa menit, dua orang polisi berhenti berlari di depan rumah Mbah Akung.


Salah satu polisi itu bertanya pada Mbah Akung yang baru saja keluar dari dalam rumahnya.


Mbah Akung di tugaskan oleh kedua preman itu untuk menemui dan berbincang dengan polisi yang mengejar mereka.


"Slamat pagi pak.., apa anda melihat dua orang preman yang tadinya berlari kearah sini..?"


tanya polisi kepada Mbah Akung yang sudah terlihat pucat dari raut wajahnya.


"Sa...saya tidak melihat mereka pak...!"


sahutnya terbata bata namun lirikan mata Mbah Akung memberi petunjuk kepada polisi bahwa kedua preman itu sedang bersembunyi di dalam rumahnya sambil menyandera isterinya dan kedua tamunya.


Polisi itu pun langsung bertindak dan memasuki rumah Mbah Akung.


Kedua preman itu nampak kelabakan dan segera menarik lengan Sheela dengan kuat lalu menodongkan pistol tepat di kepala Sheela.


Dari arah pintu belakang satu orang polisi diam2 membidik lengan preman yang menodongkan pistol ke kepala Sheela dan hanya sekali tembakan preman itu lumpuh dan pistolnya terpental jauh karena hentakan dari tembakan timah panas polisi.


Akhirnya kedua preman itu berhasil di bekuk.


Sebelum membawa kedua preman itu,


Mereka berterima kasih kepada Mbah Akung karena sudah bekerja sama dengan polisi untuk menangkap kedua preman itu.


Kemudian salah satu dari polisi itu mengenali wajah Sheela dan pak Budi melalui foto pencarian Sheela di kantor polisi setelah Sheela hilang.


"Apa anda yang bernama Sheela dan pak Budi...?"


tanya polisi itu ke arah Sheela dan pak Budi secara bergantian.


"Benar pak..!"


jawab Sheela dan pak Budi serentak.


"Kalau begitu, silahkan ikut bersama kami karena suami anda sedang menunggu di sana..."


ucap polisi itu menunjuk kearah markas..

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2