
Kini Kesehatan Sheela sudah mulai berangsur angsur pulih kembali dan akan segera pulang ke mansion, setelah dirinya dirawat sehari semalam dirumah sakit.
Bayi dalam kandungannya pun sudah mulai membaik.
Semuanya itu berkat resep obat yang diberikan oleh mbah Akung kemarin.
Karena kemarin Sheela tiba2 drop dan pingsan lagi.
Sehingga pak Budi menyarankan pendapatnya kepada Darren agar segera menjemput Mbah Akung.
Setelah pak Budi menjelaskan panjang lebar mengenai Mbah Akung, Darren mulai paham, lalu mengijinkan pak Budi untuk pergi menjemput Mbah Akung.
Namun Mbah Akung tidak ikut, Ia hanya memberikan sebuah obat herbal dari alam yang langsung dia racik sendiri.
Walau pun seorang Darren adalah orang yang kurang percaya dengan
hal2 yang berbau mistis dan pengobatan tradisional, namun demi kesembuhan isterinya. Ia rela melakukan apa pun, asalkan isterinya selamat dan tidak melenceng dari agama.
Sesampainya mereka di mansion, Sheela langsung beristirahat di dalam kamarnya.
Kini Darren membuat peraturan baru untuk Sheela.
Sheela di larang bolak balik ke dapur.
Bila ingin makan dan perlu sesuatu, Bi Surti siap melayaninya selama 24 jam.
Sheela sempat menolak, bila dirinya harus dikamar dan harus dilayani selama 24 jam.
Namun Darren tetap bersikukuh dengan aturan barunya itu.
Sheela boleh keluar dari kamar apabila Darren memberi ijin ke padanya.
"Papi pijatin ya...?"
tawar Darren ketika Sheela duduk bersandar di sandaran kasurnya dengan wajah cemberutnya.
Tanpa dipersilahkan, Darren langsung memijat kaki Sheela yang sedang di selonjorkan di atas tempat tidur.
Kemudian beralih ke seluruh bagian tubuh Sheela.
Perlahan hati Sheela jadi luluh karena tehipnotis oleh rayuan gombal Darren serta pijatannnya yang membuat tubuh Sheela jadi bugar kembali.
Setelah memijat seluruh bagian tubuh isterinya, kini Darren duduk bersebelahan dengan Sheela sembari mengelus perut Sheela dengan lembut.
Kemudian mencium perut Sheela, lalu membisikkan sesuatu disana. Namun masih terdengar di pendengaran Sheela.
"Sehat selalu ya Nak...."
"Makasi pi, udah pijatin mami...."
ucap Sheela dengan senyum manisnya.
"Iya sayang..!
ucapnya lalu mengecup kening Sheela.
Ingat ya..! jaga kesehatan. Nggak boleh kemana- mana dulu selama sebulan.
lanjutnya membuat Sheela melongo dengan mulut menganga karena kaget.
"Trus.., kuliahku gimana, papi...!?"
ucapnya kemudian dengan sedikit rayuan dan bermanja dilengan suaminya.
"Esok papi akan kekampus mami. Sekalian mampir ke rumah sakit tempat mami praktek untuk minta izin..
Pokoknya, mami harus ikuti aturan papi.
Demi kesehatan mami dan bayi kita..!"
tegasnya sembari mengelus perut Sheela sebentar lalu turun dari kasur menuju kamar mandi.
Sheela hanya terdiam membisu di atas kasurnya, tak bisa di pungkiri oleh Sheela. Semua itu demi kebaikan dirinya sendiri serta bayi yang dikandungnya saat ini.
Sheela mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya, lalu mengucap syukur kepada Sang Pencipta langit dan bumi beserta isinya.
"Trima kasih ya Tuhan. Aku boleh berkumpul kembali dengan keluarga kecilku dirumah ini.."
Beberapa saat kemudian, Sheela mencari ponselnya yang entah dimana.
Ia ingin menghubungi sahabatnya yang mungkin sudah gelisah menanti kabar darinya.
"Oh iya.., ponsel gue dimana ya.?
pikir Sheela.
__ADS_1
Astaga.., kok gue bisa lupa sech..! ponsel gue kan ketinggalan di atas mobil saat itu.."
lanjutnya mengingat ketika dirinya di culik beberapa hari yang lalu dan ponselnya ketinggalan di atas mobil dan kebetulan saat itu ponselnya dalam keadaan lowbet hingga tak bisa di hubungi sama sekali.
Kini Darren keluar dari kamar mandi dengan tubuh segarnya sehabis mandi.
Kemudian Sheela menoleh kearah suaminya yang sedang mengambil baju gantinya dari dalam lemari.
"Pi..! boleh tak, mami pinjam ponselnya sebentar..?"
Darren menoleh sebentar ke arah Sheela. Lalu mulai mengenakan celana boxernya. Membuat Sheela mengalihkan pandangannya sembari berbicara.
"Mami pengen telpon Sasa bentar Pi..!
Mungkin Dia udah nunggu kabar dari mami.."
Tak mengambil waktu yang lama, Darren sudah siap dengan baju kaos biru mudanya dipadukan padankan dengan celana pendeknya yang berwarna putih. Membuat kulit putihnya semakin cerah, menyatu dengan warna baju yang Ia kenakan saat ini.
Kemudian Darren menghampiri Sheela yang masih duduk bersandar di atas kasur lalu menyodorkan sebuah kotak ponsel baru kepada Sheela.
Sheela menatap kotak ponsel itu dengan seksama karena sedikit heran, karena tadinya, Ia hanya ingin meminjam ponsel suaminya.
Tapi tiba2, Ia di beri ponsel keluaran terbaru yang hanya ada beberapa pcs di dunia ini.
Itu sudah terlihat jelas dari kotaknya yang sangat elegan.
"Ini buat mami pi...!?"
ucapnya.
"Hmm.., dan ini SimCard mami. Papi belum sempat masukin kartunya.."
ucap Darren setelah mengambil SimCard dari dalam dompetnya yang selalu Ia kantongin saat mengambil ponsel Sheela dari dalam mobil yang terparkir di tengah jalan beberapa hari yang lalu.
"Trus.., ponsel lama mami, dimana..?"
tanya Sheela.
"Udah papi buang. Lagian ponsel mami udah keluaran lama dan sering lowbet lagi..!"
ucapnya dengan enteng membuat Sheela malu sendiri karena memang ponselnya itu sering lowbet dan keluaran lama.
Sudah lama Sheela ingin mengganti ponselnya itu, namun belum sempat dan sering tertunda karena kesibukannya.
"Makasi ya pi..."
"Sini papi pasangin kartunya., mami mandi gi'. Udah bau asem..."
sindirnya sembari mengendus- enduskan hidungnya di ketiak Sheela. Membuat Sheela tersenyum tipis sembari mencium aroma tubuhnya sendiri yang memang sudah sedikit bau keringat.
"Hmm.."
sahut Sheela lalu beranjak kekamar mandi karena tubuhnya sudah gerah.
"Papi udah ngisi bathupnya dengan air hangat..! mandinya jangan lama- lama ya, ntar masuk angin.."
pekiknya saat Sheela sudah masuk kekamar mandi.
"Iya papi.."
sahut Sheela lalu menutup pintu kamar mandi.
Sesudah memasukkan kartu Sim Sheela kedalam ponsel, Darren menatap jam yang sudah menunjukkan waktu untuk makan siang sambil mengelus perutnya yang sudah mulai keroncongan.
Beberapa menit kemudian, Bi Surti sudah mengantar makan siang mereka ke dalam kamar.
Saat Bi Surti masuk kekamar, Ia memandangi sekitar kamar namun tak menemukan Sheela.
Namun saat dirinya hendak pamit, Sheela tiba2 keluar dari kamar mandi dengan handuk kimononya dan menutup rambutnya dengan menggunakan handuk kepalanya, membuat Bi Surti memasang senyum harunya serta bahagia ke arah Sheela karena Sheela dalam keadaan baik2 saja dan saat kedatangan Sheela tadi, Bi Surti sedang berada di kamar mandi.
"Kenapa Bi.., Bibi kangen ya sama aku.."
canda Sheela saat Bi Surti menatap dirinya tanpa berkedip dengan wajah sendunya.
Sedangkan Darren hanya menyimak dan sibuk membaca koran di tangannya.
"Syukurlah, nyonya sudah kembali dalam keadaan sehat."
ucapnya dengan menitikkan air matanya membuat Sheela menghampirinya dan memeluk Bi Surti dengan penuh kehangatan.
"Udah Bi.., jangan sedih2 lagi. Sheela baik2 aja kok."
ucapnya dengan lirih lalu melepaskan pelukannya.
Dalam rumah ini, selain pak Budi. Bi Surti juga tahu mengenai kehilangan Sheela beberapa hari yang lalu.
__ADS_1
Saat itu Darren sempat menelponnya dari Bali.
"Kalau begitu, saya permisi dulu Nya.
Silahkan di makan makanannya, keburu dingin."
pamitnya.
"Makasi ya Bi..."
ucap Sheela.
Ketika Sheela hendak berjalan ke arah lemari untuk mengambil baju gantinya, Darren memanggilnya dan menyuruhnya untuk makan dulu.
Tanpa adanya penolakan Sheela langsung menghampiri suaminya yang sudah nampak kelaparan dari raut wajahnya dan sudah duduk di depan meja tempat Bi Surti meletakkan hidangannya sebentar tadi.
Kemudian Sheela ikut duduk berseblahan dengan Darren.
Mereka pun mulai menyantap hidangan itu dengan lahapnya, terutama Darren.
Tak terasa nasi dan lauk pauk di atas meja sudah habis semuanya.
Sesudah makan, Darren hanya duduk bersandar di kursi sofanya karena kekenyangan.
Kemudian Sheela mengambil tissue lalu menyeka keringat dingin Darren yang keluar dari pelipisnya.
Walau pun suhu didalam kamar sangat dingin.
"Papi ngga kenapa2 kan..!?"
tanya Sheela yang mulai cemas karena keringat Darren tiada hentinya keluar dari kening serta tubuhnya.
"Papi ngga kenapa2 kok Mi..!
cuman tadinya papi udah kelaparan banget."
sahutnya sembari menutup mata.
Kalau begitu papi istirahat di kasur aja.!
ucapnya lalu segera beranjak ke lemari untuk memilah baju yang akan Sheela kenakan saat ini.
Hanya butuh beberapa menit, Sheela sudah nampak anggun dengan baju gaun rumahnya yang sangat menggoda di mata Darren dan semakin cantik.
Namun Darren menahan hasratnya itu karena saat ini Sheela baru saja pulih dari sakitnya dan fisiknya masih terlihat lemah di mata Darren.
Di depan cermin, Sheela merapikan rambutnya menggunakan sisir, hingga terurai panjang melewati bahunya dan sesekali memandangi wajah suaminya dari balik cermin hiasnya yang sedang menatap tubuhnya dari belakang.
Setelah menyisir rambutnya, Sheela beranjak ke kasur, lalu duduk kemudian mengambil ponselnya dari atas nakas yang sudah siap Ia gunakan untuk menelpon sahabatnya itu.
Saat dirinya hendak menelpon, Darren menghampirinya dan duduk berseblahan dengan Sheela.
Darren kemudian merangkup wajah Sheela dengan kedua tangannya hingga wajah mereka saling berhadapan lalu menatapnya begitu lekat.
Sheela hanya diam mematung di tempatnya. Ia pun menatap wajah suaminya dengan mata sayunya hingga membuat iman Darren tergoda.
Perlahan Darren mengecup kening Sheela dengan lembut. Lalu mulai berpindah ke pipi kanan dan kiri Sheela.
Sheela hanya terdiam dan tanpa adanya penolakan karena Ia juga sudah rindu dengan belaian suaminya itu.
Setelah puas mengecup pipi dap kanan Sheela, Darren beralih ke bibir Sheela yang sangat menggoda itu.
Tanpa menunggu lama, Darren ******* bibir Sheela dengan lembut.
Sheela pun membalas ******* suaminya hingga mereka berpagutan layaknya dua insan yang sudah setahun tidak berjumpa.
Kemudian Darren membaringkan tubuh Sheela ke kasur, lalu Darren menindihnya tubuh Sheela tanpa menyakiti perutnya.
Namun tiba2 Darren menghentikan lumatannya dan duduk di samping isterinya.
Maaf sayang.., papi ngga sadar kalau mami baru keluar dari rumah sakit.."
ucapnya lalu bergegas masuk ke kamar mandi untuk melampiaskan hasrat adik kecilnya yang sedari tadi mengeras seperti batu.
Setelahnya, Darren kembali menghampiri isterinya di tempat tidur yang sedang asyik ngobrol dengan sahabatnya melalui telpon.
Darren pun berbaring di samping isterinya hingga benar2 tertidur dengan pulasnya.
Begitu pun dengan Sheela, Ia berbaring disisi suaminya dan berbantalkan lengan Darren hingga ikut tertidur dengan lelap setelah menelpon Sasa sahabatnya.
Bersambung....
Maaf karena author nulisnya hanya di waktu senggang aja...
thank you all... yang sudah mampir dan membaca karyaku...
__ADS_1
jangan lupa dukungannya ya......
Sampai jumpa di hari lain...