Calon Istri Yang Manja

Calon Istri Yang Manja
Bab 79


__ADS_3

Menjelang malam, Tuan Hardi dan Darren sedang berada di serambi rumah sakit, yang letaknya di sebelah kamar ranap Sheela.


Tuan Hardi sangat penasaran dengan apa yang menimpa putri satu satunya saat ini.


Setelah mendengar penjelasan dari Darren,


Tuan Hardi sangat nampak kecewa dengan kelakuan anak menantunya itu.


Walau pun Darren sudah memohon maaf dan menjelaskan kesalahpahaman itu,


namun hati kecilnya belum sanggup untuk menerima permohonan maaf menantunya.


Tuan Hardi segera meninggalkan serambi dan masuk ke kamar putri tercintanya.


Tinggallah Darren seorang diri.


Dirinya termenung, meratapi kebodohannya.


Darren terlihat sangat menyesal.


Setitik air mata bening berhasil lolos


keluar dari matanya.


Pikirannya terngiang ngiang dengan ucapan mertuanya tadi, sebelum pergi.


Bahwa setelah Sheela sadar, tuan Hardi akan membawa Sheela dan cucunya untuk tinggal bersamanya di kota Bandung.


Tuan Hardi memang sangat menyayangi putrinya.


Ia pernah berpesan kepada Darren, sehari sebelum pernikahannya bersama Sheela.


Tuan Hardi berkata bahwa jangan pernah menyakiti dan mengecewakan putri kesayangannya itu.


Sedangkan nyonya Jeslin kini sedang berada di dalam kamar menemani putrinya yang terbaring lemah dan masih dalam keadaan koma.


Hatinya sangat hancur melihat keadaan putrinya saat ini.


Seharusnya keluarga mereka sedang bersukacita dan sangat bahagia untuk menyambut kehadiran cucu pertama dalam keluarga mereka.


Nyonya Jeslin senantiasa berusaha nampak tegar.


Demi merawat cucu tercintanya itu.


Yang di beri nama Jaden Vincent.


Nyonya Jeslin


tak patah semangat dan berusaha untuk mengajak putrinya ngobrol.


Walau pun dalam keadaan tak sadarkan diri.


Beliau berharap anaknya lekas pulih dan bangun dari tidur panjangnya.


Ketika sampai di kamar, tuan Hardi langsung berbaring di sofa kamar.


Tanpa menghiraukan isterinya yang sedang memandanginya saat memasuki kamar.


Pikirannya sangat terbebani dengan peristiwa yang menimpa putrinya.


Melihat itu, nyonya Jeslin beranjak dari duduknya dan segera menghampiri suaminya.


Nyonya Jeslin paham betul dengan sifat suaminya.


Bila suaminya diam.


Pertanda jika suaminya sedang ada masalah.


Nyonya Jeslin duduk di sisi suaminya yang sedang berbaring sembari menutup ke dua matanya menghadap keatas langit langit plafon kamar.


"Nak Darren mana pa..?!?"


"Di luar.!"


jawabnya singkat dan datar.


Masih dengan mata tertutup.


Nyonya Jeslin hanya mengangguk penasaran dengan sahutan suaminya.


Baru saja nyonya Jeslin ingin bertanya banyak kepada suaminya, namun Darren sudah masuk ke dalam kamar.


Nyonya Jeslin pun menyambutnya dengan ramah dan senyum.


Ketika Darren berjalan kearah mereka dan ikut duduk di sofa yang hanya di antarai oleh sebuah meja kaca.


"Sebaiknya mama dan papa istirahat di hotel aja malam ini.!

__ADS_1


Saya sudah pesanin kamar tadi.!"


ucapnya lirih dan sopan.


Menyuruh


mertuanya tidur di hotel yang kebetulan berdekatan dengan rumah sakit tempat Sheela di rawat.


Namun tuan Hardi menolaknya dan ingin tetap tinggal di kamar Sheela.


Sampai putrinya sadar dari komanya.


Melihat tingkah suaminya yang ngotot ingin menemani putrinya.


Nyonya Jeslin sudah menebak jika ada aroma tak sedap antara suaminya dengan anak menantunya itu dan tentunya ada hubungannya dengan yang di alami oleh putrinya sekarang ini.


Tak ingin membuat suasana semakin menjadi tegang.


Nyonya Jeslin malah menyuruh Darren untuk menginap di hotel yang di maksud oleh Darren.


Melihat keadaan Darren saat ini terlihat lelah dan pucat nampak jelas dari raut wajahnya, karena kurang istirahat.


Namun Darren juga tetap ngotot dan tetap berada dalam kamar itu.


Darren tak ingin jauh2 lagi dari sisi isterinya.


Apalagi setelah mendengar ancaman ayah mertuanya sebentar tadi.


Karena tidak ada yang mau mengalah, mau tak mau nyonya Jeslin membujuk suaminya untuk pergi ke hotel bersama dirinya.


Tuan Hardi hanya terdiam. Tanpa bergerak sedikit pun dari tempatnya.


Spontan nyonya Jeslin minta di antarin sama Darren.


Namun tuan Hardi langsung bangkit dari bangunnya dan segera pergi bersama isterinya ke hotel.


Akhirnya Darren bisa merasa lega karena dirinya bisa menemani dan menjaga isterinya.


Sembari berbaring di sisi isterinya, Darren menggenggam jemari isterinya,


lalu membisikkan beberapa kata penyesalannya dan rasa bersalahnya di telinga isterinya.


"Cepat pulih sayang.!


Papi janji setelah mami sadar, papi akan lebih utamakan keluarga kecil kita sayang.!


Papi mohon.!


cepat sadar sayang..!"


rintihnya tiada henti sembari meneteskan air mata kepiluhannya.


Ia sangat berharap Sheela mau memaafkan dirinya, saat Sheela sadar nanti.


Yang entah kapan dan berapa lama lagi.


Hanya Tuhan yan tahu.


Untuk kesekian kalinya, Darren masih menitikkan air mata penyesalannya.


Hingga dirinya tertidur pulas di pundak isterinya.


Putra kecilnya saat ini masih berada di ruangan bayi dan di jaga oleh para perawat yang bertugas malam ini.


Karena tiap 3 jam sekali putranya itu harus di beri susu formula sebagai pengganti ASI dari ibunya.


Kini malam kian larut.


Kamar melati tempat Sheela di rawat nampak sepi.


Bahkan di luar sana pun keadaan juga nampak lengang.


Hanya para perawat yang bertugas malam ini yang mondar mandir dan bergiliran memasuki kamar kamar pasiennya.


Untuk memeriksa keadaan pasiennya dan mengganti infus yang hampir habis.


Menjelang subuh sekitar jam 4. Sheela tersadar dari komanya, di saat orang orang masih terlelap dalam mimpi indahnya.


Perlahan Ia membuka kedua matanya dan mengerjapkannya berulang kali.


Hingga penglihatannya nampak jelas.


Wajahnya terlihat pucat dan kaget, karena saat terbangun, dirinya sedang terbaring di atas sebuah kamar yang begitu asing baginya.


Sheela kemudian menggerakkan kedua tangannya namun sangat susah untuk Ia gerakkan karena lengan kanannya sedang di pasangi infus dan lengan kirinya sedang di genggam oleh jari jemari Darren.


Perlahan Sheela menarik tangannya dari genggaman Darren.

__ADS_1


Membuat Darren menyadarinya hingga Ia terbangun sembari membelalakkan kedua matanya.


Rasa kaget, senang bercampur haru menjadi satu yang Darren rasakan saat ini.


"Sayang..!"


ucapnya sambil meraih jemari isterinya.


Sheela yang baru saja tersadar dari komanya, perlahan demi perlahan ingatannya kembali pulih dan menyadari kondisi tubuhnya yang sedang dalam keadaan mengandung dan kejadian yang di alaminya kemarin.


Spontan Sheela menarik tangannya dari genggaman Darren dan segera meraba perutnya yang sudah mengecil dan terasa perih karena bekas SC kemarin.


Riak wajahnya kaku, dan bibirnya mulutnya termangap nampak bergetar kaget dan syok.


Lalu memekik dengan histeris.


"Perutku.!


bayiku...!"


"Tenang sayang.!


Bayi kita selamat.!"


balas Darren dengan cepat agar isterinya tidak terkaget dan sedih lagi.


Sheela yang mendengar penjelasan suaminya, merasa sedikit tenang.


Namun Saat Darren mengelus kening dan menggenggam jemarinya,


sontak Sheela menepisnya dan mengangkat lengannya ke atas, sembari membuang wajahnya ke samping, untuk menghindari tatapan suaminya itu.


Sesak di dada mulai menerpa keduanya.


Terutama yang di rasakan oleh Sheela saat ini.


Amarah dan benci kini menyelimuti dirinya.


Darren terpaku terdiam sesaat di tempatnya.


Ia menyadari jika kesadaran dan ingatan isterinya sudah pulih total.


"Sayang...!"


panggilnya dengan lembut dan ingin beranjak dari tempatnya untuk pergi memanggil perawat yang berjaga malam ini.


Namun dari balik pintu masuk terdengar suara ketukan membuat Darren bungkam diam membisu menatap kearah pintu tersebut.


Terlihat olehnya dua orang perawat memasuki kamar rawat isterinya sembari tersenyum ramah kepadanya.


Seperti biasanya, perawat yang bertugas hingga pagi ini, akan mengakhiri shift malamnya setelah mengunjungi pasiennya satu persatu dan akan bergantian dengan perawat yang bertugas pagi ini.


Ketika perawat itu memasuki kamar mata mereka langsung tertuju ke arah tempat tidur Sheela.


Menyadari keberadaan perawat dalam kamar rawatnya, Sheela menggerakkan kepalanya dan menoleh kearah kedua perawat itu.


Kedua perawat itu pun merasa kaget bercampur senang, melihat kondisi Sheela saat ini yang sudah sadarkan diri.


Mereka berdua langsung memeriksa keadaan Sheela dan menanyakan kondisinya.


Apakah dalam keadaan sehat2 saja dan rasa sakit mana saja yang di rasakan oleh Sheela saat ini.


******


Bersambung.......


Maaf ya...


Author baru bisa up date hari ini.


Karena keadaan sekarang yang tidak memungkinkan.


Karena di tempat asal Author banyak yang terpapar dengan Virus Covid-19.


Bahkan di sekitar rumah pun ada yang terpapar.


Jadi Author tidak bisa berpikir jernih lagi karena sedikit syok dan kaget.


Author minta dukungan dan doa-nya ya..


Agar Author selalu di jauhkan dari virus ini.


Bahkan orang2 yang sudah terpapar cepat sembuh.


Semoga virus ini segera berlalu dan kembali seperti keadaan semula.


Aminnnnn.....

__ADS_1


__ADS_2