
Tidak terasa waktu berlalu begitu saja. Hari kian berganti hari hingga minggu berganti bulan.
Ya., tidak terasa waktu istirahat Sheela dirumah telah usai dan Ia harus kembali lagi ke kampus untuk melanjutkan kuliahnya.
Selama berada dirumah, Sheela senantiasa menuruti aturan dan mendengarkan nasehat suaminya.
Sheela pun menjalaninya dengan ikhlas dan senang hati.
Toh, ini demi kesehatannya bersama calon buah hatinya bersama Darren.
Bahkan dua minggu yang lalu, Darren mengajaknya ke Bali untuk liburan. Sekalian menikmati masa bulan madu mereka yang sempat tertunda, sejak dari awal pernikahan mereka.
Dua hari yang lalu, mereka baru kembali dari bali.
Sek. Haris pun ikut serta saat keduanya kembali ke kota Jakarta. Karena proyek mereka disana sudah kelar.
Hari ini Sheela terlihat sangat bersemangat. Pagi2 sekali Ia terbangun dari tidurnya dan kini Ia sudah rapi dengan gaunnya yang berwarna merah singlet namun di padukan dengan blazer hitam dan panjangnya dibawah lutut.
Sebelum berangkat ke kampus, Ia terlebih dahulu menyiapkan baju kerja Darren, lengkap dengan dasi dan pakaian dalamnya.
Saat ini Darren sedang membersihkan tubuhnya di dalam kamar mandi untuk bersiap- siap ke kantor.
Beberapa menit kemudian, Darren pun keluar dari kamar mandi dengan tubuh segarnya, rambut basahnya nampak acak- acakan tidak mengurangi ketampanannya namun terlihat semakin seksi dimata Sheela.
Terbukti dari sorotan matanya yang tajam dan sedikit sayup di sertai senyuman manisnya. Sheela sangat mengagumi ketampanan suaminya itu dan bersyukur mendapatkan suami yang selalu perhatian dan menyayangi dirinya.
Saat Darren berjalan kearah Sheela, Ia merasa heran melihat isterinya, yang sudah siap dengan dandanannya dan terlihat cantik dengan baju gaunnya yang sedikit seksi dimata Darren.
Ia heran karena Sheela sangat jarang berdandan selama dirumah.
Walau pun riasan yang digunakan Sheela saat ini sangat biasa saja dan nampak tipis.
Bibirnya pun di beri lipstik senada dengan bibirnya yang merah ranum, sekedar mencerahkan bibirnya saja.
"Mau kemana..?"
tanya Darren sembari menyoroti gaun yang di gunakan oleh Sheela saat ini. Mulai dari atas hingga ke ujung gaun Sheela.
"Mami mau kekampus.."
jawabnya membuat Darren melongo berdiri ditempatnya ebari mengerutkan keningnya.
"Kekampus...! papi kan nyuruh mami untuk istirahat dirumah dan ngga boleh keluar kecuali papi ijinin.."
ucapnya lalu mulai mengenakan baju dalamnya yang sudah siap di atas tempat tidur.
"Kan udah genap sebulan papi.! mami harus kembali ke kampus sekarang."
sahutnya sembari duduk di pinggiran kasur.
Darren hanya terdiam dan sedang sibuk mengancing baju kemejanya yang berwarna putih tanpa merespon ucapan isterinya.
Kemudian Sheela berdiri dari duduknya dan ingin menolong Darren untuk mengenakan dasinya.
Namun Darren menolaknya secara halus dan sengaja menghindari isterinya menuju cermin lemari bajunya.
"Papi marah ya dan belum ijinkan mami kembali kekampus..!?"
tanya Sheela kemudian dan kembali duduk ditepi kasurnya sambil memandangi tubuh suaminya dari arah belakang.
"Kemarin papi udah nambah cuti kuliah mami selama dua minggu kedepan."
sahutnya tanpa menoleh ke arah Sheela.
__ADS_1
Lalu merapikan rambutnya dengan menggunakan sisir didepan cermin.
"What...! dua minggu, ngga boleh gitu juga dong Pi. Papi juga harus hargai aku dong. Jangan seenaknya nambahin masa cuti aku gitu aja, sebelum ada persetujuan dari mami."
pekik Sheela namun masih agak lembut agar perdebatan mereka tidak memanas.
Walau pun Sheela marah, namun Ia berusaha mengendalikan emosinya.
Bukannya melawan atau menentang aturan suaminya, namun Ia juga berhak mengungkapkan pendapatnya.
"Maaf sayang, papi lupa. Semuanya papi lakukan demi kesehatan mami dan juga bayi kita."
kata Darren yang kini sudah memeluk isterinya dari belakang setelah merapikan rambutnya dan kini mengelus perut buncit Sheela dengan lembut.
Sheela hanya terdiam cemberut di pelukan suaminya. Walau pun suaminya sudah minta maaf, namun hatinya masih kesal. Tidak mudah meredam kekesalannya.
"Kalau gitu, papi brangkat kerja dulu ya.
ngga boleh keluar rumah dulu, harus banyak istrahat."
katanya lalu mengecup kening Sheela dengan lembut dan bergegas pergi ke kantornya karena jam sudah menunjukkan pukuk 08.00 pagi.
Darren tahu, Ia sudah membuat Sheela menjadi kesal. Namun saat ini, Ia lebih mementingkan kesehatan isterinya itu.
Atas saran dari dokter kandungan yang merawat Sheela kemarin setelah dirinya diculik.
Dimansion, Sheela kembali berbaring di kasurnya tanpa mengganti gaunnya.
Tiba2 ponselnya berbunyi.
Kemudian Sheela mengambil ponselnya itu yang terletak diatas nakas.
Lalu menatap ponselnya sebentar.
Lalu Sheela menjawab panggilannya itu.
"Halo..."
sambut Sheela kurang semangat.
"Loe kenapa sech kurang semangat gitu.!
ngga dikasih jatah ya ama laki loe.!?"
canda Sasa membuat Sheela mendelik.
"Gue ngga knapa2 kok Sa. Cuman hari ini gue belum bisa kekampus."
keluh Sheela.
"Knapa.! bukannya masa libur loe sudah berakhir ya dari kemarin.?"
tanya Sasa bengong dan penasaran.
"Suami gue blum ngijinin. Ia menambah masa cuti gue dua minggu lagi."
Sasa mendesah memahami kegalauan sahabatnya itu, namun Ia juga menyemangati sahabatnya agar tetap sabar, agar bayi dalam kandungannya tidak ikut merasakan kesedihan ibunya.
"Loe yang sabar ya, Itu demi kesehatan kamu dan ponaan gue nantinya."
ucap Sasa mengakhiri panggilannya.
Setelah berbincang cukup lama di telpon, Sheela pun tertidur diatas kasur.
__ADS_1
Bi Surti yang datang mengantarkan makanan pun tak Sheela ketahui dan sadari.
Ia tertidur pulas sembari memeluk bantal gulingnya.
Bi Surti pun hanya berjalan pelan saat memasuki kamar. Ia tidak ingin membangunkan Sheela yang sengaja tidak di kunci oleh Sheela.
Karena Ia tahu Bi Surti rutin mengantarkannya sarapan saat jam menunjukkan pukul 8 lebih.
Setelah menghidangkan sarapan Sheela diatas meja, perlahan Bi Surti memijakkan kakinya saat berjalan hingga menghilang dari pintu.
*******
Di kantor, Darren nampak gelisah dan tidak tenang dalam menghadapi kerjaannya yang sedikit menumpuk diatas meja di hadapannya.
Perkataan Sheela masih terngiang- ngiang dipikirannya.
Kemudian Ia mencoba menghubungi isterinya berulang kali namun ponsel Sheela tiba2 mati dan tidak aktif.
Darren tahu, kalau isterinya itu masih marah kepadanya. Walau pun tidak menentang keras perintahnya sebentar tadi.
Andai saja, hari ini Ia tidak ada pertemuan penting dengan tamunya dari luar negeri yang ingin mengunjungi perusahaannya. Ia akan kembali ke mansion sekarang juga.
Kemudian Darren menelpon Bi Surti yang Ia percayakan untuk mengurus makan dan minum Sheela.
Bi Surti pun langsung menjawab panggilan majikannya.
Setelah mendapat pertanyaan yang beruntun dari Darren, Bi Surti pun menjelaskan semua kepada Darren mengenai keadaan Sheela sekarang yang sedang terlelap dalam tidurnya hingga akhirnya, Darren pun mulai mengerti dan sedikit lega.
Darren kembali meneruskan kerjaannya dan menandatangani setumpuk berkas dihadapannya dengan penuh semangat.
Masih banyak proyek yang sedang ngantri dan harus Ia tangani kedepannya.
Setelah menandatangani setumpuk berkas di hadapannya, Darren meregangkan otot- ototnya yang sudah mulai kaku karena kebanyakan duduk dikursi kerjanya.
Sesudah itu, Ia langsung pergi menemui rekan bisnisnya yang sudah menunggu di ruangan meeting, beserta bawahan Darren yang punya kedudukan dalam perusahaan miliknya.
Saat Ia memasuki pintu ruangan meetingnya, semua mata tertuju padanya.
Tak terkecuali, dua orang tamunya saat ini, turut memandangi raut wajah Darren.
Tamunya itu sangat takjub melihat ketampanan Darren.
Selama ini, salah satu dari tamunya itu hanya mendengar kabar Darren dari kalangan pebisnis yang lainnya dan dari ayahnya sendiri.
Mengenai kepandaian Darren dalam mengelola perusahaannya itu, hingga maju pesat seperti saat ini.
Tamunya kali ini adalah seorang pria paruh baya bersama seorang wanita muda yang baru pertama kalinya menggeluti dunia bisnis.
Mereka berdua merupakan seorang ayah dan anak. Pria paru bayah itu sengaja mengajak puterinya berkunjung keperusaahaan Darren. Agar putrinya banyak belajar dari pengalaman Darren yang sudah sukses menjalankan perusahaannya.
Pria paru bayah itu bernama pak Richard
dan putrinya bernama emelly.
Rencananya pak Richard akan mewariskan perusahaannya itu kelak kepada Emelly putrinya.
Darren sangat kenal baik dengan pak Richard. Selama ini, Darren selalu mengagumi pak Richard yamg telah sukses membangun perusahaan raksasa miliknya di luar negeri.
Jika Darren berkunjung ke perusahaan pak Richard, Darren selalu disambut dengan baik. Ia juga tahu, jika pak Richard mempunyai seorang putri. Namun baru kali ini Darren melihatnya secara langsung.
Ternyata benar yang dikatakan oleh orang2. Bahwa putri pak Richard sangat cantik.
puji Darren dalam hati mengagumi kecantikan Emelly. Saat pak Richard memperkenalkan putrinya.
__ADS_1
Bersambung.. .