
Pukul 04.00 AM di RSIA.
Sheela terbangun dari tidurnya saat mendengar bunyi gemuruh dalam perutnya yang sudah mulai keroncongan karena lapar.
Berulang kali Sheela mengerjapkan matanya karena baru terbangun dari tidur panjangnya.
Saat ke dua matanya terbuka dengan sempurna, pandangan matanya kini beralih menyusuri setiap sudut dalam ruangan tersebut.
"Gue ada dimana......?!"
gumam Sheela karena terbangun dalam ruangan yang begitu asing baginya.
Saat Sheela menoleh kesamping, Ia melihat Daren masih tertidur pulas di sisinya dengan posisi telentang hingga terdengar suara dengkuran halus dari mulutnya.
Kesadaran Sheela pulih seutuhnya, Ia mengingat betul saat kejadian tadi malam sebelum dirinya pingsan dan tak sadarkan diri.
"Apa gue di rumah sakit...."
pikir Sheela dalam hati saat melihat infus di tangannya kemudian berusaha duduk.
"Aduh...."
rintih Sheela karena kepalanya masih terasa berat.
Daren mulai terbangun dari tidurnya saat mendengar suara rintihan Sheela dan getaran kasur saat Sheela berusaha bangun .
"Honey...., kamu sudah sadar...? mana yang sakit...?!"
tanya Daren saat menoleh ke samping isterinya dan segera duduk di atas kasur sembari menggenggam jemari Sheela kemudian merapikan rambut Sheela yang sedikit menutupi wajah cantiknya.
Hati Sheela terenyuh bahagia, kemudian tersenyum ke arah suaminya.
"Ngga ada yang sakit..., hanya kepalaku yang sedikit pusing saat ingin duduk tadi..."
"Kamu lapar sayang..."
tanya Daren tiba2 karena mendengar suara gemuruh cacing dari perut Sheela, yang sudah mulai kelaparan sembari mengelus perut isterinya yang masih kelihatan rata dengan lembut.
Sheela hanya mengangguk dan tersenyum malu di hadapan suaminya.
Semenjak kehamilannya, Sheela selalu ingin di manja dan mendapat perhatian sepenuhnya dari Daren. Sheela sudah begitu sangat mencintai suaminya, cintanya itu mulai tumbuh seiring dengan pernikahan mereka yang baru seumur jagung.
Begitu pun dengan Daren, sebenarnya Ia sangat mencintai isterinya bahkan jauh sebelum kehamilan Sheela.
Namun Ia hanya mengungkapkan rasa sayangnya itu dengan caranya sendiri.
Karena terkadang seseorang itu hanya mengungkapkan rasa cintanya melalui perbuatan dan tindakannya saja.
Sedangkan Sheela (mewakili perasaan seorang wanita) sebagai wanita, Ia ingin mendengar ungkapan CINTA langsung dari mulut bibir Daren suaminya serta melupakan perjanjian tertulis mereka sebelumnya.
"Kamu ingin makan apa honey....?"
tanya Daren sambil mengambil ponselnya dari atas nakas samping tempat tidur.
"Aku pengennya makan gado2 yang super pedes..."
jawab Sheela memohon agar Daren mengijinkan dirinya makan yang pedas2.
"Baiklah.., tapi pedasnya yang sedang ya..."
ucap Darren lalu menghubungi sekertaris Haris tanpa memperdulikan raut wajah Sheela yang sudah cemberut. Karena Darren tahu isterinya itu ada riwayat maag, jadi Ia tidak mengijinkan isterinya makan makanan yang pedas. Apalagi saat ini isterinya sedang mengandung buah hati cinta mereka berdua.
"Ngga papa dech..., yang penting ada pedasnya..."
pikir Sheela lalu duduk dan bersandar di sandaran kasur.
Sesudah menghubungi sekertaris Haris melalui pesan, Darren masuk ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Beberapa menit kemudian, Daren kembali menghampiri Sheela yang masih duduk bersandar di sandaran kasur.
Tidak mengambil waktu yang lama, sekertaris Haris sudah muncul di depan pintu dengan membawa sebuah tentengan plastik di tangannya.
Sheela yang melihatnya merasa sangat senang karena sebentar lagi dirinya akan menyantap gado2 pesanannya.
Perutnya sudah sangat kelaparan.
"Slamat pagi tuan dan nyonya muda....."
sapa Sek. Haris dengan sopan di depan pintu.
"Pagi juga Haris..."
sahut Sheela dengan senyum lebarnya ke arah Sek. Haris karena sangking senangnya, lalu beralih memandangi suaminya yang kini sudah melototi dirinya. Menurut Dareen isterinya terlalu lebay dan berlebihan menyambut kedatangan sekertaris Haris.
"Ada apa dengannya...? sensi mulu..."
pikir Sheela dalam hati sembari memonyongkan bibirnya karena kesal.
Sek.Haris yang melihat perubahan di wajah tuannya langsung meletak sebuah plastik ke atas nakas di samping Sheela.
__ADS_1
"Kalau begitu saya permisi dulu tuan dan nyonya muda.."
ucap Sek. Haris pamit pulang.
"Hmmm...pulanglah..."
sahut Daren seakan menyuruh sekertaris Haris cepat2 pergi dari hadapan mereka.
"Tuan2...., cemburumu itu sangat tidak masuk akal..."
gumam Sek. Haris dalam hati lalu segera beranjak dari dalam kamar dan di susul oleh Daren dari belakang.
"Haris...."
panggil Daren tiba2 saat Sek. Haris sudah di luar pintu yang baru ingin menutup pintu itu.
"Ada apa tuan..."
tanya sekertaris Haris dengan heran karena tadi Daren sudah menyuruh dirinya pulang.
"Besok kau tunda saja jadwal keberangkatanku....."
ucap Daren.
"Trus kapan tuan muda menyusul ke Bali..."
tanya Sek. Haris.
"Bali....."
gumam Sheela yang hanya menyimak dari tempat tidurnya. Sudah lama Ia tidak menginjakkan kakinya ke Bali semenjak dirinya jadi mahasiswa kedokteran. Padahal impiannya dari dulu setelah menikah, dirinya ingin berbulan madu disana.
Tapi impiannya belum jua tercapai. Entah kenapa Daren belum pernah mengajaknya pergi berbulan madu.
pertanyaan itu selalu berkeliaran di pikiran Sheela.
"Nantilah..., aku akan segera menghubungimu..."
jawab Daren.
"Baiklah tuan muda..., kalau begitu saya permisi dulu...."
ucap Sek. Haris sekali lagi dan segera berlalu dari hadapan Daren.
Saat Daren berbalik dan menoleh ke arah isterinya, Sheela sudah berjalan ke arah kamar mandi sembari mendorong tiang infus di tangannya.
Daren bergegas menghampiri isterinya lalu mengambil dan memegang cairan infus tersebut dan memapah tubuh isterinya dengan melingkarkan tangan kanannya ke tubuh Sheela sedangkan tangan kirinya membawa cairan infus.
ucapnya ngeles padahal hatinya berbunga2 karena Daren mau menolong dirinya.
Daren hanya diam dan terus memapah isterinya masuk ke kamar mandi.
"Sampai sini aja honey..."
ucap Sheela.
"Kamu mau ngapain...?"
tanya Daren dalam kamar mandi saat Sheela berhenti di depan kloset.
"Aku pengen pup...."
ucap Sheela lirih dengan senyum malu2 di wajahnya.
Sayang... kamu keluar aja..., uda kebelet nech...
tambah Sheela.
"Duduklah..., aku akan menunggumu di sini..."
ucap Daren.
"Come on honey............, please....."
ucap Sheela memohon agar Daren segera keluar dari kamar mandi sembari mendorong lengan Daren dengan pelan.
"Baiklah jika itu maumu..., aku akan menunggumu di luar..."
ucap Daren lalu menggantung cairan infus di gantungan kamar mandi yang khusus di sediakan bagi pasien saat masuk ke kamar mandi.
Saat Daren hendak keluar dan ingin menutup pintu, Ia mendengar bunyi creeet BAB Sheela yang lumayan keras seperti muncreet.😄
Tersirat senyum simpul di wajahnya yang tampan kemudian menutup pintu dari luar.
Sheela terkekeh pelan di dalam sana sembari menutup mulutnya, dirinya sangat malu.
Mungkin saja Daren mendengarnya..
__ADS_1
pikir Sheela.
"Apa dia sedang berperang di dalam sana...!?"
gumamnya sembari menyenderkan tubuhnya di depan pintu.
Cukup lama Sheela berada dalam kamar mandi, Daren yang sejak tadi menunggu Sheela di depan pintu merasa cemas.
"Honey...., udahan ngga...?"
panggil Daren lalu mengetuk pintu.
Iya..., bentar lagi honey...
jawab Sheela.
Tanpa menunggu lama, Daren membuka pintu dan menghampiri isterinya yang sedang membasuh wajahnya di wastafel kamar mandi.
"Udah...."
ucap Sheela saat Daren sudah berdiri di sampingnya.
Daren kembali memapah tubuh isterinya menuju tempat tidurnya.
Kemudian mengambil satu kotak gado2 dari dalam plastik.
"Makanlah...."
ucap Daren setelah membuka tutup kotak serta ingin menyuapi Sheela karena jari telunjuk Sheela masih sakit tersayat pisau, sedangkan tangan yang satunya di pasangin infus.
Senyum manis Sheela mulai nampak menggemaskan di mata Daren.
"Makasi honey..."
ucapnya dengan lembut lalu membuka mulutnya saat Daren mulai menyuapi dirinya.
Sheela sangat menikmati gado2 itu dengan lahapnya. Apalagi saat ini Darren yang tengah menyuapi dirinya.
Senyum tipis di bibir Sheela selalu nampak menggemaskan dan melelehkan hati seorang Daren yang sedingin kutub utara.
"Apa gado2nya enak...?"
tanya Daren karena Sheela sangat lahap makannya.
"Mmmm...., enak banget.., kamu harus nyobain dech.."
angguk Sheela sembari mengangkat jari jempolnya, kemudian mengambil sendok dari tangan Daren serta ingin menyuapinya.
"Ah......"
tambah Sheela yang ingin menyuapi Darren.
Darren menolak namun Sheela terus memaksanya dan akhirnya sesuap gado2 berhasil lolos masuk ke dalam mulut Daren dan sepertinya rasa gado2 itu cocok di lidah Daren tapi agak kepedasan.
Awalnya Darren sedikit jijik melihat bumbu kacangnya yang sangat banyak dan menutupi seluruh permukaan bahan2 isiannya.
"Bagaimana...? enaakkan...?!?"
tanya Sheela.
"Hmmm sedikit...., tapi tetap aja ngga sehat karena agak pedas dan banyak mengandung minyak di dalamnya.."
jawab Darren. Seketika Sheela memonyongkan mulutnya.
"Mau lagi.....?
tanya Daren kemudian.
"Ngga..., uda kekenyangan..."
jawabnya sembari mengelus perutnya yang masih rata dan segera meneguk sebotol air mineral.
Tidak terasa jam menunjukkan pukul 7 pagi. Kesibukan mulai nampak di RSIA,
semua petugas kesehatan yang bertugas hari ini, mulai berganti shift pagi.
Seperti hari ini sebelum menjalani tugasnya sebagai dokter anak, pagi2 sekali dokter Raka menjenguk Sheela di kamarnya. Setelah mendapat kabar dari sahabatnya yang menangani Sheela saat ini.
Bersambung.........
Maaf ya.. bila author lambat up datenya... coz... novel ini author buat hanya di waktu senggang aja...
Jika berkenan beri like, vote dan komennya ya....
biar author lebih semangat lagi nulisnya......
Biar rasa lelah menahan kantuk dan jerih payah author terbayarkan dengan adanya dukungan dari kalian para reader's ku tercinta...
__ADS_1
Thank you all....
Salam manis dari Author....