
Jam 7 pagi, nyonya Shita baru saja tiba di rumah sakit.
Setelah mendengar kabar dari putranya, bahwa Sheela sudah tersadar dari komanya.
Kali ini Ia sendiri karena tuan Vincent sudah kembali ke luar negeri untuk mengurus perusahaannya di sana.
Tuan Vincent harus bolak balik dari Jakarta hingga ke Jerman.
Karena nyonya Shita lebih nyaman tinggal di kota Jakarta.
Niat keluarga mereka kemarin, hendak pindah ke Jerman dan menetap disana.
Namun setelah di pertimbangkan lagi oleh nyonya Shita.
Ia ingin menghabiskan masa tuanya di Indonesia.
Sedangkan tuan Hardi dan isterinya saat ini sudah berada di dalam kamar ranap Sheela, selang satu jam dengan kedatangan nyonya Shita saat ini.
Yang kini baru saja
memasuki kamar Sheela setelah mengetuk pintu dari luar.
Dirinya
sangat senang melihat anak mantunya itu sudah benar2 pulih dan saat ini sedang belajar menyusui putra tercintanya.
Ketika melihat besannya datang, nyonya Jeslin menyambutnya dengan senyum ramah.
Tuan Hardi pun demikian. Namun Ia hanya tersenyum tipis dari tempat duduknya.
Begitu pun dengan nyonya Shita.
Senyum bahagianya selalu terpancar
secerah sang mentari dipagi hari.
"Gimana keadaan kamu nak.!?!"
ucap nyonya Shita dengan lembut saat berjalan kearah tempat tidur Sheela.
"Udah baikan Ma.!"
sahutnya dengan lirih.
"Syukurlah nak, kamu cepat pulih.!"
"Iya Ma.!"
angguknya.
"Halo cucu oma yang tampan.!"
Sangking gemasnya, nyonya Shita langsung mengambil cucunya itu ketika Sheela baru saja selesai menyusui putranya.
Betapa senangnya beliau, karena dirinya kini sudah menjadi seorang nenek(oma).
Bahkan cucunya itu merupakan cucu pertama juga dalam keluarga mereka.
Hati dan pikiran Sheela kini hanya tertuju kepada putranya itu.
Semenjak pagi tadi hingga
Sampai detik ini,
__ADS_1
Darren belum sempat menjelaskan kesalahpahaman Sheela terhadap dirinya bersama Emelly.
Karena Sheela juga tak memberinya kesempatan.
Setelah
Ia sadar dari pingsannya,
Sheela hanya terdiam membisu.
Bahkan niatnya sempat terbesit dalam hati, dirinya hendak pergi menjauh dari kehidupan Darren.
Namun apa daya. Tubuhnya masih dalam keadaan lemah pasca bekas operasinya kemarin.
Sembari menimang cucunya, nyonya Shita menghampiri putranya yang sejak tadi hanya memeriksa laptopnya yang penuh dengan laporan kerjaan dari sekertarisnya.
Jadwal kerjanya sedikit menumpuk karena mendadak dirinya harus menemani sang isteri di rumah sakit.
Yang seharusnya bulan depan adalah masa cutinya untuk mendampingi sang isteri saat proses persalinan.
"Darren..!"
Kamu gimana sech, isteri baru habis melahirkan kok malah sibuk sendiri.!
tegurnya pada sang putra.
"Maaf Ma.!
kerjaan Darren sedikit menumpuk.!"
tanpa menoleh sedikit pun ke arah ibunya.
"Mmmmm..."
"Biarkan aja jeng, kan masih ada kita2 di sini buat ngurus anak dan cucu kita.!"
timpal nyonya Jeslin dengan senyum.
"Maaf sebelumnya Bu Shita.!
hari ini saya ingin sampaikan kepada anda bahwa,
saat putri kami sudah di perbolehkan keluar dari rumah sakit
ini, baiknya putri kami ikut ke Bandung untuk sementara waktu.!"
timpal tuan Hardi dari arah kursi sofa.
Sontak Darren dan nyonya Shita menoleh ke arah tuan Hardi.
Mereka terkejut mendengar ucapan tuan Hardi.
Kemudian Darren beralih menoleh ke arah Sheela yang kini sedang terbaring memunggungi dirinya.
Sheela nampak tidak perduli dan sepertinya Ia sangat menyetujui ucapan ayahnya.
"Maaf pa'.!"
Darren ngga bisa terima usulan papa itu.!
karena
Darren masih sanggup mengurus isteri dan putra kami.!
__ADS_1
Mulai besok Darren akan mengambil cuti."
Kini nyonya Jeslin hanya bisa menyimak dari tempat duduknya.
Walaupun dirinya ikut senang, putri dan cucunya akan ikut serta dan akan tinggal bersamanya di kota Bandung.
Namun Ia juga merasa tidak enak kepada besannya itu.
Lagian keputusan suaminya itu ada benarnya juga.
Mereka hendak memberi pelajaran berharga kepada Darren, agar Darren mau belajar dan menyadari kesalahannya itu.
Nyonya Shita yang tadinya sempat kaget dan merasa tidak terima dengan ucapan tuan Hardi,
hanya bisa menarik nafasnya dalam2 dan belajar untuk lebih bersabar.
Karena tak ingin membuat suasana menjadi tegang.
Nyonya Shita menghampiri anak menantunya itu dan berkata.
"Semua keputusan hanya ada di tanganmu nak Sheela.!
Nyonya Shita pun menyadari jika peristiwa yang menimpa Sheela, itu semua karena ulah putranya sendiri.
Sehingga tuan Hardi nekat ingin memboyong putri dan cucunya ikut serta ke Bandung.
"Ma'.!"
timpal Darren kesal karena ibunya seakan merelakan kepergian Sheela.
Darren pun yakin jika Sheela pasti akan menuruti perkataan tuan Vincent.
"Makasi Ma.!"
ucap Sheela menatap ibu mertuanya dengan penuh sendu dan getir.
"Sheela akan ke Bandung.!"
isak tangis Sheela mulai pecah membuat suasana menjadi tegang, haru dan sedikit memanas.
Nyonya Shita hanya bisa pasrah dan merelakan kepergian Sheela dan cucu tercintanya untuk sementara waktu.
Sampai suasana hati Sheela menjadi tenang dan mau memaafkan putranya.
Yang entah sampai kapan.
nyonya Shita pun tak tahu.
Semuanya tergantung pada sikap
Darren.
******
Bersambung....
Terima kasih karena kalian masih setia membaca karya author dan
Maaf ya... Karena tak sempat membalas satu persatu isi dari pesan kalian.
Namun author sangat antusias untuk membaca pesan dari kalian.
Thank you all.
__ADS_1