
"Slamat pagi Sheel..."
sapa dokter Raka saat memasuki kamar tempat Sheela di rawat dan tidak ada siapa2 di dalam kecuali Sheela seorang diri yang sedang berbaring di tempat tidur.
"Pagi juga dok..."
balas Sheela dengan senyum lalu duduk perlahan dan bersandar di sandaran kasur.
"Bagaimana keadaan kamu sekarang...?"
tanya Dr. Raka saat berdiri di samping tempat tidur Sheela dan membantu Sheela merapikan selang infusnya yang hampir tertindih oleh Sheela sendiri.
"Makasi.., keadaan saya udah baikan kok Dok.."
jawab Sheela.
Saat Dr. Raka dan Sheela sedang asyik ngobrol, Darren tiba2 muncul di depan pintu bersama Nyo. Shita yang langsung menghampiri menantu kesayangannya.
"Pagi sayang.., bagaimana keadaanmu sekarang...?"
sapa Nyo. Shita lalu mencium kening Sheela.
Sedangkan Darren duduk di sofa depan Tv dengan menyilangkan kakinya sembari membalas email di ponselnya tanpa menoleh sedikit pun ke arah isterinya.
Wajahnya nampak serius dan kaku sembari menekan tombol2 di ponselnya.
Sebelumnya Ia menghubungi sahabatnya di luar dan meninggalkan Sheela sendirian di kamar saat dokter Raka menjenguk Sheela.
"Udah baikan ma..."
jawab Sheela dan sesekali melirik wajah Darren.
"Syukurlah kalau kamu uda baikan, soalnya mama sempat kuatir tadi, saat mendengar kabar dari Darren kalau kamu di rawat di rumah sakit ini.."
ucap Nyo. Shita dengan wajah cemasnya.
"Slamat pagi Nyo. Shita...?"
sapa Dr. Raka dengan ramah saat Nyo. Shita menoleh ke arahnya.
"Pagi.., eh kamu Dr. Raka ya..?! anaknya tuan Harun kan..!?"
Sahut Nyo. Shita.
"Benar Nyo. Shita."
jawab Dr. Raka dengan senyum.
"Panggil tante aja."
ucap Nyo. Shita dan di balas senyum oleh dokter Raka.
Kemudian Nyo. Shita mengalihkan pandangannya ke arah Darren yang sedari tadi hanya diam di tempat duduknya.
"Ren.., kamu kenal ngga dengan Dr. Raka anaknya om Harun..!?"
tanya Nyo. Shita kepada Darren yang masih sibuk dengan ponselnya.
"Darren..."
tambah Nyo. Shita memanggil putranya.
"Ada apa ma...?"
tanya Darren.
"Kamu ngapain sech dari tadi...?"
Nyo. Shita bertanya balik dengan sedikit kesal karena Darren tidak merespon ucapannya dan hanya sibuk dengan ponselnya tanpa menyapa tamu mereka saat ini.
"Kami sudah saling kenal kok tante, cuman kurang akrab gitu..."
timpal Dr. Raka.
"Oh.., gitu..."
sahut Nyo. Shita.
"Iya tante.., kalau begitu saya permisi dulu."
__ADS_1
ucap Dr. Raka sembari memandangi Nyo. Shita dan Sheela secara bergantian.
"Terima kasih dok, tolong sampaikan salamku pada Sasa ya dok..."
ucap Sheela sedangkan Nyo. Shita hanya mengangguk.
"Okey..."
sahut Dr. Raka lalu berjalan menuju pintu keluar dan saat dirinya hendak keluar dari pintu, Dr. Raka berpapasan dengan Dr. yang merawat Sheela saat ini.
Mereka hanya saling melempar senyum sembari berjalan.
"Slamat pagi....."
sapa Dr. saat memasuki kamar dan langsung menghampiri Sheela untuk memeriksa kondisi kesehatan Sheela hari ini.
"Pagi juga Dok..."
balas Nyo. Shita dan Sheela bersamaan sedangkan Darren masih sibuk membalas emailnya.
"Bagaimana kondisi menantu saya hari ini dok..?"
tanya Nyo. Shita dengan cemas.
Dokter tersebut tersenyum tipis ke arah Nyo. Shita.
"Kondisi menantu anda baik2 saja."
"Apa hari ini saya boleh pulang Dok..?"
timpal Sheela yang sudah tidak betah berlama2 di kamar tempatnya di rawat.
"Anda boleh pulang hari ini .., tapi saya sarankan agar anda makan tepat waktu dan tentunya anda tidak boleh banyak pikiran demi kesehatan ibu dan bayi anda."
jawab dokter lalu melepas jarum infus dari tangan Sheela. Seketika Nyo. Shita melototi Daren karena sangking kesalnya mendengar perkataan dokter dan Darren hanya terlihat bengong karena di pelototin oleh ibunya.
"Baik Dok.., terima kasih.."
Ucap Sheela dan Dokter tersebut segera keluar dari kamar Sheela, karena masih banyak pasien yang harus Ia layani.
"Kamu gimana sech Ren.., ngga becus ungurusin menantu mama yang sedang hamilin anak kamu..!?"
"Kata dokter, Sheela banyak pikiran dan makannya tidak teratur."
tambah Nyo. Shita kesal.
"Bukan salah Darren kok ma.., Sheela yang salah.."
ucap Sheela dengan lirih.
"Lain kali Sheela akan makan tepat waktu ma.."
tambahnya sembari mengelus lengan mertuanya yang sedang berdiri di samping Sheela agar mertuanya tidak ngomel lagi.
"Kamu jangan suka bela2in Darren,"
ucap Nyo. Shita sembari melirik Darren dengan kesal lalu kembali menatap menantunya.
"dan ingat selalu jaga kesehatan. Kalau ngga, mamimu bisa marah2 sama mama karena mamimu udah berpesan untuk jagain kamu."
tambah Nyo. Shita mengingat pesan besannya jauh hari sesudah pernikahan Sheela dan Darren.
"Iya ma..."
sahut Sheela dengan senyum.
"Kalau begitu mama pulang dulu ya.., karena hari ini papa baru tiba dari LN.
Mama ngga sempat beritahu papa mengenai keadaan kamu saat ini, takutnya Dia syok."
pamit Nyo. Shita di sertai anggukan dari Sheela.
"Ren.., walau sesibuk apapun dirimu di kantor, kamu itu harus selalu utamain isteri kamu dan jangan buat dia stress."
pesan Nyo. Shita saat di depan pintu dan di ikuti oleh Darren dari belakang yang ingin mengantar ibunya keluar.
"Ngga usah anterin mama.., kamu harus jagain isteri kamu.."
tambah Nyo. Shita dan berlalu dari hadapan Putra dan menantunya.
__ADS_1
"Apa kamu yakin ingin pulang hari ini..?"
tanya Darren saat menghampiri isterinya di tempat tidur lalu berbaring telentang di sisi Sheela karena pikirannya sedikit lelah mendengar omelan ibunya tadi.
Sheela menjawab suaminya dengan anggukan lalu berbaring di lengan suaminya dan memeluk tubuh suaminya dengan erat.
"Maafin aku ya.., karena gara2 saya, mama jadi marahin kamu.."
ucap Sheela dengan lembut sembari menghirup aroma tubuh suaminya dan sesekali menaruh wajahnya di balik ketiak suaminya.
Darren mengernyitkan keningnya saat Sheela masih saja menyembunyikan wajahnya di ketiak Darren.
"Kamu sedang ngapain di ketiak aku.."
tanya Darren dengan heran.
"Ngga tau kenapa, akhir2 ini aku selalu merindukan aroma ketiak kamu..."
jawab Sheela malu2 manja.
Seketika Darren menyeringai nakal lalu berbalik serta mendekap tubuh isterinya sehingga mereka bertatap muka, dan membuat jantung Sheela berdetak tidak karuan.
"Jawab aku dengan jujur.., kemarin kamu makan di mana...? lalu makan dengan siapa...?"
tanya Darren.
Wajah Sheela langsung berubah menjadi tegang sehingga raut wajahnya memerah seperti kepiting rebus yang siap untuk di santap.
"Honey.., lepasin dulu..., aku ngga bisa bernafas nech..
ucap Sheela karena Darren memeluk tubuhnya dengan erat.
"Hmmm., bicaralah.."
ucap Daren setelah melepaskan pelukannya dan kembali berbaring seperti posisi semula sembari menatapi langit2 kamar.
Kemudian Sheela menjelaskan semua aktifitas yang di lakukannya kemarin, mulai dari acara makan siangnya bersama Dr. Raka dan Sasa sahabatnya.
Selama ini mereka sangat jarang berkomunikasi saat keduanya sedang sibuk dengan aktifitas mereka masing2 di luar rumah.
Dan mulai hari ini, mereka berjanji dan sepakati untuk saling memberi kabar saat mereka berada di luar rumah.
Karena kunci dari keharmonisan rumah tangga yaitu adanya kejujuran saling terbuka dari kedua belah pihak dan tentunya selalu berkomunikasi melalui via telpon, walau sesibuk apapun diri kita. Kita sempatkan untuk sekedar say hello dengan pasangan kita masing2.
Kini perasaan Darren cukup tenang dan lega setelah mendengar penjelasan isterinya, jika Sheela hanya mencintai Darren seorang dan tidak tertarik dengan pria manapun, asalkan Darren juga tidak berpaling dan meninggalkan dirinya.
Begitupun dengan surat perjanjian mereka sebelumnya, ternyata Darren sudah membakar surat itu dari jauh2 hari sesudah pernikahan mereka. Karena surat itu hanya keisengan Darren semata agar Sheela mau menikah dengannya.
Darren pun mengecup kening isterinya dengan lembut dan sesekali mengecup bibir isterinya yang membuat Sheela terkekeh pelan karena Darren tidak berhenti mengecup kening, pipi dan bibir Sheela secara bergantian.
Saat Darren tengah asyik menggoda isterinya, Sasa tiba2 muncul di depan pintu karena pintunya tidak terkunci.
Seketika Sasa berbalik dan hendak pergi dari kamar tempat Sheela di rawat, karena tidak ingin mengganggu kemesraan dua sejoli yang sedang di mabuk cinta.
"Sasa..,"
panggil Sheela saat Sasa sudah membelakangi dirinya dan Darren di depan pintu.
"Hmm..,"
Sasa hanya berdehem sembari membalikkan badannya tepat kearah Sheela dan Darren dan tidak tau harus ngomong apa karena dirinya sedikit risih dan malu di hadapan Darren, Ia sempat memergoki Darren saat menciumi sahabatnya itu berulangkali.
"Seharusnya mereka yang malu, kenapa harus aku ya...!"
pikir Sheela dalam hati sembari tersenyum dan segera menghampiri sahabatnya itu.
Darren pun langsung keluar dari kamar dan membiarkan Sheela dan Sasa ngobrol dengan leluasa tanpa dirinya.
Sasa kemudian memeluk Sheela dan tidak henti2nya Sasa menggoda Sheela mengenai kemesraan Sheela dan Darren tadi,
hingga keduanya larut dalam suasana.
Bersambung...
Hai2 jumpa lagi di bab selanjutnya ya...
Beri komen, like and vote nya.
Thank you...
__ADS_1
Salam manis dari Author...