
Suara musik mendengung keras di telinga
pengunjung malam itu, serta lampu kerlap kerlip menghiasi dalam ruangan diskotik.
Terlihat beberapa wanita malam yang sedang sibuk bermesraan dan bercumbu dengan lelaki hidung belang di pojok2 ruangan.
"Selamat malam Tuan Daren.
Anda langsung saja ke ruangan sebelah."
kata seorang pelayan yang langsung mengantarkannya ke ruangan eksekutif, sudah menjadi tempat khusus buat dirinya bersama dengan sahabat- sahabatnya.
Pemilik dari Club adalah sahabatnya sendiri, yaitu Riko.
"Silahkan Tuan..."
ucap pelayan tersebut, lalu pamit undur dari hadapan Darren.
"Hmmmm..."
angguk Darren.
Di dalam sudah ada Revan dan Rama menanti kedatangannya.
"Hei... lihat siapa yang datang.."
sambut Revan.
Rama yang sedang sibuk dengan ponselnya, hanya menatap Daren dan tersenyum kecut, dia kelihatan gusar dan kurang semangat.
"Ada apa dengannya...??
tanya Darren sedikit penasaran.
"Biasa, masalah cewek. Dia di putusin sama Sinta kekasihnya."
sahut Revan.
"Hei.hei.
Santai Bro, Banyak gadis diluar sana yang ngantri...
ucap Darren.
Rama yang dengar ocehan Revan dan Daren pun beraksi.
"Lu berdua kan tahu, kalau gue itu, sudah berkorban banyak untuk dirinya."
"Rumah, kendaraan gue uda beliin. Apa kurangnya gue...!!!"
Lu kurang tampan kali buat dirinya
canda Daren.
Ha.ha.ha
Daren dan Rama terkekeh secara bersamaan.
Sialan loe berdua. ledekin gue..!
ucap Rama.
Begini Bro, kalau menurut gue, Cewek seperti dia itu, nggak pantas banget buat Loe.!
sepertinya Sinta itu cewek matre and nggak pantes buat dapatkan cinta loe.
imbuh Revan
"Betul Ram. Nggak usah di pikirin cewek macam dia. Loe harus lupain dia.
__ADS_1
ucap Darren sambil membuka tutup botol Miras serta menuangkannya ke dalam gelas dan menyodorkannya kepada Rama.
Mereka bertiga larut dalam obrolan yang cukup vulgar karna ulah Revan, ya.
Dia itu, tipe cowok yang suka mempermainkan wanita, habis manis sepah di buang. Cowok playboy itulah sebutan yang cocok untuk seorang Revan.
Dengan gelak tawa yang keras menguasai ruangan mereka, karna mereka sudah terbawa suasana pengaruh minuman keras.
Dari arah pintu Romi menyapa mereka bertiga.
"Sorry bro. Aku baru bisa gabung dengan kalian, ada masalah yang harus gue beresin.
"Memangnya kamu ada masalah apa Bro...?
Mungkin kita pada bisa bantuin Loe.
tanya Darren.
"Thanks kawan, Untungnya masalahnya sudah kelar, makanya Aku ada di sini sekarang."
ucap Romi.
"Dua hari yang lalu, sekelompok anak Remaja mengadakan Party di sini. Kata karyawan gue, awalnya berjalan dengan baik, tapi tiba2 ada dua pemuda yang berkalahi karena memperebutkan seorang wanita Nah, kebetulan salah satu pemuda tersebut anak mami dan ayahnya seorang Bupati.."
tambah Sheela menjelaskan.
"ha.ha.ha.."
Gelak tawa mereka memenuhi isi ruangan.
"Terus, terus masalahnya apa.."
"Anaknya babak belur Bro, masih dirawat di RS sekarang..
Nah.. tadi maminya datang maki2 sambil bawa seorang polisi segala dan gue ajak masuk ke dalam ruangan gue untuk bicara baik2."
Mereka mengancam menutup Club gue, katanya keamanan di sini kurang memadai, tidak bertanggung jawab.
ucap Romi menjelaskan.
"Trus...."
Daren semakin penasaran.
"Setelah Karyawan gue jelasin masalahnya secara detail.
Barulah Ibu itu paham dan kelihatan sangat sedih, meratapi putranya yang sedang sekarat di RS, putra satu2-nya."
Oh Ya.! begitulah Bro, hati seorang ibu...
Daren
Iya Ren
balas Romi.
"Nech buat Lu."
Revan memberikan segelas minuman buat Romi dan mereka berempat meneguk dengan berkali-kali dan melanjutkan obrolannya.
"Ren. Bokap gue bilang, bulan depan Lu mau nikah ya...?!?
tanya Romi
Revan dan Rama menatap Romi dengan seksama dan beralih ke Daren yang hanya tersenyum.
"Wah.wah.
Lu memang sesuatu Ren.
__ADS_1
Sekian lama Lu nge-jomblo datang2 uda mau nikah Lu..
Iya nggak...!!! "
menatap Romi dan Revan
"Benar Bro.."
Sedangkan Revan merasa tidak percaya.
"Tak ada angin, tak ada hujan. Loe benar mau nikah Ren.?"
"Ya gitu."
dengan santainya...
Sedangkan Revan yang tahu betul mengenai sobatnya itu, tidak muda tergoda dengan wanita semenjak putus dari kekasihnya dulu.
"Lu uda move on dari Sarah."
"Gue Nggak suka Lu bahas dia sekarang... Sudah lama gue lupain dia.." sedikit kesal.
"Okey..okey slow man.."
"Trus gimana ceritanya tiba2 Lu mau nikah...?!?"
Sambil meneguk minumannya, serta Daren menghela nafas.
"Gue di jodohin sama Kakek gue. Kakek gue dengan Kakek dia sahabatan dari masa perjuangan membangun perusahaan2 mereka. Mereka jodohin kami dari kecil, tapi selama ini, orang tua gue nggak pernah bahas mengenai perjodohan kami."
"Baru beberapa hari yang lalu, gue sekeluarga mengadakan pertemuan dengan keluarga mereka, sekalian menentukan tanggal pernikahan kami."
"Oh..
Dan Lu setuju gitu aja Ren.."
"Awalnya sech nggak.
Nyokap desak gue untuk nikah... katanya Kakek Sudah sangat tua dan sakit-sakitan... katanya, kalau gue bantah bisa kualat gue."
"Gadis itu cantik nggak...?.."
"Di luar kriteria gue. tapi lumayan."
"weh.weh..."
"Kapan2 Lu kenalin kita2..."
"Ha.ha.ha..."
"Cheerss.."
"Selamat Bro. Loe yang pertama melepas masa lajang dari kami bertiga."
Tak terasa dua jam berlalu, beberapa botol kosong tergeletak dan berhamburan di atas meja...
malam ini mereka sangat bahagia karna salah satu teman mereka akan melepas masa lajangnya.
Kawan2 Daren termasuk kategori kalangan atas juga, tapi Daren yang paling mencolok dari mereka bertiga, Perusahaannya ada di berbagai Kota.
Tampak Sekertarisnya Haris sudah sampai di depan pintu. Daren mengirim pesan padanya sebelum mabuk.
"Mari Tuan muda."
Sambil memapah tangan Daren dan berjalan menyusuri jalan keluar Club tersebut.
"Hmm, Berapa banyak yang Tuan muda minum, tidak seperti biasanya dia begini..
apa ada masalah tapi sepertinya tadi baik2 saja...?"
__ADS_1
katanya dalam hati..
Mobil pun melaju dengan sedang menuju Apartemen Daren.