
Setelah menempuh perjalanan selama tiga puluh menit lamanya.
Mereka tiba di hotel yang megah nan menjulang tinggi.
Sang sopir menghentikan mobil tepat di depan lobby dekat pintu masuk.
Terlihat dua orang karyawan hotel sedang bertugas untuk menyambut tamu2 yang hadir pada malam itu.
Saat ada kendaraan yang berhenti di depan lobby.
Mereka segera menyambut bahkan membukakan pintu mobil bagi tamu2 yang datang.
Seperti halnya saat kedatangan Darren dan Sheela.
Karyawan itu tersenyum ramah dan mempersilahkan mereka masuk ke dalam hotel.
Dari arah belakang mobil mereka terlihat begitu banyaknya mobil2 mewah sedang mengantri.
Hendak memasuki lokasi hotel.
Ketika mereka hendak memasuki pintu hotel.
Darren mengambil jagoan kecilnya dari tangan Bi Surti.
"Biar saya yang gendong Bi.!"
ucap Darren lalu menggendong jagoan kecilnya.
Bi Surti hanya tersenyum ketika menyerahkan bayi Jaden ke tangan ayahnya.
Kemudian berjalan mengikuti langkah kedua majikannya dari arah belakang, memasuki tangga lift.
Menuju lantai paling teratas dari gedung hotel tersebut.
Saat mereka sampai di lantai atas.
Mereka langsung di sambut ramah oleh pelayan hotel dan mempersilahkan mereka masuk.
"Silahkan masuk tuan dan nyonya.!
ucap pelayan2 itu dengan sopan.
Ketika memasuki pintu masuk.
Darren menyuruh Sheela agar berpegangan di lengan kanannya.
Sembari membawa jagoan kecilnya memasuki gedung resepsi.
Beberapa pasang mata merasa takjub dan iri melihat kemesraan yang di tunjukkan oleh keduanya.
Terutama kaum jomblo.
Baik itu pria maupun wanita.
Sang jomblowati merasa takjub dengan ketampanan wajah Darren dan mereka berkhayal, andai mereka ada di posisi Sheela saat ini.
Betapa
bahagianya mereka.
Begitu pun dengan kaum pria.
Walaupun beberapa di antaranya sudah menikah dan memiliki pasangan.
Namun mereka2 juga tidak bisa melewatkan situasi dan pemandangan seperti itu. Semua mata tertuju kepada penampilan Sheela yang memukau dan memikat hati mereka.
Sheela berjalan dengan penuh anggun dan mempesona di sisi suaminya.
Rambut panjangnya yang indah di biarkan terurai begitu saja, menampakkan kecantikan natural dari dirinya.
Sheela sengaja menguraikan rambutnya itu,
untuk menutupi bekas kiss mark Darren di bagian leher jenjangnya.
"Jangan melihat kearah mereka.!"
bisik Darren menyatakan kecemburuannya.
Apalagi saat Sheela mengumbar senyuman manisnya saat berjalan menuju meja terdepan.
Tak jauh dari pelaminan tempat duduk pengantin.
"Tuan Darren dan nyonya.
Silahkan anda duduk di sini.!"
ucap pelayan mempersilahkan Darren dan Sheela duduk di meja bundar yang di sediakan khusus bagi mereka.
"Trima kasih.!"
ucap Sheela.
Lalu duduk berdampingan dengan Darren.
"Bi, knapa masih berdiri.!
Ayo silahkan duduk.!"
tawar Sheela kepada Bi Surti yang masih berdiri di sampingnya.
"Anu Nya.!
saya jadi ngga enak.!?"
jawab Bi Surti.
Bi Surti merasa tak enak hati bila harus duduk semeja dengan kedua majikannya.
"Duduk aja Bi.!"
timpal Darren menyuruh Bi Surti ikut duduk.
"Baik tuan.!"
sahut Bi Surti.
Bi Surti merasa beruntung dan bersyukur bisa mempunyai majikan yang baik terhadap dirinya.
Saat mereka duduk.
Para pelayan datang silih berganti menjamu mereka dengan berbagai varian menu yang tersedia malam itu.
Mulai dari makanan pembuka hingga ke makanan penutup.
Sembari menunggu pengantin memasuki gedung yang mereka tempati.
__ADS_1
********
Selang beberapa menit setelah kedatangan Darren dan Sheela.
Sepasang pengantin pria dan wanita telah memasuki pintu gedung.
Seluruh tamu undangan mengarah kepada sepasang pengantin, menyambut
mereka dengan senyum sumringah dan turut merasa bahagia.
Sheela pun demikian.
Ketika sang mempelai lewat di depan meja tempat mereka duduk.
Sheela melontarkan ucapan selamat dengan pelan dari bibir mulutnya yang seksi.
Sasa menyambutnya dengan penuh haru dan hanya bisa melemparkan senyuman manisnya untuk menanggapi ucapan sahabatnya itu.
Karena dirinya sedang berjalan menuju altar bersama Dr. Raka.
Kerabat dekat dari masing2 kedua mempelai pengantin pun bergantian datang memberi ucapan terima kasih.
Atas kehadiran Darren dan Sasa pada malam itu.
Karena mereka tahu.
Kesibukan Darren sebagai pengusaha nomor satu di kalangan pengusaha pengusaha yang lainnya.
Malam itu, sahabat2 Darren juga turut hadir di pesta tersebut.
Mereka di undang oleh ayahanda Dr. Raka, yang merupakan pengusaha sukses dan senior bagi Darren dan sahabat2nya.
Darren meminta ijin kepada Sheela isterinya, untuk ikut bergabung sebentar dengan sahabatnya di meja yang lain.
Ketika salah satu sahabat Darren datang menghampirinya dan mengajaknya untuk minum minuman alkohol barang satu atau dua gelas saja bersama mereka.
Peraturan itu berlaku bagi siapa saja yang hadir pada malam itu.
Demi terciptanya rasa aman hingga tak mengganggu acara resepsi yang sedang berlangsung.
" Janji ya, hanya segelas.!
ucap Sheela.
Sheela tak ingin jika suaminya itu terlalu banyak minum, apalagi sampai mabuk mabukan.
Karena Sheela tahu.
Suaminya itu tak bisa mengontrol emosinya saat di pengaruhi oleh minuman beralkohol.
"Iya sayang.!"
bisik Darren di telinga isterinya.
Lalu mencium kening Sheela dengan lembut.
"Ingat, jangan kemana mana.
Papi cuman sebentar perginya, abis itu balik kesini.!
ucapnya tegas dan pelan sambil menyerahkan putranya ke pangkuan Sheela.
"Mmmm..."
Angguk Sheela dengan wajah lemas karena ucapan suaminya itu,
Namun Sheela bisa memahami maksud dari ucapan Darren terhadap dirinya.
Suaminya itu sangat pencemburuan dan tak ingin melihat dirinya di dekati oleh lelaki manapun.
Suasana pesta di malam itu sungguh sangat meriah.
Walaupun hanya di hadiri oleh sebagian dari kalangan pengusaha dan teman2 sejawat Dr. Raka.
Sebagian dari tamu2 undangan sudah mulai berdiri dan mengantri untuk pergi mengucapkan langsung ucapan selamat mereka kepada pengantin pria dan wanita.
Sheela menanti kedatangan Darren.
Yang katanya hanya sebentar.
Namun kenyataannya sudah setengah jam lamanya, pikir Sheela.
Berkali kali
Ia menoleh ke arah meja tempat Darren dan sahabatnya berkumpul.
Darren tak kunjung menoleh kearahnya.
Dirinya hanya sibuk berbincang dengan sahabatnya.
Sheela menghela nafasnya.
Lalu menyerahkan putranya ke pangkuan Bi Surti.
Bayi Jaden sudah tertidur pulas saat itu.
Jadi Sheela tak bisa membawanya ke atas pelaminan.
"Bibi tunggu di sini aja ya.
Saya mau ke depan.!"
ucap Sheela.
Lalu berjalan menuju altar pelaminan untuk memberi ucapan selamat kepada sahabat karibnya.
Ketika Sheela sampai di pelaminan.
Sasa tersenyum bahagia dan sangat terharu menyambut kedatangan sahabatnya itu.
"Selamat ya sayang.!"
ucap Sheela.
"Makasi.!"
jawab Sasa.
Laki loe and ponaan gue mana.?
Bukannya tadi mereka ikut datang ke sini ya.!
tanya Sasa.
"Tuh lagi bobo.!"
__ADS_1
jawab Sheela sembari menoleh ke arah Bi Surti yang sedang memangku bayi Jaden.
"Kalau Darren lagi ngumpul bareng ama teman temannya."
"Yawudah.
Kita foto bareng aja kalau gitu.!"
ucap Sasa.
Lalu mulai berfoto bersama sahabatnya.
"Skali lagi makasi ya, udah mau hadir malam ini."
ucap Sasa.
"Apaan sech.
Loe kan sahabat gue satu2nya di dunia ini.
Canda Sheela.
"Semoga kalian cepat2 dapat momongan."
Harapan Sheela.
"Amiin.!"
ucap Dr. Raka mengaminkan.
Sheela segera beranjak pergi dari atas pelaminan.
Karena tamu2 yang lainnya sudah mulai mengantri dari arah belakangnya.
Namun naas saat Sheela sudah turun dari atas altar dan hendak berjalan menuju toliet.
Seorang pelayan menubruk dirinya dari samping.
Membuat Sheela hampir terjatuh ke lantai.
Untung saja ada seorang pria, cepat2 menolong dan menopang tubuh Sheela dari arah belakang sehingga Sheela tak terjatuh ke lantai.
"Maaf nyonya, saya tidak sengaja.!"
kata pelayan itu menundukkan kepalanya.
Dirinya sangat merasa bersalah.
Sebagian tamu undangan pun ikut menyaksikan kejadian itu.
Begitu pun dengan Sasa dan Dr. Raka.
Mereka menjadi panik dan kuatir dengan kejadian yang di alami oleh Sheela.
Secara bersamaan, Darren muncul dari arah samping Sheela.
Sontak Darren menarik tubuh Sheela dari pelukan pria yang menolong isterinya.
"Lepaskan isteri saya.!"
pekik Darren.
"Kamu ngga knapa2kan sayang.!"
tanya Darren sambil memeluk tubuh isterinya dengan erat sembari memplototin pria yang menolong sekaligus memeluk tubuh isterinya sebentar tadi.
Darren merasa jika pria itu dengan sengaja dan berkesempatan untuk memeluk tubuh seksi isterinya.
Pria itu menggelengkan kepalanya.
Dirinya ikut menantang dan membalas memplototin Darren.
Pria itu seakan sengaja mengumpan kemarahan Darren.
Alhasil.
Kemarahan Darren pun mulai memuncak.
Emosinya sudah tak terkendalikan lagi.
Spontan Darren mengepalkan jemari tangannya hendak mengarahkan pukulan tinjunya ke wajah pria itu.
Namun Sheela menahannya dengan cepat.
Ia mengelus dada suaminya dengan lembut, agar emosi Darren menurun.
"Sayang, please jangan lakukan itu.
Niatnya cuman mau nolongin mami.!
ucap Sheela pelan dan memohon.
Sheela tahu jika sikap arogan suaminya itu muncul karena sudah di pengaruhi oleh minuman alkohol.
Kedua sahabat Darren pun segera datang membantu untuk mendinginkan suasana yang mulai tegang dan memanas.
Mereka menyuruh pria yang menolong Sheela itu untuk segera beranjak dari tempatnya.
Sebelum keadaan semakin menjadi ruyem.
Pria itu sempat menolak dan menantang.
Namun pihak keamanan yang bertugas malam itu segera bertindak , atas perintah dari keluarga kedua mempelai.
Setelah di selidiki.
Ternyata pria itu dengan sengaja melakukan hal itu dan menyogok pelayan yang menyenggol tubuh Sheela.
Pria itu segera di tangkap dan diamankan ke kantor polisi.
Atas pernyataan tuduhan pelecehan seksual terhadap wanita.
Sebelumnya Darren sudah menyadari gerak gerik dan niat jahat dari pria itu, dari balik kursi tempatnya duduk ketika bergabung bersama para sahabat dan koleganya untuk minum2.
Ketika pria itu beraksi.
Darren langsung turun tangan dan mengikutinya.
Seperti itulah kejadiannya.
Suasana kembali menjadi kondusif.
Darren dan Sheela pun sudah pergi meninggalkan hotel dan kembali ke mansion.
*******
__ADS_1
Bersambung.......