Calon Istri Yang Manja

Calon Istri Yang Manja
Bab 82


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 1 jam lamanya dari kota Jakarta.


Akhirnya keluarga tuan Hardi dan Darren anak menantunya tiba di kota Bandung.


Kendaraan yang di kemudikan oleh tuan Hardi saat ini sudah memasuki sebuah kawasan perumahaan yang cukup elit bagi kalangan menengah ke atas.


Tersirat senyum bahagia dari bibir nyonya Jeslin ketika mobil mereka sudah tiba di depan pagar rumah mereka.


Securty yang berjaga, bergegas membukakan pagar untuk majikannya.


"Slamat datang tuan dan nyonya.!"


sapanya dengan senyum dan sopan.


Setelah menutup pintu pagar.


Security itu pun berlari ke arah mobil tuannya, yang baru saja terparkir di halaman depan rumah.


Tanpa di beri perintah, security itu


segera membuka pintu mobil milik tuannya.


Setelah tuan Hardi turun dari atas mobilnya.


Saat itu juga Darren membuka pintu bagian tengah dan hendak membantu isterinya turun dari mobil.


Namun Sheela menolaknya.


Walau pun Sheela menolaknya, Darren tak patah semangat.


Ia tetap bersih kukuh dan bergegas memapah tangan isterinya yang hendak turun.


Dengan secepat kilat Sheela menepis lengan suaminya itu.


Seakan merasa jijik dan tak ingin di sentuh lagi oleh suaminya.


Seketika hati Darren terguncang.


Sesaat dirinya terdiam melongo di tempat duduknya.


Kemudian menarik nafasnya dalam2 , lalu menghempaskannya dengan sedikit kasar.


Setelah menepis lengan suaminya.


Sheela bergegas turun dari atas mobil.


"Non Sheela.!"


seru security itu dengan senyum dan sedikit terkejut dengan kedatangan Sheela yang tiba2 dan baru saja turun dari atas mobil.


Sheela hanya tersenyum tipis ke arah security itu.


Lalu berjalan pelan memasuki pintu rumahnya, menyusul ibu dan ayahnya yang sedang membawa serta bayi mungilnya masuk ke dalam rumah.


"Darren mana.?"


tanya nyonya Jeslin kepada putrinya ketika dirinya baru saja keluar dari dalam kamar untuk membaringkan cucunya.


Karena Darren tak kunjung masuk kedalam rumah.


Sheela hanya terdiam di tempat duduknya dengan menutup kedua matanya sembari menyenderkan tubuhnya ke sandaran sofa.


Sedangkan tuan Hardi saat ini, sudah berada di dalam ruangan kerjanya untuk memeriksa file2 dari sekertarisnya di kantor.


Melihat sikap putrinya yang kini acuh tak acuh mendengar perkataannya, nyonya Jeslin hanya mendecak pelan dan mengeleng gelengkan kepalanya.


Dari arah belakang, Bi Sumi sedang membawa mampan yang berisi camilan dan beberapa gelas teh hangat sesuai pesanan nyonya Jeslin sebelumnya.


"Silahkan di minum teh hangatnya nyonya dan Non Sheela.!


ucap Bi Sumi dengan senyum setelah meletakkan minuman hangatnya ke atas meja di depan Sheela.


Sheela hanya mengangguk pelan.


"Makasi Bi.!"


sahut nyonya Jeslin.


"Iya nyonya,


bibi permisi dulu kebelakang.!"


Tak lama kemudian, Darren muncul dari balik pintu sambil menenteng tas yang berisi perlengkapan isteri dan putra kecilnya


"Minum dulu nak.!"


"Makasi Mi.!"


sahutnya.


Lalu meletakkan tas itu di atas sofa dekat Sheela yang kini sedang menikmati teh hangatnya.


Saat Darren hendak duduk, Sheela langsung meneguk habis teh hangatnya itu.

__ADS_1


"Sheela mau ke kamar dulu Mi.!"


ucapnya.


Kemudian


beranjak pelan dari duduknya, tanpa menoleh ke arah suaminya yang sedang memperhatikan dirinya.


Hati Darren sangat terpukul dan merasa tak di anggap.


Dirinya seakan tiada arti lagi bagi isterinya.


Namun Ia berusaha nampak tegar di hadapan ibu mertuanya.


"Kamu yang sabar ya.!"


putri mami emang kaya gitu kalau lagi kesal.


"Iya Mi.!"


sahutnya lirih.


"Setiap kali ada masalah harus di hadapi dengan banyak bersabar karena semua itu butuh proses yang panjang, tergantung dari masalahnya masing2.!"


nasehatnya kepada Darren.


Perasaan Darren menjadi sedikit lega mendengar nasehat ibu mertuanya itu dan Ia sangat berterima kasih karena nyonya Shita mau memahami dan mengerti akan posisinya saat ini.


"Yaw'udah kalau gitu,


mami tinggal dulu ya.!


Ntar kalau minuman kamu udah habis, buruan susul isteri kamu ke kamar, siapa tau aja Dia butuh bantuan.!


Tapi ingat,


kata dokter isteri kamu itu ngga boleh stress dan banyak pikiran.


"Baik Ma.!"


Kini Sheela sudah berada di kamar pribadinya, yang selalu Ia tempati semasa dari


kecil hingga sampai sekarang.


Kamarnya


itu selalu di kosongkan untuk dirinya,


bisa Ia tempati


Sebelum istirahat, Sheela ingin membasuh tubuhnya terlebih dahulu di dalam kamar mandi.


Namun saat di kamar mandi


dirinya nampak kesulitan untuk melakukan segala aktifitasnya itu seorang diri.


Terkadang Ia merintih kesakitan karena bekas caesarnya.


Sebenarnya nyonya Jeslin sangat mengerti dan memahami kondisi putrinya saat ini, yang masih dalam keadaan lemah dan kesulitan untuk melakukan segala aktifitas seorang diri.


Nyonya Jeslin sengaja membiarkan putrinya sendirian.


Agar Darren bisa mengambil peran untuk membantu merawat isteri dan anaknya.


Lebih2 dapat memperbaiki hubungannya bersama Sheela.


Setelah meneguk habis minuman hangatnya, Darren bergegas menyusul isterinya ke dalam kamar.


Sampai didepan pintu kamar, Darren mengetuk pintu itu.1


Namun tak ada sahutan dari dalam untuk mempersilahkan dirinya masuk.


Kemudian Darren memutar gagang pintunya dan alhasil pintu itu tidak terkunci, membuatnya sedikit lega.


Darren pun segera masuk ke dalam kamar isterinya.


Setelah itu Ia menutup pelan pintunya dan berjalan mengendap endap karena dirinya tak ingin mengganggu waktu istirahat isterinya.


Namun saat pandangan mata Darren sudah mengitari seisi ruangan kamar, Ia sama sekali tak menemukan isterinya.


Yang terlihat hanyalah bayi mereka yang kini sedang tertidur pulas di dalam box tidurnya.


Samar2 terdengar di telinganya suara percikan air yang mengalir dan di sertai suara rintihan isterinya dari balik pintu kamar mandi itu.


Sontak Darren berjalan ke arah pintu kamar mandi, untuk memastikannya keadaan isterinya di dalam sana.


Sayang, apa kamu baik2 aja di dalam...?


pekik Darren sambil memutar gagang pintu dan kebetulan pintu kamar mandinya itu tidak terkunci.


Darren bergegas menghampiri isterinya yang kini sedang duduk di atas tutup kloset sembari menyikat giginya dalam keadaan bertelanjang bulat.


Tak ada satu helai pun menutupi tubuh putihnya yang bersih nan mulus.

__ADS_1


Sontak Sheela membelalakkan kedua bola matanya dengan mulut terbuka yang kini di penuhi oleh busa pasta gigi.


Sheela sangat terkejut sehingga dirinya berdiri dengan spontan membuat bekas caesarnya tertarik dan terasa perih sampai ke ubun2.


Sheela hanya bisa meringis kesakitan.


Tadinya hanya perih sedikit, namun sekarang semakin bertambah sakitnya.


Begitu pun dengan Darren.


Seketika


matanya melotot tajam menatap tubuh polos isterinya.


Dirinya sangat tercengang saat menatap kedua buah gunung kembar isterinya yang sizenya hampir dua kali lipat dari sebelumnya, yang biasa Darren lihat.


Ma..maaf sayang.!


papi kira mami knapa2 tadi, makanya papi buru2 masuk kesini.!


ucap Darren memohon namun Sheela tak menghiraukannya.


Raut wajah Sheela semakin memperlihatkan kebencian yang mendalam disana.


Melihat kemarahan isterinya.


Darren bergegas menutupi tubuh isterinya dengan handuk dan segera mengangkatnya kembali ke dalam kamar.


Sheela sempat memberontak, namun Darren tak menghiraukannya.


Sheela tak bisa mengelak karena rasa sakit serta kondisi tubuhnya masih dalam keadaan lemah.


Sampai di kamar, Darren membaringkan tubuh isterinya dengan perlahan dan menutupinya dengan selimut tebal.


Setelah itu, Darren berjalan menuju lemari untuk mengambil baju tidur yang akan di kenakan oleh isterinya.


Namun tak satu pun yang muat di tubuh Sheela.


"Baju mami udah pada kekecilan semua.!


Sekarang kan tubuh mami udah melar.!"


candanya dari balik pintu almari untuk memecahkan keheningan.


Sheela mendengus kesal di buatnya.


Bukannya membuat hatinya senang.


Malah menambah rasa sakit di hatinya.


Karena tak mendengar keluh kesal Sheela.


Darren melirik pelan ke arah isterinya yang kini sedang mempelototin dirinya dengan tatapan tajam dari arah tempat tidur.


Tatapan Sheela itu, seakan menembus dadanya.


Darren tersenyum sumringah sambil meminta maaf.


Ya., boleh dikata, saat ini tubuh Sheela lumayan berisi, berat badannya meningkat.


Namun Darren sangat menyukainya.


Karena aura tubuh Sheela semakin memancarkan ke gairahan baginya.


"Bi, cepat ke sini ya.!"


perintah Sheela ketika menghubungi Bi Sumi melalui telpon kamarnya.


Hanya hitungan detik, Bi Sumi sudah muncul bergegas menghampiri anak majikannya itu setelah mengetuk pintu dan di persilahkan masuk.


"Apa yang bisa bibi bantu Non.!"


tanya Bi Sumi.


"Tolong ambilkan pakaian saya di dalam koper itu Bi.!"


tunjuk Sheela pada kopernya yang masih tergelatak di bawah lantai.


"Baik Non.!"


sahutnya dan segera membuka koper milik Sheela.


Kemudian membantu anak majikannya itu untuk mengenakan gaun malamnya.


Sheela sama sekali tak mengijinkan Darren untuk menyentuh dirinya, barang sedikit pun.


Mulai saat dirinya terbaring di atas kasur hingga pagi menjelang.


Bahkan malam tadi.


Darren rela tidur di lantai kamar hanya beralaskan selimut tebal,


asalkan Ia bisa tidur satu kamar dengan isteri dan putra kecilnya.

__ADS_1


******


Bersambung......


__ADS_2