
Sekitar jam 10 pagi menjelang siang.
Sheela dan Sasa sahabatnya sudah berada di tempat parkiran, yang berada di dalam lokasi kampus mereka.
Raut wajah keduanya begitu terpancar kegembiraan karena mereka akan segera berangkat, menuju ke pusat perbelanjaan yang berada di jantung kota metropolitan.
Tanpa menunggu lama, keduanya bergegas naik ke atas mobil milik Sasa.
Setelah memasang seat belt, Sasa segera mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Perjalanan yang mereka tempuh kali ini sekitar setengah jam lamanya.
Saat mereka tiba di tempat yang mereka tuju.
Karena jika pada siang hari kendaraaan lalu lintas nampak lengang, sehingga jauh dari kemacetan.
Mereka pun segera memasuki mall dan langsung menuju butik khusus tempat menjual berbagai perlengkapan baby yang baru lahir.
Ruangan tersebut cukup luas, sehingga mereka nampak leluasa dan nyaman berlama lama di tempat tersebut.
Terutama Sheela yang mudah kelelahan, namun Ia nampak enjoy hari ini, berkat kelihaian sahabatnya yang membantu dirinya untuk memilah milah baju yang lucu dan imut menurut Sasa.
Sasa nampak sangat antusias dan begitu semangat.
Sehingga baju baby yang di pilihnya sudah tak terhitung lagi banyaknya.
Yang entah sudah berapa pasang baju baby untuk cowok.
Menurut
hasil USG dari dokter, bayi yang ada di dalam kandungan Sheela berjenis kelamin pria.
Sheela hanya menggelengkan kepalanya melihat kejelian sahabatnya itu saat berbelanja.
Sehingga Sheela selalu menjulukinya ratu shooping.
Menurutnya, baju yang di pilih oleh sahabatnya itu sudah di luar ekspetasinya.
Bukannya dirinya tak mampu untuk membayarnya.
Namun baju2 yang ada saat ini di sampingnya sudah menumpuk dan mungkin sudah tak muat lagi bila di angkut dengan menggunakan kendaraan Sasa.
Namun setelah di pikir pikirkan lagi oleh Sheela, baju baby tersebut bisa Ia berikan sebagian kepada pembantunya di rumah yang juga sedang dalam keadaan hamil besar dan tentunya sangat membutuhkan baju2 baby.
Pelayan pelayan dalam butik itu pun hanya terheran heran dan melongo.
Mungkin baru kali ini, mereka melihat seseorang berbelanja begitu banyaknya.
Kini Sheela merasa sedikit lelah
Sehingga Ia duduk sebentar di sofa yang khusus di sediakan bagi pengunjung di tempat itu.
Walau pun dirinya lelah, namun tak henti hentinya Ia tersenyum melihat kelakuan sahabatnya yang masih sibuk memilah milah baju khusus bayi perempuan.
"Sheel..!"
pekik Sasa memperlihatkan baju baby perempuan yang berwarna pink kearah Sheela yang sedang memperhatikan dirinya.
"Lucu bingitz....!"
lanjutnya dengan wajah gemasnya.
Sheela pun merasa gemas melihat baju tersebut.
"Ambil aja buat calon bayi kamu nantinya.!"
sahutnya dengan sedikit memekik disertai senyum manisnya.
"Kan bentar lagi tuch..!"
lanjutnya menggoda Sasa.
Karena sahabatnya itu sudah bertunangan dengan dokter Raka.
Setelah resmi berpacaran hanya dalam waktu tiga bulan saja.
dan jika tak ada halangan, dua bulan kedepan mereka akan melangsungkan pernikahannya.
Demi
menunggu kepulihan sahabatnya pasca melahirkan nanti, Sasa sendiri yang mengusulkan dan menentukkan hari pernikahannya itu.
"Masih lama tau..!"
sahutnya lirih memonyongkan mulutnya sembari meletakkan kembali baju baby tersebut.
Setelah puas memandangi baju baju baby perempuan, Sasa menghampiri Sheela.
Kemudian mereka langsung menuju kasir untuk membayar setumpuk baju dan berbagai keperluan baby Sheela.
Belanjaan mereka hari ini, Sheela satukan dan akan di kirim ke mansion melalui jasa kurir khusus pengantaran barang dari mall tersebut.
Kini Sheela dan Sasa keluar dari butik tersebut.
Sembari berjalan, Sasa mengelus perutnya yang sudah mulai keroncongan.
"Kita makan yuk.!
perut gue udah laper banget..!"
ucap Sasa.
"Sama Sa, perut gue udah keroncongan dari tadi.!"
sahutnya sambil mengelus perutnya yang buncit.
Di tambah debay dalam kandungannya sudah menendang nendang karena ikut kelaparan dan sedang menunggu asupan nutrisi dari ibunya.
"Gegara nungguin aunty belanja.!
iya kan' nak...!"
canda Sheela.
"Maafin aunty ya chayank..!
aunty terlalu semangat buat nyariin kamu baju.!"
timpalnya dengan lirih sembari ikut mengelus perut buncit Sheela.
"Btw, enaknya makan apa ya...!?!"
ucap Sasa penuh semangat.
__ADS_1
Ia sedikit kebingungan, apa yang ingin mereka makan siang ini.
"Terserah aunty dech,
ntar mami yang traktir.!"
ucap Sheela seakan debay dalam kandungannya yang berbicara.
Sasa pun semakin semangat.
Walau pun dirinya mampu untuk membeli makanan apa saja yang di inginkan oleh perutnya saat ini,
namun sangat beda bila di traktir sama teman sendiri.
"Ma'aci ya ponaan aunty yang guanteng.!"
seru Sasa dengan senyum gemasnya.
Mereka pun tertawa sejenak.
Menyadari candaan mereka.
orang2 yang melintas di samping mereka ada yang merasa heran dan ada juga yang ikut senang melihat keakraban Sheela dan Sasa.
"Yawudah.!
kamu pesanin makanan dulu ya,
gue pengen pipis..!"
pamit Sasa saat mereka sudah memasuki pintu Cafe dan menunjuk meja yang berada di bagian pojok, untuk mereka tempati.
Cafe itu menyediakan berbagai makanan ala korea.
********
Darren dan Emelly pun baru saja keluar dari toko yang menjual berbagai aksesoris.
Sebelumnya mereka juga sudah membeli camilan2 khas indonesia dan masih banyak lagi, untuk oleh olehnya ke Jerman.
Sangking banyaknya belanjaan yang di beli oleh Emeely, hingga Ia tak mampu untuk membawanya sendiri.
Mau tak mau Darren pun menawarkan diri untuk menenteng sebagian besar belanjaan Emelly.
Sedangkan Emelly hanya menenteng satu tentengan kecil di tangannya, serta tas mininya yang melekat dan bergantung di pundaknya.
"Makan yuk.!"
seru Emelly tiba2 saat berjalan di depan depan kafe dan mencium aroma makanan yang begitu menggoda perutnya yang sudah mulai kelaparan.
"Mmmm..!"
angguknya sembari menatap jam tangannya sebentar.
"mau makan apa.!"
lanjutnya.
"Di situ..!"
tunjuk Sheela kearah cafe tempat Sheela dan Sasa memesan makanan.
Darren pun mengikuti Emelly yang sedang berjalan beberapa langkah di depannya.
Sheela pun baru saja keluar dari toilet dan berjalan ke arah meja tempat Sasa duduk, yang sedang tersenyum manis menyambut Sheela.
Sheela ikut tersenyum membalas senyuman sahabatnya itu.
Namun
Ketika baru saja sampai di depan meja tempat Sasa duduk.
Arah pandangan matanya tak sengaja menangkap sosok wanita dan pria yang sedang berjalan memasuki Cafe yang mereka tempati saat ini.
Raut wajahnya kini tiba2 berubah pucat pasi seperti tak ada aliran darah di sana.
Jantungnya seketika berhenti berdetak.
Dirinya seakan di sambar petir di siang bolong.
Sorotan matanya sangat tajam dan terbeliak terpancar jelas dari raut wajahnya.
Sasa yang melihat reaksi sahabatnya saat ini yang tiba2 berubah, merasa terheran heran dan penasaran.
Baru saja Sasa ikut mengalihkan pandangannya ke arah pandangan sahabatnya itu,
Darren pun menoleh ke arah mereka.
Darren tersentak kaget.
Raut wajahnya tiba2 berubah menjadi tegang dan kaku.
Mulutnya sedikit mangap dan susah untuk Ia gerakkan.
Seiring dengan langkah kakinya yang tiba2 terhenti.
Emelly yang sedang berjalan di depan ikut menoleh ke arah pandangan Darren.
Tak ada yang bisa menebak jalan pikiran Emelly saat ini.
Apakah dirinya bahagia atau sebaliknya.!!
Dirinya hanya terdiam mematung berdiri di tempatnya.
Sontak Darren meletakkan belanjaan Emelly ke kursi sofa yang ada di sampingnya.
Hati Sheela sangat sakit bagai teriris iris melihat hasil belanjaan Emelly yang di tenteng oleh suaminya.
Sebak didada membuatnya susah untuk bernafas normal.
Serta
Kedua matanya sudah nampak berkilauan.
Karena dipenuhi oleh genangan air matanya yang kini tak terbendungkan lagi hingga bercucuran tiada hentinya membasahi wajah cantiknya.
Hatinya hancur berkeping keping.
Bagaikan di cabik2 oleh hewan liar nan ganas.
Suami tercintanya berjalan berduaan dengan seorang wanita.
Bahkan berbelanja bareng bersama wanita lain ketimbang menemani dirinya untuk berbelanja perlengkapan bayi mereka.
__ADS_1
Darren bergegas ingin menghampiri isterinya untuk menjelaskan kesalahpahaman isterinya saat ini. yang mustahil dan tak mungkin bagi Sheela untuk lebih cepat memahami
akan hal itu.
Karena jelas jelas nyata dan berada tepat di depan matanya.
Sasa sahabatnya pun merasa syok dan tak percaya dengan apa yang di saksikannya saat ini.
Hatinya ikut merasakan kepedihan sahabatnya kini.
Sasa pun tak menyangka bila Darren akan menghianati sahabatnya itu.
Darren bergegas hendak menghampiri isterinya.
Namun Sheela berlari duluan, menerobos setiap kursi kosong yang menghalangi langkahnya menuju
kearah pintu yang berada di belakang Darren.
Sesaat pengunjung Cafe merasa kaget dan heboh menyaksikan kejadian tersebut.
Namun mereka masih penasaran dan belum tahu betul masalah yang di hadapi Sheela yang tiba2 berlari menerobos kursi kosong di depannya untuk menghindari kejaran suaminya.
Emeely yang melihatnya pun segera beranjak dari tempatnya untuk menghentikkan langkah Sheela yang berlari pelan karena keadaannya sekarang sedang hamil besar.
Sheela yang merasa di halangi jalannya berhenti sejenak dan merasa murka, Ia mempelototin mata Emeelly.
"Kamu udah salah pah.......!"
ucap Emelly terhenti.
"Lepas..!"
pekik Sheela sembari menepis lengan Emeely yang baru saja meraih dan menyentuh tangannya.
Sheela memotong perkataan Emelly yang ingin menjelaskan kesalapahaman yang terjadi saat ini.
"Dasar wanita ******..!"
lanjutnya lagi dengan murka karena mengingat wangi parfum yang sangat familiar di penciumannya yang asalnya dari tubuh Sheela.
"Honey...!"
pekik Darren menghampiri isterinya dan hendak mendekap tubuh Sheela.
Namun panas bara api semakin memompa aliran darah Sheela yang tiada henti dan memberinya kekuatan untuk menampar wajah suaminya itu sebanyak dua kali.
Darren mengelus wajahnya yang kini sedikit memerah.
Ia tak menyangka Sheela yang lemah lembut, punya kekuatan untuk menampar wajahnya.
Namun Darren merasa hal itu sangat wajar.
Bahkan Ia hendak memeluk tubuh isterinya namun Sheela mendorong tubuh suaminya hingga terpental ke meja yang ada di belakangnya.
Sheela tidak peduli saat suaminya terjatuh.
Ia berlari meninggalkan tempat tersebut.
Sasa pun tak tinggal diam.
Ia berlari menghampiri sahabatnya itu yang sudah tak bisa mengendalikan emosinya.
"Honey..."
pekik Darren tiada hentinya memanggil isterinya.
Darren juga ikut berlari menghampiri isterinya namun di halangi oleh Sasa.
"Please.!
biarkan isteri loe merasa tenang dulu.!"
Saat ke duanya sedang asyik berdebat.
Tiba2 nampak dari jauh orang2 berlarian dan berkerumun mengelilingi seseorang yang sedang tergeletak di lantai dengan bersimbah darah segar yang mengalir keluar dari kedua paha wanita itu.
Darren dan Sasa tiba2 merasa syok dan bergegas berlari menerobos kerumunan orang2 itu.
Darren langsung berteriak histeris d saat wanita yang tergeletak di bawah lantai itu adalah isterinya sendiri.
Darren memeluk erat tubuh isterinya.
Air matanya bercucuran meratapi isterinya.
Begitu pun dengan Sasa. Ia menangis histeris memanggil manggil nama sahabatnya.
Kemudian berlari kearah pintu keluar untuk menyiapkan kendaraannya.
Setelah Darren menyuruhnya untuk menyiapkan kendaraan yang akan mereka tumpangi ke rumah sakit.
Sheela terjatuh saat perut buncitnya menubruk trolli belanjaan seseorang yang tiba2 melintas laju di depannya.
Karena Sheela berlari sangat terburu buru untuk menghindar dan menjauhi suaminya yang ikut berlari
mengejar dirinya dari arah belakang.
Sheela kini tak sadarkan diri.
Membuat Darren merasa bersalah, menyesal dengan kelakuannya yang membuat isterinya seperti ini.
Apa lagi kondisi janin dalam rahim isterinya yang kini dalam masa kritis dan mungkin tak terselamatkan lagi.
Tanpa menunggu lama, Darren langsung mengangkat tubuh isterinya.
Ia berlari sekuat tenaganya menghampiri mobil milik Sasa yang sudah terparkir di depan lobby mall.
**********
Bersambung......
Jangan lupa beri vote and likenya ya....
Maaf karena Author ngga bisa up tiap harinya.
Author nulisnya hanya di waktu senggang aja.
Karena banyaknya aktifitas sehari hari.
Thank you..
semoga kalian suka dan betah menunggu up dari Author.
See u all.....
__ADS_1