
Pertengkaran Sheela dan Darren bak drama korea.
Yang bercerita tentang perselingkuhan.
Cukup menguras air mata.
Sesaat Sheela terdiam mematung di tempatnya.
Sorotan matanya begitu nanar mengarah ke jendela kamar.
"Please honey, papi ngga bisa hidup tanpa mami.!
Di hati papi, hanya ada mami seorang.!
Papi sangat mencintaimu sayang.!"
ucap Darren memohon.
Rasa iba pun mulai menghantui perasaan Sheela.
Jemari2 lentiknya mulai mengusap pelan kedua pipinya yang mulai terlihat sembab karena aliran air matanya.
Sedangkan Darren masih tengah berlutut mengharapkan belaskasih dari sang isteri.
"Berdirilah.!
bu..bukan itu yang ku harapkan.!"
ucap Sheela tersendat sendat.
Sheela merasa tak enak hati melihat suaminya masih berlutut dan memeluk erat kedua kakinya.
Sheela tak menyangka seorang Darren yang terkenal dengan wataknya yang keras kepala dan dingin mau bertekuk lutut di kakinya.
Darren mendongakkan kepalanya menatap sang isteri dengan mata sayupnya yang mulai kering.
Darren tak mengerti maksud dari ucapan Sheela itu.
"Papi sanggup lakukan apa saja untuk mami.!
papi juga janji akan slalu ada buat mami dan putra kita,
asalkan tak ada kata cerai.!"
ucapnya lagi.
Sheela tertegun sesaat menatap mata serta wajah suaminya.
Sheela ingin memastikan ucapan suaminya itu sungguh2 atau sekedar omongan belaka.
"Aku hanya perlu bukti.!"
ucapnya tegas.
"Bukti.!
Bukti apa sayang.!"
ucap Darren tak sabar menunggu ucapan Sheela selanjutnya.
"Ya, sebuah bukti.!"
Darren semakin penasaran di buatnya.
"Buktikan ucapanmu itu, jika kamu benar2 masih cinta dan sayang sama aku.!"
ucap Sheela sambil melempar pandangannya ke arah luar jendela untuk menutupi raut wajahnya yang mulai memerah seperti kepiting rebus.
Riak wajah Darren langsung berubah drastis setelah mendengar perkataan Sheela.
Sontak Darren berdiri dan
memeluk erat tubuh isterinya.
Cukup lama hingga
membuat Sheela terasa sesak.
__ADS_1
"Mami ngga bisa bernafas.!"
ucap Sheela kesal memukul pelan punggung suaminya.
Seketika Darren melepas pelukannya itu dari tubuh Sheela.
"Maaf sayang,
Papi sangat bahagia karena mami mau memaafkan papi.!"
ucap Darren semangat sambil tersenyum menatap kedua mata indah isterinya.
"Mami kan perlu bukti,
Siapa bilang mami udah maafin.!"
ucap Sheela membuat senyum Darren memudar dan menampakkan wajah sedihnya.
"Baik,
papi akan buktikan.!
Mulai sekarang........"
Darren mengangkat tubuh isterinya dan mengangkatnya ke atas tempat tidur.
"Papi mau ngapain.!"
ucap Sheela kesal karena Darren tiba2 mengangkat tubuhnya dan menindih tubuhnya dari atas tanpa menyakitinya.
Karena Darren bertumpuh pada kedua lututnya.
Tak sampai di situ, Darren pun mendaratkan sebiah kecupan lembut di kening isterinya dan hendak beralih ke bibir seksi Sheela yang sudah sangat Darren rindukan.
Tapi gagal total. Karena Sheela langsung menolehkan kepalanya ke arah samping.
Darren sedikit kecewa, namun Ia kembali sadar.
Jika semuanya butuh proses dan kesabaran.
Kemudian duduk bersimpuh di sisi kaki isterinya.
lanjutnya sambil memijat lembut kedua kaki isterinya.
Sheela mendecak kesal sambil mengerlingkan kedua bola matanya.
"Auw sakit.!
pelan2 tau.!"
pekik Sheela.
"Maaf sayang.!"
ucapnya dengan senyum tipis.
"Papi sengajakan.!?!"
tanya Sheela ketus.
Ia sangat yakin jika Darren sengaja memijat keras betis kakinya karena kerlingannya itu.
Bukannya Ia sengaja melakukan hal itu.
Namun tiba2 saja keluar dengan sendirinya.
Sejujurnya Darren tak senang melihat Sheela mengerlingkan kedua mata di hadapannya.
Seakan Sheela tak percaya dan tak menghargainya lagi sebagai suami.
Entah trauma apa atau semacam apalah yang membuat Darren meyakini, jika wanita yang suka mengerlingkan kedua matanya adalah wanita tak punya etika dan kurang sopan di pemandangannya.
Suasana kamar kembali senyap seperti semula.
Namun Darren masih saja memijat lembut kedua kaki Sheela, yang kini sedang berbaring santai sambil menikmati pijatan suaminya.
Tok.tok.tok...
__ADS_1
"Permisi Non.!"
suara ketukan pintu disertai suara Bi Sumi.
"Masuk.!"
ucap Sheela mempersilahkan.
Bi Sumi segera membuka pintu kamar, sambil menarik sebuah koper di tangannya.
"Letak di situ aja Bi.!"
kata Darren saat melihat Bi Sumi menarik koper miliknya hingga ke dalam kamar dan segera mengambil koper itu.
Sedangkan Sheela melongo kebingungan saat melihat sebuah koper di tangan Bi Sumi.
Sheela tahu, jika koper itu adalah milik suaminya.
Namun Ia tak tahu, bagaimana koper itu tiba2 ada di rumahnya.
"Bi, tolong sampaikan pada pak Budi untuk menunggu saya di bawah.!"
perintah Darren.
"Oh, di bawa oleh pak Budi rupanya.!"
ucap Sheela dalam hati.
"Kalau begitu saya permisi dulu Non dan tuan.!"
pamit Bi Sumi.
"Iya Bi.!"
sahut Sheela.
"Makasi ya Bi.!"
ucap Dareen.
"Sama2 tuan.!"
sahut Bi Sumi.
Darren segera membuka dan mengambil sepasang baju kaosnya dari dalam koper dan mengganti handuk kimononya saat Bi Sumi sudah menutup rapat pintu kamar mereka.
Setelah selesai mengenakan pakaiannya, Darren memeriksa satu persatu pesan email di ponselnya yang sudah mulai menumpuk.
Sebuah pesan dari sekertarisnya langsung Ia buka dan baca.
"Dasar manusia tak tau di untung.!"
umpat Darren dalam hati, menghujat rekan kerjanya yang menghianati perusahaannya.
Tiba2 perasaannya menjadi tak enak dan harus bilang apa sama isterinya.
Jika hari ini Ia akan kembali ke jakarta.
Karena perusahaannya kini sedang di ujung tanduk.
Mau tak mau Ia harus ke Jakarta.
Kemudian Ia menghampiri Sheela di atas tempat tidur.
Yang kini sedang berbaring memunggunginya di atas tempat tidur.
Sejak tadi, saat dirinya mengenakan baju gantinya.
Darren meremas kasar rambutnya hingga rambutnya itu terlihat sangat berantakan.
Namun tak memudarkan ketampanannya.
********
Bersambung......
Sampai di sini dulu ya...
__ADS_1
See u all.......