
Malam kian larut, namun rasa ngantuk belum menghampiri kedua insan yang sedang dirundung egoisme dalam diri masing2.
Posisi tidur mereka saat ini, saling membelakangi. Sebelumnya posisi Sheela menghadap kearah kanan suaminya saat Darren naik ke atas tempat tidur.
Sedangkan Darren berbaring menghadap langit2 kamar sambil bermain game di ponselnya.
Mungkin karena lelah, perlahan Sheela menggerakkan tubuhnya lalu membelakangi Darren sambil memeluk gulingnya dengan erat, hingga membuat Darren kesal.
Sangking kesalnya, Darren menambah volume game diponselnya. Namun Sheela tak terusik sedikit pun dengan kebisingan dari game itu.
Sheela hanya menarik selimut tebalnya untuk menutupi tubuhnya hingga ke bagian leher dan menggunakan bantal gulingnya untuk menutupi telinganya.
Ia tahu jika Darren sedang kesal kepadanya.
Namun
Sheela tetap terdiam dalam bisu dan tidak menanggapinya sedikit pun, sikapnya itu hanya membuat esmosi jiwa Darren semakin bergejolak hingga sampai ke ubun- ubun kepala.
Kemudian Darren meletakkan ponselnya ke atas nakas, lalu berbaring menyamping dan ikut membelakangi Sheela.
Tak sampai beberapa menit, Darren bangkit dari tidurnya lalu duduk di atas kasur sembari menghembuskan nafasnya secara kasar.
Sheela sama sekali tidak bergeming dan merespon kekesalannya itu.
Kini dadanya terasa sesak dan panas hati tiba2 melanda dirinya.
Darren menyibakkan selimut yang menutupi kakinya dengan kasar lalu berdiri dan mengambil bantalnya.
Seketika Ia beranjak dari tempat tidur menuju sofa dalam kamar.
Sebelum merebahkan tubuhnya ke atas sofa, Darren menyalahkan TV terlebih dahulu dan menekan remotnya sambil duduk untuk mencari channel favoritnya.
Namun tidak ada siaran TV yang menarik baginya.
Kemudian Ia berbaring dan membiarkan TV menyala begitu saja.
Sheela hanya memandangi suaminya dari balik selimut.
Dadanya pun terasa sesak.
__ADS_1
"Aku akan menghubungi pihak kampus besok pagi untuk mencabut dan membatalkan masa cuti kamu yang baru itu. Agar kamu bisa kembali lagi ke kampus."
ucap Darren tiba2 dari balik sofa tanpa menoleh sedikit pun kearah Sheela, lalu menutup kelopak matanya dengan tangan diletakkan di keningnya.
Sheela terperangah mendengar ucapan suaminya sembari meremas selimut menggunakan jari jemarinya.
Cairan bening mulai mengendap dimata sayupnya yang indah.
Perlahan demi perlahan mengalir membasahi wajah cantiknya.
Seharusnya Sheela merasa bahagia dan senang mendengar ucapan suaminya itu.
Tapi entah kenapa malah membuat dadanya semakin sesak dan susah untuk bernafas.
Apalagi saat Darren merubah panggilan sayangnya menjadi aku dan kamu.
Perlahan Sheela bangun dari tidurnya lalu duduk bersandar di sandaran kasur sambil mengusap wajahnya yang sembab.
"Mami ngga bermaksud untuk menentang aturan papi.!
Yang mami harapkan hanyalah pengertian dari papi saja.
ucapnya dengan lirih menahan air matanya yang sudah mulai tergenang di sudut kedua matanya.
"Itu bukan aturan.! tapi demi kesehatan mami sendiri dan anak kita nantinya.
Sebelumnya papi juga udah minta maaf.
Jika mami ngga setuju dengan keputusan yang papi buat,
Papi ngga kan mengatur hidup mami lagi. Mami bebas melakukan apapun.!"
sahut Darren memekik menambah kepedihan di hati Sheela.
Isak tangis Sheela terpecahkan dan terdengar jelas dipendengaran Darren. Air matanya tak terbendungkan lagi, kini mengalir dengan deras membasahi wajahnya.
Darren mengusap wajahnya menggunakan kedua tangannya. Ia menyadari jika perkataannya itu sangat menyinggung hati isterinya dan sangat tidak pantas untuk Ia lanturkan.
Namun Keluar begitu saja karena rasa sakit hatinya ketika Sheela belum memaafkan dirinya, terbukti saat Sheela tak membalas pesannya siang tadi.
__ADS_1
Karena tidak tahan mendengar isak tangis isterinya, serta merasa kasihan. Darren bangun dari tidurnya. Ia mengambil kotak tissue yang selalu stand bye di atas meja didepannya.
Kemudian beranjak dari duduknya untuk menghampiri Sheela yang sedang menangis tersedu- sedu sambil duduk meringkuk memeluk kedua kakinya diatas kasur. Kedua lututnya Sebagai penopang kepalanya.
Darren mengambil dua lembar tissue dari dalam kotak yang sedang Ia pegang lalu meletakkannya di atas nakas di samping Sheela.
Kemudian Darren duduk di sebelah Sheela dan mulai mengelus bahu Sheela dengan lembut agar berhenti menangis dan mengeluarkan air matanya.
Sheela masih menundukkan kepalanya dan menyenderkan keningnya di kedua lututnya.
Berulang kali bibir mulut Darren mengucapkan kata maaf.
Mungkin karena jenuh mendengar kata maaf dari suaminya,
Sheela pun mulai mengangkat kepalanya dan menoleh kearah lain.
Darren merangkup wajah Sheela dengan kedua tangannya, agar Sheela mau menoleh serta menatap matanya dan melihat ketulusan hatinya saat meminta maaf.
Kemudian Darren mengusap air mata Sheela dari wajah sembabnya dengan lembut menggunakan tissue saat Sheela mau menoleh dan menatap mata dan wajah Darren.
Selain mengucapkan kata maaf yang entah berapa kali, Darren juga membujuk Sheela dengan berbagai rayuan mautnya, membuat hati Sheela menjadi luluh. Mereka pun saling berpelukan dan saling memaafkan.
Segala unek2 telah terpecahkan dan
Kesalahpahaman pun terselesaikan.
Kini rasa kantuk mulai menghampiri keduanya hingga mereka mulai tertidur sambil berpelukan.
Seperti teletubies....
ðŸ¤ðŸ¤
Bersambung......
Hai2... jangan lupa dukungannya ya....
Thank you all....
See U......
__ADS_1