Calon Istri Yang Manja

Calon Istri Yang Manja
Bab 44


__ADS_3

Setelah mandi, Sheela mengenakan baju night dress berwarna biru laut, yang panjangnya di atas lutut hingga membuat dirinya semakin cantik dan menawan.


Sedikit memoles wajahnya dengan pelembab kemudian mengoleskan lotion ke kulit tangan dan kakinya sembari duduk di kursi meja riasnya.


Saat dirinya tengah mengoleskan lotion di kulit kakinya, terdengar olehnya suara ketukan dari balik pintu.


Tok.tok.tok....


"Permisi Nyonya..."


ucap seseorang dari balik pintu dan suaranya itu tidak asing di pendengaran Sheela.


"Ya..., sebentar...."


sahut Sheela kemudian beranjak dari tempat duduknya menuju pintu.


"Ada apa bi....?"


tanya Sheela saat pintu kamarnya setengah terbuka.


"Eh.., bi Surti..."


ucap Sheela sedikit kaget sekaligus senang karena bi Surti tiba2 muncul di depannya.


"Iya non Sheela..., maksud saya nyonya..."


sahut bi Surti sedikit canggung karena sudah terbiasa memanggil Sheela dengan sebutan Non Sheela.


"Sama aja bi..., kan masih muda...,xi.xi.."


ucap Sheela dan terkekeh pelan saat mendengar ucapannya sendiri. Karena menurutnya, Ia belum pantas dipanggil nyonya karena masih muda, yang pantas itu kalau sudah tua.


Bi Surti ikut tersenyum.


"Nyonya Sheela makin cantik aja..."


gumam bi Surti dalam hati.h


"Oh iya Nya..., Tuan Daren sudah menunggu anda dibawah untuk makan malam.."


ucap bi Surti dengan sopan.


Karena bagaimana pun juga dirinya harus terbiasa memanggil Sheela dengan sebutan Nyonya.


"Oh ya..., Kalau begitu..., Kita turun sekarang..."


ajak Sheela lalu berjalan mendahului bi Surti menuju lift. Sebelum masuk ke lift, Sheela menoleh ke arah belakangnya tapi bi Surti tidak ikut bersamanya.


"Bi Surti...., sini...."


panggil Sheela saat bi Surti hendak menuruni tangga.


"Saya lewat sini aja Nya..."


jawab bi Surti karena dirinya sungkan menaiki lift pribadi majikannya.


"Ayo..."


ajak Sheela sembari menghampiri bi Surti serta meraih tangannya agar bi Surti ikut bersamanya menuruni lift.


Bi Surti tidak bisa mengelak lagi karena Sheela sudah menggenggam lengan bi Surti dan menariknya dengan pelan memasuki lift.


Sejak majikannya pindah ke mansion, bi Surti sekalian pamit hendak pulang ke kampung halamannya untuk menjenguk ayahnya nya yang sudah sakit-sakitan.


Namun saat tiba di kampung ayahnya itu sudah meninggal.


Untung saja bi Surti masih sempat ngobrol dengan ayahnya sebelum meninggal. Sedangkan


Ibunya sudah meninggal saat bi Surti masih kecil dan kini Ia hanya memiliki ibu tiri yang sudah menguasai harta warisan orang tuanya.


Bi Surti hanya bisa pasrah dan mengikhlaskan semuanya.


Sehari setelah pemakaman ayahnya, Bi Surti kembali ke Jakarta berkumpul bersama suami dan anak2nya.


Kemudian Ia kembali bekerja di rumah baru majikannya.


Sesuai perjanjiannya dengan Daren, saat Bi Surti kembali dari kampung, Bi Surti beserta suami dan anak2nya akan tinggal di mansion. Kebetulan di area mansion, Daren membangun 2 buah bangunan rumah untuk para pelayan2 yang bekerja di dalam mansion miliknya.


Suami bi Surti bekerja sebagai tukang kebun milik Daren saat ini.

__ADS_1


Sesampainya di lantai bawah, Sheela langsung menghampiri suaminya ke meja makan sedangkan bi Surti segera pergi ke belakang rumah menghampiri suami dan anak2nya.


Ekspresi di wajah Daren saat ini terlihat sangat dingin ketika melihat Sheela berjalan ke arahnya.


"Malam honey...."


sapa Sheela dengan lembut saat tiba di meja makan. Namun Daren tidak merespon ucapannya.


"Ada apa dengannya....? apa karena aku terlambat...! ataukah karena aku telat sampai di rumah...?"


beruntun pertanyaan yang muncul di benak Sheela, kemudian Ia duduk dan menaruh nasi serta lauk pauk ke dalam piring suaminya.


Saat melihat suaminya makan dengan lahap, Sheela mengambil buah anggur yang ada di atas meja, lalu menyantapnya satu persatu.


Tak ada satu pun makanan yang menggugah seleranya saat ini yang di hidangkan di atas meja.


Kecuali buah anggur dan apel.


Tiba2 selera makan Daren hilang saat melihat isterinya hanya menyantap buah anggur di hadapannya.


"Apa dia tidak lapar....? kenapa selera makannya berkurang semenjak pindah kesini..?!"


pikir Daren dalam hati sembari mengernyitkan dahinya dan menguny


ah pelan sisa makanan dalam mulutnya, lalu meneguk segelas air.


Sheela yang menyadari kalau Daren memandangi dirinya sedari tadi, hanya cuek sembari mengupas buah apel di tangannya tanpa menghiraukan tatapan Daren padanya.


Perasaan Sheela sedikit terluka karena Daren tidak merespon ucapannya sebentar tadi.


"Kenapa kau tidak makan...? apa buah itu bisa mengenyangkan bayi dalam kandunganmu...?"


tanya Daren tanpa jeda.


"Kenapa dia ngga nanyain sech kalau gue pengennya makan apa...?!"


gerutu Sheela dalam hati.


"Perutku masih kenyang...."


jawab Sheela lirih.


"Memangnya tadi kamu makan apa di luar sana...?! sampai2 telat pulang kerumah.."


"Di jalan macet..., dan hari ini pasien di rumah sakit lumayan banyak.."


jawab Sheela sembari mengupas buah apel di tangannya.


"Kalau tadi siang...?"


tanya Daren sedikit mengintrogasi dan ingin mengetes kejujuran isterinya saat ini.


Sontak Sheela terkejut,


"Mmm.., maksudnya....?


auh sakit...."


Sheela tiba2 merintih kesakitan saat jari telunjuknya tersayat pisau hingga mengeluarkan beberapa tetes darah.


Dengan cepat Daren mengambil kotak obat dalam lemari yang letaknya tidak jauh dari tempat mereka saat ini.


Setelah mengambil kotak obat, Ia kembali menghampiri isterinya yang masih saja merintih kesakitan.


"Mana yang sakit...."


tanya Daren saat meraih lengan Sheela.


Tanpa di beri petunjuk, Daren langsung mengoleskan obat ke jari Sheela yang terluka.


"Auw perih....,"


rintih Sheela saat Daren mengolesi obat ke jari telunjuknya.


"Hanya luka kecil...."


ucap Daren tanpa ekpresi lalu membalut luka Sheela dengan plester perekat.


"Tapi kan sakit...."

__ADS_1


Ringis sheela kesal lalu beranjak dari duduknya menuju ruang keluarga setelah Daren membalut luka di jari tangannya.


Sedangkan Daren berjalan ke arah teras yang ada di samping rumah mereka dan melewati Sheela begitu saja.


Amarah dalam diri Daren belum sirna juga karena hari ini kesalahan Sheela sungguh di luar batasannya.


Di karenakan Sheela keluar bersama dokter Raka tanpa sepengetahuan dan seizin darinya. Bahkan Sheela tidak mengendarai mobil pemberiannya hari ini.


Sheela yang saat ini berada di ruangan keluarga, tiba2 Ia merasakan pening dikepalanya.


Keringat dingin mulai membasahi wajahnya yang sudah terlihat pucat.


Lagi2 Sheela merintih kesakitan karena sakit yang Ia rasakan saat ini, dari bagian perut dan kepalanya.


"Nyonya Sheela kenapa ya..."


gumam bi Surti yang baru saja keluar dari arah dapur saat melihat Sheela meringkuk sembari menekuk ke dua kakinya di atas sofa.


Karena penasaran dan sedikit kuatir, bi Surti menghampiri Sheela ke ruangan keluarga.


Nahas saat bi Surti sudah berada di ruang keluarga Sheela tiba2 pingsan dan terjatuh di sofa.


"Nyonya Sheela...."


teriak bi Surti.


"Tolong....., tuan Daren...., tolong nyonya.."


sambung bi Surti karena panik.


Seketika Daren berlari dari arah teras menuju ruangan keluarga saat mendengar teriakan bi Surti dari dalam rumah.


"Ada apa bi...?"


tanya Daren saat berlari menghampiri bi Surti.


"Nyonya tuan....., pingsan...."


Jawab bi Surti tersendat-sendat karena gugup dan panik.


Daren langsung mengangkat tubuh isterinya sembari berlari ke arah mobilnya yang sudah terparkir di halaman depan rumah beserta sopir yang selalu siap siaga bila Daren butuhkan.


Dengan sigap sang sopir membuka pintu mobilnya lalu Daren naik ke dalam mobil masih dengan memangku tubuh isterinya.


Mobil pun melaju menuju rumah sakit Ibu dan anak tempat Sheela menjalani ujian prakteknya, yang jaraknya tidak jauh dari mansion milik Daren dan Sheela.


Dengan terpaksa Daren membawa isterinya ke rumah sakit milik keluarga dokter Raka demi keselamatan isteri dan calon anaknya. Karena dokter Rama saat ini sedang berada di luar negeri untuk melanjutkan studinya ke jenjang yang lebih tinggi.


Mereka tiba di rumah sakit pukul 09.00 malam, setelah menempuh perjalanan kurang dari satu jam.


Kini Sheela berada di dalam ruangan inap vvip dan sementara di periksa oleh dokter kandungan dalam ruangan tersebut.


"Bagaimana keadaan isteri dan bayi kami dok...?"


tanya Daren dengan cemas saat dokter selesai memeriksa isterinya.


"Keadaan isteri dan bayi anda baik2 saja. Isteri anda hanya kekurangan asupan makanan dan anemia.


Namun saya sarankan isteri anda tidak boleh stress demi keselamatan bayi anda nantinya."


ucap dokter menjelaskan.


"Syukurlah..., tapi kenapa isteri saya belum sadarkan diri dok...?"


tanya Daren lagi.


"Saya memberi obat penenang kepada isteri anda, agar waktu istirahatnya cukup dan tidak mudah lelah."


jawab dokter.


"Terima kasih dok..."


ucap Daren sedikit lega karena kondisi isteri dan calon bayi mereka baik2 saja.


"Sama2..."


sahut dokter lalu beranjak keluar dari dalam kamar bersama asistennya.


Karena lelah, Daren ikut berbaring di samping isterinya. Namun sebelum tidur, Daren mengecup kening isterinya terlebih dahulu dengan lembut.

__ADS_1


Sesudah itu, dirinya pun ikut terlelap di samping isterinya.


Bersambung.....


__ADS_2