Calon Istri Yang Manja

Calon Istri Yang Manja
Bab 83


__ADS_3

Matahari pagi sudah mulai nampak cerah dan mulai menyusup masuk ke kamar melalui setiap sela2 tirai jendela.


Cahaya mentari pagi itu sedang menari nari kian kemari, mengayun lembut menyusuri raut wajah Sheela yang kini masih tertidur pulas.


Sungguh sangat menyilaukan mata.


Sheela menggeliat malas dan menutupi wajahnya dengan bantal gulingnya untuk menghindari silau dari pancaran cahaya tersebut.


Malam tadi dirinya kurang istirahat karena harus terbangun beberapa kali untuk menyusui putranya.


Darren pun tak kalah siaganya.


Ia juga tak bisa tertidur dengan pulas.


Dirinya selalu terbangun saat mendengar suara tangisan baby kecilnya.


Sehingga pagi ini sekitar jam 7.30, Darren pun masih tertidur pulas sembari meringkuk di bawah lantai, beralaskan selimut tebal.


Tiba2 dari arah pintu luar terdengar suara ketukan pintu.


Tok.tok.tok...


"Sayang, udah bangun belum.?!?"


panggil nyonya Jeslin dari balik pintu, namun tak ada sahutan dari dalam.


Tanpa menunggu lama.


Nyonya Jeslin segera membuka pintu kamar yang kebetulan tidak tekunci.


"Pantesan aja ngga di dengar.!"


ucapnya lirih sambil menggelengkan kepala.


Apalagi saat melihat Darren terbaring meringkuk di bawah lantai.


"Bangun sayang.!"


ucapnya pelan mengusap lembut pundak putrinya.


Sheela menggeliat pelan sambil mengerjapkan ke dua matanya namun masih terasa berat.


"Bentar lagi Mi, masih ngantuk.!"


Tak lama kemudian bayi Jaden terbangun sambil mengusap usap kepalanya.


Lalu mulai mengeluarkan suara tangisnya.


"Ngoek...ngoek..ngoek...!"


tangisnya itu langsung membangunkan seisi kamar.


Rasa


kantuk Sheela seketika hilang.


Begitu pun dengan Darren, dalam sekejap Ia terbangun saat mendengar tangisan putranya.


Mendengar tangisan cucunya, nyonya Jeslin segera beranjak dari sisi kasur untuk menghampiri sang cucu.


"Cup..cup..cup...!"


bujuknya ketika menggendong cucunya.


"Popoknya udah penuh ya sayang.!


Skalian kita mandi yuk..!"


lanjutnya dengan gemas dan segera membawa pergi cucunya keluar dari dalam kamar


karena cucunya itu akan di mandikan oleh seorang perawat yang baru saja di pekerjakan hari ini.


Dengan perlahan Sheela memijakkan kakinya menyusuri lantai kamarnya menuju kamar mandi.


Karena rasa perih pada bekas caesarnya masih sedikit terasa.


Melihat sang isteri hendak pergi ke arah kamar mandi,


Darren beranjak cepat dari tidurnya hendak membantu isterinya.


"Biar papi bantu sayang.!"


ucapnya.


"Nggak perlu.!


Saya masih bisa jalan sendiri.!"


balasnya ketus.


Dirinya masih enggan untuk di sentuh oleh suaminya sendiri.


Darren hanya bisa pasrah dengan suasana hati isterinya yang masih di selimuti amarah terhadap dirinya.


Namun Darren tak patah semangat.


Ia justru mengikuti isterinya dari arah belakang.


Dirinya sangat kuatir dengan kondisi Sheela yang masih sedikit lemah pasca caesar beberapa hari yang lalu.


Saat Sheela ingin membasuh wajahnya, Darren memantau dari arah belakang dan menyiapkan handuk kecil di tangannya untuk di berikan kepada Sheela nantinya.


Menyadari keberadaan Darren yang kini sedang memperhatikan dirinya dari arah belakang,


membuatnya sangat tidak nyaman dan risih untuk melakukan rutinitas paginya saat berada di dalam kamar mandi.


"Keluarlah.!


aku mau buang air besar.!


pekiknya dengan nada kesal sambil menunjuk ke arah pintu keluar.


Darren hanya berdiam diri mematung ditempatnya.


"Silahkan.!


papi akan tunggu di sini.!"


balasnya membuat Sheela semakin jengkel dan geram dengan sikap suaminya yang sedikit keras kepala itu.


"Baik.!


silahkan anda menunggu di sini.!"


ucapnya mendecak kesal.


Lalu segera beranjak pergi dan meninggalkan kamarnya menuju lantai dasar rumahnya.


Darren meremas kasar rambutnya hingga berantakan ketika Sheela meninggalkannya seorang diri di kamar mandi.


Dirinya sangat nampak menyedihkan.


Hatinya kalut dalam dilema.


Entah sampai kapan dirinya harus menghadapi kemarahan Sheela yang tiada memudar sedikit pun sampai saat ini.


Kemudian Ia pun segera membasuh tubuhnya sampai bersih.

__ADS_1


Setelah itu, Darren kembali ke kamar untuk mengganti handuk kimononya dengan baju ganti.


Namun dirinya tiba2 teringat jika Ia tak membawa sehelai baju pun dari Jakarta kemarin.


"Sialan.!"


geramnya pelan.


Lalu segera menghubungi pak Budi untuk segera membawakan beberapa pasang baju untuknya ke Bandung.


Mau tidak mau, Darren harus rela menunggu hingga satu jam lamanya.


Saat ini dirinya hanya berdiam diri serta mengurung dirinya di dalam kamar.


Keluarga tuan Hardi saat ini sudah berkumpul di ruangan meja makan untuk sarapan pagi.


Makanan pun sudah terhidang dan siap di santap.


Namun mereka masih menunggu kedatangan Darren.


Bi Sumi pun segera naik ke lantai atas untuk memanggil Darren atas perintah nyonya Jeslin.


Selang beberapa menit.


Bi Sumi kembali dan menyampaikan pesan Darren, jika Darren belum lapar dan masih ingin istirahat sebentar di kamar.


Seketika nyonya Jeslin menoleh kearah putrinya yang kini terlihat santai sambil menikmati sop daging buatan ibunya.


Begitu pun dengan tuan Hardi.


Mendengar ucapan bi Sumi, tuan Hardi juga langsung menyantap makanannya sampai habis.


Setelah sarapan, tuan Hardi langsung pamit hendak ke kantor dan di antar oleh nyonya Jeslin sampai ke teras depan rumah mereka.


Sedangkan Sheela saat ini sedang duduk berjemur bersama bayinya, yang kini sedang di pangku oleh pengasuhnya.


Pikiran Sheela saat ini sedikit kacau.


Hatinya bertanya tanya, kenapa Darren tak ikut sarapan bersama mereka tadi.


Namun seketika lamunannya hilang saat nyonya Jeslin datang menghampirinya di kursi taman.


Sebelum


menghampiri putrinya, nyonya Jeslin menyuruh baby sister itu segera membawa cucunya ke dalam rumah karena cahaya matahari sudah mulai panas seakan membakar kulit.


"Mami tahu, kamu masih marah dan benci pada Darren.!


tapi sampai kapan.?"


mami juga ngga tega melihat Darren tidur di lantai semalam.!"


ucapnya dengan lembut saat duduk di samping putrinya.


Seketika Sheela menoleh ke arah ibunya yang juga sedang menatap dirinya.


Sheela sedikit kesal karena ibu yang melahirkannya seakan lebih berpihak pada Darren di banding dirinya.


"Sheela ngga bakalan maafin Darren Mi.!


Hati Sheela sangat sakit.!"


isaknya pelan menahan air matanya yang hampir pecah.


"Mami tahu sayang.!"


bujuknya.


Nyonya Jeslin sangat mengerti dan memahami perasaan putrinya.


Bagaimana


Tapi setelah mendengar penjelasan Darren dan Sasa, hatinya yang lembut itu membuatnya mau mempercayai penjelasan anak menantunya.


"Baiklah.!


bukannya mami mau memaksa,


tapi mami harap kalian bisa rujuk dan saling memaafkan.!"


nasehatnya saat menjelaskan semua mengenai kesalahpahaman Sheela terhadap suaminya.


Nyonya Jeslin memeluk serta mengelus menepuk punggung putrinya, agar tak menangis lagi.


Lalu kembali ke dalam rumah untuk melihat cucu tercintanya.


Sheela pun menyusul ibunya dan kembali masuk ke dalam kamarnya.


Tubuhnya sudah terasa gerah sehingga mengharuskannya untuk segera mandi.


Biar tubuhnya nampak segar dan bugar.


Ketika


pintu kamarnya sudah terbuka, Ia mendengar Darren sedang serius ngobrol dengan seseorang melalui panggilan telfon.


Sebelum masuk ke dalam kamar mandi,


Sheela terlebih dahulu mengambil baju gantinya dari dalam almari pakaian miliknya sambil menguping sedikit pembicaraan suaminya.


Namun terdengar samar2 di pendengarannya.


Dari balik pintu almari itu, dirinya juga sempat melirik sebentar ke arah suaminya yang kini hanya mengenakan handuk kimono untuk menutupi tubuhnya.


Karena


kebetulan posisi Darren saat ini sedang membelakangi dirinya dan sedang menghadap ke arah balkon kamar.


Sheela langsung bisa menebak, jika suaminya tak ikut sarapan bersama karena tak mempunyai baju ganti.


Selesai menelfon, Darren merebahkan tubuhnya di atas kasur milik Sheela dan menoleh ke arah lemari untuk mengamati kegiatan isterinya dan tak lama kemudian,


Sheela


beranjak pergi arah ke kamar mandi sambil membawa sepasang baju ganti di tangannya.


Tanpa memperdulikan Darren yang kini sedang menmperhatikan dirinya.


Darren memutar tubuhnya hingga berbaring dengan posisi tengkurap seperti bayi yang kelelahan.


Ada sesuatu hal penting


yang ingin Darren sampaikan kepada isterinya, namun rasanya terasa berat.


Perusahaannya kini lagi lagi, sedang di rundung masalah dan akan berbuntut panjang.


Perusahaannya itu akan di gugat oleh pihak asing ke pengadilan.


Sehingga mengharuskannya untuk segera kembali ke Jakarta.


Masa cutinya ini


yang seharusnya ia gunakan untuk memperbaiki hubungannya dengan Sheela.


Namun semuanya nampak sia2.


Pikiran Darren terasa kacau.

__ADS_1


Sehingga Ia tak mendengar suara ketukan pintu dan juga tak menyadari kehadiran Bi Ina dalam kamar yang sedang membawakan sarapan untuknya.


"Silahkan di makan sarapannya tuan.!"


ucap Bi Sumi dengan ramah.


Sontak Darren menoleh ke arah Bi Sumi.


Dirinya terperanjat kaget membuat Bi Sumi merasa tak enak hati.


"Maaf tuan, sudah mengganggu waktu istirahat anda.!"


"Ng..gak papa Bi.!


makasi ya untuk sarapannya.!"


ucapnya dengan senyum tipis.


Akhirnya Bi Sumi menjadi lega dan segera pamit keluar dari kamar.


"Oh iya Bi.!"


Bi Sumi langsung menghentikan langkahnya dan segera menoleh ke arah Darren.


"Ntar kalau ada yang datang mengantar koper, tolong sampaikan kepada saya ya Bi.!"


"Baik tuan.!"


ucapnya dan segera keluar sambil menutup pintu kamar.


Saat Bi Sumi keluar dari kamar.


Darren menyantap sarapannya dengan lahap karena sedari tadi perutnya sudah sangat keroncongan.


Sehabis sarapan.


Darren berjalan ke arah balkon kamar memandangi alam sekitar yang cukup asri.


Tanah dan pekarangan rumah milik tuan Hardi cukup luas dan di kelilingi oleh pepohonan yang cukup rindang,


sehingga udaranya terasa segar.


Saat ini Sheela sudah berada di dalam kamar.


Ia sedang sibuk menyisir rambutnya yang lumayan panjang di depan cermin hiasnya.


Pikirannya terngiang ngiang dengan perkataan ibunya tadi,


agar dirinya mau memaafkan kesalahan Darren.


Tapi


amarah dan rasa bencinya masih melekat pada dirinya.


Apalagi saat mengingat kembali kejadian beberapa hari yang lalu.


Itu sangat membuatnya terguncang dan tak mudah untuk memaafkan suaminya.


"Tidak.!


tak semudah itu.!"


gumam Sheela dalam hati sambil meremas rambut panjangnya.


Dirinya enggan memaafkan suaminya.


Setelah puas memandangi pekarangan sekitar rumah dari atas balkon.


Darren kembali ke kamar dan sedang berjalan ke arah isterinya.


Sheela pura2 tak menyadari keberadaan suaminya yang kini sudah berdiri tepat di belakangnya sambil mengelus lembut rambut panjangnya.


Darren


menawarkan diri untuk membantu menyisiri rambut isterinya.


Tapi


Sheela langsung menolaknya dan menampakkan wajah juteknya yang dingin.


Darren terdiam sejenak menatapi wajah isterinya melaui cermin.


Bukannya


menjauh atau beranjak pergi saat Sheela tak menginginkan dirinya.


Darren malah senang dan gemas melihat reaksi isterinya ketika sedang marah dan kesal terhadap dirinya


Tapi Sheela tak menanggapinya dan cepat2 merapikan rambutnya.


Lalu berdiri dan hendak beranjak pergi.


Sontak Darren melingkarkan lengannya ke bagian dada Sheela, membuat


Sheela tersentak kaget.


Ia mendorong tubuh Darren dengan sekuat tenaganya namun tak berhasil karena Darren memeluk erat tubuhnya dari arah belakang.


"Lepas.!


pekiknya sambil memberontak dan berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Darren.


"Tolong maafin papi sayang.!"


ucapnya lembut dengan perasaan bersalah.


Tapi Sheela terus meronta ronta sambil memukul mukul lengan suaminya yang berotot dan melingkar erat di dadanya.


"Sebaiknya kita cerai saja.!"


pekiknya tiba2 membuat hati Darren terasa hancur berkeping keping dan langsung tak berkutik sedikit pun.


Tubuhnya bergetar seakan tertusuk pisau.


Sheela pun tak menyangka mulut bibirnya bisa mengucapkan kata cerai.


Namun Ia berusaha nampak tegar dan memastikan ucapannya itu, bukanlah sekedar ancaman belaka.


Seketika Darren melepas tubuh isterinya dan tersungkur jatuh ke lantai hingga berlutut di bawah kaki isterinya.


"Papi udah ngaku salah sayang dan ngga akan ulangi kesalahan ini.!"


air mata Darren pecah tak terbendungkan lagi.


"papi janji ngga bakalan kecewain mami lagi.!"


lanjutnya dengan penuh sendu dan isak tangis.


Sheela ikut terdiam kaku berdiri membelakangi suaminya yang kini sedang berlutut di bawah kakinya.


Dirinya terbawa suasana haru.


Dadanya pun terasa sesak.


Sheela tak menyangka, jika seorang Darren mau berlutut di kakinya sekedar menerima kata maaf darinya.


********

__ADS_1


Bersambung.......


__ADS_2