
Malam kian larut di sebuah perkampungan yang sangat jauh dari perkotaan. Begitu pun dari rumah kerumah, jaraknya sangat berjauhan.
Hingga Penerangan lampu pun seadanya dan hanya menyala di malam hari saja. Dari sebuah genset hasil sumbangan pemerintah setempat.
Saat malam hari, yang terdengar hanyalah suara jangkrik dan celoteh belalang menambah kesunyian di desa tersebut.
Sheela tersadar dari pingsannya dan berkali2 mengerjapkan kedua matanya yang sangat berat Ia buka dengan sempurna.
"Gue ada dimana..? kepalaku pusing banget..."
rintih Sheela lalu melihat sekitarnya dan seketika menghentikan pandangannya saat melihat sosok pria paruh baya di sampingnya yang terikat di sebuah kursi reyot sama seperti dirinya saat ini.
"Pak Budi.."
gumam Sheela dan mulai mengingat kejadian saat dirinya di culik. sepulangnya dari rumah sakit, mobil mereka di hadang di tengah jalan oleh kedua pria misterius, dengan perawakan yang sangat sangar dan bertubuh kekar.
Sheela dan sopirnya diberi beri obat bius ketika kedua pria tersebut pura2 minta pertolongan dengan modus ban mobil mereka kempis di tengah jalan.
Tentunya mereka adalah orang suruhan dari Helena dan Sarah.
"Apa nyonya baik2 saja...?"
tanya pak Budi dengan pelan saat dirinya baru tersadar dari pingsannya.
Ia merasa gagal dan tak berguna untuk melindungi isteri majikannya itu.
"Saya baik2 aja pak.., bagaimana dengan pak Budi..?!"
Sheela bertanya balik.
"Kira2 kita ada dimana ya pak...?"
tanya Sheela sambil menitikkan air matanya karena ketakutan, membuat pak Budi semakin bersalah dan tak berguna. Ia hanya menggelengkan kepalanya karena tidak tahu dimana keberadaan mereka saat ini.
"Nyonya jangan kuatir.., tuan muda pasti akan segera menemukan anda dan saya nyonya.."
hibur pak Budi walaupun dirinya juga risau dengan keadaan mereka saat ini.
"Tuhan tolong selamatkan kami..."
doa Sheela dalam hati sambil menitihkan air matanya.
Dari balik pintu,, terdengar samar2 suara orang sedang berbincang di pendengaran Sheela dan pak Budi.
Beberapa menit kemudian pintu gudang terbuka dengar lebar begitu kasarnya menghantam dinding kayu, hingga membuat Sheela terkejut stengah mati seperti jantungnya ingin copot saja. Begitu pun dengan pak Budi, Ia memohon kepada kedua orang itu yang menculik mereka kemarin.
"Tuan tolong lepaskan nyonya saya..., aku mohon tuan, biarkan saya yang menanggung semuanya, jangan sakiti majikan saya tuan.."
pak Budi memohon sambil menundukkan kepalanya, membuat Sheela terenyuh mendengar ucapan sopirnya itu.
"Diam kau pak tua..."
gertak salah satu dari preman itu dengan menampakkan wajah sangarnya membuat Sheela semakin takut.
"Kenapa kalian menculik kami...? salah kami apa...?"
rintih Sheela dengan kesal.
Kedua preman itu hanya terkekeh sinis sembari mendekati Sheela.
"Cantik juga dia..."
ucap salah satu preman tersebut sambil mengelus pipi kanan Sheela menggunakan jemarinya.
Sheela membuang mukanya ke samping untuk menghindari jemari preman itu namun pria itu langsung mencengkram dagu Sheela dengan kuat disertai seringai jahat dari bibirnya.
"Tolong lepaskan nyonya saya tuan...,
jangan sakiti dia..."
ucap pak Budi memohon, namun pria bertato itu tidak menghiraukan perkataan pak Budi. Sedangkan pria yang satunya lagi langsung membungkam mulut pak Budi menggunakan lakban hitam.
"Diam kau pak tua.."
ucap pria tersebut dengan wajah sangarnya.
__ADS_1
Seakan tidak peduli dengan orang2 di sekitarnya karena nafsu bejatnya yang merasuki dirinya. Pria itu melanjutkan aksinya yang bejat lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Sheela dan hendak mencium bibir Sheela.
"Hey..! brengsek loe, gue suru loe awasin dia, bukan untuk memuaskan nafsu loe.."
pekik seorang wanita dari pintu dan langsung menendang bokong pria itu hingga terplanting ke lantai yang beralaskan tanah.
Wanita itu tidak sendirian, di samping kanannya ada seorang bodyguard.
Sheela merasa lega karena terhindar dari bibir busuk preman brengsek itu pikirnya.
Sontak pria itu berdiri dan langsung meminta maaf pada wanita yang tiba2 menendang pantatnya.
"Maaf Nona.., saya khilaf...."
ucap preman itu menundukkan kepalanya.
Beberapa menit kemudian. Dari arah luar, muncul seorang wanita memasuki pintu gudang dan menenteng sebuah plastik hitam ditangannya.
Sheela membelalakkan matanya dan terperangah melihat sosok wanita yang sedang berjalan kearahnya.
Antara percaya dan tidak, Sheela langsung mengenali wanita tersebut walaupun berjumpa dengannya hanya sekali di Resto hotel waktu itu.
"Diakan mantan pacar Darren..,"
pikir Sheela dalam hati dengan tatapan tajam menatap wanita tersebut yang tak lain adalah Sarah mantan pacar suaminya.
"Apa yang kalian inginkan..., kenapa kau tega menyekap kami disini.., dasar wanita jahat..."
pekik Sheela menggeliatkan tubuhnya yang sedang terikat di kursi reyot.
"Hey..! diam kau.."
tegur seorang preman pada Sheela karena sudah berani meneriaki bosnya.
Biarkan saja dia berbicara sesuka hatinya, karena sebentar lagi dirinya akan pergi dari dunia ini dan meninggalkan suami tercintanya itu untuk selama- lamanya.
ancam Sarah menyeringai sambil melototi mata Sheela membuat Sheela ketakutan.
"Makan itu..., agar kau tidak mati kelaparan sebelum aku membunuhmu.."
Kemudian Sarah menyuruh anak buahnya untuk membuka tali yang mengikat lengan Sheela dan juga membuka ikatan dari lengan pak Budi.
Sheela membuang wajahnya dari tatapan sinis Sarah dan enggan memakan nasi bungkus tersebut.
Cih..! dasar wanita ******...
umpat Sheela dalam hatinya.
Sarah hanya terkekeh sinis sambil berjalan meninggalkan Sheela dan pak Budi ditempatnya. Sarah di ikuti oleh Helena dan seorang bodyguardnya dari arah belakang.
"Kau awasi mereka dan ingat..! kau jangan menyentuh tubuhnya sedikit pun.."
perintah Helena setengah berbisik kepada kedua anak buahnya itu.
"Baik nona.."
sahut mereka serentak.
Setelah itu, Helena menyusul Sarah yang sudah berjalan duluan dan sudah menghilang dari balik pintu gudang.
"Hey..! tunggu. Tolong lepaskan saya.."
pekik Sheela berlari pelan menghentikan langkah Helena dan meraih lengan Sheela dengan kuat.
"Tolong lepaskan saya.., aku mohon. Apa pun yang anda minta, pasti suami saya akan mengabulkannya. Asalkan anda melepas dan menyelamatkan saya.."
lanjut Sheela dengan air matanya yang mengalir membasahi kedua pipinya.
"Lepaskan tangan saya..."
pekik Helena mendorong tubuh Sheela dengan kuat dan terjatuh ke lantai.
Sheela memekik kesakitan dan langsung tidak sadarkan diri.
Hanya hitungan menit,
__ADS_1
Terlihat darah segar keluar dan mengalir dari selah2 kedua paha hingga betis Sheela, membuat Helena jadi takut dan panik lalu segera berlari meninggalkan gudang tersebut menyusul Sarah.
Pak Budi nampak panik. Ia langsung berlari dan bergegas mengangkat tubuh Sheela dan meletakkannya di lantai yang beralaskan terpal yang sudah usang bekas penyimpanan hasil panen petani satu tahun yang lalu.
Gudang tersebut di tinggalkan oleh pemiliknya karena pergi merantau ke kota untuk mengadu nasib di rantau orang dan sudah menjualnya kepada saudagar kaya di desa tersebut. Yang merupakan bos dari preman2 suruhan Helena dan Sarah.
Kedua preman itu pun langsung kabur dan berlari meninggalkan Sheela dan pak Budi yang sedang kuatir dan bingung, apa yang harus Ia lakukan agar segera menolong Sheela dan bayi dalam kandungannya yang mungkin sudah tidak terselamatkan lagi.
Tuan mudanya pasti sangat marah besar bila mengetahui keadaan Sheela sekarang yang tidak sadarkan diri.
*********
Saat ini Darren nampak gelisah di balik kemudinya menuju kantor polisi dan mencoba menghubungi Sarah dan Helena, namun gagal karena di luar jangkauan.
"Keparat..! awas kau wanita ******..."
pekik Darren sambil meninju setir mobilnya, hingga klakson mobilnya berbunyi dengan kuat membuat orang2 yang melintas di sampingnya merasa heran dan kaget.
Sesampainya di kantor polisi, Darren bergegas turun dari mobilnya dan langsung disambut oleh kepala kepolisian yang sedang menunggu informasi dari anak buahnya saat ini.
"Bagaimana hasilnya pak..? apa ada informasi mengenai isteri saya..?"
ucap Darren dengan wajah sedihnya.
Untuk sementara penyelidikan ini masih belum menemukan hasil yang pasti. Namun kami tetap berusaha dan akan segera menangkap pelaku itu.
Saya mohon anda sedikit bersabar...
ucap kepala kepolisian tersebut sembari memukul pelan bahu Darren.
Darren terlihat sangat prustasi namun Ia harus tetap berusaha agar bisa menemukan isteri tercintanya itu.
Selang beberapa menit, ponsel Darren berdering. Ia menatap layar ponselnya lalu segera mengangkatnya sambil berjalan mendekati mobilnya.
"Ya ada apa...!? apa kau sudah menemukan lokasi penyekapan isteriku...?"
tanya Darren yang tidak sabar menantikan kabar mengenai isterinya dari orang2 suruhannya.
Kemudian orang suruhan Darren tersebut menjelaskan panjang lebar mengenai lokasi terakhir Helena dan dan Sarah melalui GPS yang tiba2 menghilang saat mereka mengikuti mobil Helena dari belakang.
"Sepertinya mereka memasuki sebuah perkampungan yang jauh dari jangkauan tuan.."
ucap orang suruhannya itu.
"Kau kirim lokasi Gpsnya sekarang juga kepadaku.., saya akan segera kesana.."
pinta Darren meminta alamat terakhir mobil Helena melintas.
Tak mengambil waktu yang lama, Darren menerima pesan dari orang suruhannya itu dan langsung bergegas naik ke mobilnya menuju lokasi tersebut dan segera menemui orang2 suruhannya.
Perjalanannya kali ini cukup jauh dan memakan waktu kurang lebih 2 jam lamanya.
"Apa kau yakin mobilnya melintas di daerah sini..?"
"Iya tuan.., saya yakin mereka melintas di daerah sini menurut petunjuk Gps.."
Darren langsung naik keatas mobilnya dan mengikuti kendaraan anak buahnya dari belakang menuju perkampungan yang cukup asing bagi dirinya.
Di tengah jalan mereka berpapasan dengan kendaraan yang di tumpangi oleh Sarah dan Helena.
Bersambung...
Hai...
makasi ya..., buat para readers yang sudah setia membaca dan mengikuti karyaku yang baru ini.
Dan
Thank you juga buat saran2nya yang cukup membangun karya author kedepannya.
Maklum author hanyalah penulis pemula dan harus banyak belajar dari penulis2 senior.
Sampai jumpa di bab selanjutnya...
bye...bye...
__ADS_1
jangan lupa beri vote, like and komen....