Calon Istri Yang Manja

Calon Istri Yang Manja
Bab 88


__ADS_3

Setelah menemukan ide dan menyusun rencananya dengan matang.


Nyonya Jeslin langsung mengatur pertemuan putri dan anak menantunya itu di sore hari.


Sebagai wujud permohonan maaf Darren terhadap Sheela isterinya.


Karena


sudah menyakiti perasaan ibu dari putra kecilnya.


Sore hari pun tiba sekitar jam 4.30.


Nyonya Jeslin sudah bersiap siap dengan dandanannya yang cukup simpel.


Walau pun dandanan dan tampilannya terlihat cukup simpel.


Namun kecantikan nyonya Jeslin tak kalah cantiknya dari seorang miss universe saat masih muda.


"Sheela.!"


panggilnya sambil mengetuk pintu kamar Sheela.


"Udah siap blum.!?"


"Bentar lagi Mi.!"


sahut Sheela dari dalam kamarnya.


"Mami tunggu di bawah ya.!"


"Ok Mi.!"


jawab Sheela.


Sore ini nyonya Jeslin rencananya hendak mengajak Sheela ke Mall untuk berbelanja bulanan.


Kebetulan stock barang belanja bulanan keluarga mereka sudah habis.


Jadi momentnya sangat paslah buat mengelabui puterinya.


Semua demi kebaikan dan kebahagiaan putri tercintanya ke depan.


Sheela pun menyambut baik ajakan ibunya.


Lagian dirinya sudah suntuk tinggal di rumah.


Nyonya Jeslin


sangat berharap, rencana Darren kali ini berhasil.


Seandainya ini bukan ide Darren dan kebaikan putrinya.


Nyonya Jeslin tak bakalan membiarkan atau mengajak putrinya


keluar rumah.


Apalagi pergi ke Mall.


Karena Sheela baru seminggu lebih habis melahirkan.


Nyonya Jeslin benar benar ingin menjaga kesehatan putrinya pasca melahirkan.


Karena menurut dari nenek moyangnya.


Perempuan yang habis melahirkan dan belum genap 40 hari.


Belum semestinya keluar dari rumah.


Apalagi selepas caesar.


Jahitan di bagian perut terlihat kering dari luar.


Namun bagian dalamnya belum kering dan sembuh total menurut dokter.


Tak berapa lama, Sheela muncul dari arah tangga dan segera menghampiri ibunya.


"Udah siap sayang.!"


tanya nyonya Jeslin sekali lagi.


Ia ingin memastikan kembali, apakah putrinya benar2 siap dan tak ada yang ketinggalan.


"Uda Mi.!"


sahut Sheela memperlihatkan dandanannya yang cukup santai.


Sore ini Sheela mengenakan baju kaos berwarna putih dan di padukan dengan rok jeansnya di atas lutut.


Sehingga tampilannya kembali seperti gadis ABG.


"Anak mami memang sangat cantik.!"


pujinya pada sang putri membuat Sheela tersenyum manis dan manja.


Senyumnya itu,


cukup menghibur perasaan nyonya Jeslin yang sedang gugup.


Karena

__ADS_1


baru kali ini Ia merencanakan sesuatu seperti berpura pura atau semacamnya untuk memberi surprise kepada putrinya.


Kemudian Sheela menggandeng lengan ibunya, berjalan ke arah pintu menuju teras depan rumah.


Di depan teras rumah.


Sopir nyonya Jeslin sudah siap dengan kendaraannya untuk mengantarkan mereka ke tempat tujuan.


Sopir itu tersenyum ramah.


Lalu mempersilahkan majikannya naik ke atas mobil.


"Silahkan naik nyonya dan non Sheela.!"


"Makasi mang ujang.!"


sahut Sheela dengan senyum.


Lalu masuk ke dalam mobil bersama ibunya di jok tengah.


Kendaraan pun segera melaju dengan kekuatan sedang menuju lokasi yang sudah di tentukan oleh nyonya Jeslin kepada sopirnya.


"Mami mau blanja di mana.!"


tanya Sheela heran.


Karena jalan yang mereka tempuh tidak mengarah ke arah mall yang biasanya di tempati oleh ibunya untuk berbelanja.


"Anu sayang, kita mau ngopi dulu.!"


elaknya.


"Ngopi.!


kan bisa ngopi di mall.!"


ucap Sheela.


"Iya mami tahu.


Tapi mamikan pengen ngopi di cafe langganan, yang sering mami tempatin.


Enak loh.!"


ucapnya berbohong dan sedikit gugup sambil menatap ke arah depan.


Sopir nyonya Jeslin merasa aneh dengan perkataan majikannya itu.


Bahwa nyonya Jeslin punya cafe favorit.


Tidak biasanya nyonya Jeslin berkata tak sesuai dengan fakta.


Buktinya, tiap kali nyonya Jeslin keluar rumah atau kemana mana.


Karena nyonya Jeslin tak pandai membawa kendaraan.


Namun Ia tak mau ambil pusing atau mencampuri urusan majikannya itu.


Dirinya hanyalah seorang sopir bagi keluarga tuan Hardi.


"Mang ujang.!


ntar belok kanan ya di depan simpang.!"


"Baik Nya.!"


jawabnya.


Bentar lagi mami dan Sheela nyampai ya.!"


pesan nyonya Shita kepada Darren.


Karena


sebelumnya Darren sudah mengirim pesan, agar menghubunginya di saat nyonya Jeslin dan Sheela sudah melewati simpang.


Yang arahnya menuju taman.


"Ok Mi.!"


balas Darren.


"Mami langsung masuk aja ke dalam taman bersama Sheela ya.!"


pintanya dengan emoji memohon.


"Pesan dari siapa Ma.!"


Pendengaran Sheela ikut terusik dengan nada pesan ibunya.


"Anu, itu dari teman arisan mami.!


biasa,lah bu ibu rempong.!"


jawabnya spontan dan cepat cepat menyimpan ponselnya ke dalam tas, tanpa membalas pesan Darren.


"Ouw."


gumam Sheela dengan anggukkan sambil menoleh kearah kaca jendela mobil dan memandangi setiap deretan rumah di pinggiran jalan.

__ADS_1


Sheela nampak bengong dan sedikit penasaran dengan cafe yang di maksud oleh ibunya.


"Bukannya ini jalan menuju taman itu ya.!"


pikir Sheela dalam hati.


Karena pikirnya di taman itu tak ada cafe.


Taman yang dimaksud oleh Sheela adalah sebuah taman kota yang sering jadi tongkronan anak2 mudah saat jaman SMA Sheela beberapa tahun yang lalu.


Namun saat baru memasuki pinggiran taman.


Sheela merasa takjub dengan perubahan di taman kota tersebut.


Taman yang dulunya hanya sebagai tempat tongkrongan anak2 muda.


Di sekelilingnya belum ada bangunan satu pun.


Namun Sekarang di sekitarnya sudah banyak bangunan seperti perkantoran, supermarket dan sebuah cafe yang cukup nampak elegan di pandang mata.


Tiba di depan cafe, kendaraan nyonya Jeslin langsung di arahkan ke tempat parkiran khusus oleh security cafe tersebut.


Karena sebelumya Darren sudah mengarahkan security itu.


"Pelayanan cafe ini cukup memadai.!"


pikir Sheela tanpa curiga.


Setelah kendaraan mereka sudah terparkir.


Nyonya Shita dan Sheela langsung turun dari atas mobil.


Nyonya Jeslin pun sempat terperangah melihat cafe yang ada di depan matanya.


"Cukup elegan.!"


pikirnya dalam hati.


Namun Ia pura2 tak asing dengan cafe itu.


Agar Sheela tak banyak curiga.


"Mang ujang pesan minuman aja di dalam.!


Ntar saya traktir.


Saya mau jalan2 dulu ke taman bersama Sheela.!"


ujar nyonya Jeslin kepada sopirnya.


"Baik Nya, trima kasih banyak.!"


sahut Mang ujang dengan sopan.


Sheela menatap curiga kepada ibunya.


"Bukannya mami mau ngopi dulu ya.?!


ntar pulangnya kemalaman loh.!"


Sheela pikir, mereka akan kelamaan nantinya di cafe ini.


Karena setelah dari cafe ini, mereka akan pergi lagi mall.


Pusat perbelanjaan serba serbi, semuanya tersedia di sana.


Sheela pun kepikiran dengan debaynya di rumah.


"Bentar aja kok sayang.


Mami tahu, kamu kepikiran sama Jaden kan.?!


mami juga sama, ngga bisa lama2 dan jauh dari cucu tampan mami.!"


ucapnya dengan gemas sambil menarik lengan putrinya dengan pelan agar mengikutinya memasuki taman.


Sheela hanya bisa pasrah dan segera mengikuti langkah ibunya


memasuki pintu taman.


Taman itu tepat berada di samping cafe.


Hanya di antarai oleh sebuah pintu yang di rancang khusus dari susunan bunga2 hidup yang warna warni.


Sore itu tamannya cukup nampak lengang dan sepi dari pengunjung.


Namun ada yang beda dari taman itu.


Walau pun sepi dan tak ada pengunjung.


Taman itu sungguh terlihat sangat indah.


Tatanan bunga dan dekorasinya cukup menarik hati.


"Sepertinya ada pesta malam ini.!"


gumam Sheela, merasa takjub dengan keindahan bunga2 yang tertata dengan rapi dan terlihat begitu sangat romantis.


******

__ADS_1


Bersambung....


See u all.....


__ADS_2