Calon Istri Yang Manja

Calon Istri Yang Manja
Bab 90


__ADS_3

Malam kian larut.


Namun rasa kantuk Sheela tak kunjung datang menghampirinya.


Karena dirinya


sangat terganggu dengan suara dengkuran suaminya yang cukup keras memenuhi seluruh isi kamar.


Walau pun Sheela sudah berusaha menutup daun telinganya menggunakan bantal gulingnya namun masih saja terdengar jelas di pendengarannya.


Dirinya sempat berkecamuk dengan rasa kesal.


Namun tak tega untuk membangunkan suaminya, yang sedang tertidur pulas di sampingnya.


Sheela nampak heran dan melongo mendengar suara dengkuran Darren yang cukup keras.


Pada hal semenjak mereka nikah dan tinggal bersama.


Darren


tak pernah mendengkur sekeras itu.


Paling hanya terdengar dengkuran halus dan tidak sampai mengganggu tidurnya.


Perlahan Sheela menyibakkan selimut tebal yang menutupi tubuhnya.


kemudian memijakkan kakinya ke lantai sambil mengambil segelas air putih dari atas nakas, lalu meneguknya sampai habis.


Setelah meneguk habis air putihnya, Sheela beranjak dari tempat tidur menuju sofa, sambil membawa bantal guling serta bantal pengalas kepalanya.


Sheela pun tak lupa untuk memindahkan putranya.


Dengan cara menggeser box putranya ke arah sofa.


Agar tak terganggu dengan dengkuran ayahnya.


Sesudah itu.


Sheela merebahkan tubuhnya ke atas sofa karena rasa kantuk pun sudah mulai menghampirinya.


Baru hitungan menit.


Sheela sudah tertidur pulas hingga terbawa ke dalam mimpi indahnya.


*******


Jam 3 subuh.


Bayi Jaden sudah mulai terlihat gelisah di dalam box tidurnya, dengan menggerakkan seluruh anggota tubuhnya hingga mengusap usap mata, rambut hingga seluruh wajahnya.


Lama kelamaan bayi Jaden sudah mulai bosan hingga memperdengarkan suara geraman yang di sertai suara tangisan pertanda jika dirinya sedang haus dan lapar.


"Ngoek..ngoek..ngoek.."


suara tangisan bayi Jaden mulai terdengar keras dan tiada henti.


"Jaden.!"


gumam Darren setengah sadar sambil mengucek kedua matanya dan terduduk diatas kasur.


Setelah kesadarannya pulih.


Pandangannya langsung tertuju kearah suara putra kecilnya.


"Mami.!"


ngapain dia tidur di sofa.!?!


gumamnya lagi ketika melihat isterinya sedang tertidur di sofa.


Namun cepat cepat Ia pergi mengambil putranya dan berusaha mendiamkannya.


Bayi Jaden terdiam sejenak dalam dekapan ayahnya.


Namun tak berapa lama.


bayi Jaden menangis lagi.


Bahkan suara tangisannya itu lebih terdengar keras dari sebelumnya.


Hingga membangunkan ibunya.


"Cup.cup.cup


bobo lagi ya sayang."


ucap Darren pelan sambil berjalan kearah tempat tidur serta mengusap lembut rambut putranya agar terdiam dan tak mengganggu waktu istirahat Sheela.


Cepat cepat Sheela membangunkan tubuhnya dari sofa lalu berjalan ke arah Darren yang sedang menggendong bayi mereka dan berusaha mendiamkannya.


"Aduh sayang, maaf ya mommy baru bangun."


ucap Sheela sambil merapikan rambutnya yang kusut dan melingkarkannya ke bagian pundak kanannya.


"Tuh lihat, mami udah bangun.


Sepertinya dia lapar dech sayang."


ucap Darren.


"Cini sama mami.!"


ucap Sheela lagi, setelah merapikan rambutnya tanpa menoleh sedikit pun ke wajah suaminya, yang kini sedang menatap wajahnya.


Darren menyerahkan putra kecilnya, lalu ikut duduk di sisi Sheela yang sedang ingin menyusui putranya.


Ketika Sheela membuka kancing baju tidurnya, nampak kedua gunung kembar Sheela menyembul keluar dan terlihat sangat padat, membuat mata Darren menjadi melek dan terbuka lebar hingga pandangannya tak terlepas sedikit pun dari dada isterinya.


Raut wajah Darren sudah mulai berubah kaku dan tegang.


Nafsu birahinya tiba2 muncul begitu saja.


Terlihat dari jakun miliknya yang sedang naik turun karena sedang menelan paksa salifahnya yang tiada henti bertengger di tenggorakannya.


Seakan dirinya di hidangi dengan makanan yang sangat menggugah selera.


Darren sedikit merasa tersaingi oleh putra kecilnya itu.


Karena setiap hari bisa menikmati bagian tubuh yang paling di sukai oleh Darren dari tubuh isterinya.


Pikiran


bodohnya itu tiba tiba saja muncul di benaknya.


"Masa ia harus cemburu sama anak sendiri."


ucap Darren menentang cemburu butanya sambil mengelus dadanya yang terasa panas dan sesak.


Menyadari hal itu.


Raut wajah Sheela seketika berubah menjadi merah semerah buah delima.


"Hmmmm.."


Sheela berdehem pelan untuk mengalihkan pandangan Darren dari bagian dadanya yang nampak terbuka dan seksi.


Dengan


menyorotkan pandangannya ke arah mata Darren sambil memicingkan kedua matanya.


Seketika Darren tersadar dan terbatuk batuk seperti keselek sesuatu.


Lalu beranjak pergi mengambil segelas air minum dari atas nakas samping tempat tidur mereka.


Sheela tersenyum geli jadinya saat Darren memunggunginya sambil meminum segelas air putih yang sering Sheela sediakan di saat malam hari.


Setelah meneguk habis air putihnya.


Darren menarik nafasnya dalam2 lalu menghembuskan dengan kasar.

__ADS_1


Kemudian Ia


kembali menghampiri isteri dan putranya yang sedang menyusu.


Di tangannya ada sebuah gelang karet yang di ambil dari dalam laci nakas.


Sebelum duduk Darren menyimpul rambut Sheela dengan asalan asalan namun terlihat sangat cantik.


Bahkan


membuat Sheela merasa nyaman saat menyusui putranya.


Setelah menyimpul rambut isterinya.


Darren mengecup lama kepala Sheela dari bagian belakang, lalu membelainya dengan lembut.


Sheela hanya terdiam,


namun dari gestur tubuhnya, Ia juga merindukan belaian kasih sayang dari suaminya.


"Kenapa mami tidur di sofa.?"


tanya Darren sambil mengurut pelan pundak Sheela dari samping.


Sheela mendengus kesal karena pertanyaan Darren mengingatkannya kejadian semalam yang membuatnya tak bisa tertidur nyenyak.


"Lihat aja tuch di ponsel papi.!"


jawaban Sheela membuat Darren bengong dan penasaran.


"Cari di bagian video.!"


tambah Sheela.


"Video apaan.!"


gumam Darren semakin penasaran, lalu segera beranjak dari duduknya untuk mengambil ponsel miliknya yang di tunjukkan oleh Sheela.


Ternyata semalam sebelum Sheela tertidur.


Ia mengambil video ketika Darren mendengkur.


sebagai moment penting bagi Sheela dan menjadi bukti agar Darren tak mengelak saat Sheela mengatakannya.


Cepat cepat Darren membuka galery foto dan mencari rekaman video yang di maksud oleh isterinya.


Tak begitu sulit bagi Darren untuk menemukan video dirinya yang sedang mendengkur keras.


Dengkurannya itu sungguh menggelihkan dirinya.


Ia pun tak menyangka jika dirinya bisa mendengkur sekeras itu.


Wajahnya sedikit berubah menjadi memerah.


Apalagi saat Sheela tersenyum sinis seperti mengolok dirinya.


Tak tahan melihat senyuman Sheela yang mengolok dirinya.


Darren mendekap tubuh Sheela dari belakang serta memberinya kecupan yang bertubi tubi di pipi kanan dan kiri isterinya.


"Apa mami puas, mengerjai papi.


uhm..!?"


bisik Darren di telinga isterinya.


"Ish..."


Seharusnya mami yang kesal, karena ngorok papi itu seperti pig.!


canda Sheela membuat tingkah Darren semakin menggila karena tak terima dengkurannya itu seperti suara ****.


What.!!


teriak Darren dengan seringai nakalnya.


Bahkan menjalar ke area sensitifnya.


"Papi..udah.!"


tegur Sheela dengan nada kesal tapi pelan karena dirinya sedang menyusui putranya, namun Darren tak mengindahkan perkataannya.


"Okey..okey...


Papi lepas.!"


jerit Darren karena Sheela sesang mencubit pahanya sampai meninggalkan bekas merah.


"Knapa papi ngga boleh nyentuh itu sech honey.


Tubuh mamikan uda jadi milik papi seutuhnya."


ucap Darren manja dan menyenderkan kepalanya di pundak Sheela.


"Kan belum boleh.!"


sahut Sheela.


"Bolehnya kapan.?!


adik kecil papi udah ngga tahan nech.!"


"Tunggu sampai putra kita besar.!"


canda Sheela.


Sontak Darren berdiri dan duduk bersimpuh di hadapan Sheela hendak memastikan ucapan isterinya.


"Kapan sayang.?"


tanya Darren menatap lekat pada wajah isterinya.


"Apaan.?"


tanya Sheela balik, pura2 tak mengerti.


"Yang itu.!"


ucap Darren sambil memeluk kedua kaki Sheela dengan menancapkan dagunya di sela sela paha dan menatap ke area sensitif isterinya.


"Dasar otak mesum.!"


ledek Sheela.


Lalu menyuruh Darren menjauh dari kakinya.


Karena hendak membaringkan putranya ke dalam box tidurnya.


"Kapan pastinya.?"


tanya Darren lagi dengan wajah sendunya dan tak membiarkan Sheela beranjak dari duduknya sebelum memberinya jawaban yang pasti.


"Kata mama, harus nunggu dua atau tiga bulanan gitu.!"


jawaban Sheela membuat nafsu Darren semakin menciut dan tak bergairah.


"Kelamaan.!"


gerutunya.


Darren segera beranjak dari hadapan isterinya dengan wajah yang muram dan lemas.


Lalu merebahkan tubuhnya ke atas kasur dengan posisi tengkurap.


Sedangkan Sheela sedang membaringkan putranya ke dalam box tidur.


Setelah itu, Ia kembali tidur di atas sofa.


Menyadari hal itu.

__ADS_1


Darren bergegas turun dari kasur dan berjalan kearah sofa tempat Sheela berbaring.


Tanpa aba2 Darren langsung mengangkat tubuh isterinya dan membaringkannya di atas kasur.


Sheela hanya mendengus kesal.


Dirinya tak banyak protes.


Apa lagi mau berdebat dengan suaminya.


Di saat rasa kantuknya sudah tak tertahankan lagi.


Setelah membaringkan isterinya.


Darren ikut berbaring di sisi Sheela


dengan posisi telungkup agar tak mendengkur dan mengganggu waktu istirahat Sheela.


Mereka pun tertidur pulas hingga jam 10 pagi.


Di saat sebagian orang sudah menjalankan aktifitas kerjanya masing2.


********


Pagi ini tuan Vincent dan isterinya sedang berkunjung kerumah tuan Hardi untuk bersilaturahmi.


Sekalian untuk menengok cucu kesayangan mereka.


Sebelum kembali ke Jakarta.


Dira dan Sasa juga ada bersama mereka.


Saat ini mereka sedang duduk santai di ruangan tamu, di temani oleh tuan Hardi dan nyonya Jeslin.


Tak berapa lama.


Darren pun muncul dari arah tangga bersama Sheela isterinya yang sedang menggendong putra kecil mereka.


Dira yang menyadari kemunculan Darren dan Sheela,


langsung tersenyum gemas ke arah mereka.


Dirinya nampak kurang sabar untuk melihat langsung wajah keponaannya.


Walaupun Ia sudah melihatnya melalui foto yang kirimkan oleh ibunya semasa Ia masih di luar negeri.


"Gemesnya..!"


seru Dira ketika Sheela sudah berada di ruangan tamu.


"Sini aunty gendong.!"


tambahnya dengan mengangkat kedua tangannya dan mengambil posisi duduk yang nyaman agar lebih leluasa saat memangku bayi Jaden.


Sesaat ruangan tamu menjadi riuh dan ramai menyambut kedatangan bayi Jaden di tengah tengah mereka.


Nyonya Shita dan Sasa pun sangat tidak sabar untuk menggendong bayi Jaden yang kini masih berada dalam gendongan Dira.


"Ouw..


Gemesnya.."


seru Sasa juga.


"Makanya cepat2 nyusul aunty Sasa.!


ucap nyonya Jeslin sambil tersenyum manis dari tempat duduknya.


Sasa hanya tersenyum nyengir seperti kuda menanggapi ucapan nyonya Jeslin.


"Tenang aja Mi, undangan akan segera meluncur.!"


timpal Sheela.


"Oh ya,


Kapan.?


Pokoknya selamat ya buat nak Sasa.!"


ucap nyonya Jeslin.


"Makasih tante.


Masih lama kok.


tunggu Sheela benar2 pulih dulu Tan."


jawab Sasa sedikit salah tingkah lalu menoleh ke arah Sheela dengan memicingkan wajahnya karena malu dirinya menjadi perbincangan dalam keluarga sahabatnya itu.


Sheela hanya tersenyum menanggapi tatapan Sasa sambil menyantap kue buatan nyonya Jeslin yang di hidangkan di atas meja untuk menjamu besannya.


Begitu pun dengan keluarga tuan Vincent.


Mereka hanya ikut menyimak dan ikut senang mendengar kabar bahagia dari Sasa sembari menikmati jamuan mereka.


"Udah ngga usah malu.!


tante itu udah anggap kamu sebagai anak."


ucap nyonya Jeslin memahami perasaan Sasa.


"Makasi Tan.!"


ucap Sasa.


Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 12 siang.


Waktunya bagi mereka untuk makan siang bersama.


Di sela sela perbincangan.


Nyonya Jeslin pamit hendak ke dapur untuk melihat lihat.


Apakah hidangan sudah tersaji di atas meja makan.


Baru saja nyonya Jeslin memasuki ruangan makan.


Ia berpapasan dengan Bi Sumi yang hendak mempersilahkan mereka untuk makan siang.


"Eh ibu..!


Baru saja saya mau ke depan."


ucap Bi Sumi dengan sopan.


"Udah siap Bi.!"


ucap nyonya Jeslin karena sebelumnya, Ia menyuruh Bi Sumi untuk menyiapkan makan siang bagi tamunya.


"Udah Bu."


sahut Bi Sumi.


"Yawudah kamu ke depan panggil mereka ya."


ucapnya sambil sedikit merapikan posisi hidangan di atas meja.


Tak berapa lama.


kedua besannya pun sudah memasuki ruangan makan bersama suami dan yang lainnya.


Mereka pun menikmati santapan siang mereka dengan lahap.


Lalu beristirahat sejenak, sebelum kembali ke Jakarta.


*******


Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2