Calon Istri Yang Manja

Calon Istri Yang Manja
Bab 49


__ADS_3

Malam kian berubah larut hingga menjemput pagi yang indah. Setetes embun mulai menetesi semua dedaunan di pagi hari.


Pagi2 sekali Sheela terbangun dari tidurnya, saat mendengar dengkuran halus dari hidung dan mulut Darren.


Saat Sheela terbangun, Ia tengah berbaring menyamping dan berbantalkan lengan dari suami tercintanya.


Sheela menatapi raut wajah suaminya begitu lekat, Ia mulai merapikan helai demi helai rambut Darren yang terlihat acak-acakan menutupi keningnya.


Kemudian menyentuh dan mengelus hidung suaminya menggunakan jari telunjuknya dengan lembut hingga ke bibir seksi Darren yang sedikit terbuka karena sedang mendengkur dan menghadap ke atas langit2 rumah.


Saat Sheela tengah asyik mengelus dari ujung ke ujung bibir suaminya,


Darren membuka mulutnya masih dengan mata tertutup lalu menggigit jari telunjuk Sheela dan melepasnya, membuat Sheela terperanjat dan merintih kesakitan.


"Auh.., honey sakit..."


pekik Sheela antara kesal sekaligus malu karena ketahuan sedang memainkan bibir Darren.


Darren mulai membuka matanya dan terkekeh pelan, kemudian memandangi raut wajah Sheela yang nampak kesal, sembari memonyongkan bibirnya yang begitu menggoda di pandangan Darren.


"Mana yang sakit..?!?"


bujuk Darren dengan wajah sendunya seakan tengah bersedih.


Bukannya mengelus jari Sheela yang sakit namun Darren hanya mengelus bibir seksi Sheela menggunakan jemarinya lalu mengecupnya berulang kali.


"Honey..."


rajuk Sheela dan mengangkat jari telunjuknya yang sedikit merah dan terlihat bekasan gigi Darren di sana.


"Lihat ini..."


lanjutnya lalu memonyongkan bibirnya hingga membuat Darren semakin tergoda.


"Maaf sayang.., papi kira bibir kamu yang sakit.."


canda Darren lalu mengecup jari telunjuk Sheela dengan lembut,


Membuat


Hati Sheela jadi luluh dan sumringah, apalagi saat Darren mengubah sebutan dirinya menjadi kata papi.


"Ada yang lucu.."


tanya Darren memicingkan matanya.


"Ngga ada kok papi.."


ucap Sheela membuat Darren menyadari ucapannya tadi.


"Mulai sekarang kamu panggil aku papi dan...."


ucap Darren terputus.


"Aku mami.."


Sheela melanjutkan ucapan suaminya hingga membuat mereka terkekeh bahagia sambil berpelukan dengan mesra.


Saat keduanya tengah asyik berpelukan, ponsel Darren tiba2 berdering di atas nakas samping kasur.


Sheela melepas pelukannya, membiarkan Darren mengangkat telfonnya.


Darren menatap layar ponselnya sebentar, lalu mengangkatnya dan berjalan ke arah balkon kamarnya meninggalkan Sheela sendiri di atas kasur yang terlihat penasaran siapa yang menelpon suaminya pagi2 buta begini, sekitar jam 5.30 pagi.


Kemudian Sheela turun dari kasurnya dan langsung beranjak kekamar mandi untuk membasuh wajahnya.


Sesudah itu, Sheela kembali kekamar dan merapikan rambut panjangnya di depan cermin hias.


Saat itu juga, Darren menghampiri dirinya lalu mendekap tubuhnya dari belakang serta mengelus perut isterinya itu dengan lembut membuat Sheela tersenyum bahagia.


"Papi mandi dulu ya..."


ucap Darren lirih lalu masuk ke kamar mandi disertai dengan anggukan dari Sheela.


Sambil menunggu suaminya selesai mandi, Sheela menyiapkan baju yang akan di kenakan oleh suaminya hari ini ke Bali.


Beberapa menit kemudian, Darren keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang segar dan wangi sampoo dari rambut hitamnya yang tebal.


Sesekali Sheela menoleh serta melirik dada bidang suaminya yang ditumbuhi bulu2 dan perut sispeknya yang berbentuk roti sobek saat dirinya tengah sibuk melipat selimut yang mereka gunakan malam tadi.

__ADS_1


Karena Darren sudah berjalan kearah tempat tidur, Sheela hanya fokus merapikan tempat tidur mereka.


Tanpa Sheela sadari,


Darren tiba2 melonggokkan handuknya begitu saja ke lantai di hadapan Sheela lalu mengenakan celana dalam boxernya.


"Papi..! malu tau..."


pekik Sheela sambil membelakangi suaminya yang sedang terkekeh pelan dan sengaja ingin menjaili isterinya.


"Kenapa harus malu coba.., papi sengaja biar mami puas memandangi tubuh papi.."


sahut Darren membuat Sheela mengerlingkan kedua bola matanya.


Darren mengenakan kemejanya lalu menghampiri dan memeluk tubuh Sheela dari belakang yang masih menghadap kedinding kamar.


Seketika Sheela membalikkan badannya menghadap ke arah suami tercintanya.


Kemudian membantu Darren untuk mengancingkan kemejanya yang masih terbuka lebar menampakkan bulu2 di dadanya.


Entah karena gemas, berulang kali Darren mengecup kening Sheela dan kedua tangannya bermain-main di bokong isterinya sehingga Sheela tidak konsen lagi untuk mengancingkan baju kemeja Darren.


Sheela memicingkan kedua matanya menatap mata Darren sambil menahan lengan suaminya agar menghentikan keusilannya itu yang sedang meremas bokong Sheela.


"Papi..! kapan selesainya coba ngancingin baju kamu.."


pekik Sheela sedikit kesal namun tetap dalam nada manja.


"Papi gemes sayang..."


sahut Darren.


"Papi harap mami banyak istrahat di rumah dan untuk sementara waktu ngga boleh mengendarai mobil sendiri. Jika perlu sesuatu, ada pak Budi yang akan siap nganterin mami."


nasehat Darren sembari merapikan helai rambut Sheela yang menutupi sebagian keningnya.


"Hmmm, tapi hari ini mami akan ke rumah sakit karena ujian praktek mami tinggal 4 hari lagi. Please.., boleh ya Pi.."


Sheela memohon agar Darren mengijinkan dirinya kerumah sakit.


Darren menarik nafasnya dalam2 lalu menghempaskannya begitu saja.


perintah Darren.


"Siap papi.., mami akan selalu ingat pesan papi.."


sahut Sheela sambil mengeratkan pelukannya ke tubuh Darren begitu pun dengan Darren seakan mereka tak ingin melepas pelukan masing2.


Beberapa jam kemudian Darren sudah berada di bandara dan bergegas naik ke jet pribadinya yang sudah siap landas menuju Bali.


Hampir dua jam, Darren tiba di kota Denpasar Bali, Darren langsung menuju tempat pembangunan proyeknya setelah di jemput oleh Sek. Haris dari Bandar Udara Internasional Ngurah Rai.


Sampai di lokasi proyeknya, Darren di sambut oleh kepala proyek dan sahabatnya yang bernama James beserta sekertarisnya.


Sembari berkeliling di area pembangunan, Darren berbincang2 dengan sekertaris Haris dan sahabatnya itu mengenai rencana Helena dan Sarah kemarin yang ingin menghalangi pembangunan proyeknya.


"Bagaimana Haris..! apa kau sudah menemukan hotel tempat Helena dan Sarah menginap..?"


tanya Darren.


James dan sekertarisnya hanya menyimak dan terlihat di raut wajah James mengenai kekesalannya terhadap mantan sekertarisnya yaitu Sarah.


"Sudah tuan muda. Tapi saat penggeledahan dikamar hotel tersebut, Sarah dan Helena sudah tidak ada di tempat. Mereka sudah kabur tanpa jejak sama sekali.."


jawab Sek. Haris menjelaskan.


"Hmm, ku harap mereka sudah kabur dan menjauh dari hadapanku selamanya. Jika tidak, aku yang akan langsung menghukum mereka tiada ampun.."


ucap Darren dengan geram.


Sesudah meninjau proyeknya, mereka kembali ke hotel tempat mereka menginap dan beranjak kekamar masing2 untuk beristrahat karena hari sudah mulai sore.


Sampai di kamar hotel, sambil berbaring di atas tempat tidurnya, Darren mengambil ponsel dari saku celananya dan mulai menghubungi isterinya namun nomor Sheela sedang tidak aktif. Begitu pun dengan nomor sopirnya yang mengantar Sheela ke rumah sakit pagi tadi.


Kemudian Ia mencoba menghubungi Rara sahabat isterinya.


"Halow...,"


sapa Rara dari sebrang telpon.

__ADS_1


"Maaf mengganggu.., apa Sheela bersamamu saat ini...? aku sudah menghubungi nomor telponnya tapi ngga aktif.."


tanya Darren tanpa basa basi.


Rara terlihat bengong dan melihat jam di tangannya.


" Jam berapa ini..! Apa Sheela belum belum tiba dirumahnya..!?"


pikir Rara.


Halow..! apa kau dengar..?


tanya Darren.


"Hmm.., maaf. Isteri anda sudah pulang dari tadi dan di jemput oleh supir pribadinya dari rumah sakit.."


jawab Rara kikuk dan sedikit panik.


Darren langsung menutup telponnya begitu saja, membuat Rara semakin kuatir dengan sahabatnya itu.


"Apa mereka sedang bertengkar..? tapi.., ngga mungkin karena Sheela baru saja sembuh dari sakitnya dan kelihatannya tadi, Ia terlihat fine2 aja tanpa beban gitu.."


pikir Rara menjawab pertanyaannya sendiri.


Setelah menghubungi Rara sahabat isterinya, Darren tiba2 menerima telpon dari seseorang di ponselnya. Terdengar dari nada bicaranya dia seorang wanita yang sedang mengancam Darren dari seberang telpon.


"Jika kamu ingin isterimu selamat, kamu harus mengembalikan perusahaan milikku sekarang juga. kalau tidak.., isteri sekaligus anakmu dalam kandungannya ini tidak akan selamat.."


ancam wanita tersebut dan langsung menutup telponnya.


Darren nampak berang dan langsung menghubungi sekertarisnya agar segera mengantarnya ke Bandara malam ini juga.


Tak mengambil waktu yang lama sekertaris Haris sudah berada di depan pintu hotel menanti tuan mudanya itu dan terlihat bengong karena Darren baru saja tiba pagi tadi dan malam ini sudah tergesa-gesa ingin kembali ke Jakarta.


Mobil pun melaju dengan cepat menuju bandara.


Di perjalanan, Darren menghubungi polisi untuk segera mencari keberadaan isterinya saat ini. Selain mengandalkan polisi, Darren juga menghubungi orang2 kepercayaannya untuk menemukan lokasi Sarah dan Helena berada dan tempat menyekap isterinya.


"Saya akan menemani tuan muda pulang malam ini.."


ucap Sek. Haris setelah menyimak perkataan tuan mudanya.


"Kau tetap tinggal disini untuk mengawasi pembangunan proyek."


sahut Darren.


dari pandangan matanya terpancar kebencian yang sangat mendalam. Dirinya terlihat gelisah. Kali ini Ia benar2 murka dan tidak ada kata ampun bagi Sarah dan Helena jika Ia menemukan mereka nantinya.


Darren sama sekali tidak kepikiran dan tidak menyangka Helena dan Sarah akan senekat itu mengelabui dirinya dan mengancam dirinya sampai melibatkan isterinya, Disaat dirinya sedang berada di Bali.


"Mereka pastinya sudah mengatur siasatnya itu dari jauh2 hari.."


pikir Darren.


"Dan pastinya ada seseorang yang membantu Helena dan Sarah untuk memata-matai dirinya dan isterinya.


Tapi.., siapa dia...?!?"


pikirnya lagi dengan geram.


Tiba di bandara, Darren tergesa-gesa naik ke atas jet pribadinya. Untung saja malam ini cuacanya sangat mendukung, jadi tidak ada kendala dalam penerbangannya malam ini.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua jam, Darren langsung menghubungi orang2 kepercayaannya dan petugas kepolisian, namun belum ada hasilnya.


********


Di lokasi yang sangat terpencil, di sekitar area pemukiman yang jauh dari kota. Sheela di sekap bersama sopirnya di sebuah gudang, bekas tempat penyimpanan hasil panen petani di kampung tersebut.


Keadaan Sheela saat ini masih tidak sadarkan diri. Begitu pun dengan supirnya yang masih pingsan dan terikat di sebuah kursi yang nampak reyot di sebelah Sheela.


Sedangkan Helena dan Sarah sedang beristirahat malam ini, tak jauh dari tempat mereka menyekap Sheela dan sopirnya yang bernama pak Budi. Mereka sedang mengatur strateginya untuk mengelabui Darren apabila Ia tidak memenuhi permintaannya itu dengan segera.


******


Bersambung....


Apakah Darren berhasil menyelamatkan isteri tercintanya itu...


Jangan lupa beri vote, like and komennya... thank you......

__ADS_1


Salam manis dari Author.....


__ADS_2