Calon Istri Yang Manja

Calon Istri Yang Manja
Bab 87


__ADS_3

"Tolong jaga putra kita dengan baik ya Mi,


slamat tinggal sayang.!"


ucap Darren penuh haru sambil melambai lambaikan salah satu tangannya kearah Sheela.


Yang saat ini juga sedang menatapnya, dengan penuh linangan air mata.


"Please jangan tinggalin mami Pi,


jangan tinggalin putra kita.


Mami mohon.!"


ucapnya memohon agar Darren tak pergi jauh dari kehidupannya dan meninggalkannya untuk selama lamanya.


Darren hanya tersenyum sambil melambai lambaikan kedua tangannya.


"Honey...!"


pekik Sheela.


maafin mami.!


"Sheela, Sheela...!"


panggil nyonya Jeslin membangunkan putrinya yang sedang tertidur namun terlihat sangat gelisah.


Bantal yang di jadikan sebagai pengalas kepalanya pun sudah nampak basah, karena linangan air mata Sheela yang lumayan banyak.


Nyonya Jeslin merasa panik dan terenyuh dengan kondisi putrinya saat ini.


Walau pun dalam keadaan tertidur.


Sheela masih saja memikirkan masalah rumah tangganya bersama Darren.


"Sheela, bangun Nak.!"


panggilnya lagi sembari mengguncang pelan pundak putrinya agar tersadar dari mimpi buruknya.


Perlahan demi perlahan


Sheela mulai tersadar dan terbangun dari mimpi buruknya yang cukup menguras air mata dan luapan emosinya.


Perlahan Ia membuka kedua matanya dan mengerjapkannya berulang ulang kali agar penglihatannya menjadi terang.


Dirinya


cukup terperangah, terkejut saat menatap raut wajah ibunya.


"Apakah ini hanya mimpi.!"


pikirnya dalam hati.


Sheela meraih dan menyentuh lengan ibunya.


Ia ingin memastikan jika dirinya hanya bermimpi buruk tentang insiden yang menimpa ayah dari putra kecilnya.


Bahkan Darren hendak pergi jauh.


"Trima kasih ya Tuhan..!"


gumamnya dalam hati dengan penuh syukur.

__ADS_1


Karena ternyata Ia cuma bermimpi.


Sontak Sheela memeluk tubuh ibunya yang kini sedang menatapnya dengan penuh haru dan kasih sayang.


"Mi.!


Sheela mimpi buruk.!"


ucap Sheela lirih.


Nyonya Jeslin mendekap erat tubuh putrinya dan mengelus lembut bagian punggungnya.


"Udah2 smuanya akan baik baik aja.!"


bujuknya.


Tanpa Sheela cerita pun, nyonya Jeslin tahu persis jika mimpi buruk putrinya itu, ada hubungannya dengan Darren.


"Jaden mana Mi.!"


tanya Sheela kemudian saat menoleh ke arah box putranya yang sudah terlihat kosong.


"Lagi di mandiin sama suster.!"


sahut nyonya Jeslin.


Lalu mengusap wajah putrinya yang nampak sembab dan kedua matanya sedikit membengkak karena kelamaan menangis.


Sheela menatap jam dindingnya yang kini jarum pendeknya sudah menunjukkan pukul 7.30 pagi.


"Yawudah.


Skarang kamu mandi ya, mami udah masakin sup jamur kesukaanmu.!"


ucapnya dengan senyum.


"Mandinya jangan lama2 ya, ntar


supnya keburu dingin.


mami tunggu di bawah.!"


ucap nyonya Jeslin lalu menutup rapat pintu kamar Sheela.


Sampai di lantai bawah.


Nyonya Jeslin mendapat telpon dari seseorang melalui ponsel miliknya.


Seketika


raut wajah nyonya Jeslin terlihat cerah, memancarkan kebahagiaan yang tiada tara.


Seseorang yang menelponnya itu adalah menantunya sendiri.


Betapa senangnya hati nyonya Jeslin.


Karena Darren dalam keadaan baik baik saja.


Tidak seperti yang terjadi dalam mimpi buruk Sheela.


Nyonya Jeslin tak banyak bicara saat berbincang dengan Darren.


Nyonya Jeslin hanya setia mendengar uacapan Darren dari balik telpon.

__ADS_1


"Baik.!"


ucap nyonya Jeslin mengakhiri perbincangan mereka.


Dari arah dapur dekat meja makan, tuan Hardi memperhatikan gerak gerik isterinya ketika sedang mengangkat telpon, bahkan sampai obrolan isterinya dengan seseorang yang tak di ketahuinya sudah berakhir.


Kemudian tuan Hardi


menghampiri isterinya.


"Pagi2 udah senyam senyum aja nech.!"


"Iya nech Pi.!"


ucap nyonya Jeslin sambil menarik lengan tuan Hardi menuju sofa ruang keluarga mereka.


Tuan Hardi menjadi semakin penasaran dengan tingkah


isterinya yang tiba tiba menariknya ke ruangan keluarga.


"Ada apa Ma, knapa tarik2 lengan papa segala.!"


"Ssssshhhh."


ucap nyonya Jeslin dengan pelan sambil duduk dan menutup mulutnya menggunakan jari telunjuknya.


Tuan Hardi terlihat bengong di tempat duduknya.


"Gini Pa.!


yang nelpon mama tadi itu si Darren.


Darren pengen mama bantuin Dia."


"Bantu apa.!"


tanya tuan Hardi penasaran.


"Darren mau kasih kejutan buat isterinya.!"


bisiknya.


Tak lama kemudian, Sheela muncul dari arah tangga.


Sheela sempat melihat ayah dan ibunya ngobrol.


Namun Ia merasa tak mood untuk ikut nimbrung dengan ke dua orang tuanya.


Sheela langsung berjalan menuju meja makan.


Karena perutnya sudah mulai bergemuruh kelaparan.


Nyonya Jeslin segera beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah meja tempat Sheela duduk.


Tuan Hardi pun menyusul dari arah belakang.


Tanpa menunggu lama. Mereka langsung menyantap hidangan pagi mereka.


Setelah selesai sarapan. Sheela menggendong putranya dan memberinya ASI di ruangan keluarga.


Nyonya Jeslin pun ada bersamanya dan mulai mengatur rencana yang di usulkan oleh Darren.


Sedangkan tuan Hardi sudah berangkat kerja setelah selesai sarapan.

__ADS_1


******


Bersambung......


__ADS_2