
Kali ini kemarahan Daren benar2 memuncak, Ia menarik tangan Sheela dengan kuat sehingga Sheela meringis kesakitan karena pergelangan tangannya terasa perih..
Namun Daren tidak peduli, Ia semakin mempercepat langkah kakinya dan mendorong tubuh Sheela dengan kasar masuk ke dalam lift.
"Auh.... sakit......"
ringis Sheela sambil mengelus pergelangan tangannya yang sudah memerah.
"Kenapa Ia semarah ini..., seharusnya Ia kasihan padaku karena perempuan itu yang mendorong tubuhku sampai aku terjatuh di......."
gumam Sheela sambil menatap wajah Daren yang bingas.
"Apa kamu belum sadar dengan kemarahanku ini...."
ucap Daren memotong perkataan Sheela di dalam hatinya.
Sheela hanya menundukkan kepalanya, Ia tidak berani lagi menatap wajah suaminya.
Tidak terasa bulir2 air matanya jatuh menetes ke wajahnya.
Daren tiba2 membelakangi Sheela karena Ia tidak tega melihat isterinya menangis, bukan maksud hati ingin menyakiti isterinya namun Ia hanya perlu tegas agar Sheela menghargai dirinya sebagai suami.
Nafas Daren nampak tidak beraturan karena amarah dan rasa cemburunya bersatu melingkupi dirinya saat melihat Sheela berada di pelukan pria lain.
Bagaimana tidak, sejak kepergian Sheela ke toilet saja perasaannya jadi cemas.
Saat berbincang dengan rekan bisnisnya saja hatinya tidak tenang karena Sheela belum ada di sisinya.
Daren pun menoleh ke arah toilet tempat isterinya berada, saat itu juga Daren melihat Sheela sedang asyik ngobrol dengan pria lain di pojok sana.
Bahkan Ia melihat Sheela tertawa lepas kepada pria tersebut hingga memperlihatkan giginya yang putih dan tersusun dengan rapi.
Saat itu juga Sarah sudah memperhatikan gerak gerik Daren dari arah belakang dan mencari tahu sumber kegelisahan Daren..
Tak hayal keberuntungan pun berpihak kepada Sarah ketika Ia hendak ke toilet Ia melihat Sheela yang sedang asyik ngobrol dengan Dr. Raka.
Sarah pun menggunakan kesempatan tersebut untuk menjebak Sheela dan alhasil semua berjalan sesuai dengan akal busuknya.
Tiba di lantai dasar hotel tersebut, Daren berjalan mendahului Sheela lalu naik ke atas mobil masih dengan raut wajah yang dingin.
Sedangkan Sheela yang baru sampai masih berdiri di samping pintu mobil.
Daren pun menurunkan kaca mobilnya lalu membunyikan klakson mobilnya karena Sheela tak kunjung naik ke atas mobil.
Wajahnya tampak kesal,
"Apa kau masih ingin menemuinya.....?"
teriak Daren dari atas mobil,
"huh... jantungku hampir copot jadinya...."
gumam Sheela sambil mengelus dadanya.
Sheela pun bergegas naik ke atas mobil dan memasang seat beltnya.
setelah itu Daren melajukan mobilnya meninggalkan hotel tesebut.
Suasana di atas mobil terasa sepi serta di liputi dengan hawa yang panas walaupun Ac mobil mengeluarkan hawa dinginnya.
Sheela menatap ke arah jendela kaca mobil dengan hati yang tidak tenang, jantungnya kian memburu dan nafasnya terasa sesak karena di hantui rasa takut,
entah apa yang akan di lakukan Daren nantinya setelah sampai di Apartemen.
Begitu lah yang ada di pikirannya kini.
Sedangkan Daren hanya fokus mengemudikan mobilnya menyusuri jalan raya ibu Kota Jakarta hingga tiba di apartementnya dengan selamat.
Malam pun semakin larut, Sheela yang sudah berada di tempat tidur susah untuk memejamkan matanya karena rasa ngantuk tak kunjung datang menghampirinya.
Di lihatnya jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 12 malam tapi Daren belum masuk2 juga ke kamar.
Seharusnya Sheela merasa senang karena Daren membiarkannya sendiri di dalam kamar tapi entah kenapa perasaannya malah tidak tenang.
Ia lebih senang apabila Daren memarahinya dan mengatakan apa yang membuatnya semarah ini, bukannya mendiaminya seperti ini.
__ADS_1
Bagaimana pun juga bila kita tinggal se atap dengan orang yang membenci kita, pastinya perasaan kita tidak tenang.
Seperti itulah yang di rasakan oleh Sheela saat ini.
Begitu lah sifat seorang Daren, apabila marah Ia akan menghindar dari isterinya sejauh mungkin sampai tidak terlihat dari pemandangannya.
Daren kini berada di ruang tamu dan berusaha memejamkan matanya namun sulit Ia pejamkan.
berkali2 Ia membalik tubuhnya di atas sofa seperti bayi yang baru belajar tengkurap.
Tiba2 terdengar olehnya suara pintu terbuka dari arah kamar, Daren pura2 memejamkan matanya seakan tidur dengan lelapnya.
Perlahan Sheela berjalan menuju dapur untuk mencari makanan yang bisa mengganjal perutnya yang sudah keroncongan saat ini,
karena seharian Ia menahan lapar sejak pulang dari rumah sakit sampai malam ini.
Kemudian Ia membuka kulkas namun tidak ada makanan di dalamnya,
"Semuanya kosong...."
gumam Sheela sambil mengelus perutnya.
Pandangannya pun ber alih ke lemari yang ada di dapur, terlihat dua bungkus mie instant di dalamnya karena lemari tersebut menggunakan kaca yang transparan.
"Ah...., syukurlah Bi Surti menyediakan mie walaupun tidak ada dalam daftar belanja yang aku berikan..."
gumam Sheela.
Selama 2 bulan ini Sheela yang bertugas untuk menulis daftar belanja untuk Bi Surti, karena Ia tidak sempat untuk berbelanja.
Itu pun Ia menggunakan uang tabungan miliknya untuk belanja keperluan sehari2 di dapur karena sampai sekarang ini Daren belum pernah memberinya uang belanja bulanan.
Hanya beberapa menit, mie instant buatan Sheela sudah masak dan wanginya menyusuri tiap ruang yang ada di dekat Dapur.
"Uhmm..., masak apa dia tengah malam begini...?"
ucap Daren dalam hati.
"kenapa baunya sedap sekali...,"
Karena tidak tahan mendengar bunyi cacing dari dalam perutnya, perlahan Daren ke dapur dan melihat Sheela sedang duduk di meja bartender sambil menikmati mie buatannya.
Daren pun melewatinya begitu saja karena ingin mengambil air putih dari dalam kulkas untuk mengganjal perutnya yang sispek..
Sheela masih sibuk melanjutkan makanannya tanpa menoleh ke arah Daren sedikit pun.
Karena kesal, Daren menutup pintu kulkas dengan kuat2 hingga menimbulkan bunyi yang cukup membuat tubuh Sheela tersentak.
Selera makan Sheela jadi hilang.
Ada apa dengannya..., sampai2 pintu kulkas pun jadi sasarannya...
gumam Sheela.
"Kenapa isi kulkasnya kosong begini....,
apa Bi Surti belum belanja...?"
ucap Daren dengan keras agar Sheela mendengarnya.
"Apa dia juga kelaparan seperti aku..?"
pikir Sheela.
"Sayang, saya akan memesan makanan untukmu..."
bujuk Sheela dengan lembut sambil mencari nomor telfon delivery langganannya yang ada di dalam ponselnya.
"Mudah2han aja masih bisa di anter malam2 gini.."
tambahnya.
Seringai pun tersungging di bibir Daren karena berhasil mengalihkan perhatian Sheela.
"Buatkan saya mie seperti yang kamu makan saat ini.."
__ADS_1
ucap Daren kemudian,
Sheela tertegun sejenak,
"Benarkah dia ingin makan mie instant..., setahu aku Dia tidak suka dengan makanan yang instant2 seperti ini..."
ucap Sheela dalam hati,
lalu beranjak ke dapur saat Daren mendekat ke arah meja tempatnya.
Daren memang selalu menjaga kesehatannya, Ia selalu menjaga pola makannya dan menghindari makanan siap saji karena menurutnya makanan instant tidak baik dan sehat.
Daren menatap Sheela dengan seksama, matanya tertuju pada dress tidur Sheela yang tidak berlengan dan panjangnya di atas lutut.
Beberapa kali Daren menelan salivanya.
Setelah mie nya masak Sheela menuangnya ke dalam mangkok kecil dengan ber alaskan piring kecil di bawahnya, lalu menghidangkannya ke atas meja tepat di depan Daren.
Daren pun menghirup aroma mie buatan isterinya,
"hmm..., wanginya saja sudah menggoda..."
pikirnya lalu mulai menyicipi sedikit demi sedikit sampai kuahnya pun tidak tersisa.
Seringai manis Sheela pun tersungging di bibirnya.
"Kamu jangan harap amarahku mereda karena masakanmu ini..."
ucap Daren dingin.
Seketika senyum Sheela menghilang dari raut wajahnya,
dan segera beranjak dari duduknya sambil membawa piring kotor ke wastafel.
"Cih..., dasar es balok...bukannya berterima kasih...."
desis Sheela sambil mencuci piring kotor.
Daren sangat senang mengerjai isterinya dan seringai nakal pun menghiasi bibirnya.
Lagi2 tubuh Sheela tersentak dan kaku karena Daren memeluk tubuhnya dari belakang.
"Tapi kamu harus membayarnya dengan ini....."
bisik Daren di telinga Sheela serta menggigit kuping Sheela dan tangannya sedang sibuk mengerayangi tubuh molek Sheela.
"Auh..."
desis Sheela sambil mengelus telinganya..
lama2 desis Sheela berubah menjadi desahan yang membuat nafsu Daren semakin memuncak.
Tubuh Sheela terbawa dalam suasana, desahannya semakin keras memenuhi ruangan dapur.
"Hanya aku yang berhak menyentuh tubuhmu...., mengerti.....?"
ungkap Daren saat membalikkan tubuh Sheela ke hadapannya..
"mmmm...,"
angguk Sheela cepat
"Jawab yang benar..."
ancam Daren dengan wajah geramnya.
"Mengerti sayang...."
jawab Sheela,
"Nah gitu dong..., jadi isteri yang penurut..."
ujar Daren, kemudian Ia mengangkat tubuh Sheela ke kamar.
Malam pun menjadi saksi bisu di antara dua sejoli yang sedang asyik memadu kasih di dalam kamar, hingga menjelang pagi.
__ADS_1