
"Betul sekali, tapi kamu tenang saja apartemennya dua lantai dan masing-masing lantai ada kamar tidur dan kamar mandi." Ucap Brian menjelaskan.
"Tapikan tetap saja kita serumah." Ucap Calista dengan nada lirih.
"Kamu tenang saja, aku tidak akan menyentuhmu kecuali kamu memintanya." Ucap Brian.
"Kamu sudah baik padaku dengan merawat ku ketika aku sakit dan aku ingin membalas kebaikanmu dengan melindungi mu dari orang yang berniat jahat. Kalau aku berbuat jahat kamu boleh pergi dari apartemen milik temanku." Sambung Brian yang melihat Calista enggan satu atap dengan Brian.
Calista menatap mata Brian dan tidak ada kebohongan di matanya membuat Calista menghembuskan nafasnya dengan perlahan.
"Baiklah." Jawab Calista singkat.
Calista menyetujui permintaan Brian karena sebenarnya dirinya sangat lelah sebab dirinya sering berpindah-pindah tempat kontrakan gara-gara ulah keluarganya dan terakhir dirinya di tuduh menggoda Brian.
Calista dan Brian berjalan ke arah kasir kemudian Calista membayar makanan yang barusan mereka makan.
'Seumur hidupku baru kali ini makanan aku dibayarin oleh seorang gadis. Maaf Calista, aku terpaksa menyembunyikan identitas ku dan jika kita memang berjodoh aku akan memberikan semua yang aku punya.' Ucap Brian dalam hati.
Selesai membayar mereka keluar dari rumah makan tersebut kemudian melanjutkan perjalanan kembali. Lagi-lagi Brian memberikan ujian ke Calista yaitu dengan berjalan kaki menuju ke apartemen miliknya yang tidak begitu jauh.
Bagi Brian sudah terbiasa dirinya berjalan kaki selain sehat dirinya tidak suka gendut. Brian melihat Calista tidak mengeluh malah dirinya bercerita agar mereka tidak merasa lelah hingga hampir dua puluh lima menit kemudian mereka sudah sampai di apartemen.
Mereka berdua berjalan ke arah lift hingga di depan lift, Brian menekan tombol lift. Tidak berapa lama pintu lift terbuka dan mereka masuk ke dalam kotak persegi empat tersebut.
Brian menekan tombol empat puluh di mana apartemen paling atas. Di mana apartemen tersebut ada kolam renang, ruangan olah raga di mana segala macam alat olah raga tersedia, ruang keluarga, ruangan baca dan segala fasilitas yang dibutuhkan.
Ting
Pintu lift terbuka kemudian Brian dan Calista keluar dari kotak persegi empat tersebut dan mereka berjalan ke arah pintu utama.
Brian menekan pin apartemen hingga berbunyi klik barulah Brian mendorong pintu utama kemudian mereka berdua masuk ke dalam apartemen.
"Apartemen milik teman Kak Brian luas banget? Apakah tidak salah temannya meminta Kak Brian untuk tinggal sementara di apartemen ini?" Tanya Calista penasaran.
"Tidak salah kok, buktinya apartemen ini kosong tidak ada penghuni selain kita berdua." Ucap Brian sambil berjalan ke ruang keluarga.
Sebenarnya Brian ingin memeluk Calista kemudian membawanya ke ranjang untuk melakukan hubungan suami istri namun dirinya berusaha menghilangkan pikiran mesumnya.
"Kamarku di mana?" Tanya Calista.
"Di lantai bawah dan aku di kamar atas." Jawab Brian sambil menunjuk ke arah kamar kosong.
"Ok." Jawab Calista singkat sambil berjalan ke arah kamar yang ditunjuk oleh Brian.
"Oh ya pemilik apartemen ini masih single, sangat kaya dan mencari seorang istri, apakah kamu berminat? Kalau berminat Kakak akan memperkenalkan dirimu dengan temanku." Ucap Brian yang ingin tahu apakah Calista sama seperti wanita di luaran sana.
'Pemilik apartemen ini adalah Kakak dan Kakak ingin tahu apa jawaban mu.' Sambung Brian dalam hati.
"Sayangnya aku tidak berminat karena untuk sementara ini aku ingin berkerja dengan sangat keras dan mengumpulkan uang sebanyak mungkin." Jawab Calista tanpa banyak berpikir.
'Agar aku tidak lagi di hina oleh keluargaku terlebih pria brengs*k itu selain itu juga tidak ada lagi orang-orang yang merendahkan Aku.' Sambung Calista dalam hati.
__ADS_1
"Kenapa kamu memilih uang sebanyak mungkin?" tanya Brian dengan wajah yang mulai berubah dan terlihat jelas wajah kecewa nya.
Calista menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian berjalan ke arah balkon yang nantinya akan ditempati tanpa menjawab pertanyaan Brian.
Calista menatap ke arah taman di mana ada beberapa macam tanaman bunga dan kolam ikan yang sangat cantik dan sedap di pandang mata.
"Aku tidak ingin di hina oleh keluargaku, mantan kekasihku dan juga orang lain." Jawab Calista dengan mata berkaca-kaca dengan suara tercekat
Brian hanya terdiam dan mendengarkan cerita Calista selanjutnya walau dalam hatinya agak cemburu ketika Calista menyebutkan dua kata yaitu mantan kekasih. Sedangkan Calista menghembuskan nafasnya dengan perlahan untuk mengurangi rasa sesak di hatinya.
"Jujur aku sangat lelah mendengar segala hinaan yang mereka lontarkan karena itulah dalam pikiranku aku ingin mempunyai uang banyak agar orang tidak menghinaku lagi selain itu aku bisa membantu orang-orang yang sering di hina dan direndahkan oleh orang lain. Hal itu dikarenakan aku bisa merasakan apa rasanya direndahkan." Ucap Calista.
Tes
Tes
Rasa kesedihan dan amarah yang teramat sangat bercampur menjadi satu membuat Calista tidak bisa menahan agar air matanya tidak keluar. Tubuh Calista bergetar hebat karena selama ini dirinya selalu menahan semua segala kesedihan di hatinya.
Brian yang melihat tubuh Calista bergetar membuat Brian membalikkan badan Calista kemudian memeluknya membuat Calista membalas pelukan Brian.
"Bolehkah aku menangis di pelukan kak Brian?" Tanya Calista.
"Silahkan tapi setelah ini jangan menangis lagi karena Kakak ingin kamu hanya menangis karena bahagia bukan karena menangis karena sedih." Jawab Brian sambil mengusap punggung Calista.
"Hiks ... Hiks ... Hiks ... Huuuuuuu ..." Tanpa menjawab Calista menangis dengan kencang.
Selama ini Calista selalu tersenyum untuk menutupi segala luka di hatinya namun tidak berdarah. Rasa sesak di hatinya dikeluarkan agar merasakan lega lewat tangisan pilu yang menyayat kan hati Brian.
Setelah beberapa saat tangisan Calista berhenti namun masih terdengar suara sesenggukan. Brian merasakan tubuh Calista terasa berat membuat Brian dengan perlahan mendorong tubuh Calista dan ternyata Calista tidur dengan pulas.
Brian menggendong tubuh Calista ala bridal style dan berjalan ke arah ranjang. Brian dengan perlahan membaringkan Calista ke ranjang kemudian menyelimutinya.
Brian duduk di sisi ranjang kemudian mengarahkan ke dua tangannya ke wajah Calista. Brian menghapus air mata yang tersisa dengan menggunakan ke dua ibu jarinya.
'Sebenarnya apa yang telah dilakukan oleh keluargamu, mantan kekasihmu dan orang - orang yang menyakiti perasaanmu hingga kamu sesedih ini?' Tanya Brian dalam hati.
Selesai mengatakan hal itu Brian turun dari ranjang dan berjalan ke arah pintu kamar. Brian membuka pintu kamar dengan perlahan kemudian keluar pintu sambil membalikkan badannya untuk melihat Calista tidur.
Setelah beberapa saat Brian menutup pintu kamar dengan perlahan agar Calista tidak terganggu tidurnya. Brian berjalan ke arah ruang kerjanya yang tidak jauh dari kamar Calista.
Ceklek
Brian masuk ke dalam ruang kerjanya dan menutupnya dengan rapat. Brian berjalan ke arah kursi kebesarannya sambil mengambil ponselnya dari saku kemejanya. Brian duduk di kursi kebesarannya sambil mencari nomer kontak orang kepercayaan setelah ketemu Brian menekan nomer telpon dan sambungan pertama langsung di angkat.
("Hallo Tuan Brian." Panggil seorang pria di sebrang).
("Apakah data tentang identitas Calista yang aku minta sudah ada?" Tanya Brian tanpa basa basi).
("Sudah ada Tuan dan saya sudah mengirimnya lewat email." Jawab seorang pria di seberang).
("Ok, apa ada berita lainnya?" Tanya Brian).
__ADS_1
("Maaf Tuan, kalau Tuan menyukainya jangan sakiti hatinya tapi jika Tuan tidak menyukainya lebih baik lepaskan Nona Calista daripada nantinya Nona Calista mempunyai perasaan untuk Tuan mengingat Tuan sangat tampan dan siapa saja akan jatuh cinta sama Tuan." Ucap pria di sebrang panjang lebar berusaha menasehati Brian).
("Sejak kapan asisten setiaku menjadi cerewet dan menasehati ku?" Tanya Brian dengan nada kesal).
("Maaf Tuan, masa lalu Nona Calista sangat menyedihkan dan Tuan bisa membacanya lebih lengkap lewat email yang saya kirimkan." Jawab pria yang berada di sebrang).
("Ok, besok kamu terima bonus tiga kali lipat." Ucap Brian).
("Terima kasih banyak Tuan." Jawab pria tersebut).
Tut Tut Tut Tut
Tanpa menjawab Brian memutuskan sambungan komunikasi secara sepihak kemudian Brian membuka laptopnya setelah beberapa saat Brian membuka email untuk melihat identitas Calista. Setelah email terbuka Brian membaca kata demi kata yang berada di laptop.
"Ayah kandungnya sangat jahat sekali, padahal perusahaan itu milik orang tuanya Ibunya Calista dan di kelola oleh suaminya sekaligus Ayah kandungnya Calista. Di saat Ibunya Calista sakit parah Ayahnya Calista membawa wanita selingkuhannya bersama anak haramnya." Ucap Brian sambil masih menahan amarahnya.
"Akhirnya Ibunya Calista meninggal dan tepat satu hari meninggalnya pria yang tidak tahu diri itu menikahi wanita selingkuhannya dan memperlakukan Calista seperti pelayan. Benar-benar tidak bisa di ampuni mereka karena itu mereka harus membayar apa yang telah mereka berbuat pada Calista." Sambung Brian.
"Penderitaan Calista tidak sampai di situ, calon suaminya di rebut oleh adik tirinya membuat Calista pergi dari rumah. Mereka sangat jahat tidak membiarkan Calista tenang padahal Calista tidak pernah mengusiknya. Mereka membuat Calista di fitnah ketika Calista bekerja hingga Calista dua kali di pecat padahal sebentar lagi Calista akan naik gaji dan menjadi koki tetap." Sambung Brian.
Darah Brian langsung mendidih setelah membaca masa lalu Calista dari kecil hingga akhirnya Calista pergi dari rumah, namun penderitaan Calista belum juga berakhir.
Brian sangat marah kemudian mengambil ponselnya untuk menghubungi orang kepercayaannya dan sambungan pertama di angkat.
("Hallo Tuan, Tuan sudah membacanya?" Tanya pria tersebut).
("Sudah dan benar katamu kalau hidup Calista sangat menyedihkan karena itu aku ingin menambahkan tugas untukmu." Ucap Brian).
("Baik Tuan, pasti Tuan ingin memintaku untuk menghancurkan mereka." Tebak pria tersebut).
("Baguslah, aku ingin ke dua wanita gi*a itu merasakan apa yang pernah dirasakan oleh Calista selama bertahun-tahun dan pria itu masukkan ke dalam penjara untuk mantan kekasihnya buat perusahaannya bangkrut dan segala aset miliknya di sita agar mereka tinggal di kolong jembatan tanpa mempunyai apa-apa lagi." Ucap Brian sambil masih menahan amarah ke keluarga Calista).
("Baik Tuan dan maaf Tuan, sebenarnya saya sangat suka dengan hukuman yang Tuan berikan ke mereka karena mereka pantas untuk mendapatkannya." Ucap pria tersebut).
Biasanya dirinya tidak pernah perduli dengan orang lain namun entah kenapa ketika mengetahui masa lalu Calista membuat pria tersebut sangat marah dan ingin memberikan pelajaran ke mereka.
("Baik, aku ingin hari ini mereka langsung merasakan apa yang telah mereka lakukan pada Calista. Aku tidak perduli berapa biaya yang harus dikeluarkan asalkan mereka mendapatkan hukuman yang setimpal." Ucap Brian).
("Baik Tuan." Jawab pria tersebut yang mengerti amarah Brian terhadap keluarga Calista).
Tut Tut Tut Tut
Seperti biasa tanpa menjawab, Brian memutuskan sambungan komunikasi secara sepihak. Brian meletakkan ponselnya di atas meja kemudian melihat dokumen yang menumpuk di mejanya.
Brian mengambil satu dokumen yang berada di atas kemudian mengeceknya. Setelah benar barulah dokumen tersebut di tanda tangani hingga hampir tiga jam barulah Brian mengecek dan menanda tangani dokumen. Brian meregangkan ke dua tangannya ke atas hingga perutnya mulai terasa lapar.
"Perutku mulai lapar, lebih baik aku masak saja soalnya kalau aku makan di luar pasti Calista yang membayar makanan kami dan aku tidak ingin Calista mengeluarkan uangnya lagi." Ucap Brian sambil turun dari kursi kebesarannya dan berjalan ke arah pintu.
"Apa aku sudahi saja sandiwara ku? Tidak-tidak ... aku ingin tahu siapa lagi orang yang menghina Calista." Ucap Brian sambil membuka pintu.
"Aroma nya sangat harum membuatku lapar, tapi siapa yang masak? Apakah Calista " Tanya Brian dengan wajah sangat terkejut sambil berjalan ke arah sumber aroma yang membuat dirinya sangat lapar.
__ADS_1