Calon Suamiku Ternyata Sangat Kaya

Calon Suamiku Ternyata Sangat Kaya
Teman Masa Kecil


__ADS_3

"Walau Adelio sangat mencintai Clarisa tapi Adelio akan mengorbankan perasaan Adelio dan memilih Daddy, Mommy dan adik kembarku Adelia karena Daddy, Mommy dan Adelia adalah harta yang tidak bisa di tukar dengan apapun,'' jawab Adelio dengan nada yakin.


"Terima kasih, Daddy tahu ini memang berat buatmu," ucap Daddy Brian sambil menepuk bahu putra sulungnya.


"Lebih baik kita tunggu pergerakan orang tua Ririn jika Clarisa menuruti permintaan ke dua orang tuanya Ririn maka menurut Paman kamu harus melupakan dan melepaskan Clarisa tapi jika Clarisa menolaknya maka kamu pertahankan hubungan kalian," ucap Paman Alvonso memberikan usulan.


"Apa yang dikatakan Paman Alvonso benar, kita tunggu pergerakan mereka," ucap Adelio.


"Oh ya satu lagi, apakah Kak Brian kenal dengan Kak Valen teman masa kecil Kakak?" Tanya Paman Alvonso.


"Valen ...(sambil berpikir) ... Oh ya kenal, memangnya kenapa?" Tanya Daddy Brian penasaran.


"Kak Valen menikah dengan Kak Moko dan mempunyai seorang putri bernama Ririn." Jawab Paman Alvonso.


"Apa? Ibunya Ririn ternyata Valen?" Tanya Daddy Brian dengan wajah terkejut.


"Betul sekali." Jawab Paman Alvonso sambil mengeluarkan ponselnya.


Paman Alvonso membuka galeri untuk mencari foto orang tua Ririn dan juga Ririn setelah ketemu Paman Alvonso memberikan ponselnya ke Daddy Brian.


"Ini fotonya." Ucap Paman Alvonso.


Daddy Brian menerima ponsel milik Paman Alvonso kemudian melihat foto tersebut sedangkan Adelio yang penasaran ikut melihat.


"Kenapa bisa begitu kebetulan?" Tanya Daddy Brian.


"Aku juga tidak tahu Kak, kenapa bisa kebetulan." Jawab Paman Alvonso.


"Apakah Daddy mencintai teman masa kecil Daddy?" Tanya Adelio sambil menatap ke arah Daddy Brian untuk meminta penjelasan.


"Kalau Daddy mencintai wanita itu yang ada Kamu dan Adelia tidak lahir." Jawab Daddy Brian dengan nada tegas.


"Daddy mu itu cinta mati sama Mommy mu jadi Kamu jangan kuatir." Sambung Paman Alvonso.


"Apa yang dikatakan Paman mu memang benar adanya. Bagi Daddy, Mommy adalah cinta pertama dan terakhir. Tidak ada wanita lain yang bisa menggantikannya." Ucap Daddy Brian.


"Sekarang kita kembali ke ruang perawatan dan jangan katakan apa yang tadi kita bicarakan," sambung Daddy Brian mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Ok," jawab Paman Alvonso dan Adelio serempak.


Ke tiga pria tampan tersebut pergi meninggalkan tempat tersebut menuju ke ruang perawatan.


Ceklek


Adelio membuka pintu ruang perawatan dengan lebar dan matanya langsung membulat sempurna begitu pula dengan Daddy Brian dan Paman Alvonso karena melihat orang tuanya Ririn yang bernama Valen dan Moko sudah datang dan sedang mengobrol dengan Clarisa dan Mommy Calista serta Tante Brigitha.


"Kak Adelio, orang tuanya Ririn datang menengokku," ucap Clarisa sambil tersenyum bahagia karena Valen sudah selesai menyuapi dirinya.


"Di minum dulu sayang, baru ngobrol," ucap Valen sambil memberikan gelas yang sudah ada sedotannya.


"Baik Tante," jawab Clarisa.


Clarisa meminum air mineral dengan menggunakan sedotan hingga menyisakan setengah gelas. Selesai meminum Valen meletakkan gelas tersebut ke atas meja.


"Maaf, aku dan istriku ingin berkunjung ke mansion Kak Bruno," ucap Paman Alvonso yang malas bertemu dengan sepasang suami istri yang tidak tahu malu itu.


"Ok, hati-hati di jalan," jawab Daddy Brian yang mengerti kalau Paman Alvonso sekaligus adik iparnya tidak menyukai orang tua Ririn.


Tante Brigitha cipika-cipiki dengan Mommy Calista kemudian berlanjut ke Adelio dan Clarisa mengecup punggung tangan Tante Brigitha secara bergantian sedangkan dengan ke dua orang tua Ririn hanya bersalaman.


'Kenapa Paman Alvonso, tidak berpamitan denganku? Apa aku melakukan kesalahan?' tanya Clarisa dalam hati sambil menatap kepergian Paman Alvonso dengan tatapan sendu.


'Pria itu sombong banget, awas aja kalian akan aku buat kalian miskin dan berlutut di depanku," ucap ke dua orang tua Ririn bersamaan dalam hati.


'Aku tahu Paman Alvonso sangat membenci ke dua orang yang tidak tahu malu itu. Clarisa, aku memang mencintai dirimu tapi maaf jika kamu lebih memilih keluarganya Ririn maka kita berpisah dan untuk ke dua anak kita akan aku rawat seorang diri karena aku tidak akan menikah lagi karena Aku sangat mencintaimu dengan sangat tulus.' ucap Adelio dalam hati.


"Oh ya nak Adelio, kami ingin melakukan kerjasama dengan nak Adelio," ucap Moko.


"Kerja sama dalam bidang apa?" tanya Adelio.


"Ekspor impor dalam bidang alat - alat kecantikan," jawab Moko.


"Berapa keuntungan yang aku dapat?" tanya Adelio tanpa basa basi.


"Bagaimana kalau keuntungannya tiga puluh persen untuk nak Adelio sedangkan Paman mendapatkan keuntungan tujuh puluh persen," jawab Moko tanpa punya rasa malu sedikitpun.

__ADS_1


"Kerja sama itu membutuhkan uang yang sangat besar, berarti Paman menanam modal tujuh puluh persen sedangkan aku tiga puluh persen. Benar begitu Paman?" tanya Adelio.


Adelio sudah tahu apa jawaban Moko namun Adelio ingin agar istrinya dapat mendengar dengan jelas akan sifat tamak ke dua orang tua Ririn.


Daddy Brian hanya mendengarkan percakapan putranya dengan pria tersebut tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Sedangkan Valen menatap ke arah Daddy Brian di mana dirinya masih mencintainya.


'Kenapa Kak Brian mencelakai putriku, Aku tidak bisa marah dan dendam? Kenapa sampai sekarang, Aku tidak bisa melupakanmu? Walau Aku sudah menikah selama puluhan tahun dan mempunyai seorang putri tetapi cintaku padamu tidak bisa pudar.' Ucap Valen dalam hati.


'Walau sudah puluhan tahun Valen menikah tapi perasaannya terhadap suamiku tidak bisa hilang. Aku sangat bersyukur suamiku sama sekali tidak mempedulikannya tapi walau bagaimana pun Aku harus berhati-hati dan tidak boleh lengah.' Ucap Mommy Calista dalam hati.


"Tidak nak Adelio," jawab Moko.


"Lalu berapa persen aku harus menanam modal ku?" tanya Adelio pura-pura tidak tahu.


"Seratus persen," jawab Moko tanpa punya rasa malu terhadap Adelio dan orang tua Adelio.


"Apa Paman tidak salah?" tanya Clarisa yang tadi diam mendengarkan suaminya dan Moko mengobrol dengan wajah terkejut dengan ucapan Moko.


"Tidak, memangnya kenapa?" tanya Moko tanpa dosa.


"Paman, dimana-mana kalau ingin mendapatkan keuntungan tujuh puluh persen maka Paman juga menanamkan modalnya tujuh puluh persen," jawab Clarisa sambil bangun dari ranjangnya dan kemudian duduk dengan di bantu suaminya.


"Itu kalau orang luar sedangkan Paman bukan orang luar," ucap Moko sambil menahan kesal terhadap Clarisa karena tidak mendukung dirinya.


"Walau itu orang luar atau orang dalam tetap saja Paman," ucap Clarisa yang merasa tidak enak hati dengan suaminya dan ke dua mertuanya.


"Clarisa, aku ini Paman angkat mu seharusnya kamu mendukung apa yang dilakukan oleh Paman angkat mu apalagi selama ini Kamu selalu menumpang di mansion Kami jadi sudah sepantasnya Kamu itu mendukung Kami," ucap Moko sambil menatap tajam ke arah Clarisa.


"Clarisa akan dukung apapun keinginan Paman asalkan tidak merugikan ke dua belah pihak," jawab Clarisa.


"Clarisa, kamu itu sudah kami rawat dan disekolahkan bahkan tinggal di mansion milik Kami jadi sudah seharusnya kamu itu menuruti permintaan Kami." ucap Valen sambil menahan amarahnya.


"Clarisa akan turuti semua permintaan Tante dan Paman tapi dalam hal ini maaf Clarisa tidak bisa," ucap Clarisa dengan nada tegas.


"Ingat Clarisa, kamu bisa menikah dengan Adelio itu karena putri Kami mau merelakan kekasihnya untuk menikah denganmu." ucap Valen.


"Merelakan? Apa Paman dan Tante tahu kalau Ririn dengan sengaja menjebak ku agar aku tidur dengan kak Adelio. Kalau saja kak Adelio tidak bertanggung jawab, Kami tidak mungkin bisa menikah," jawab Clarisa dengan tatapan amarah dan kecewa secara bersamaan karena ke dua orang tua Ririn selalu membela Ririn dari pada dirinya padahal sudah jelas-jelas bersalah.

__ADS_1


"Kami melakukan ini semua untuk biaya pengobatan putriku sekaligus sahabatmu yang lumpuh dan tidak bisa bicara," ucap Valen sambil melirik sinis ke arah Daddy Brian dan Adelio secara bergantian.


__ADS_2