Calon Suamiku Ternyata Sangat Kaya

Calon Suamiku Ternyata Sangat Kaya
Merasa Tidak Nyaman


__ADS_3

'Calista memang pantas menjadi menantu Kami karena terlihat jelas Calista bisa menenangkan amarah putra Kami. Brian mempunyai sifat pemarah dan kejam seperti waktu aku masih muda.' Ucap Daddy Alvaro dalam hati.


"Ayo kita makan." Ucap Mommy Felicia sambil mengambil makanan untuk suaminya barulah dirinya.


Setelah selesai barulah Ibunya Valen mengambil makanan untuk suaminya setelah selesai barulah untuk dirinya. Ketika Calista ingin mengambil centong nasi namun keduluan Valen mengambil centong nasi karena lebih dekat.


"Kak Brian, aku ambilkan nasinya." Ucap Valen dengan nada lembut.


"Tidak, kamu ambillah untuk dirimu sendiri karena aku ingin diambilkan oleh calon istriku." Jawab Brian dengan nada tegas.


"Bukankah dulu aku yang sering mengambil nasi dan makanan untuk Kak Brian?" Tanya Valen sambil menahan amarahnya.


"Bisakah kita makan dengan tenang?" Tanya Daddy Alvaro dengan nada tegas dan dingin ketika melihat Brian ingin bicara.


Tiba-tiba ruang makan tersebut berubah jadi dingin lebih dingin dari AC karena selain Daddy Alvaro bicara dengan nada dingin Brian juga mengeluarkan udara dingin.


Sejujurnya Daddy Alvaro sangat kesal dengan Valen yang membuat suasana makannya tidak nyaman. Dirinya sangat bersyukur karena putranya memilih Calista daripada Valen.


Valen dan Brian langsung terdiam kemudian Valen mengambil makanan untuk dirinya sendiri setelah itu barulah Calista mengambil nasi untuk Brian setelah itu barulah untuk Calista.


Terakhir Veni, mereka semua berdoa bersama setelah itu barulah mereka makan tanpa ada yang bicara sedikitpun. Hingga lima belas menit kemudian mereka sudah selesai makan dan minum.


Semua makanan yang ada di meja habis tanpa sisa sedikitpun membuat Calista tersenyum bahagia. Calista berjalan ke arah dapur untuk mengambil cemilan kemudian diletakkan di meja makan lalu merapikan piring-piring dan gelas - gelas kosong dengan di bantu Brian.


"Kenapa tersenyum? Meledekku ya karena tidak bisa duduk bersebelahan dengan Kak Brian?" Tanya Valen dengan nada kesal.


"Aku tersenyum karena semuanya suka masakanku." Jawab Calista jujur sambil masih merapikan piring-piring dan gelas - gelas kosong.


"Kamu yang masak?" Tanya ke dua orang tua Valen dengan wajah terkejut.


"Tentu saja, Calista yang memasaknya." Jawab Mommy Felicia yang menjawab ucapan ke dua orang tua Valen.


"Masakan Calista sama seperti masakan istriku karena itulah lidahku sangat cocok memakan makanan buatan Calista." Sambung Daddy Alvaro sambil tersenyum bahagia.


"Pantas saja kamu sampai nambah makannya sama seperti Aku sampai dua kali nambah." Ucap Ayahnya Valen sambil mengusap perutnya yang agak membuncit.


"Aku juga nambah." ucap Ibunya Valen sambil mengusap perutnya yang sudah gendut seperti gajah bengkak kemudian memakan cemilan buatan Calista tanpa punya rasa malu sedikitpun.



"Enak tapi kalau kebanyakan bisa gendut Daddy, Mommy, Tante dan Paman. Itu tidak baik untuk kesehatan apalagi semua makanan itu mengandung kolesterol tinggi." ucap Valen sambil tersenyum mengejek ke arah Calista.

__ADS_1


Grep


Brian yang ingin berkomentar tangannya langsung di genggam oleh Calista seakan jangan menjawab ucapan Valen.


"Semua masakan yang aku masak di jamin tidak ada kolesterol karena daging hanya sedikit dan kebanyakan sayuran segar yang dipetik langsung di kebun belakang milik Mommy Felicia selain itu tidak ada penyedap masakan." Jawab Calista menjelaskan ke Valen dengan nada masih lembut.


"Apa yang dikatakan oleh Calista benar adanya karena Mommy dan Calista yang memetik sayuran di kebun belakang. Calista yang memasak dan Mommy membantu memotong sayuran jadi Mommy tahu apa saja isi bumbu masakan yang kita makan barusan. Semua yang kita makan kebanyakan sayur dan untuk daging hanya sedikit untuk pengharum makanan." Sambung Mommy Felicia menjelaskan panjang lebar.


"Sebelum berkomentar jelek pikirkan dulu jangan asal bicara." sambung Brian dengan nada ketus.


Valen hanya terdiam namun ke dua tangannya di genggam erat untuk menahan amarahnya.


'Valen, sekali lagi kamu bikin masalah kamu pulanglah sendiri.' Bisik Ibunya Valen yang tidak enak hati dengan keluarga Brian.


Hal itu dikarenakan karena saat ini dirinya ingin makan lagi dan lagi. Masalah hubungan Brian dan Calista, nanti saja dipikirkan di mana dirinya ingin memisahkan hubungan mereka lalu Brian dan putrinya bisa menikah.


'Minta maaflah ke Calista dan jangan buat masalah lagi.' sambung Ibunya Valen yang saat ini tidak ada pilihan lain sambil masih berbisik.


Suasana kekeluargaan yang seharusnya bahagia tapi karena kehadiran Valen membuat suasananya menjadi tidak nyaman. Valen yang mendapatkan ancaman Ibunya menghembuskan nafasnya dengan perlahan untuk meredakan amarahnya.


"Maafkan perkataanku." Ucap Valen akhirnya.


Kini Calista sudah selesai merapikan piring-piring yang kotor dengan di bantu oleh Brian dan di bawa ke wastafel untuk di cuci.


'Pantas saja Brian sangat mencintai Calista karena Calista berbeda dengan gadis diluaran sana.' Ucap Mommy Felicia dalam hati.


'Brian tidak salah memilih jodohnya karena Calista bisa membuat Brian tunduk dan bisa menguasai amarahnya yang meledak - ledak.' Ucap Daddy Alvaro dalam hati.


'Si*l selama ini aku selalu di sayang sama Paman dan Tante tapi gara - gara wanita yang tidak tahu diri dan tidak punya malu membuatku dipermalukan. Awas saja akan aku balas atas penghinaan ini.' Ucap Valen dalam hati.


"Oh ya, Calista tadi buat puding kesukaan kita semua. Apakah ada yang mau mencoba puding buatan Calista?" Tanya Mommy Felicia setelah beberapa saat mereka terdiam.


"Tentu saja, sudah lama Aku tidak memakan puding." Ucap Ibunya Valen yang masih makan cemilan.


Mommy Felicia hanya tersenyum kemudian berjalan ke arah kulkas seukuran lemari dengan diikuti Calista.


Calista dan Mommy Felicia membuka kulkas dan terlihat beberapa puding kesukaan Mommy Felicia, Daddy Alvaro dan Brian yang di buat oleh Calista.


Mommy Felicia dan Calista mengambil puding dengan di bantu Brian dan diletakkan di meja makan dimana meja makan tersebut sudah di bersihkan oleh Calista dan Brian.


Calista memotong puding tersebut kemudian diberikan ke Mommy Felicia, Daddy Alvaro dan Brian sesuai kesukaan mereka. Calista bisa tahu karena sebelumnya Mommy Felicia sudah memberitahukan apa kesukaan keluarganya.

__ADS_1


Setelah selesai barulah Calista mengambil untuk dirinya sendiri lalu berlanjut ke orang tua Valen dan Veni mengambil puding secara bergantian.


Calista melihat semua sedang menikmati puding buatannya hanya Valen yang tidak mengambil puding membuat Calista mengernyitkan keningnya.


"Valen, kamu tidak makan puding?" Tanya Calista dengan nada lembut.


"Aku takut gendut." Jawab Valen.


"Puding ini tidak mungkin membuat kita menjadi gendut." Ucap Calista.


"Puding itu pasti sangat manis jadi selain gendut bisa membuat orang terkena diabetes." ucap Valen yang ingin membuat Calista malu.


"Tenang saja, aku menggunakan gula rendah kalori jadi tidak mungkin membuat orang gendut." Ucap Calista sambil masih tersenyum dan dengan nada lembut.


"Kalau Valen tidak suka jangan makan dan jangan komentar yang nantinya mempermalukan dirinya sendiri." Celetuk Brian yang sejak tadi menahan kesal akan perkataan Valen.


"Calon istriku sangat menyayangi ke dua orang tuaku dan juga keluarga besar ku jadi bisa dipastikan Calista memberikan yang terbaik tanpa ada niat menyakitinya." Sambung Brian.


Valen yang ingin membalas ucapan Brian tidak jadi bicara karena tangannya di genggam erat oleh Ibunya. Valen hanya bisa menahan amarahnya terhadap Calista yang jelas - jelas tidak melakukan kesalahan.


"Sayang kita mengobrol di taman belakang yuk." Ajak Brian yang malas melihat Valen.


'Aku tahu Kak Brian kesal tapi tolong di sini ada Mommy dan Daddy serta orang yang lebih tua jadi tolong kita hargai mereka. Jangan perdulikan Valen dan anggap saja tidak ada.' Bisik Calista tepat di telinga Brian.


Brian menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian menganggukkan kepalanya sedangkan Ibunya Valen mendekatkan wajahnya ke Valen.


'Sekali lagi mengeluarkan suara Mommy tidak segan - segan menyuruhmu untuk pulang.' Bisik Ibunya dengan nada mengancam.


Glek


Valen menelan saliva nya dengan kasar sambil menahan amarahnya.


"Brian dan Calista kalian mengobrol lah di taman karena Mommy dan Daddy ingin bicara dengan mereka." Ucap Mommy Felicia yang melihat sejak tadi Brian merasa tidak nyaman.


"Baik Mom." Jawab Brian dan Calista bersamaan sambil berdiri.


"Aku ikut." Ucap Valen sambil ikut berdiri.


Grep


"Kamu mengobrol lah dengan adikmu karena kami berdua ingin bicara penting." Ucap Brian sambil memeluk pinggang Calista.

__ADS_1


__ADS_2