
"Perasaan Adelio sudah hilang Dad, ketika wanita itu menjebak Clarisa terlebih walau wajah mereka hampir mirip tapi Clarisa lebih baik dari pada wanita itu," jawab Adelio yang enggan menyebut nama Ririn kecuali author yang terpaksa mengetik nama Ririn.
"Syukurlah, karena Mommy dan Daddy merasa kalau Clarisa itu sangat tulus mencintaimu terlebih menantu Daddy kurang kasih sayang orang tua, jadi Daddy dan Mommy menganggap Clarisa sebagai putri kami. Daddy hanya minta sama kamu untuk menyayangi Adelia dengan tulus dan tidak menyakiti perasaannya," ucap Daddy Brian dengan nada bijaknya.
"Terima kasih Dad, sudah menganggap Clarisa sebagai putri Daddy dan Mommy. Adelio akan ingat pesan Daddy untuk mencintai Clarisa dengan tulus dan tidak menyakiti hatinya," ucap Adelio dengan nada tulus.
Daddy Brian hanya tersenyum dan tidak berapa lama pesanan mereka datang. Mereka makan dan minum tanpa bicara sedikitpun hingga lima belas menit kemudian mereka sudah selesai makan dan minum.
Daddy Brian membayar makanan dan minuman yang tadi mereka makan dan kembali ke ruang perawatan namun sebelumnya Daddy Brian mengirim pesan ke anak buahnya untuk melakukan apa yang tadi mereka bicarakan.
Ceklek
Adelio membuka pintu kamar perawatan dengan lebar kemudian Daddy Brian masuk ke dalam kamar perawatan dan diikuti oleh Adelio. Mereka melihat Mommy Calista dan Clarisa tidur dengan pulas membuat mereka duduk di kursi dekat ranjang istri mereka masing-masing.
Perlahan Mommy Calista dan Clarisa membuka matanya dan menatap wajah tampan suami mereka masing-masing sambil tersenyum bahagia.
"Sudah selesai makannya?" tanya mommy Calista.
"Sudah," jawab Daddy Brian sambil membelai rambut istrinya dengan lembut.
"Papi, perut Mami mual," ucap Clarisa tiba-tiba sambil berusaha bangun.
Adelio dengan cepat mengambil botol infus kemudian menggendong Clarisa ke arah kamar mandi.
Hoek Hoek Hoek
Perutnya yang tiba-tiba bergejolak membuat Clarisa muntah dan mengeluarkan makanan yang baru saja di makan setelah beberapa saat Adelio menggendong tubuh Clarisa ala bridal style.
Adelio berjalan ke arah ranjang kemudian meletakkan tubuh Clarisa secara perlahan lalu meletakkan botol infus ke tempatnya. Baru saja selesai perut Adelio tiba-tiba bergejolak membuat Adelio membalikkan badannya dan berlari ke arah kamar mandi.
"Kalian berdua sehati ya?" tanya Mommy Calista ketika mendengar Adelio muntah.
"Maksud Mommy?" tanya Clarisa.
"Setelah dirimu muntah terus menyusul Adelio, berarti kalian sehati," jawab Mommy Calista sambil tersenyum bahagia.
Clarisa hanya tersenyum mendengarnya begitu pula dengan Mommy Calista.
"Untung Daddy tidak muntah seperti Adelio," celetuk Daddy Brian.
"Jangan begitu Dad," ucap mommy Calista.
Selesai Mommy Calista mengatakan hal itu tiba-tiba perut Daddy terasa mual membuat Daddy Brian berlari ke arah kamar mandi membuat Mommy Calista dan Clarisa tersenyum.
"Tuh kan baru juga di omongin," ucap Mommy Calista.
"Pffftttt hahahaha... " tawa Mommy Calista dan Clarisa serempak.
'Sudah lama Aku bisa tertawa bebas sebelum orang tuaku meninggal. Terima kasih Mommy, Daddy dan suamiku kak Adelio aku sangat mencintai kalian dan aku berjanji akan melindungi kalian semua walau nyawaku menjadi taruhan.' ucap Clarisa dalam hati.
'Aku sangat bahagia melihat menantuku tersenyum. Tersenyum lah menantuku karena kamu berhak untuk bahagia.' ucap Mommy Calista dalam hati.
"Celaka, perut Mommy mual," ucap Mommy Calista sambil turun dari ranjang.
"Biar Adelio mengambil botol infusnya Mom," ucap Adelio sambil berjalan ke arah ranjang.
Mommy Calista menganggukkan kepalanya kemudian Adelio mengambil botol infus milik Mommy Calista. Mommy Calista berjalan bersama Adelio tidak berapa lama Daddy Brian sudah selesai dari kamar mandi.
__ADS_1
"Biar Daddy yang memegang botol infusnya," ucap Daddy Brian.
"Baik Dad," jawab Adelio sambil memberikan botol infus ke daddy Brian.
"Kenapa kita bisa sama-sama mual ya?" tanya Clarisa ketika suaminya kembali duduk dekat ranjang Clarisa.
"Seperti yang tadi Mommy katakan kalau kita berempat adalah sehati," jawab Adelio.
Clarisa hanya tersenyum begitu pula dengan Adelio hingga tidak berapa lama pintu ruang perawatan terbuka membuat Adelio dan Clarisa menatap ke arah pintu.
"Paman Alvonso dan Tante Brigitha," panggil Adelio dan Clarisa bersamaan sambil tersenyum.
"Maaf Paman dan Tante baru datang sekarang, bagaimana keadaan Clarisa?" tanya Paman Alvonso.
"Baik-baik saja Paman." jawab Adelio.
"Baik Paman," sambung Clarisa.
"Apakah keponakanku yang sangat cantik ini sedang hamil?" tanya Tante Brigitha asal tebak.
"Benar Tante," jawab Clarisa sambil tersenyum dan membelai perutnya yang masih rata.
"Selamat ya Sayang," ucap Tante Brigitha.
"Terima kasih Tante," jawab Clarisa.
"Bayinya kembar?" tanya Tante Brigitha.
"Kembar dua Tante," jawab Clarisa.
"Kita bikin lagi sayang," ucap Paman Alvonso.
Bugh
"Sayang, malu," ucap Tante Brigitha sambil memukul bahu suaminya.
Paman Alvonso hanya tersenyum menatap wajah cantik istrinya sedangkan Clarisa dalam hatinya sangat bersyukur karena kini dirinya dikelilingi oleh orang - orang yang tulus menyayangi dirinya.
Paman Alvonso dan Tante Brigitha melihat Mommy Calista sedang di gendong oleh Daddy Brian membuat mereka menatapnya dengan tatapan bingung.
"Yang hamil menantu kalian kenapa Kak Calista juga berbaring di ranjang? Memang kak Calista sakit apa?" tanya Paman Alvonso kepo.
"Istriku tidak sakit tapi hamil," jawab Daddy Brian.
"What? Serius?" tanya Paman Alvonso dan Tante Brigitha serempak yang tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Serius, sebentar lagi kami akan mempunyai anak lagi dan tidak tanggung - tanggung kembar dua,'' ucap Daddy Brian bangga.
"Akhhhhhhhh... Aku jadi pengen hamil lagi, ayo sayang kita pulang saja," ajak Tante Brigitha.
"Ayo sayang," jawab Paman Alvonso yang tidak pernah menolak melakukan yang enak-enak.
" Mau ngapain pulang? Baru juga datang," ucap Mommy Calista dengan wajah bingung.
"Mau bikin anak lagi," jawab Tante Brigitha dan Paman Alvonso serempak.
"Pffftttt hahahaha... " tawa mereka bersamaan.
__ADS_1
Tante Brigitha dan Paman Alvonso ikut tertawa bersama setelah beberapa saat mereka saling diam untuk beberapa saat.
"Oh ya kak Brian ada yang ingin aku katakan sama Kakak," ucap Paman Alvonso dengan wajah serius.
"Ok, kita keluar dari ruangan ini," jawab Daddy Brian yang mengerti arti tatapan Paman Alvonso.
"Adelio, kamu juga ikut," ucap Paman Alvonso.
"Baik Paman," jawab Adelio patuh.
Ke tiga pria tampan itupun pergi meninggalkan ruang perawatan namun sebelumnya berpamitan dengan istri mereka masing-masing.
Kini mereka berada di ujung lorong rumah sakit yang sangat sepi karena ruangan itu memang sudah lama tidak terpakai.
"Ada apa Alvonso?" tanya Daddy Brian tanpa basa basi.
Paman Alvonso menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian menatap Kakak iparnya yang bernama Daddy Brian dan ponakannya yang bernama Adelio secara bergantian.
"Aku mendapatkan informasi dari Mommy kalau keluarga Ririn berencana ingin menguasai harta putramu Adelio dan juga harta milik Kakak." Jawab Paman Alvonso.
"Apa? Bagaimana mungkin," ucap Daddy Brian dan Adelio bersamaan dengan wajah terkejut.
"Itulah yang terjadi, orang tua Ririn tidak pernah puas dengan apa yang mereka miliki sekarang terlebih..." ucap Paman Alvonso menggantungkan kalimatnya.
"Terlebih apa?" tanya Daddy Brian penasaran begitu pula dengan Adelio.
"Ririn kini berada di rumah sakit yang sama dengan kalian dan Ririn menyebut nama kalian sebagai orang yang membuat dirinya celaka." Jawab Paman Alvonso menjelaskan.
"Bukankah aku memerintahkan anak buah ku untuk membuatnya lumpuh baik ke dua tangan dan ke dua kakinya selain itu wanita itu tidak bisa bicara karena lidahnya aku potong. Apa anak buah ku tidak melakukannya?" tanya Daddy Brian sambil mengambil ponselnya dari saku jasnya untuk menghubungi anak buahnya.
"Memang benar, tapi Ririn menulis sesuatu dengan menggunakan mulutnya sambil menahan rasa sakit pada mulutnya." Jawab Paman Alvonso.
"Si*l kalau tahu begini lebih baik di tembak ma*i sama anak buahku," ucap Daddy Brian dengan nada kesal.
"Betul Dad, lain kali musuh tidak usah di beri ampun," sambung Adelio yang sudah tidak ada perasaan terhadap Ririn.
"Karena itulah ke dua orang tua Ririn sangat marah dan ingin merebut semua harta milik kalian lewat tangan Clarisa dan setelah kalian miskin barulah mereka berencana mem bu nuh kalian termasuk Clarisa," ucap Paman Alvonso sambil menatap ke arah Daddy Brian dan Adelio secara bergantian.
"Kenapa istriku jadi ikut terlibat?" tanya Adelio sambil menahan amarahnya.
"Mereka beranggapan bahwa apa yang terjadi dengan Ririn pasti karena ide Clarisa karena itulah kalian bertiga yang akan jadi targetnya," jawab Paman Alvonso.
"Kalau begitu aku akan memerintahkan anak buahku untuk meng ha bi si mereka," ucap Daddy Brian.
"Jika itu diketahui Clarisa bahwa Kakak meng ha bi si sahabatnya Clarisa dan orang tua sahabatnya Clarisa, besar kemungkinan Clarisa akan membenci Adelio," ucap Paman Alvonso.
"Si*l," umpat Daddy Brian yang merasa bimbang.
"Adelio, apakah kamu mencintai Clarisa?" tanya Daddy Brian.
"Tentu saja Dad, tapi Adelio bimbang Dad," jawab Adelio dengan wajah frustasi.
"Apakah kamu akan memberikan semua hartamu untuk Clarisa?" tanya Daddy Brian.
"Adelio tidak mempermasalahkan hal itu Dad tapi kalau harta milik Daddy dikuasai Adelio tidak terima," Jawab Adelio.
"Jika seandainya kamu di suruh memilih, mana yang kamu pilih orang tuamu atau istrimu?" tanya Daddy Brian sambil menatap ke arah putra sulungnya.
__ADS_1