
Malam menjelang pagi perlahan Calista membuka matanya. Dirinya sangat terkejut karena kepalanya bersandar di dada bidang seorang pria membuat Calista mendongakkan kepalanya ke atas untuk melihat siapa pria yang di peluknya.
'Kak Brian, kenapa kami saling berpelukan?' Tanya Calista dalam hati.
Calista berusaha mengingat apa yang telah terjadi semalam setelah beberapa saat Calista sudah ingat membuat Calista turun dari ranjang dan meninggalkan kamar Brian. Namun sebelumnya Calista memunguti pakaiannya kemudian memakainya dengan cepat.
Calista berjalan ke arah kamarnya untuk membersihkan tubuhnya yang lengket selesai mandi dan memakai dress, Calista berjalan ke arah dapur untuk membuat sarapan pagi.
Setelah hampir enam belas menit Calista sudah selesai membuat sarapan untuk Brian. Calista berjalan ke arah kamarnya untuk membersihkan tubuhnya yang lengket karena Calista tidak betah bau asap.
Lima belas menit kemudian Calista sudah selesai mandi dan berjalan ke arah lemari dengan memakai handuk yang menutupi sebagian ke dua gunung kembar nya dan sebagian ke dua paha nya.
"Aku lupa bertanya pakaian yang ada di lemari ini bolehkah aku pakai atau tidak karena pakaiannya penuh dan aku tidak bisa menyimpan pakaianku." Ucap Calista sambil menutup kembali pintu lemari.
Calista mengambil pakaian yang masih di simpan di dalam tas kemudian memakainya. Hingga sepuluh menit kemudian Calista sudah memakai pakaian kemudian berjalan ke ruang makan.
Calista menulis sesuatu di kertas kecil kemudian meletakkan di meja makan. Setelah selesai Calista pergi meninggalkan apartemen tersebut menuju ke tempat pekerjaan baru.
xxxxxxx
Perlahan Brian menggeliatkan tubuhnya sambil membuka matanya hingga dirinya menatap ke arah samping.
"Calista kemana? Kami semalam hampir saja melakukan hubungan suami istri, apa Calista marah?" Tanya Brian sambil menyentuh seprai ranjang bekas tidur Calista.
"Mungkin dia ada di kamarnya." Ucap Brian sambil turun dari ranjang.
Brian berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang lengket. Hingga lima belas menit kemudian Brian sudah selesai mandi dan memakai pakaian kerja.
Brian keluar dari kamarnya dan berjalan menuruni anak tangga hingga dirinya mencium aroma masakan membuat Brian berjalan ke arah ruang makan.
Sampai di ruang makan Brian melihat secarik kertas membuat Brian mengambil kertas tersebut kemudian membacanya.
"Kak Brian, maaf aku tinggal pergi karena aku tidak ingin terlambat di hari pertamaku bekerja. Oh ya, Aku buatkan nasi goreng seafood dan semoga Kak Brian suka. Jika sudah selesai makan dan minum, piring dan gelas letakkan di wastafel nanti aku cuci hanya aku minta di siram dengan air wastafel agar mudah di cuci."
"Maaf Kak Brian, pulang kerja aku akan mencari kontrakan karena aku tidak ingin kejadian semalam terulang kembali."
"Kalau berangkat kerja hati-hati dan jaga kesehatan Kak Brian."
"Calista, bukankah aku sudah mengatakan kalau mulai sekarang dan seterusnya kita menjadi pasangan kekasih. Kakak janji untuk selalu melindungi, menjaga dan kita tidak akan melakukan hubungan suami istri sebelum kita resmi menikah." Ucap Brian yang ingat apa yang dikatakan semalam ke Calista.
__ADS_1
"Apa kamu trauma dengan masa lalumu makanya kamu takut untuk membuka pintu hatimu?" Tanya Brian.
"Aku akan membuktikan kalau aku adalah pria yang pantas kamu cintai karena aku akan selalu melindungi mu dari orang yang ingin berbuat jahat." Ucap Brian.
Brian menghembuskan matanya perlahan kemudian mulai memakan nasi goreng seafood buatan Calista.
"Masakannya sangat enak dan aku tidak sabar untuk mengenalkan dirimu ke keluarga besar ku." Ucap Brian sambil tersenyum bahagia.
Kebahagiaan Brian untuk pertama kalinya karena dirinya merasa bahagia bisa bertemu dengan gadis yang sangat baik dan mau menerima dirinya apa adanya walau sebenarnya dirinya adalah pria kaya.
Setelah lima belas menit kemudian Brian sudah selesai makan dan minum dan sesuai permintaan Calista, Brian meletakkan piring dan gelas di wastafel kemudian memutar kran agar piring dan gelas kotor terkena air.
Setelah selesai Brian pergi meninggalkan apartemen menuju ke perusahaan miliknya karena dirinya mendapatkan telepon orang tuanya untuk datang ke kantor.
xxxxxxx
Di tempat yang berbeda Calista naik kendaraan umum menuju ke tempat restoran di mana dirinya mulai bekerja.
'Semoga saja di restoran tempat pertama aku mulai bekerja tidak ada masalah lagi. Semoga keluargaku dan mantan kekasihku tidak mengusik hidupku karena aku ingin hidup tenang.' Ucap Calista dalam hati.
Hingga dua puluh menit kemudian Calista turun dari bis lalu berjalan ke arah restoran yang tidak begitu jauh terlebih Calista sudah terbiasa berjalan kaki.
Tanpa sepengetahuan Calista ada empat pasang mata memandangi Calista. Dua pasang mata menatapnya dengan penuh kebencian dan dua pasang mata lagi mengawasi Calista seakan melindungi Calista dari orang jahat.
"Selamat pagi, saya Calista waktu itu melamar di restoran ini dan katanya hari ini saya di suruh datang oleh manajer restoran." ucap Calista.
"Selamat pagi, oh ya kemarin Tuan Manager yang bernama Tuan Alex sudah mengatakan ke kami, jika Nona Calista datang di suruh langsung bekerja saja." Ucap pelayan tersebut.
"Baik, terima kasih." Jawab Calista.
"Sama-sama, mari saya antar." ucap pelayan restoran tersebut sambil membalikkan badannya kemudian berjalan ke arah dapur.
"Terima kasih." Ucap Calista sambil masih tersenyum sambil berjalan mengikuti langkah pelayan restoran.
"Tunggu!" teriak seorang pria.
Calista dan pelayan restoran langsung menghentikan langkahnya kemudian berjalan ke arah pria tersebut dimana pria tersebut ternyata Manager restoran bersama seorang wanita yang sangat di kenal oleh Calista.
"Selamat pagi Tuan Vicky." Ucap pelayan restoran dan Calista bersamaan.
__ADS_1
Calista juga mengenal Tuan Vicky karena waktu interview dirinya bersama pria tersebut.
"Maaf, kamu tidak bisa bekerja di restoran ini." Ucap Tuan Vicky tanpa basa basi.
"Kenapa tidak bisa?" Tanya Calista dengan wajah terkejut.
"Karena wanita ini yang akan bekerja di restoran ku." Jawab Tuan Vicky tanpa memperdulikan perasaan Calista yang sangat kecewa.
"Bukankah waktu itu saya di terima kerja? Tapi kenapa saya tiba-tiba tidak boleh bekerja di restoran ini?" Tanya Calista sambil melirik sekilas ke arah wanita itu yang tersenyum sinis.
"Memang benar tapi karena dia adalah penghangat ranjang ku maka aku terima dia kecuali kalau kamu mau menjadi penghangat ranjang ku maka aku bisa pertimbangkan lagi." Jawab manager restoran tersebut tanpa punya rasa malu sedikitpun.
"Terimakasih, aku bukan wanita mu x ra x han." Ucap Calista sambil membalikkan badannya meninggalkan mereka.
"Kamu mengatakan aku wanita mu x ra x han?" tanya wanita itu sambil berjalan ke arah Calista sambil menahan amarahnya.
"Kalau kamu merasa tidak kenapa mesti marah? Apalagi apa yang aku katakan benar bukan kalau kamu adalah wanita yang tidak punya rasa malu." Jawab Calista dengan nada lembut namun menusuk perasaan wanita tersebut tanpa membalikkan badannya.
Tanpa menjawab wanita itu mengambil vas bunga yang ada di meja kemudian di lempar ke arah Calista.
Tap
Calista yang mengetahui kalau wanita itu melempar sesuatu ke arah dirinya membuat Calista langsung membalikkan badannya sambil menangkap vas bunga tersebut.
Bugh
Prang
"Akhhhhhhhh !!!" teriak wanita itu.
Calista yang masih menyimpan amarahnya dengan sengaja melempar vas bunga tersebut ke arah dada wanita tersebut dan langsung jatuh mengenai ke dua kakinya hingga vas bunga tersebut pecah berkeping-keping bersamaan wanita itu berteriak kesakitan karena dada dan ke dua kakinya mengeluarkan darah segar.
"Bagaimana rasanya? Enak bukan?" Tanya Calista sambil tersenyum devil.
"Kamu!" Ucap wanita itu sambil menahan kesal dan merasakan perih secara bersamaan.
"Sebenarnya aku ingin melempar vas bunga itu ke bibirmu agar mulut bisamu tidak menyakiti perasaan orang lagi." Ucap Calista yang tidak memperdulikan wanita itu kesakitan.
"Sayang suruh anak buahmu untuk menyerang wanita ular itu." Ucap wanita itu dengan nada manja sambil duduk di kursi makan karena ke dua kakinya masih terasa perih.
__ADS_1
"Kalian semuanya serang wanita itu!" Teriak manager restoran tersebut.
"Baik Tuan." Jawab mereka bersamaan dengan patuh.