
Tanpa menjawab Adelio memberikan bayinya satunya lagi tapi ternyata sama bayi Mereka kembali menangis seakan protes kalau Mereka betah digendongan Adelio
"Sepertinya kalian betah ya di gendongan Daddy," ucap Adelio sambil tersenyum bahagia karena ke dua sepasang anak kembarnya tersenyum namun ke dua matanya tertutup dengan rapat.
"Daddy, Aku sangat mengantuk," ucap Clarisa.
"Tidurlah biar Aku bersama anak-anak," ucap Adelio
"Daddy tidak apa-apa jika Aku tinggal tidur?" tanya Clarisa sambil kembali menguap.
"Tidak apa-apa, santai saja," jawab Adelio sambil tersenyum.
Clarisa membalas senyuman Adelio dan tidak berapa lama dirinya tidur dengan pulasnya sedangkan Adelio yang merasa tangannya kebas karena mengayunkan ke dua tangannya berjalan ke arah ranjang khusus penunggu pasien.
Adelio berbaring di tengah - tengah kanan dan kiri ke dua bayi kembar nya yang sedang berbaring dengan bersandar di bahu Adelio dan tidak membutuhkan waktu lama Adelio tidur dengan pulas begitu pula dengan ke dua bayinya.
Ceklek
Seseorang membuka pintu ruang perawatan, Dia adalah Brigitha putri ke empat dari pasangan Daddy Alvaro dengan Mommy Felicia. Brigitha mendorong kursi roda di mana Adelia, adik kembar dari Adelio duduk di kursi roda.
'Wih lucu sekali, Aku foto ah,' ucap Adelia dengan pelan agar tidak mengganggu ke dua ponakannya.
Adelia kemudian mengambil ponselnya untuk mem foto ke dua bayi kembar yang sedang tidur bersama Kakak kembarnya yang juga tidur dengan pulas.
Cekrek
'Foto yang sangat bagus, suatu saat nanti jika ke dua ponakanku sudah besar Aku akan memperlihatkan foto ini,' ucap Adelia dalam hati.
'Sepertinya ponakanku suka sama anak kecil, kapan menikah?' Tanya Brigitha dengan suara pelan.
'Belum ada yang cocok tante.' Jawab Adelia sambil masih memperhatikan ke dua ponakan nya yang tertidur dengan pulas.
'Semoga saja bisa menemukan yang cocok.' Ucap Brigitha.
'Amin.' Jawab Adelia.
'Kita keluar yuk.' Ajak Brigitha.
'Masih ingin di sini Tante.' Ucap Adelia.
'Ok.' Jawab Brigitha.
'Kalau Tante ingin bertemu dengan Paman Alvonso, Adelia tinggal di sini saja Tante.' Ucap Adelia.
'Yakin, Tante tinggal?' Tanya Brigitha.
' Yakin Tante.' Jawab Adelia yang masih berbicara dengan suara pelan begitu pula dengan Brigitha.
'Ok.' Jawab Brigitha singkat.
Brigitha membalikkan badannya dan berjalan ke arah pintu ruang perawatan meninggalkan Adelia bersama keluarga kecil Kakak kembarnya Adelio.
Adelia yang sangat sayang dengan ponakan nya masih duduk di kursi roda samping ranjang kakak kembarnya sambil memperhatikan ke dua ponakan nya yang masih tidur dengan pulas.
'Pengen punya anak tapi Aku belum ada keinginan untuk menikah,' ucap Adelia dengan suara masih pelan karena takut mengganggu ke dua ponakannya.
'Sudahlah yang terpenting Aku sudah punya dua adik kembar dan dua anak kembar dari Kak Adelio itu sudah cukup. Kalau Aku kangen bisa melihat Mereka.' ucap Adelia dalam hati.
Lama kelamaan Adelia ikut mengantuk dan akhirnya ikut tertidur dengan menyadarkan kepalanya di ranjang hingga dua jam kemudian Adelio perlahan membuka matanya dan melihat ke dua anak kembarnya sedang menatap Adelio sambil tersenyum.
"Hallo anak-anak Daddy," sapa Adelio.
Ke dua bayi tersebut hanya tersenyum hingga Adelio melihat Adelia tidur di kursi roda.
"Adelia," panggil Adelio dengan perlahan.
"Iya Kak," jawab Adelia sambil menggeliatkan tubuhnya.
"Kalau masih mengantuk tidurlah di ranjang," ucap Adelia.
"Tidak Kak, Adelia ingin membasuh wajah biar segar," ucap Adelia.
"Ok," jawab Adelio singkat sambil berusaha bangun namun tiba-tiba tangannya kram membuat Adelio meringis.
"Ada apa Kak?" tanya Adelia.
"Tolong bantu Kakak angkat tangan Kakak," pinta Adelio.
"Maksud Kakak?" tanya Adelia dengan wajah bingung.
"Tangan Kakak kram karena ke dua anak Kakak kepalanya menyandarkan di lengan Kakak." Jawab Adelio.
Adelia hanya menganggukkan kepalanya kemudian dengan perlahan mengangkat kepala ponakannya agar tidak menyandarkan kepalanya di lengan Adelio.
"Satunya biar Kakak saja, tolong yang satunya dimasukkan ke dalam box bayi." pinta Adelio.
__ADS_1
Adelia hanya menganggukkan kepalanya kemudian Adelia menggendong ponakannya kemudian diletakkan di box bayi sedangkan Adelio turun dari ranjang sambil menggendong bayi satunya.
"Tangan kak Adelio kram?" tanya Clarisa yang melihat Adelio memijat tangannya sambil masih menggendong putranya.
"Sedikit," jawab Adelio sambil tersenyum kemudian meletakkan putranya di box bayi.
"Maaf ya Kak," ucap Clarisa merasa tidak enak hati.
"Kenapa minta maaf? Tidak apa-apa kok," ucap Adelio sambil mengusap rambut Clarisa dengan lembut.
"Adelia, maaf ya ngerepotin." ucap Clarisa merasa tidak enak hati dengan adik iparnya.
"Santai saja Kak, Oh ya Aku mau cuci wajah dulu biar kelihatan segar," ucap Adelia.
Clarisa hanya menganggukkan kepalanya kemudian Adelia mendorong kursi rodanya ke arah kamar mandi sedangkan Adelio duduk di samping ranjang sebelah Clarisa.
"Ke dua anak kita sepertinya sayang banget dengan kita ya," ucap Adelio.
"Iya benar terlebih sama Daddy sayang banget," ucap Clarisa yang melihat ke dua anaknya sedang menatap Adelio dari box bayi.
"Aku tidak menyangka kalau Aku sudah menjadi seorang Daddy," ucap Adelio sambil membelai pipi gembul ke dua anak kembarnya.
"Begitu pula Aku, Aku sangat bahagia sekali bisa menikah dengan Kak Adelio mempunyai ke dua mertua yang sangat baik, mempunyai anak kembar dan adik ipar yang sangat sayang padaku. Aku seperti mendapatkan harta yang sangat banyak sekali,'' ucap Clarisa sambil tersenyum bahagia.
"Aku dan semuanya Kamu anggap sebagai harta yang sangat banyak sekali?" tanya ulang Adelio dengan wajah terkejut.
"Ya benar, harta yang sangat berharga dan tidak bisa di tukar dengan apa pun juga. Daddy, anak-anak, Mommy, Daddy dan adik ipar ku adalah hartaku yang sangat berharga dan Aku akan bersedia melakukan apa saja demi harta berhargaku termasuk mengorbankan nyawaku." ucap Clarisa.
"Jangan bicara seperti itu karena Daddy tidak bisa hidup tanpa Mommy," ucap Adelio yang tidak suka dengan perkataan Clarisa.
"Oooweeee..."
"Oooweeee..."
"Tuh, anak - anak kita ikut protes," ucap Adelio.
Clarisa tersenyum dan Adelio membalas senyuman Clarisa kemudian Adelio memberikan dot yang berisi susu formula karena ASI-nya keluar sedikit untuk Ray dan Rayna.
Ceklek
Adelia keluar dari kamar mandi dan berjalan ke arah ranjang di mana Adelio sedang berdiri di samping Clarisa. Tiba-tiba ponsel milik Adelio berdering membuat Adelia memalingkan wajahnya ke arah Adelio.
"Adelia ada telepon masuk, tolong pegangin dot nya," pinta Adelio.
"Baik Kak," jawab Adelia.
("Ada apa?" tanya Adelio tanpa basa basi dengan nada dingin).
("Maaf Tuan, saya memberitahukan kalau orang tua Ririn dan Nona Ririn baru saja menghembuskan nafas terakhirnya," ucap anak buahnya melaporkan apa yang telah terjadi).
("Baguslah, buang Mereka di kandang macan dan beruang!" perintah Adelio).
("Baik tuan," jawab anak buahnya dengan patuh).
Tut Tut Tut Tut
Sambungan komunikasi langsung diputuskan secara sepihak oleh Adelio kemudian Adelio menyimpan kembali ponselnya di saku jasnya. Adelio melihat Benekditus dan Sandra sedang berjalan ke arah dirinya.
"Paman Benekditus dan Tante Sandra habis dari mana?" tanya Adelio.
"Dari dokter kandungan," jawab Benekditus sambil tersenyum bahagia begitu pula dengan Sandra.
"Tante Sandra hamil? Senangnya sebentar lagi punya ponakan. Selamat ya Paman dan Tante," ucap Adelio sambil ikut tersenyum bahagia.
"Terima kasih Adelio, Paman sangat senang karena keinginan Paman terwujud mempunyai anak kembar," ucap Benekditus.
"Kembar? Kembar berapa Paman?" tanya Adelio kepo.
"Kembar lima," jawab Benekditus.
"Apa lima? Waduh senang banget kembar lima," ucap Adelio.
"Iya Paman saja tidak menyangka sekaligus kaget kalau Paman akan mempunyai anak kembar lima," ucap Benekditus.
"Aku saja kaget Paman karena Tante dan Paman mempunyai anak sekaligus lima," ucap Adelio.
"Apanya yang lima, Adelio?" tanya Daddy Alvaro.
Daddy Alvaro dan Mommy Felicia yang ingin melihat ke dua cicit kembarnya dan juga keadaan Clarisa tidak sengaja mendengar percakapan Adelio dengan Benekditus.
"Itu Dad, Sandra hamil kembar lima," jawab Benekditus.
"Daddy tahu kalau Sandra hamil, terus apanya yang lima?" tanya Daddy Alvaro yang belum menyambung maklum dirinya habis bangun tidur dan istrinya memintanya untuk melihat keadaan Adelio dan Clarisa serta ke dua cicitnya.
"Eh tunggu .... Sandra, Kamu hamil kembar lima?" tanya Daddy Alvaro langsung tersadar.
__ADS_1
"Iya Dad, kembar lima," jawab Sandra.
"Wah senang banget," ucap Daddy Alvaro dan Mommy Felicia bersamaan.
"Iya Dad, Mom senangnya hamil anak kembar," ucap Sandra.
"Apalagi Aku," ucap Benekditus.
"Opa dan Paman Benekditus ada yang ingin Adelio katakan." Ucap Adelio dengan wajah serius.
"Kalau begitu Oma mau melihat cicit Oma." Ucap Mommy Felicia.
"Aku ikut Mom." Ucap Sandra.
Mommy Felicia hanya menganggukkan kepalanya kemudian Mereka pun pergi meninggalkan ke tiga pria tampan tersebut.
"Katakan ada apa Adelio?" tanya Daddy Alvaro dan Benekditus secara bersamaan.
"Adelio mendapatkan kabar dari anak buah Adelio kalau orang tua Ririn dan Ririn baru saja menghembuskan nafas terakhirnya. Adelio meminta Mereka untuk di buang ke kandang macan dan beruang." Jawab Adelio.
"Syukurlah akhirnya Mereka meninggal," ucap Daddy Alvaro dan Benekditus bersamaan.
"Benar kata Opa dan Paman karena sekarang musuh Clarisa sudah tidak ada lagi," ucap Adelio.
"Kalau Clarisa bertanya bilang saja tidak tahu, bukannya Daddy mengajarkan berbohong tapi Clarisa pasti sedih kehilangan ke dua orang tua Ririn dan juga sahabatnya," ucap Daddy Alvaro.
"Selain itu bisa saja Clarisa dendam dan ingin membalaskan ke kita," sambung Benekditus.
"Clarisa tidak mungkin seperti itu dan seandainya sampai dendam maka Adelio orang yang pertama menghukumnya," ucap Adelio yang lebih mencintai ke dua orang tuanya dan juga keluarga besarnya.
"Opa percaya padamu dan sekarang kita masuk ke dalam kamar perawatan untuk melihat ke dua cicit Opa." ucap Daddy Alvaro.
"Aku juga ingin melihat ke dua ponakanku setelah itu mengantar istriku pulang karena istriku lagi hamil," ucap Benekditus.
"Ok," jawab Daddy Alvaro yang mengerti kalau orang hamil tidak boleh cape.
Mereka masuk ke dalam kamar perawatan untuk melihat ke dua anak kembar Adelio dengan Clarisa sekaligus untuk bertemu dengan pasangan masing-masing.
Tiga Hari kemudian
Tidak terasa hari berlalu dengan cepatnya dan kini Daddy Brian, Mommy Calista bersama ke dua anak kembarnya, Adelio, Clarisa bersama ke dua anak kembarnya dan juga Adelia boleh pulang dari rumah sakit. Mereka pulang di jemput oleh keluarga besarnya menuju ke mansion milik Daddy Alvaro.
Adelio dan Clarisa belajar mengurus bayi Mereka di bawah bimbingan Mommy Felicia. Maklumlah Mereka baru mempunyai anak sehingga Mereka perlu belajar.
''Selesai mandi terus di lap tubuhnya dengan handuk kering kemudian dipakaikan pampers, di kasih pewangi rambut dan pijat tubuhnya biar pegal-pegalnya hilang,'' ucap Mommy Felicia mengajari cucu dan cucu menantunya.
"Baik Oma," jawab Clarisa dan Adelio bersamaan.
Setelah sepuluh menit Mereka sudah selesai memakaikan pakaian bayi kemudian Mereka masing-masing masuk ke dalam kamar Mereka.
"Kak Adelio" panggil Clarisa.
"Ya," jawab Adeliosingkat.
"Apakah keluargaku sudah meninggal?" tanya Clarisa ketika Mereka sudah sampai di kamar Mereka.
"Maksudnya?" tanya Adelio pura-pura tidak tahu.
"Beberapa hari ini Aku bermimpi kalau orang tua Ririn dan Ririn sangat tersiksa dan meminta maaf padaku. Jadi Aku merasa kalau ke dua orang tua Ririn dan Ririn telah meninggal dunia," Jawab Clarisa.
"Memang benar, apakah Kamu akan balas dendam pada keluargaku?" tanya Adelio tanpa basa basi.
Sebenarnya Adelio enggan mengatakan hal itu tapi mengingat sepandai-pandainya tupai 🐿️ melompat akhirnya jatuh juga.
Sepandai-pandainya kita menyembunyikan bangkai pasti akan ketahuan karena itulah Adelio mengakui apa yang dilakukan oleh dirinya dan juga keluarganya.
Clarisa menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian tersenyum menatap ke arah Adelio
"Seperti yang Aku katakan kalau Aku lebih memilih keluargamu jadi bagaimana mungkin Aku membalas dendam? Bukannya Aku anak yang tidak tahu membalas budi Mereka tetapi sayangnya Mereka sangat jahat yaitu mencelakai keluarga suamiku. Mungkin itu sudah takdir kalau Ririn dan ke dua orang tuanya meninggal." ucap Clarisa.
Grep
"Terima kasih karena Kamu tidak dendam pada keluargaku," ucap Adelio sambil menggenggam tangan Clarisa dengan lembut.
"Tentu saja tidak, hanya wanita bodoh yang membalaskan dendam karena keluargamu sangat baik padaku," jawab Clarisa.
Adelio hanya tersenyum membuat Clarisa ikut membalas senyuman Adelio. Adelio dan Clarisa hidup bahagia dan semakin bertambah romantis terlebih tidak ada lagi musuh yang mengusik kehidupan sepasang suami istri tersebut karena semuanya sudah mendapatkan karmanya masing-masing.
Tamat
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Tidak terasa novel ini sudah tamat dan terima kasih atas komentar, like, hadiah dan vote. Maaf kalau author tidak semua membalas komentar para pembaca tapi yang pasti author sangat senang dengan komentar para pembaca setiaku.
Semoga Tuhan membalas kebaikan kalian semua. Amin.
__ADS_1
Salam Author,
Yakasa