
Adelio menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian menatap wajah dokter kandungan yang pucat pasi.
"Maafkan suamiku Dok, silahkan di lanjut," ucap Clarisa dengan nada lembut.
"Dua bulatan kecil ini adalah anak Nyonya dan tuan dan memang awalnya berbentuk bulatan kecil tapi seiring berjalannya waktu bulatan ini berubah menjadi bayi merah dan siap untuk dikeluarkan," jawab dokter kandungan tersebut bersamaan.
"Berarti anak kami kembar dua Dok?" tanya Clarisa.
"Tepat sekali Nyonya dan selamat atas kehamilan Nyonya," ucap dokter kandungan tersebut.
"Oh ya, kenapa waktu kami selesai melakukan hubungan suami istri tiba-tiba istriku tidak sadarkan diri dan di sela - sela pahanya keluar darah segar?" tanya Adelio penasaran.
Bugh
Clarisa yang sangat malu memukul bahu suaminya sedangkan Adelio tidak marah malah mengusap rambut istrinya dengan lembut.
"Maaf tuan, janin Nyonya belum kuat Karena itulah Nyonya tidak sadarkan diri jadi tolong diusahakan untuk beberapa bulan jangan melakukan hubungan suami istri sebelum janinnya kuat," jawab dokter kandungan tersebut.
"Haruskah Dok?" tanya Adelio dengan nada frustrasi.
"Maaf Tuan, demi kebaikan Istri Tuan dan anak yang dikandungnya Karena jika itu terulang lagi bisa membahayakan keduanya," jawab dokter tersebut.
"Baik Dok, demi istriku dan ke dua anak kami," ucap Adelio pasrah.
"Oh ya Dok, usia kandungan anak kami berapa Minggu Dok?" tanya Clarisa mengalihkan pembicaraan.
"Sebentar," ucap dokter tersebut sambil mengecek janin Clarisa.
"Sudah empat Minggu," jawab dokter tersebut.
"Berarti anak kami akan lahir sekitar delapan bulan lagi ya Dok?" tanya Clarisa.
"Betul sekali," jawab dokter tersebut.
"Lama juga ya," ucap Adelio yang tidak sabar ingin melihat dua buah hatinya.
"Memang seperti itu tuan," jawab dokter kandungan tersebut sambil meletakkan stik nya ke tempat semula.
Perawat itupun membersihkan sisa gel dingin di perut Clarisa dengan menggunakan tissue kemudian merapikan dress milik Clarisa. Adelio kembali menggendong tubuh Clarisa dan meletakkan perlahan tubuh Clarisa di kursi.
Kini Adelio dan Clarisa duduk berdampingan dan berhadapan dengan dokter kandungan yang hanya dibatasi oleh meja.
"Saya akan kasih resep obat untuk penguat kandungan dan vitamin," ucap dokter kandungan sambil menulis resep obat.
Setelah selesai dokter kandungan memberikan kertas tersebut ke Clarisa namun di ambil oleh Adelio.
"Ada yang mau ditanyakan?" tanya dokter kandungan.
"Tidak ada dok," jawab Clarisa sambil berdiri begitu pula dengan Adelio.
"Terima kasih Dok," sambung Clarisa sambil mengulurkan tangannya.
"Sama-sama Nyonya," jawab dokter kandungan tersebut.
Adelio memeluk pinggang istrinya membuat Clarisa membalas pelukan Adelio. Clarisa menyandarkan kepalanya di dada suaminya sambil tersenyum bahagia sedangkan Adelio membuka pintu ruangan tersebut.
"Terima kasih banyak sayang," ucap Clarisa sambil tersenyum dan berjalan ke luar dari ruang dokter kandungan begitu pula dengan Adelio.
"Untuk?" tanya Adelio penasaran.
__ADS_1
"Perhatian dan rasa sayang kak Adelio untukku membuatku semakin mencintaimu. Aku sangat bersyukur bisa menikah dengan suami yang sangat sayang padaku," ucap Clarisa dengan nada tulus.
"Aku yang seharusnya bersyukur bisa menikah denganmu," ucap Adelio.
"Hem ... " ucap Daddy Brian dan Adelia berdehem bersamaan.
"Apakah ada yang aneh?" tanya Daddy Brian sambil menatap putri bungsunya.
"Ada Dad," jawab Adelia.
"Aneh kenapa Dad, Adelia?" tanya Adelio penasaran.
"Mommy baru sadar kalau Clarisa memakai jubah handuk," ucap Mommy Calista yang menjawab pertanyaan Adelio sambil menepuk keningnya.
Adelio dan Clarisa serempak menatap pakaian yang dikenakan Clarisa membuat Adelio menggendong Clarisa ala bridal dan berjalan dengan langkah cepat menuju ke arah ruang perawatan.
"Tidak Adelio, tidak Clarisa dua - duanya sama," ucap Daddy Brian sambil memijat keningnya yang tidak pusing
"Pffftttt..." tawa lepas Adelia.
"Adelia tidak lucu," ucap Mommy Calista.
"Maaf Mom," ucap Adelia.
"Oh ya, Adelia sampai lupa menanyakan ke Mommy," ucap Adelia.
"Apa yang ingin kamu tanyakan?" tanya Mommy Calista.
"Adelia nanti punya adik berapa?" tanya Adelia penasaran.
"Dua," jawab Mommy Calista singkat.
"Sudah pas kan, Adelio satu dan Adelia satu" ucap Daddy Brian usil.
"Kenapa Daddy menyebut nama Kakak dan namaku?" tanya Adelia dengan wajah bingung.
"Kalian berdua nanti masing-masing mengurus ke dua adik kalian," jawab Daddy Brian.
"Kok kami Dad? Terus Daddy dan Mommy ngapain ?" tanya Adelia.
"Adelia kan belum menikah dan tidak tahu cara merawat bayi jadi biar Adelia yang mengurus adiknya" jawab Daddy Brian sambil menahan senyum.
"Kan Mommy dan Daddy yang bikin tapi kenapa kok Aku dan Kak Adelio yang mengurus adik kami?" Tanya Adelia dengan nada protes.
"Kan kalian kakak yang baik jadi mengurus adik kalian. Karena Mommy dan Daddy mau bikin anak lagi," jawab Daddy Brian tanpa dosa.
Bugh
Bugh
Bugh
Mommy Calista dan Adelia serempak memukul bahu Daddy Brian membuat Daddy Brian tersenyum karena sangat senang menggoda istri dan ke dua anaknya. Dirinya tidak marah ketika mereka berdua memukulnya terlebih pukulan itu tidak terasa sakit sama sekali Karena seperti di pijat.
"Daddy senang banget usil," ucap Mommy Calista sambil menggelengkan kepalanya.
"Tahu nih Daddy," sambung Adelia dengan nada kesal.
"Mungkin ketularan Mommy kalian jadi Daddy usil," jawab Daddy Brian.
__ADS_1
"Kok Mommy?" tanya Mommy Calista.
"Kan Mommy memang usil," jawab Daddy Brian dan Adelia serempak.
"Aish... menyebalkan," ucap Mommy Calista dengan wajah di tekuk.
"Pffftttt hahahaha..." tawa mereka serempak.
"Sepertinya seru." Ucap Adelio tiba-tiba datang sambil mendorong kursi roda di mana Clarisa duduk di kursi roda.
Adelia menceritakan apa yang terjadi membuat Mereka kembali tertawa bersama hingga beberapa menit kemudian mereka berhenti tertawa.
Grep
"Daddy sangat bahagia bisa menikah dengan Mommy dan mempunyai anak-anak seperti kalian. Mommy, Adelio, Adelia dan Clarisa adalah harta berharga milik Daddy. Daddy akan berusaha sekuat tenaga untuk melindungi kalian," ucap Daddy Brian sambil memeluk istri dan ke dua anaknya serta menantunya yang bernama Clarisa.
Mommy Calista, Adelia, Adelio dan Clarisa membalas pelukan Daddy Brian.
"Mommy juga sangat bahagia bisa menikah dengan Daddy dan memiliki kalian. Kalian semua harta berharga milik Mommy dan setengah napas kehidupan Mommy," ucap Mommy Calista.
"Kami juga sangat bangga memiliki Mommy dan Daddy," ucap Adelia, Adelio dan Clarisa bersamaan.
Mereka saling berpelukan setelah dua menit mereka melepaskan pelukannya.
"Oh ya Mom, Dad .... Maaf kami pulang dulu karena hari ini ada janji bertemu dengan sahabat lama," ucap Adelia sambil berdiri.
"Sahabat apa kekasih?" Tanya Mommy Calista dengan nada menggoda.
"Sahabat kok Mom, apalagi sahabatku seorang gadis jadi mana mungkin Kami pacaran." Jawab Adelia.
"Kapan, Kamu kenalin kekasihmu?" Tanya Mommy Calista.
"Belum ada yang cocok Mom, nanti kalau ada yang cocok baru Adelia kenalin." Ucap Adelia.
"Ok, hati-hati di jalan." Ucap Mommy Calista.
"Terima kasih Mom." Ucap Adelia.
Adelia mencium punggung tangan ke dua orang tuanya secara bergantian dan berlanjut ke Kakak kembarnya Adelio dan terakhir Clarisa.
"Mommy, Daddy, Kak Brian dan Kak Clarisa kalau pulang hati-hati." Ucap Adelia.
"Ok, hati-hati di jalan," jawab Daddy Brian, Mommy Calista, Adelio dan Clarisa bersamaan.
Mereka melambaikan tangannya ke arah Adelia dan Adelia membalas lambaian tangannya kemudian Adelia pergi meninggalkan Mereka. Daddy Brian turun dari kursi kemudian mendorong kursi roda di mana Mommy Calista sedang duduk diikuti oleh Adelio mendorong kursi roda.
"Kita kembali ke ruang perawatan," ucap Daddy Brian.
"Ok," jawab Mommy Calista singkat.
Daddy Brian tersenyum kemudian mendorong kursi roda menuju ke ruang perawatan di susul Adelio.
xxxxxx
Di tempat yang berbeda sepasang suami istri sangat gelisah karena putri kesayangannya tidak bisa dihubungi siapa lagi kalau bukan Ririn.
"Anak kita pergi kemana sih, dihubungi tidak bisa," ucap istrinya dengan nada kesal.
"Daddy juga tidak tahu, coba Mommy telepon Clarisa dan tanya sama Clarisa. Apakah melihat putri kesayangan Kita." Ucap suaminya.
__ADS_1
"Ok," jawab istrinya singkat.