
Tidak terasa waktu berjalan dengan cepatnya usia pernikahan Clarisa dengan Adelio berjalan satu minggu. Hubungan mereka berjalan dengan harmonis saling mencintai satu dengan yang lainnya.
Berbeda jauh dengan kehidupan sahabatnya yang bernama Ririn. Ririn masih menjadi budak pemuas ranjang kakak beradik tersebut di mansion pinggiran kota yang jauh dari mana - mana selain itu Ririn yang selama seminggu menjadi pemuas ranjang kakak beradik tersebut lama - lama menjadi ketagihan dan meminta mereka melakukan secara bersama-sama.
"Ahhhhhhh..." keluar dari mulut ke dua kakak beradik tersebut begitu pula dengan Ririn secara bersamaan ketika mereka mendapatkan pelepasan.
Seperti biasa selesai melakukan hubungan suami istri adiknya bangun dari ranjang kemudian memberikan botol obat ke Ririn.
"Cepat minum karena aku tidak ingin benih kami membuatmu hamil. Sebab kami sangat membenci anak - anak," ucap pria tersebut sambil memberikan botol obat.
Tanpa banyak bicara Ririn mengambil botol tersebut kemudian memasukkan obatnya ke dalam mulutnya kemudian mengambil gelas yang berisi air mineral dan meminumnya.
'Aku juga tidak mau hamil anak Kalian karena wajah Kalian sangat jelek.' Ucap Ririn dalam hati.
"Wanita ini lama - lama sudah doll dan Aku sudah mulai bosan," ucap kakaknya sambil bangun dari ranjang.
"Aku juga Kak tapi kita apakan wanita ini?" tanya adiknya sambil berjalan ke arah kamar mandi.
"Kita cari gadis lain yang masih orisinil baru kita tendang wanita ini," jawab kakaknya tanpa punya perasaan sedikitpun.
'Sia**n kalian, aku sudah doll juga gara - gara kalian yang setiap saat melakukan hubungan suami istri. Bagaimana tidak doll kami melakukan hubungan suami istri sehari bisa empat kali secara bergiliran.' ucap Ririn dalam hati sambil menahan amarahnya.
Lima belas menit kemudian ke dua Kakak beradik tersebut sudah selesai mandi bersama dan memakai pakaian kerja. Walau mereka mandi bersama mereka pria normal masih menyukai wanita hanya saja yang tidak normal mereka sangat suka bermain bersama wanita yang sama.
"Aku sangat bosan, bolehkah aku dipinjamkan ponsel dan laptop?" tanya Ririn penuh harap.
"Bagaimana Kak?" tanya adiknya.
"Kasih saja toh wanita ini sudah memberikan kita kepuasan," jawab kakaknya tanpa ada curiga sedikitpun.
"Baiklah, itu ada laptop dan ponselku di meja tapi awas saja kalau meminta bantuan karena ponselku sudah di sadap," ancam adiknya.
"Aduh adik, wanita mu rah han ini sudah ketagihan dengan tubuh kita apa lagi semua kebutuhannya kita terpenuhi termasuk pakaian, sepatu dan tas jadi tidak mungkin meminta bantuan. Wanita ini hanya tinggal makan, tidur dan memuaskan Kita di ranjang apalagi pelayan kita mengurusi semua kebutuhan wanita ini." ucap kakaknya dengan nada menghina.
"Siapapun wanita jika hidup enak tidak mungkin kabur malah yang ada kita sering mengusir wanita yang sudah kita pakai karena sudah bosan." sambung kakaknya sambil melempar ponsel miliknya yang baru dibelinya ke arah ranjang samping Ririn berbaring.
"Terserah kakak saja," jawab adiknya.
__ADS_1
Kakaknya hanya menganggukkan kepalanya kemudian mereka keluar dari kamar Ririn yang masih terbaring di kamarnya karena tubuhnya masih lelah.
Ririn hanya diam ketika kakak beradik itu berbicara namun dalam hatinya menahan amarahnya. Walau dirinya mengakui gara - gara ulah mereka membuat Ririn ketagihan melakukan hubungan suami istri.
"Lebih baik sebelum aku di usir aku pergi dari sini dengan mengambil semua harta milik ke dua pria itu," ucap Ririn sambil mengambil ponsel yang ada di sebelahnya.
"Aku terpaksa kirim pesan ke Adelio agar Adelio menyelamatkan aku dari sini," ucap Ririn sambil mengetik nomer ponsel Adelio.
Selesai mengetik Ririn menyimpan nomernya kemudian mendownload WhatsApp setelah selesai mendownload Ririn mencari nomer kontak Adelio namun matanya membulat sempurna melihat foto profil kekasihnya yang berada di luar negeri karena latar belakangnya hujan salju bersama sahabatnya yang saling berpelukan dan memakai pakaian tebal.
"Ini Adelio dan Clarisa? Tapi mana mungkin mereka bisa foto di luar negri. Apa Mommy dan Daddy membiayai mereka? Tapi tidak mungkin karena Mommy dan Daddy mata duitan," ucap Ririn.
"Coba aku cari di Mbah google profil Adelio," ucap Ririn.
Ririn menutup aplikasi WhatsApp kemudian beralih ke google dan mengetik nama Adelio dan lagi - lagi matanya membulat sempurna.
"Dia ... Dia ... Pria terkaya nomer satu? Tidak mungkin? Adelio menikah dengan seorang gadis bernama Clarisa Bruggman, aku akan mengklik berita ini," ucap Ririn.
Ririn mengklik berita tersebut dan membaca kata demi kata tersebut hingga akhirnya Ririn sangat marah terhadap Clarisa terlebih acara pernikahan mereka dilangsungkan dengan cara sangat mewah dan meriah.
"Si*l kenapa mereka menikah? Clarisa dasar wanita tidak tahu malu pacar sahabatmu, kamu rebut. Aku akan kembali dan merebut yang menjadi milikku.'' Ucap Ririn.
Selesai berbicara Ririn berusaha bangun dari ranjang dan berjalan ke arah kamar mandi sambil memikirkan cara untuk kabur dan mengambil semua harta milik kakak beradik tersebut.
Dua puluh menit kemudian Ririn sudah selesai mandi dan memakai pakaian mahal sambil berjalan mondar mandir mencari ide jahat.
'Dua bandot tua itu kembali ke sini sore hari berarti mulai besok aku harus kabur dari sini. Saat ini aku akan berpura - pura ramah dan baik terhadap dua bandot tua itu, pelayan dan bodyguard agar terkesan kalau Aku sudah berubah menjadi orang baik agar rencana ku berjalan dengan lancar.' ucap Ririn dalam hati.
'Malamnya aku meminta hubungan suami istri di kamar mereka dengan alasan aku tidak ingin di tendang dari rumah ini dan mendukung rencana mereka untuk mencari pengganti ku. Aku akan membantu mereka untuk menjebak para gadis untuk pemuas ranjang mereka dengan begitu mereka akan mengijinkan aku melakukan apa yang aku minta.' sambung Ririn dalam hati.
'Setelah melakukan hubungan suami istri di kamar mereka, besoknya Aku akan mengambil semua harta milik mereka kemudian kabur dari sini.' ucap Ririn dalam hati setelah mendapatkan ide jahat.
Selesai mendapatkan ide jahat Ririn keluar dari kamarnya menuju ke arah ruang makan. Ririn mulai menjalankan rencananya dengan membalas sapaan mereka sambil tersenyum manis walau dalam hatinya perutnya terasa ingin mual.
Perubahan mendadak Ririn membuat penghuni mansion sangat terkejut namun dalam hati mereka sangat bahagia karena artis idola mereka berubah menjadi baik.
"Aku sangat bosan makan sendiri, apakah kalian mau menemaniku makan?" tanya Ririn dengan nada lembut.
__ADS_1
"Maaf nona, kami tidak berani," jawab para pelayan.
"Aku akan bertanya dengan kekasihku dulu apakah kita boleh makan bersama atau tidak," ucap Ririn sambil mengambil ponselnya yang diletakkan di meja.
'Hoek... Malas banget makan bersama kalian lebih baik aku makan sendiri.' ucap Ririn dalam hati sambil masih tersenyum.
"Ririn mengetik pesan singkat ke sutradara: Sayang, aku merasa bosan makan sendirian ... Hmmm ... Bolehkah aku makan bersama para pelayan?"
Selesai mengetik Ririn bersiap mengirim pesan tersebut, Ririn mencari nama sutradara di kontak telepon dan dirinya bersyukur ada nomer sutradara yang diyakini milik pria tersebut.
Selesai mengirim Ririn meletakkan kembali ponselnya kemudian menunggu jawaban dari sutradara tersebut.
"Jika nona lapar, makanlah dulu kebetulan kami sudah makan," ucap salah satu pelayan.
'Bilang kek dari tadi, aku kan lapar dasar sekumpulan orang tidak berguna.' gerutu Ririn dalam hati.
Ririn mengambil piring kemudian mengisi lauk pauk setelah selesai Ririn mulai memakan sedangkan para pelayan pergi meninggalkan Ririn.
Ting
Terdengar suara pesan dari ponsel milik Ririn dan Ririn pun terpaksa menghentikan makanannya untuk membaca pesan tersebut.
"Terserah"
'Huh kirim pesan singkat banget sedangkan aku pakai kata sayang, nyebelin banget.' gerutu Ririn dalam hati.
Ririn meletakkan kembali ponselnya kemudian melanjutkan makanannya yang sempat tertunda hingga lima belas menit kemudian Ririn sudah selesai makan.
'Apa yang harus aku lakukan? Jika aku mencuci piring nanti kuku - kuku ku yang cantik ini bisa rusak.' ucap Ririn dalam hati.
Ririn dengan ragu - ragu antara mencuci piring atau tidak hingga Ririn turun dari kursi makan bersamaan kedatangan pelayan.
"Maaf nona biar kami saja yang mencuci piring," ucap pelayan tersebut ketika Ririn mengangkat piring tersebut.
"Baiklah, maaf ngerepotin," ucap Ririn dengan nada masih ramah sambil tersenyum manis.
"Tidak apa-apa Nona itu sudah kewajiban kami," jawab pelayan tersebut.
__ADS_1
Ririn hanya tersenyum ke arah pelayan kemudian berjalan ke arah kamarnya setelah sampai Ririn duduk di ranjang sambil memikirkan apa yang harus dilakukannya.
'Jika mereka menolaknya melakukan hubungan suami istri di kamar mereka, apa yang harus aku lakukan?' tanya Ririn dalam hati sambil berfikir.