Calon Suamiku Ternyata Sangat Kaya

Calon Suamiku Ternyata Sangat Kaya
Punya Ponakan Bayi


__ADS_3

Ketika Daddy Brian ingin bicara tiba-tiba ponsel miliknya berdering membuat Daddy Brian mengambil ponselnya dari saku kemejanya.


"Pamanmu Benediktus, telepon Daddy." Ucap Daddy Brian sambil menggeser tombol berwarna hijau.


("Ada apa Benediktus?" tanya Daddy Brian tanpa basa-basi).


("Kak Brian, kok mansion Kakak sepi?" tanya Benediktus).


("Kakak dan Kakak Ipar berada di rumah sakit, Kamu ada di mansion?" tanya Daddy Brian).


("Siapa yang sakit Kak? Iya Kak, baru saja pulang dari negara A," jawab Benediktus).


("Tadi Kakak dan Kakak Ipar berencana mau menengok keadaan Clarisa tapi sampai di rumah sakit Kakak Ipar pingsan," jawab Daddy Brian menjelaskan ke adik kembarnya).


("Ponakan ipar sakit apa Kak? Terus Kakak Ipar kenapa pingsan?" tanya Benediktus).


("Kalau Clarisa nyaris keguguran sedangkan Kakak Ipar, Aku tidak tahu karena Kakak dan Adelio masih nunggu di ruang UGD," jawab Daddy Brian).


("Baik Kak, kalau begitu Benediktus akan pergi ke rumah sakit," ucap Benediktus).


("Ok, hati-hati di jalan," jawab Daddy Brian).


("Terima kasih Kak," jawab Benediktus).


("Bye," ucap Daddy Brian).


("Bye Kak," jawab Benediktus).


Tut Tut Tut Tut


Sambungan komunikasi langsung terputus kemudian Daddy Brian menyimpan kembali ponselnya di saku kemejanya sambil menatap putra sulungnya.


"Aku memangnya kenapa Dad?" Tanya ulang Adelio penasaran.


"Hanya memakai jubah handuk," Jawab Daddy Brian.


Adelio menatap ke arah baju yang dikenakan kemudian menutup wajahnya dengan ke dua tangannya sedangkan Daddy Brian mengambil ponselnya untuk menghubungi adik kembarnya yang bernama Benediktus dan sambungan pertama langsung di angkat.


("Ada apa Kak?" tanya Benediktus).


("Masih di mansion?" tanya Daddy Brian).


("Masih Kak, ini di dalam mobil mau berangkat ke rumah sakit," jawab Benediktus).


("Ambil satu stell pakaianmu atau pakaian Kakak dan bawa ke rumah sakit," pinta Daddy Brian).


("Bawa satu stell pakaianku untuk apa Kak?" tanya Benediktus sambil keluar dari mobil).


("Untuk ponakanmu Adelio, masak ke rumah sakit pakai jubah handuk," ucap Daddy Brian sambil tersenyum menyeringai).


("Pffftttt .... Hahahaha..." tawa pecah Benediktus).


Adelio yang mendengar tawa lepas dari Pamannya sangat kesal membuat Adelio mengambil ponsel milik Daddy Brian sedangkan Daddy Brian hanya bisa menggelengkan kepalanya.


("Paman Benediktus, jangan tertawa, nanti Ponakanmu yang tampan ini tidak mau membantumu jika mengalami kesulitan," ucap Adelio dengan nada kesal).


("Aish ponakan ku yang sangat tampan dan kesayangan Paman, senangnya mengancam," ucap Benediktus dengan suara meledek).


("Paman yang tampan dan baik hati, tolong ambilkan pakaian milik Paman ya." pinta Adelio).


("Baik ponakanku yang tampan," ucap Benediktus sambil masih tersenyum).


("Dasar bawel," sambung Benediktus yang sangat suka ponakannya).

__ADS_1


("Paman Benediktus," panggil Adelio dengan nada kesal).


("Iya ini lagi lari super kilat, sudah ya ponakanku .. Bye.." pamit Benediktus).


Tut Tut Tut Tut


Sambungan komunikasi langsung diputuskan secara sepihak oleh Benediktus tanpa menunggu jawaban dari Adelio. Benediktus berjalan dengan santai menuju ke arah kamarnya untuk mengambil pakaian miliknya.


Benediktus kadang menginap di mansion milik Daddy Brian karena itulah di kamarnya banyak pakaian miliknya. Bukan hanya di mansion milik Daddy Brian saja dirinya menginap di mansion milik saudara kembarnya dirinya juga kadang menginap.


Benekditus sangat suka menggoda semua ponakan dari saudara - saudara kembarnya termasuk Adelio.


Di tempat yang berbeda lebih tepatnya rumah sakit di mana Adelio memberikan ponselnya ke Daddy Brian.


"Ini Dad, ponselnya," ucap Adelio.


"Memang waktu di hotel setelah kalian melakukan hubungan suami istri, kamu tidak mengganti pakaian?" tanya Daddy Brian penasaran.


"Setelah melakukan hubungan suami istri, Clarisa pingsan Dad. Karena itulah aku langsung mandi dengan cepat dan memakai jubah handuk lalu menghubungi dokter dan anak buah Adelio untuk menyiapkan pakaian Adelio dan Clarisa setelah itu membersihkan tubuh Clarisa." Ucap Adelio.


"Tapi ketika dokter itu mengatakan kalau nyawa Clarisa dalam bahaya membuat Adelio langsung pergi tanpa memperdulikan kalau Adelio hanya memakai jubah handuk," sambung Adelio.


"Hukuman apa yang pantas untuk dokter itu?" tanya Daddy Brian sambil menahan amarahnya.


"Menurut Daddy?" tanya Adelio.


"Dokter itu sudah membuat nyawa istrimu dalam bahaya jadi biarkan dirinya dalam bahaya di mana dirinya di kejar-kejar oleh singa betina peliharaan kita," ucap Daddy Brian sambil tersenyum menyeringai.


"Adelio setuju Dad, oh ya bagaimana dengan Ririn?" tanya Adelio.


"Ririn sudah Daddy kasih pelajaran melakukan hubungan suami istri bersama para pria yang mempunyai penyakit mematikan. Umurnya tidak akan lama lagi dan sebelum ajal menjemput dirinya sangat tersiksa," ucap daddy Brian sambil tersenyum menyeringai.


''Bagus dad, orang seperti itu memang pantas mendapatkannya," ucap Adelio sambil tersenyum menyeringai.


"Bagus juga idemu, biar dia merasakan bagaimana rasanya tersiksa dan berakhir dengan kematian," ucap Daddy Brian.


"Adelio akan menghubungi anak buahku untuk memberikan hukuman wanita itu," ucap Adelio.


"Telepon saja ketika selesai melakukan itu buang mereka di tanah yang berlubang jadi jika mereka dalam keadaan sekarat tinggal di timbun dengan tanah," jawab Daddy Brian tanpa punya rasa empati sedikitpun.


"Iya dad," ucap Adelio.


Adelio mengambil ponselnya dari saku jubah handuk untuk menghubungi anak buahnya untuk memberikan pelajaran untuk dokter pribadinya setelah memerintahkan Adelio memutuskan sambungan komunikasi secara sepihak.


"Kak Adelio," panggil seorang pria tampan sambil berjalan ke arah Daddy Brian dan Adelio.


Daddy Brian dan Adelio serempak memalingkan wajahnya ke arah samping sambil tersenyum.


"Kakak, bagaimana keadaan Kakak Ipar?" tanya Benediktus sambil berjalan ke arah mereka.


"Belum tahu, kami masih menunggu," ucap Daddy Brian.


"Kalau Clarisa?" tanya Benediktus sambil menatap ponakannya.


"Sama, kami juga menunggu Paman," jawab Adelio.


Ke tiga pria tampan tersebut menghembuskan nafasnya dengan perlahan dan tidak berapa lama pintu ruang ugd terbuka membuat ke tiga pria tampan tersebut berjalan ke arah pintu yang terbuka dan tampak dua orang dokter sedang menunggu mereka.


"Bagaimana keadaan istriku Dok?" tanya Daddy Brian.


"Bagaimana keadaan Mommy dan istriku Dok?" tanya Adelio bersamaan.


"Bagaimana keadaan Mereka, Dok?" tanya Benediktus yang juga bersamaan.

__ADS_1


"Pertama untuk Nyonya Brian. Selamat tuan, istri tuan hamil," jawab dokter pertama.


"Apa hamil?" tanya ke tiga pria tampan tersebut dengan wajah terkejut.


"Iya benar, untuk mengetahui usia kandungan bisa di periksa ke dokter kandungan," jawab dokter tersebut.


"Oh ya kenapa tadi istriku pingsan?" tanya Daddy Brian.


"Kemungkinan stres karena memikirkan yang berat jadi tolong diusahakan jangan memikirkan yang berat-berat." Jawab dokter tersebut.


Daddy Brian hanya menganggukkan kepalanya dan dirinya mengerti karena dari semalam hingga pagi istrinya tidur hanya sebentar karena memikirkan Adelio.


"Untuk istriku bagaimana?" tanya Adelio.


"Untung tuan datang tepat patut jadi Ibu dan janinnya bisa diselamatkan," jawab dokter ke dua.


Adelio hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti dalam hatinya sangat bersyukur karena dirinya cepat - cepat datang ke rumah sakit.


"Oh ya, ruang perawatan nya mau disatukan atau terpisah?" tanya dokter pertama sambil sekali - sekali melirik ke arah Benediktus karena dirinya tahu kalau Benediktus belum menikah tapi sayang wajah Benediktus datar dan tidak menatap dirinya sama sekali.


"Lebih baik satukan saja," ucap Daddy Brian.


"Baik, sebentar lagi akan dipindahkan ke ruang perawatan," ucap dokter tersebut.


"Kalau begitu kami pamit mau mengecek pasien lainnya," sambung dokter ke dua.


Ke tiga pria tampan hanya menganggukkan kepalanya sedangkan ke dua dokter tersebut pergi meninggalkan ke tiga pria tampan tersebut.


"Benediktus, satu steel pakaian milikmu mana?" tanya Daddy Brian yang melihat adik kembarnya tidak membawa apa-apa.


"Astoge Kak, Benediktus lupa tadi Benediktus langsung ke rumah sakit dan tidak bawa pakaian," jawab Benediktus usil.


"Paman Benediktus." Ucap Adelio sambil menahan kesal.


"Hehehe ..." tawa Benediktus sambil menjentikkan jarinya.


Seorang bodyguard datang sambil membawa dua paper bag kemudian diberikan ke Adelio setelah selesai bodyguard tersebut pamit kemudian pergi meninggalkan ke tiga pria tampan tersebut yang wajahnya sangat mirip.


"Lain kali Paman akan Aku balas," ucap Adelio sambil menatap kesal ke arah Paman Benediktus sambil menerima dua paper bag tersebut.


"Hehehe... Jangan donk ponakan ku tersayang, Benediktus kan hanya bercanda," ucap Benediktus.


"Bercanda Paman tidak lucu," jawab Adelio yang masih menatap kesal ke arah Pamannya.


"Sudah - sudah lebih baik kamu ganti pakaian, nanti adik kecilmu masuk angin karena ngga di kurung," ucap Daddy Brian sambil menahan tawa.


"Pfftttt hahahaha..." tawa pecah Daddy Brian dan Benediktus serempak kemudian saling tos.


"Aish Daddy dan Paman Benediktus nyebelin," ucap Adelio kesal sambil berjalan meninggalkan mereka berdua.


"Ada yang marah," ucap Benediktus yang sangat suka menggoda ponakannya.


"Paman Benediktus," panggil Adelio kesal sambil menghentikan langkahnya.


"Ada apa Ponakan ku sayang?" tanya Benediktus.


"Lain kali kalau ada kesulitan di perusahaan Aku tidak akan membantu Paman," ucap Adelio sambil melanjutkan langkahnya.


"Paman kan hanya bercanda," ucap Benediktus.


Adelio tidak memperdulikannya, Adelio tetap berjalan ke ruang perawatan dan banyak para gadis dan wanita menatap Adelio dengan tatapan lapar mengingat tubuh atletis Adelio terlihat dengan jelas membuat mereka mengkhayal jika mereka berada di ranjang dan melakukan hubungan suami istri.


Adelio yang sangat mencintai istrinya tidak perduli tatapan para gadis dan wanita walau mereka berusaha untuk mencari perhatian.

__ADS_1


"Kakak, masa Benediktus sudah besar seperti ini punya ponakan bayi," ucap Benediktus sambil berjalan ke arah ruang perawatan.


__ADS_2