Calon Suamiku Ternyata Sangat Kaya

Calon Suamiku Ternyata Sangat Kaya
Empat Gadis Cantik


__ADS_3

"Masalah tentang Kak Brian bisa tahu kalau aku tidak boleh bekerja di restoran?" Tanya Calista.


"Seperti tadi Kakak bilang kalau Kakak hanya menebak saja." Jawab Brian yang tidak ingin berterus terang.


"Kak Brian, aku tahu Kakak pasti berbohong." Ucap Calista.


"Tahu darimana kalau Kakak bohong?" Tanya Brian sambil menaikkan salah satu alis matanya.


"Tahu saja, apa jangan-jangan Kak Brian yang meminta teman - teman Kak Brian untuk membantuku ketika aku di keroyok? Lalu salah satu dari mereka melaporkan ke Kak Brian?" Tanya Calista sambil menatap mata Brian.


"Dalam membina sebuah hubungan di awali kepercayaan dan kejujuran. Jika tidak, apakah Kak Brian suatu saat nanti mau aku bohongi ?" Tanya Calista sambil menatap mata Brian.


"Tentu saja tidak mau." Jawab Brian yang tidak suka dibohongi.


"Kalau begitu katakanlah sejujurnya padaku, apakah Kak Brian memerintahkan dua orang teman Kakak untuk mengikuti diriku? Apakah Kak Brian juga yang meminta ke dua teman Kak Brian untuk membantuku agar menyerang para pria yang mengeroyok diriku?" Tanya Calista beruntun sambil menatap mata Brian.


Brian menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian menganggukkan kepalanya tanda apa yang dikatakan oleh Calista benar adanya.


"Kenapa Kak Brian lakukan itu?" Tanya Calista.


"Karena Kakak tidak ingin terjadi sesuatu dengan orang yang Kakak cintai. Maaf kalau itu membuatmu tidak nyaman." Jawab Brian.


Grep


"Kenapa meminta maaf? Jujur aku sangat senang Kak Brian sangat perduli padaku." Ucap Calista sambil memeluk tubuh kekar Brian dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Brian.


Pengakuan Brian membuat Calista merasa sangat bahagia dan terharu karena baru kali ini dirinya diperlakukan seperti ini. Sedangkan Brian hanya mengusap punggung Calista.


"Calista." Panggil Brian.


"Ya." Jawab Calista singkat.


"Bisakah kamu turun dari pangkuanku?" Tanya Brian dengan suara mulai berat.


"Memang kenapa?" Tanya Calista sambil melepaskan pelukannya dengan wajah polosnya.


Tanpa sadar Calista menggerakkan pinggulnya membuat tombak sakti milik Brian bertambah keras.


"Apa kamu merasakan sesuatu di bo x ko x ng x mu?" tanya Brian.


"Merasakan Kak, adik kecil milik Kak Brian semakin bertambah keras." Jawab Calista sambil turun dari pangkuan Brian.


Brian menghembuskan nafasnya dengan lega karena dirinya berusaha melawan ha x srat x nya untuk tidak menerkam Calista. Brian perlahan memijat ke dua kakinya yang sudah kram karena Calista lumayan lama duduk di pangkuannya.


"Ke dua kaki Kakak kram." ucap Brian sambil menggerakkan ke dua kakinya dengan perlahan.


"Maaf ya Kak." Ucap Calista tidak enak hati.


"Tidak apa-apa." Jawab Brian sambil tersenyum.


"Kak Brian lapar?" Tanya Calista setelah beberapa saat mereka terdiam.


"Boleh, kebetulan Kakak lapar." Jawab Brian.


"Ok, kalau begitu aku akan memasak buat Kak Brian." Ucap Calista sambil berjalan ke arah dapur.


"Mulai besok tidak ada lagi orang yang menindas dirimu karena siapapun yang berani menindas dirimu maka Kakak akan menghancurkan orang itu termasuk keluargamu. Kakak melakukan itu karena Kakak sangat mencintaimu dan Kakak tidak akan rela orang yang Kakak cintai ditindas atau pun di fitnah oleh orang lain." Ucap Brian sambil melihat kepergian Calista ke ruang dapur.


Sepuluh menit kemudian Brian menghirup aroma wangi masakan membuat Brian berjalan ke arah dapur. Brian melihat Calista sedang memasak membuat Brian menatapnya sambil tersenyum bahagia dan berjalan ke arah Calista.


Grep

__ADS_1


"Masak apa sayang?" Tanya Brian sambil memeluk Calista dari arah belakang.


"Seperti yang Kak Brian lihat." Jawab Calista.


"Kakak Brian duduklah sebentar lagi mau selesai." Sambung Calista.


"Ok." Jawab Brian singkat.


Brian duduk di kursi makan sedangkan Calista meletakkan makanan di meja makan. Merekapun makan bersama tanpa mengeluarkan suara sedikitpun hingga lima belas menit kemudian mereka sudah makan dan minum.


"Calista." Panggil Brian.


"Ya." Jawab Calista singkat.


"Maukah ..." Ucap Brian menggantungkan kalimatnya.


"Mau apa Kak?" Tanya Calista sambil menatap wajah tampan Brian.


"Kita bicara di ruang keluarga." Ajak Brian tanpa menjawab pertanyaan Calista.


"Ok." Jawab Calista singkat sambil berdiri dan diikuti oleh Brian.


"Tapi sebelum mengobrol aku ingin mencuci piring dan gelas dulu." Ucap Calista sambil membawa piring dan gelas yang tadi mereka gunakan.


"Kakak ikut bantu." Ucap Brian sambil ikut membantu membersihkan meja makan.


Calista hanya menganggukkan kepalanya kemudian merekapun saling membantu, Calista mencuci piring dan gelas kotor sedangkan Brian membersihkan meja makan yang kotor.


Dua belas menit kemudian mereka sudah selesai membersihkan meja dan mencuci piring serta gelas. Kini mereka berada di ruang keluarga sambil duduk bersebelahan di sofa yang panjang.


"Maukah kamu ... (Menjeda kalimatnya ) ... Aku perkenalkan dengan ke dua orang tuaku?" Tanya Brian agak ragu.


"Tentu saja aku mau, kenapa Kak Brian mengatakan hal itu agak ragu?" Tanya Calista sambil menatap wajah tampan Brian.


'Ini ujian terakhir setelah ini tidak ada ujian lagi. Walau kamu menolaknya untuk tidak menemui ke dua orang tuaku tapi aku akan tetap mencintaimu dan kita akan segera menikah denganmu karena aku sangat mencintaimu sampai ajal memisahkan kita dan Aku akan berusaha agar Calista mau menemui orang tuaku dan akhirnya mau menerimanya.' Sambung Brian dalam hati.


"Pffftttt ... hahahaha ...." Tanpa menjawab Calista tertawa lepas membuat Brian menaikkan salah satu alis matanya.


"Kak Brian, aku menyukai Kak Brian apa adanya dan tentu saja aku mau berkenalan dengan orang tua Kak Brian. Selain berkenalan dengan orang tua Kak Brian aku juga ingin mengucapkan terima kasih." Ucap Calista sambil tersenyum.


"Kenapa ingin mengucapkan terima kasih?" Tanya Brian dengan wajah bingung.


Grep


Calista menaiki tubuh Brian lalu duduk di pangkuan Brian kemudian memeluknya dengan erat sedangkan Brian sangat terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Calista namun Brian hanya membalas pelukan Calista.


"Aku ingin mengucapkan terima kasih sama orang tua Kak Brian karena sudah melahirkan Kak Brian yang sangat baik, menyayangiku dan melindungi diriku dari orang yang ingin menyakitiku." Jawab Calista sambil menyandarkan kepalanya di dada bidang Brian.


"Aku sangat berharap orang tua Kak Brian menyetujui hubungan kita." Sambung Calista penuh harap.


"Orang tuaku membebaskan kami untuk mencari pasangan masing-masing jadi sudah tentu orang tuaku menyetujui hubungan kita." Ucap Brian.


"Oh ya, aku belum tahu ada berapa saudara Kak Brian?" Tanya Calista yang ingin mengenal lebih dekat keluarga Brian.


"Kakak nomer dua dari lima bersaudara, tiga laki-laki dan dua perempuan. Pertama Kak Bruno, Kakak, Benediktus, Brigitha dan Briana." Jawab Brian menjelaskan.


"Keluarga besar membuat Aku tidak sabar ingin berkenalan dengan keluarga besar Kak Brian." Ucap Calista penuh harap sambil menatap wajah tampan Brian.


"Pasti akan aku perkenalkan ke keluarga besar ku." Jawab Brian yang sudah sangat yakin Calista akan diperkenalkan oleh keluarga besarnya.


"Terima kasih." Ucap Calista sambil kembali memeluk tubuh kekar Brian dan memejamkan matanya.

__ADS_1


"Terima kasih untuk apa?" Tanya Brian sambil membelai lembut rambut Calista dengan perlahan.


"Karena aku akan diperkenalkan oleh keluarga besar Kak Brian." Jawab Calista yang merasa nyaman dan membuat Calista sangat mengantuk.


Brian hanya tersenyum kemudian ikut memejamkan matanya dan tidak membutuhkan waktu lama mereka berdua tidur dengan pulasnya.


Mimpi Brian


Brian menatap ke arah bibir Calista yang sudah menjadi candunya kemudian Brian mendekatkan wajahnya ke arah wajah Calista membuat Calista memejamkan matanya karena Calista tahu kalau Brian akan menciumnya.


Cup


Brian mencium singkat bibir Calista kemudian mencium kembali dan kini ciuman itu tidak singkat lagi melainkan berupa lu x mat x tan sedangkan tangan kanannya melepaskan kancing kemeja Calista satu demi satu.


Brian menurunkan tubuh Calista kemudian menaikinya dan entah bagaimana kini tubuh mereka polos tanpa sehelai benangpun. Brian memberikan pemanasan terlebih dahulu hingga pada akhirnya masuk ke permainan inti.


"Sayangku boleh?" Tanya Brian dengan suara mulai berat.


Calista hanya menganggukkan kepalanya karena dirinya juga ingin merasakannya terlebih dirinya percaya kalau Brian adalah pria setia. Brian tersenyum bahagia kemudian dengan perlahan menuntun tombak saktinya menuju ke arah goa yang belum pernah dimasukin oleh siapapun.


Dihentakan pertama Brian gagal dan dihentakan ke dua baru saja kepala tombak saktinya berhasil masuk ke dalam goa bersamaan Calista meringis menahan rasa perih.


"Lanjut atau berhenti?" Tanya Brian sambil menahan tubuhnya agar tombak saktinya tidak masuk ke dalam.


Calista memejamkan matanya antara lanjut atau teruskan membuat Calista menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian membuka matanya.


"Lanjutkan, aku akan menahan rasa sakit." Jawab Calista.


"Kamu yakin?" Tanya Brian.


"Aku sangat yakin." Jawab Calista.


"Baiklah, kamu jangan menyesali atas semua keputusanmu karena aku tidak akan bisa menghentikannya." Ucap Brian sambil perlahan mendorong pinggulnya agar masuk lebih dalam.


Jleb


"Akhhhhhhhh!" teriak Calista.


Brian berhasil membobol gawang milik Calista bersamaan Calista berteriak kesakitan. Brian yang tidak tega mendiamkan tombak saktinya kemudian memberikan pemanasan kembali agar rasa sakit pada bagian privasi milik Calista teralihkan.


Tidak berapa lama rasa perih terganti dengan rasa nikmat, Brian menggoyangkan pinggulnya secara berulang-ulang hingga setengah jam kemudian keluarlah lahar milik Brian.


Tidak berapa lama Brian menarik tombak saktinya dan melihat ada bercak darah membuat Brian tersenyum bahagia karena dirinya pria pertama yang melakukannya.


Ting Tong


"Terima kasih sayang, karena Kakak pria pertama yang melakukan ..." Ucapan Brian terputus karena tiba-tiba terdengar bunyi bel.


Ting Tong


Tiba - tiba terdengar suara bel apartemen kembali berbunyi membuat Calista dan Brian yang tidur dengan pulasnya memaksakan membuka matanya.


"Ada tamu, aku akan membuka pintunya." Ucap Calista sambil turun dari tubuh Brian dan berjalan ke arah pintu apartemen.


"Ok." Jawab Brian singkat yang wajahnya masih bingung.


'Ternyata aku mimpi tapi kenapa seperti benaran?' Tanya Brian dalam hati dengan wajah bingung.


'Si*l, celanaku basah lagi.' Sambung Brian dalam hati sambil berdiri dan berjalan ke arah kamarnya.


Tanpa menunggu lebih lama Brian berjalan dengan langkah cepat untuk membersihkan tombak saktinya yang sudah mengeluarkan laharnya dan mengotori celana panjangnya.

__ADS_1


Sedangkan Calista membuka pintunya dan menatap ke arah empat tamunya di mana ada empat gadis cantik. Dua gadis menatapnya dengan tatapan bingung dan dua gadis lagi menatap dirinya dari atas hingga ke bawah membuat Calista tidak betah.


"Maaf, mau bertemu dengan siapa?" Tanya Calista sambil berusaha tersenyum.


__ADS_2