
Adelio menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian menatap wajah cantik istrinya. Adelio menjentikkan jarinya sebanyak dua kali kemudian tiba-tiba datang dua puluh anak buahnya dan berjalan ke arah Adelio.
"Kosongkan ruangan ini," perintah Adelio.
"Baik tuan," jawab para bodyguardnya.
Bodyguard tersebut memerintahkan semua penghuni lantai satu namun dilarang oleh Clarisa.
"Jangan, mereka ingin berobat lebih baik kita bicara di tempat yang tidak di dengar oleh orang lain," ucap Clarisa.
"Baiklah, kalau begitu kita bicara di ruangan ku" ucap Adelio.
"Ruangan kak Adelio?" tanya ulang Clarisa.
"Ya benar, rumah sakit ini milik ku," jawab Adelio.
Clarisa hanya menganggukkan kepalanya kemudian mereka berjalan ke ruangan Adelio. Adelio yang ingin memeluk istrinya hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan perlahan pasalnya Clarisa tidak mau di peluk.
Kini mereka sudah sampai di ruangan Adelio. Adelio dan Clarisa duduk saling berhadapan hanya di batasi oleh meja kemudian Adelio mulai menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutup - tutupi dari awal dirinya meminta Ririn untuk bertemu di hotel hingga dirinya tidur bersama Clarisa termasuk Ririn memberikan obat untuk Clarisa.
Clarisa yang mendengarnya hanya diam sambil menunggu Adelio selesai bercerita namun air matanya mengalir karena dirinya tidak menyangka sahabatnya sangat jahat padanya.
"Itulah yang terjadi," ucap Adelio mengakhiri ceritanya.
"Kak Adelio tahu, ketika kita melakukan hubungan suami pertama kali aku sangat sedih karena kak Adelio bukan pria pertama yang menyentuh tubuhku dan aku selalu merasa tidak pantas mendapatkan pria sebaik dirimu," ucap Clarisa.
"Setiap malam aku menangis karena merasa diriku kotor tidur bersama pria asing dan suamiku yang sangat sempurna mau menerimaku wanita yang sudah kotor ini," sambung Clarisa.
"Jika saja saat itu kak Adelio bilang padaku aku tidak dihantui rasa bersalah karena tidak bisa menjaga kehormatan ku dan menganggap diriku wanita kotor," sambung Clarisa lagi dengan air mata tidak berhenti keluar.
Adelio berjalan ke arah Clarisa kemudian berlutut sambil menggenggam tangan Clarisa.
"Maafkan aku, saat itu aku ingin mengatakan padamu tapi aku takut kamu marah dan membenciku. Kita sama - sama korban dari sahabat mu," ucap Adelio.
"Aku ingin kak Adelio jujur padaku, siapa yang kak Adelio cintai aku atau sahabat ku? Ingat aku tidak suka dibohongi lagi," ucap Clarisa.
"Jujur aku ada perasaan dengan Ririn sebelum kejadian tersebut namun setelah kejadian tersebut perasaanku langsung hilang ketika Ririn membohongi diriku dan juga tega menjebak kita. Seiring berjalannya waktu aku mulai menyukaimu dan kamu sangat berbeda dengan Ririn atau wanita lain," jawab Adelio.
"Jika ada wanita yang sangat cantik, seksi dan lebih segalanya dariku kemungkinan besar suamiku meninggalkan aku dan menikah dengan wanita lain," ucap Clarisa.
"Itu tidak mungkin karena aku sangat mencintaimu dan di hatiku dipenuhi namamu Clarisa, istri yang sangat aku cintai. Jadi tidak ada tempat untuk wanita lain baik sekarang, besok, lusa atau pun yang akan datang," jawab Adelio.
"Jika kamu tidak percaya padaku, aku akan menyerahkan semua aset berhargaku atas nama kamu sebagai bukti kalau aku sangat tulus mencintaimu," Sambung Adelio.
"Duduklah di sebelah ku," ucap Clarisa sambil menarik tangan Adelio.
Adelio tersenyum kemudian berdiri lalu duduk di samping istrinya.
"Aku tidak membutuhkan itu semua karena yang aku butuhkan kak Adelio setia padaku dan jangan pernah melukai hatiku karena jika itu terjadi aku akan pergi dari kehidupan kak Adelio," ucap Clarisa dengan tegas.
Grep
"Aku laki - laki bo doh jika melepaskan dirimu karena aku sangat mencintaimu,'' ucap Adelio sambil memeluk istrinya.
''Aku juga sangat mencintaimu tapi aku mohon jangan membohongi aku lagi karena aku tidak suka dibohongi,'' jawab Clarisa sambil membalas pelukan Adelio.
'Mengenai aku ketua mafia maaf saat ini aku belum bisa mengatakannya namun jika saatnya tepat aku pasti akan mengatakannya.' ucap Adelio dalam hati.
Setelah beberapa saat mereka melepaskan pelukannya kemudian Adelio mengecup kening istrinya dengan lembut.
''Terima kasih kamu sudah hadir dalam kehidupan ku dan aku akan selalu menjagamu," ucap Adelio.
"Aku juga terima kasih karena kak Adelio hadir dalam kehidupanku," ucap Clarisa.
"Kok masih kak Adelio?" tanya Adelio dengan wajah di tekuk.
"Maaf darling, kita ke ruangan dokter kandungan yuk," ajak Clarisa sambil turun dari sofa.
"Ayo sayang," jawab Adelio sambil ikut turun dari sofa.
Clarisa berjalan sambil membalas pelukan suaminya membuat Adelio tersenyum bahagia namun baru beberapa langkah kepala Clarisa terasa pusing membuat Clarisa menghentikan langkahnya.
"Darling kepalaku pusing," ucap Clarisa sambil menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.
"Pusing kenapa sayang?" tanya Adelio sambil menghentikan langkahnya dan memeluk istri mungilnya dari arah samping dengan wajah kuatir.
Bruk
"Tidak tahu kenapa kepalaku pusing seka ..." ucapan Clarisa berhenti bersamaan Clarisa tidak sadarkan diri.
"Clarisa!!" teriak Adelio dengan wajah kuatir
Adelio menggendong tubuh istrinya dan keluar dari ruangannya menuju ke ruang UGD dengan perasaan kuatir dan berharap Clarisa baik - baik saja.
Kini Adelio duduk sambil menatap ke arah pintu UGD sambil berharap istrinya baik - baik saja.
'Aku berjanji untuk menjaga dan melindungi mu dari orang yang berniat memisahkan kita. Clarisa dan Ririn walau wajah hampir mirip dan tinggi kalian sama tapi aku bisa membedakannya jadi cara apapun yang kamu lakukan aku tidak akan mungkin tertipu.' ucap Adelio dalam hati.
Tidak berapa lama ponsel milik Adelio berdering membuat Adelio mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menghubungi dirinya.
"Daddy telepon," ucap Adelio sambil menggeser tombol berwarna hijau.
__ADS_1
("Hallo dad," panggil Adelio).
("Kalian sudah mengecek ke dokter kandungan? Anaknya kembar atau satu?" tanya Daddy Brian penasaran).
("Belum Dad, tadi ada masalah," jawab Adelio).
("Masalah? Masalah apa?" tanya Daddy Brian dengan nada terkejut).
("Ririn datang dad dan mengatakan semuanya," jawab Adelio).
("Kamu tidak kembali ke Ririn kan?" tanya Daddy Brian).
("Tidak dad," jawab Adelio).
("Bagus, jangan sampai kamu tertarik atau berani menjalin hubungan dengan wanita lain karena menurut Daddy kalau Clarisa adalah wanita baik - baik dan juga wanita berbeda seperti wanita lainnya seperti Mommy mu," ucap Daddy Brian).
("Iya Dad, Adelio tahu karena itulah Adelio tetap mempertahankan Clarisa," jawab Adelio).
("Bagus, sekarang kalian ada di mana?" tanya Daddy Brian).
("Adelio lagi menunggu Clarisa di ruang UGD tadi Clarisa tidak sadarkan diri," jawab Adelio).
("Semoga menantu Daddy dan Mommy baik - baik saja," ucap Daddy Brian).
("Amin dad, oh ya Daddy telepon ada apa Dad?" tanya Adelio).
("Ini mau menanyakan Clarisa suka makan apa? Biar daddy masakin buat menantu kesayangan Daddy," jawab Daddy Brian).
("Clarisa suka apa saja dad," jawab Adelio).
("Ok, kalau begitu daddy akan masak buat calon menantu daddy," jawab Daddy Brian).
("Terima kasih dad," jawab Adelio).
("Terima kasih untuk apa?" tanya Daddy Brian).
("Terima kasih karena Daddy sangat baik sama Clarisa," jawab Adelio).
("Tidak perlu berterima kasih karena bagi Daddy kalian semua adalah harta berharga Daddy jadi Daddy bersedia melakukan apapun untuk kalian," jawab Daddy Brian).
("Adelio sangat bangga dan bahagia mempunyai orang tua seperti daddy dan mommy. Adelio akan melakukan apapun untuk membahagiakan Mommy dan Daddy," jawab Adelio).
("Daddy sangat bahagia mendengarnya, kalau ada apa-apa kabarin Daddy," ucap Daddy Brian).
("Baik dad," jawab Adelio).
Tut Tut Tut Tut
"Bagaimana keadaan istriku dok?" tanya Adelio dengan nada kuatir.
"Keadaan nyonya baik - baik saja dan sebentar lagi akan dipindahkan ke ruang perawatan,'' jawab dokter tersebut.
"Kalau baik - baik saja, kenapa istriku pingsan?" tanya Adelio.
"Karena nyonya hamil dan saya minta jangan membuatnya stress dan untuk lebih memastikan usia kandungan tuan bisa mengeceknya dengan dokter kandungan," jawab dokter tersebut
"Apa? Hamil dok?" tanya Adelio dengan wajah terkejut.
"Iya hamil karena pas saya cek dengan menggunakan stetoskop saya mendengar detak jantung jadi kemungkinan besar istri tuan sedang hamil," jawab dokter tersebut.
"Baik dok, nanti kami akan memeriksa di dokter kandungan," ucap Adelio sambil tersenyum bahagia.
"Kalau begitu saya permisi dulu tuan, karena saya mau mengecek pasien lainnya," ucap dokter tersebut.
Adelio hanya menganggukkan kepalanya kemudian dokter itupun pergi meninggalkan Adelio bersamaan pintu UGD di buka oleh perawat. Dua perawat mendorong brangkar di mana Clarisa berbaring.
Kini Adelio duduk di kursi dekat ranjang Clarisa sambil menggenggam tangan istrinya dan menatapnya sambil tersenyum bahagia karena istrinya hamil. Perlahan jari jemari Clarisa bergerak bersamaan ke dua mata Clarisa membuka.
"Apa ada yang sakit sayang?" tanya Adelio ketika melihat istrinya membuka matanya.
"Tidak ada, aku di mana?" tanya Clarisa sambil memegangi kepalanya yang masih terasa pusing.
"Di rumah sakit, tadi pingsan," jawab Adelio sambil mengecup punggung tangan Clarisa.
"Aku sakit apa?" tanya Clarisa.
"Mami tidak sakit tapi mami hamil," jawab Adelio.
"Apa hamil?? Kok panggilannya berubah menjadi Mami?" tanya Clarisa dengan wajah masih bingung.
"Iya Mami hamil, panggilannya sekarang dan seterusnya berubah menjadi Mami," jawab Adelio.
"Papi dan Mami, apakah Mami suka?" tanya Adelio.
"Tentu saja suka," jawab Clarisa sambil tersenyum bahagia.
"Oh ya tadi Daddy telepon mau masakin buat mami," ucap Adelio.
"Kalau begitu kita ke rumah Daddy dan Mommy," ucap Clarisa sambil bangun dari ranjang.
"Apakah Mami kuat? Soalnya tadi Mami pingsan," ucap Adelio.
__ADS_1
"Mami kuat kok Pi," ucap Clarisa.
"Papi akan panggil dokter tapi sebelumnya Kita ke dokter kandungan dulu," ucap Adelio.
"Ok," jawab Clarisa singkat.
Adelio menekan bel yang menempel di dinding yang tidak jauh dari kepala Clarisa. Tidak berapa lama pintu ruang perawatan di buka tampak dokter dan perawat masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Ada yang bisa saya bantu tuan dan nyonya?" tanya dokter tersebut.
"Istriku ingin pulang, apakah diperbolehkan pulang?" tanah Adelio.
"Sebentar tuan," ucap dokter tersebut.
Dokter itu pun mulai memeriksa keadaan Clarisa dengan di bantu oleh perawat setelah beberapa saat perawat tersebut melepaskan selang infus.
"Kondisinya sudah membaik dan boleh pulang," ucap dokter tersebut.
"Terima kasih dok," ucap Clarisa.
"Sama-sama Nyonya, sudah menjadi tugas saya Nyonya," jawab dokter tersebut sambil tersenyum.
"Apakah ada yang lainnya tuan dan nyonya?" tanya dokter tersebut.
"Tidak ada dok," jawab Clarisa.
"Kalau begitu, kami pergi dulu untuk mengecek kondisi pasien lainnya," ucap dokter tersebut.
"Sekali lagi terima kasih banyak dok," ucap Clarisa sambil tersenyum.
"Sama-sama Nyonya dan sudah menjadi tugas saya," jawab dokter tersebut.
'Nyonya Adelio memang sangat berbeda tidak seperti wanita lain yang sangat sombong dan angkuh sama semua orang.' ucap dokter dan perawat itu dalam hati.
'Aku sangat bahagia dan bersyukur bisa menikah dengan Clarisa karena Clarisa sangat menghargai orang lain tidak seperti Ririn yang selalu merendahkan orang lain.' ucap Adelio dalam hati.
Dokter dan perawat tersebut pergi meninggalkan ruang perawatan sedangkan Adelio membantu istrinya untuk turun dari ranjang. Adelio memeluk istrinya dari arah samping membuat Clarisa membalas pelukan suaminya.
Adelio dan Clarisa keluar dari ruang perawatan dan berjalan ke arah ruang dokter kandungan dan tidak perlu antri. Clarisa berbaring di ranjang dengan di bantu Adelio kemudian perawat mengangkat perlahan dress milik Clarisa ke atas kemudian menyelimuti tubuh Clarisa sampai ke pinggang.
Perawat tersebut memberikan gel dingin di perut Clarisa kemudian dokter memberikan stik ke perut Clarisa.
"Selamat ya tuan dan nyonya, anaknya kembar dua," ucap dokter tersebut sambil menunjuk ke arah layar monitor di hadapan mereka.
"Kok bentuknya seperti itu?" tanya Adelio dengan wajah polosnya.
"Memang seperti itu tuan nanti dengan bertambahnya bulan akan berubah bentuknya," jawab dokter tersebut.
Adelio hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Dokter itupun melanjutkan ucapannya memberikan informasi ke Adelio dan Clarisa.
Setelah selesai perawat tersebut membersihkan sisa gel di perut Clarisa dengan menggunakan tissue kemudian membantu Clarisa menurunkan dress-nya.
Adelio membantu istrinya turun dari ranjang kemudian mereka berjalan ke arah kursi dan duduk berhadapan dengan dokter kandungan yang hanya di batasi oleh meja.
"Oh ya dok, selama hamil apakah kami boleh melakukan hubungan suami istri?" tanya Adelio vulgar.
Bugh
Clarisa sangat malu membuat Clarisa memukul bahu suaminya tapi Adelio tidak marah tapi malah tersenyum melihat wajah merah Clarisa membuat dokter tersebut ikut tersenyum.
"Untuk saat ini jangan dulu tuan sampai kandungannya kuat," jawab dokter kandungan.
"Oh ya, ini saya berikan resep untuk memperkuat kandungan dan vitamin," ucap dokter kandungan sambil menulis resep kemudian diberikan ke Clarisa.
"Terima kasih dok," ucap Clarisa sambil menerima resep tersebut.
"Sama-sama Nyonya," ucap dokter kandungan.
"Kalau begitu saya permisi dok," pamit Clarisa.
"Silahkan Nyonya, tuan," ucap dokter tersebut.
Clarisa hanya tersenyum kemudian pergi meninggalkan ruang dokter kandungan sambil membalas pelukan suaminya menuju ke ruang apotik.
"Papi, Mami pergi ke toilet dulu," ucap Clarisa.
"Papi temani ya?" ucap Adelio.
"Tidak usah Pi, dekat ini kok," jawab Clarisa.
"Ok," jawab Adelio.
Clarisa berjalan ke arah toilet sedangkan Adelio duduk di kursi menunggu di panggil untuk mengambil obat vitamin dan penguat kandungan.
Tanpa curiga Clarisa berjalan ke arah toilet hingga tiba - tiba tengkuknya di pukul dari belakang dengan menggunakan satu tangan.
Bugh
Bruk
"Cepat bawa wanita ini keluar dari rumah sakit," perintah seorang pria.
__ADS_1