
Di tempat yang berbeda, di mana ada sebuah mansion yang jauh dari keramaian karena berada di tengah - tengah hutan di mana sekelilingnya di kelilingi oleh tembok.
Mereka bisa masuk ke dalam mansion dengan menggunakan helikopter dan helikopter akan datang jika diperintahkan.
Ke dua orang tua Valen, Valen dan suaminya yang bernama Vincent kini berada di dalam mansion bersama para bodyguard milik keluarga besar Alvaro.
"Di sana ada sikat WC dan tugas kalian berempat adalah membersihkan semua toilet yang ada di sini!" perintah bodyguard tersebut.
"Tidak mau!" teriak mereka berempat dengan serempak.
"Kalian sungguh tidak mau?" Tanya salah satu pria tersebut yang diberikan kepercayaan oleh Brian sambil menaikkan salah satu alis matanya.
"Tentu saja." Jawab mereka bersamaan.
"Enak saja menyuruh kami untuk membersihkan semua kamar mandi yang ada di sini." Omel Ririn ibunya Valen.
"Kalian lihat kami itu orang kaya, masa orang kaya membersihkan kamar mandi, dasar kalian orang-orang miskin.' hina Valen.
"Baiklah, aku tidak akan memaksa." ucap pria tersebut dengan nada santai.
"Baguslah kamu memang cerdas, sekarang keluarkan kami dari sini." ucap Valen sambil tersenyum menyeringai begitu pula dengan mereka bertiga.
"Kalian tinggallah di sini selama-lamanya sampai kalian ma ti." Ucap pria tersebut sambil tersenyum devil.
"Apa?" teriak mereka bersamaan.
"Kita tinggalkan mereka dengan kondisi kelaparan dan akhirnya mati karena tidak ada makanan." Ucap pria tersebut tanpa memperdulikan teriakan mereka berempat.
Selesai mengatakan hal itu pria tersebut membalikkan badannya begitu pula dengan para bodyguardnya namun mereka berempat menghentikan para bodyguard dan pria tersebut karena tidak mau mati kelaparan.
"Tunggu!" Teriak mereka bersamaan.
Pria itupun menghentikan langkahnya begitu pula dengan para bodyguardnya tanpa membalikkan badannya. Vincent dan Ayah mertuanya saling menatap kemudian menganggukkan kepalanya begitu pula dengan Ririn dan Valen.
Mereka berempat mengambil sapu dan gagang pel dengan serempak karena mereka berencana untuk menyerang ke arah pria tersebut dan para bodyguard yang membelakangi mereka.
"Hiaaaaaa.... !" teriak mereka bersamaan sambil mengangkat sapu dan gagang pel.
Pria tersebut dan para bodyguard yang bisa merasakan ada pergerakan langsung membalikkan badannya.
"Ciattttttt ..." ucap mereka bersamaan.
Tap Tap Tap Tap
Bugh Bugh Duag Duag
"Akhhhhhhhh ...!" Teriak mereka berempat secara bersamaan.
Bruk Bruk Bruk Bruk
Pria tersebut hanya menatap mereka dengan datar sambil menjentikkan jarinya dan ke empat bodyguard tersebut langsung berteriak sambil tangan kirinya ada yang menangkap sapu dan ada yang menangkap gagang pel kemudian di susul dua bodyguard memukul wajah mulus Ririn dan Valen dengan sangat keras.
Hingga hidung Ririn dan Valen mengeluarkan darah segar membuat ke dua wanita tersebut berteriak kesakitan sambil memegangi wajahnya. Berbeda dengan Ayahnya Calista sekaligus Ayahnya Valen dan Vincent, mereka berdua masing - masing di tendang pada bagian perutnya.
Mereka berempat langsung berlutut menahan rasa sakit yang berbeda. Ririn dan Valen sakit pada wajahnya sedangkan Ayahnya Calista dan Vincent sakit pada perutnya.
"Cihhhhh ... Kalian jangan percaya diri untuk bisa menyentuh kami ataupun mempunyai pikiran untuk melawan kami karena kami tidak segan-segan untuk menghukum kalian." Ucap pria tersebut.
"Dua jam lagi waktunya makan sore jadi bersihkan semua kamar mandi di mansion ini kecuali lantai empat atau kalian tidak akan mendapatkan makanan sama sekali." sambung pria tersebut sambil membalikkan badannya begitu pula dengan para bodyguardnya.
"Ingat semuanya harus membersihkan kamar mandi jika sampai kami melihat ada yang tidak membersihkan kamar mandi jangan harap mendapatkan makanan." Ucap pria tersebut dengan nada tegas karena pria tersebut bisa menebak apa yang akan dipikiran Ririn dan Valen.
__ADS_1
"Oh ya satu lagi jangan pernah berpikiran untuk masuk ke lantai empat. Jika sampai ada yang berani maka bersiaplah untuk menerima hukuman yang tidak pernah kalian bayangkan." sambung pria tersebut.
Selesai mengatakan hal itu mereka pergi meninggalkan tempat tersebut menuju ke lantai empat di mana kamar mereka berada dengan menggunakan lift.
"Bagaimana ini? Aku sudah mulai lapar?" Tanya Ririn.
"Aku juga sama tapi aku tidak mau jika aku harus membersihkan kamar mandi yang sangat bau." Ucap Valen.
"Ayah akan bersihkan karena Ayah tidak mau mati kelaparan." Ucap Ayahnya sambil mengambil sikat.
"Aku juga." Ucap Vincent.
Ayahnya dan Vincent sebenarnya sangat terpaksa demi dirinya tidak mati kelaparan karena mereka tidak bisa menahan rasa lapar.
"Pasti bau, aku tidak mau." Jawab ke dua wanita tersebut.
"Terserah kalian karena aku tidak ingin mati kelaparan." Ucap Ayahnya sambil pergi menuju ke arah kamar mandi begitu pula dengan Vincent.
Ririn dan Valen menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian mengambil sikat. Mereka tidak mengetahui kalau ini adalah awal dari hukuman pertama mereka berempat karena ada lagi hukuman yang ke dua dan seterusnya sesuai apa yang diperintahkan oleh Brian.
Brian melakukan itu agar mereka merasakan apa yang pernah dirasakan oleh Calista.
Ke empat orang tersebut masuk ke dalam kamar mewah masing-masing membuat mereka bernafas lega karena kamar tersebut sangat rapi dan sudah pasti kamar mandinya pasti bersih.
"Kamarnya saja rapi, harum dan bersih pastinya kamar mandinya rapi, harum dan bersih tidak seperti yang aku bayangkan." ucap mereka bersamaan.
Ceklek
"Hoek .... Hoek .... Hoek ..."
Mereka serempak keluar dari kamar mandi masing - masing dan berlari keluar dari kamar tersebut.
"Ririn, Valen dan Vincent kenapa kalian pada keluar dari kamar?" Tanya Ayahnya.
"Aduh Ayah bau banget kamar mandinya." Ucap mereka bertiga bersamaan.
"Ayah juga sama, bikin Ayah mual." Ucap Ayahnya.
"Cepat bersihkan!" Teriak seseorang.
Mereka serempak menatap ke arah sumber suara dan melihat Brian sedang menatapnya dengan tatapan dingin begitu pula dengan dua bodyguard yang berada di belakangnya.
"Aku akan laporkan pada putriku agar tidak mau menikah dengan pria sejahat dirimu." Ucap Ayahnya Calista penuh percaya diri.
"Betul, aku juga akan melaporkan agar Calista meninggalkanmu." Ucap Ririn dan Valen bersamaan.
"Pffftttt.... Hahahaha..." Tawa Brian dan ke dua bodyguard bersamaan.
"Aku jahat? Bagaimana dengan kalian? Kalian baru melakukan sekali saja sudah mengeluh dan mengatakan aku jahat. Bagaimana dengan Calista? Setiap hari Calista membersihkan kamar mandi yang sangat bau dan kalian berdua sengaja membuat kamar mandi bau. Lebih Jahat mana? Aku atau kalian berdua?" Tanya Brian sambil menggenggam erat ke dua tangannya menahan amarahnya dan menatap tajam ke arah Ririn dan Valen.
"Kini kalian tahu bagaimana rasanya tersiksanya dulu Calista menahan rasa bau yang sengaja kalian berbuat." Sambung Brian.
"Bersihkan kamar mandinya jika tidak maka kami tidak segan-segan menembak salah satu kaki kalian." Ucap anak buahnya Brian.
Ke empat orang tersebut saling memandang seperti mengatakan apakah melakukan itu atau tidak.
"Calista itu pembohong besar, kami tidak pernah menyiksa atau melakukan sesuatu yang jahat terhadap Calista." Ucap Ririn berbohong.
"Benar sekali, justru aku dan Ibuku yang setiap hari melakukan pekerjaan rumah." Sambung Valen.
Brian sangat kesal mendengar kebohongan mereka membuat Brian menjentikkan jarinya. Dua anak buahnya langsung mengarahkan tembakan ke mereka kemudian menekan pelatuknya.
__ADS_1
"Cih ... pistol mainan kami tidak takut." Ucap Ririn dan Valen bersamaan.
Dor Dor Dor Dor Dor
"Akhhhhhhhh...." Teriak Ririn dan Valen bersamaan.
Bruk Bruk
Ke dua bodyguard tersebut menembak ke arah Ririn dan Valen. Walau pistol mainan dan pelurunya juga mainan tapi jika mengenai tubuh tetap saja sakit membuat ke dua wanita itu berteriak kesakitan hingga jatuh bersamaan.
"Bersihkan sekarang? Atau kami tembak dengan pistol mainan." Ancam Brian.
Tanpa banyak bicara mereka berempat masuk ke dalam kamar menuju ke arah kamar mandi. Di mana kamar mandi tersebut sangat kotor dan bau.
xxxxxxx Flash Back On xxxxxxx
"Tuan menyuruh kita agar semua kamar mandi di mansion ini diberikan kotoran seperti bangkai tikus, bangkai ayam, sampah yang sangat bau dan jika buang air kecil jangan di siram." Ucap orang kepercayaan Brian.
"Apa? Lalu kami nanti ke kamar mandi bagaimana?" Tanya para anak buahnya dengan wajah terkejut.
"Kecuali lantai empat di mana lantai empat adalah kamar kita jadi biarkan tetap bersih. Usahakan kalian makan jengkol dan pete agar mereka pingsan ketika membersihkannya." Jawab orang kepercayaannya sambil tersenyum menyeringai.
"Tuan Muda, ada - ada saja." ucap salah satu anak buahnya sambil menggelengkan kepalanya.
"Iya biasanya menghukum tahanan tidak seperti itu." Ucap yang lainnya sambil senyum-senyum sendiri.
"Itu karena mereka sangat jahat terhadap kekasihnya Tuan Muda Brian. Mereka pernah melakukan seperti itu terhadap kekasihnya Tuan Muda karena itulah Tuan Muda melakukannya agar mereka merasakan apa yang dulu pernah dirasakan oleh kekasihnya Tuan Muda." Jawab orang kepercayaannya menjelaskan.
"Apa? Jahat sekali mereka, baik kami akan melakukan secepat mungkin." Ucap mereka bersamaan sambil menahan amarahnya.
Merekapun melakukan seperti apa yang diperintahkan oleh orang kepercayaan Brian sedangkan pria tersebut kembali ke dalam kamar pribadinya.
xxxxxxx Flash Back Off xxxxxxxx
"Awasi mereka dan jangan segan-segan untuk menembak mereka dengan peluru mainan jika mereka tidak menuruti permintaan kalian!" Perintah Brian.
"Baik Tuan." Jawab mereka bersamaan.
"Aku ingin mereka tersiksa seperti yang dulu dialami oleh kekasihku dan jangan lupa setelah mereka membersihkan kamar mandi berikan makanan basi sama seperti dulu kekasihku makan makanan basi." Ucap Brian dengan nada dingin.
"Besok hukuman masih sama membersihkan kamar mandi sampai kamar mandi bersih barulah melanjutkan hukuman berikutnya. Kabarin aku jika kamar mandinya bersih seperti semula." Ucap Brian.
"Baik Tuan." Jawab mereka bersamaan.
"Maaf Tuan, untuk tempat tidur mereka apakah mereka tetap tidur di gudang?" Tanya orang kepercayaannya untuk memastikan.
"Mereka tetap tidur di gudang belakang agar mereka merasakan apa yang dirasakan oleh Kekasih ku." Jawab Brian.
Gudang belakang adalah tempat penyimpanan barang-barang yang sudah tidak terpakai atau sudah rusak seperti kursi, sofa, lemari dan meja. Kebanyakan sudah lapuk karena di makan rayap di tambah banyaknya debu di dalam gudang tersebut.
Bisa dipastikan mereka sangat tersiksa jika harus tidur di gudang tersebut. Belum lagi Brian menyuruh anak buahnya untuk membuang beberapa bangkai tikus dan bisa dipastikan baunya seperti apa.
"Baik Tuan." Jawab anak buahnya dengan patuh.
Brian hanya menganggukkan kepalanya kemudian berjalan ke arah lift dengan diikuti oleh orang kepercayaannya. Sampai di atas rooftop Brian naik pesawat di mana pilot sedang menunggunya.
Satu jam kemudian Brian sudah sampai di mansion milik ke dua orang tuanya di mana Calista sedang berkunjung bersama ke dua adik kembar nya Brigitha dan Briana.
"Kak Brian, habis darimana?" Tanya Calista ketika melihat Brian berjalan ke arah ruang keluarga.
Brian tersenyum melihat wajah cantik Calista yang sedang berjalan ke arah dirinya membuat ke dua orang tuanya dan saudara-saudara kembar nya ikut tersenyum bahagia karena melihat Brian selalu tersenyum bahagia sejak mengenal Calista.
__ADS_1