
"Dad, kalau ditembak ma ti terlalu enak buat mereka," ucap Daddy Brian .
"Benar sekali, kalau begitu tembak ke dua kakinya biar mereka tidak bisa berjalan," ucap Daddy Alvaro dengan nada dingin.
"Baik Dad," jawab mereka serempak kecuali Benekditus hanya diam saja.
Dor
Dor
Dor
"Akhhhhhhhh..."teriak Valen, Moko dan Ririn secara bersamaan.
Bruk
Bruk
Bruk
Daddy Alvaro, Bruno dan Daddy Brian masing-masing menembak kaki Valen, Moko dan Ririn secara bersamaan membuat ke tiganya langsung ambruk sedangkan anak buah lainnya sudah ma ti semuanya di tembak oleh anak buah Daddy Alvaro, Bruno dan Daddy Brian.
Benekditus tidak menembak hanya mengamati jika seandainya Mereka bertiga berbuat curang dengan tatapan datar dan dingin.
"Hukuman ini belum seberapa karena masih ada hukuman selanjutnya," ucap Daddy Brian sambil tersenyum menyeringai.
"Bawa mereka ke markas!" Perintah Daddy Alvaro.
"Baik Tuan," jawab anak buahnya dengan serempak.
Valen, Moko dan Ririn di bawa oleh para anak buahnya ke markas milik Daddy Alvaro, hingga menyisakan Daddy Alvaro, Bruno, Daddy Brian dan Benekditus.
"Lebih baik Bruno dan Brian kembali ke rumah sakit." ucap Daddy Alvaro.
"Lalu mereka bertiga Dad?" tanya Daddy Brian dan Bruno bersamaan.
"Biar Daddy dan Benekditus yang menghukum Mereka," Jawab Daddy Alvaro .
"Tapi Dad ..." ucapan Daddy Brian terpotong oleh Daddy Alvaro .
"Lebih baik Brian menemani istrimu dan sekalian temani Mommy kalian biar Daddy dan Benekditus menghukum mereka." ucap Daddy Brian dengan nada tegas.
"Baik Dad," jawab Daddy Brian dan Bruno bersamaan dengan patuh.
"Kita satu mobil saja," ucap Daddy Brian .
"Ok," jawab Benekditus singkat dan padat.
Daddy Alvaro dan Benekditus satu mobil dan duduk di kursi belakang pengemudi begitu pula dengan Daddy Brian dan Bruno di mobil satunya dan juga duduk di kursi belakang pengemudi.
Ke dua mobil tersebut menuju ke arah yang berbeda dengan diikuti oleh bodyguard mereka.
Dua puluh menit kemudian Daddy Alvaro dan Benekditus sudah sampai di markas milik Daddy Brian yang sebelumnya milik Daddy Alvaro.
Daddy Alvaro dan Benekditus keluar dari mobil ketika pintu mobil di buka oleh anak buahnya Daddy Alvaro.
Tap
Tap
Tap
Tap
Terdengar suara sepatu pantofel saling bersahutan milik Daddy Alvaro dan Benekditus hingga mereka berada di ruangan di mana Valen dan Moko berada bersama putri kesayangan mereka siapa lagi kalau bukan Ririn.
Daddy Alvaro dan Benekditus melihat Ririn berbaring di ranjang sambil berteriak kesakitan namun suaranya tidak jelas karena lidahnya sudah di potong sedangkan Valen dan Moko berteriak kesakitan sambil memaki Clarisa yang jelas-jelas tidak bersalah.
"Clarisa si*lan, sudah ma ti masih saja membuat kami susah," ucap Valen dan Moko bersamaan.
xxxxxxx Adegan Mengandung Kekerasan Jangan Di Tiru dan Jika Tidak Suka Mohon Di Skip Terima kasih.
Sretttt
"Mpphhhtttt ..." teriak Ririn yang tidak bisa mengeluarkan suaranya.
Daddy Alvaro mengeluarkan pisau lipatnya dari saku celana panjangnya kemudian menggores wajah Ririn membuat Ririn hanya bisa mengeluarkan air mata dan berteriak kesakitan namun suaranya tidak jelas sedangkan ke Valen dan Moko sangat marah karena melihat Ririn di siksa kembali.
__ADS_1
"Apa yang kalian lakukan pada putriku?" tanya Valen dan Moko bersamaan.
"Jangan menyiksa putriku, lakukan sama Kami karena putriku tidak bersalah dalam hal ini." Ucap Valen yang tidak tega melihat Ririn tersiksa.
"Apa yang dikatakan istriku benar, semua ini adalah rencana Kami." Sambung Moko.
"Setiap kalian menjelekkan Clarisa ataupun keluargaku maka aku tidak segan-segan menyiksa putrimu," jawab Daddy Alvaro .
"Putri Kami tidak bersalah," ucap Valen dan Moko bersamaan.
"Kata siapa tidak bersalah? Ini hukuman yang pantas buat kalian bertiga," ucap Daddy Alvaro sambil tersenyum devil.
Sretttt
"Mpphhhtttt ..." ucap Ririn yang tidak bisa mengeluarkan suaranya.
Daddy Alvaro kembali menggores wajah Ririn membuat Ririn hanya bisa mengeluarkan air mata kembali dan berteriak kesakitan namun suaranya tidak jelas namun dalam hatinya sangat membenci sahabatnya Clarisa yang jelas-jelas adalah korban kejahatannya dan juga korban kejahatan orang tuanya.
"Benekditus, apakah kamu ingin melakukan sesuatu ke Mereka?" tanya Daddy Alvaro dengan nada santai karena Valen dan Moko diam namun dalam hatinya sangat membenci Clarisa dan Daddy Alvaro dalam waktu bersamaan.
"Tentu saja, karena gara - gara Mereka Kakak iparku, istri ponakanku dan keponakan yang aku sayangi terluka parah. Apalagi saat ini Kakak ipar dan ponakan ipar sedang hamil besar," jawab Benekditus dengan mata berubah menjadi merah tanda jiwa psychophat yang sudah lama tidur kini bangun.
Orang tua Ririn yang bernama Valen dan Moko sangat terkejut dengan perubahan sepasang mata Benekditus membuat mereka sangat ketakutan sedangkan Benekditus mengeluarkan pisau lipatnya dari saku celana panjangnya.
"Aku sangat heran dengan kalian berdua padahal Clarisa sangat baik dengan Kalian di tambah Kalian juga menguasai harta milik orang tua Clarisa tapi kenapa Kalian sangat membenci nya bahkan mencelakainya?" Tanya Benekditus tidak habis pikir.
"Karena orang tua Clarisa lebih kaya dari Kalian karena itulah Mereka melakukan berbagai cara untuk menguasai hartanya di antaranya membunuh orang tua Clarisa dan pura-pura mengangkat Clarisa sebagai putrinya." jawab Daddy Alvaro yang menjawab pertanyaan putranya.
"Maksud Daddy, Mereka yang membunuh orang tua Clarisa?" Tanya Benekditus dengan wajah terkejut.
"Betul sekali. Ririn yang tidak ingin Clarisa di angkat anak membuat Ririn meminta orang tuanya agar Clarisa dijadikan sahabatnya dan orang tuanya menyetujuinya asalkan putrinya senang." Jawab Daddy Alvaro.
"Darimana Tuan tahu?" Tanya Ririn dan Moko bersamaan dengan wajah terkejut begitu pula dengan Ririn sedangkan Benekditus sudah bisa menebak kalau Daddy Alvaro bisa tahu dari Mommy Felicia.
"Kalian tidak perlu tahu dari mana Aku bisa tahu." Jawab Daddy Alvaro.
Valen, Moko dan Ririn hanya bisa menahan amarahnya dan menahan rasa sakit yang teramat sangat akibat siksaan Daddy Alvaro, Benekditus dan anak buah Daddy Brian.
"Kalian bisa-bisanya meminta Clarisa untuk bercerai dengan suaminya padahal jelas-jelas di sini yang salah adalah Ririn tapi kalian seperti orang buta dan yang benar disalahkan dan yang salah dibenarkan," Ucap Daddy Alvaro setelah beberapa saat Mereka terdiam.
"Bukankah sebagai seorang sahabat seharusnya mengalah?" tanya Valen tanpa punya rasa bersalah sedikitpun.
"Mansion itu milik orang tua Clarisa jadi jangan pernah menganggap kalau mansion itu milik Kalian." Ucap Daddy Alvaro dengan tegas.
"Kalian menyuruh orang untuk merusak rem mobil dan mengakibatkan mobil yang di tumpangi orang tua Clarisa dan Clarisa mengalami kecelakaan. Akibat kecelakaan itu orang tua Clarisa meninggal di tempat sedangkan Clarisa kehilangan sebagian memorinya." Sambung Daddy Alvaro.
"Selain itu Kalian membawa Clarisa ke seseorang untuk menghipnotis Clarisa kalau orang tua Clarisa miskin dan mempunyai hutang banyak. Hal itu membuat Clarisa merasa hutang budi dengan Kalian." Sambung Daddy Alvaro sambil menatap tajam ke arah Mereka.
"Kalian," ucap Benekditus dengan nada kesal sambil berjalan ke arah Valen dan Ririn.
sretttt
''Akhhhhh..." teriak Valen ketika Benekditus menggores wajahnya dengan menggunakan pisau lipatnya.
Sretttt
"Mpphhhtttt..." Teriak Ririn tidak jelas ketika pisau tersebut menggores pipinya.
Sretttt
''Akhhhhh..." teriak Moko ketika Benekditus menggores wajahnya dengan menggunakan pisau lipatnya.
"Ini tidak sebanding dengan apa yang dirasakan oleh ke tiga orang yang aku sayangi terlebih Clarisa," ucap Benekditus yang sangat membenci Mereka sampai ke ubun - ubun.
"Mulutmu yang pedas kini tidak bisa lagi untuk memaki orang," sambung Benekditus.
Benekditus mencengkeram leher Valen agar terbuka mulutnya dan hal itu tidak disia-siakan oleh Benekditus.
Sretttt
"Akhhhhhhhh..." teriak Valen ketika lidahnya terpotong dan langsung putus.
Valen berteriak kesakitan sekaligus memaki tapi suaranya tidak terdengar membuat suaminya sangat marah.
"Cuih ...."
Benekditus mengusap wajahnya kemudian men lapnya ke pakaian Valen dan Ririn lalu mengarahkan tangan kirinya ke leher pria tersebut membuat pria tersebut berusaha memberontak hingga akhirnya pria tersebut membuka mulutnya karena kekurangan pasokan oksigen.
__ADS_1
Sretttt
"Akhhhhhhhh..." teriak Moko kesakitan yang teramat sangat.
Tanpa membuang waktu Benekditus memotong lidahnya membuat pria tersebut berteriak kesakitan. Kini Valen, Moko dan Ririn hanya bisa mengutuk dalam hati sambil menahan rasa sakit yang teramat sangat.
Jleb
Jleb
"Mpphhhtttt..."teriak Moko dan Valen tidak jelas.
'Si*l, kalau tahu begini aku tidak akan melakukan ini,' ucap Moko dan Valen dalam hati.
'Brengs*k ternyata Mereka berdua adalah psycophath. Kalau seandainya Aku tahu, Aku tidak akan mengusik Clarisa dan keluarga suaminya Clarisa. Sudah ma ti tapi membuat kami bertiga tersiksa seperti ini,' ucap Moko dalam hati.
Benekditus dengan sengaja menusuk pisau ke perut Moko dan Valen sebanyak satu kali hingga darah segar keluar dari perutnya. Rasa sakit yang teramat sangat dirasakan oleh Moko dan Valen.
"Bagaimana rasanya enak bukan? Ini tidak sebanding dengan apa yang kalian lakukan," ucap Benekditus.
Jleb
Jleb
"Mpphhhtttt..."
Moko berteriak kesakitan namun tidak jelas ketika ke dua bolanya dengan sengaja di tusuk oleh Benekditus membuatnya langsung buta seketika sedangkan istrinya dan Ririn hanya bisa berteriak tanpa mengeluarkan suara sedikitpun dan sekaligus tidak bisa melakukan apa-apa.
"Sudah cukup Benekditus?" tanya Daddy Alvaro .
"Aku rasa cukup membuat pria tidak tahu diri itu tidak bisa bicara dan buta," Jawab Benekditus dengan nada santai.
'Pria itu sangat menakutkan, kalau tahu begini aku tidak akan melakukannya," ucap Valen dan Ririn bersamaan dalam hati dan menyesali perbuatannya namun sayang sudah terlambat.
'Seandainya tahu begini aku tidak akan pernah mengusik Clarisa karena ternyata pria itu sangat menyeramkan. Clarisa, kenapa Kamu sudah ma ti membuat kami menderita? Apakah Kamu ingin kami menemani dirimu?" tanya Ririn dalam hati yang mengira Clarisa sudah meninggal dunia.
"Ok, kalau begitu Daddy ingin memotong ke dua tangannya untuk dijadikan santapan anak harimau 🐅 setelah itu Daddy ingin melukis tubuh wanita yang sangat jahat itu ," ucap Daddy Alvaro dengan nada santai sambil berjalan ke arah wanita tersebut.
Sretttt
"Mpphhhtttt..."
Sretttt
"Mpphhhtttt..."
Ke dua tangan Valen akhirnya putus kemudian Daddy Alvaro melempar potongan ke dua tangan Valen ke arah anak buahnya.
"Lemparkan potongan ke dua tangan wanita ini ke kandang harimau 🐅 untuk dijadikan santapan anak harimau 🐅." ucap Daddy Alvaro .
"Baik Tuan." jawab salah satu anak buahnya sambil mengambil dua potongan tangan yang ada di lantai kemudian pergi meninggalkan tempat tersebut.
"Ke dua tangan mu sudah tidak ada sekarang aku akan melukis tubuhmu dengan pisau," ucap Daddy Alvaro .
"Kalau begitu Aku juga akan melakukan hal yang sama ke wanita satunya lagi." Ucap Benekditus sambil berjalan ke arah Ririn.
'Aku mohon bunuh lah aku, aku tidak sanggup menahan rasa sakit ini,' mohon Valen dan Ririn namun suaranya tidak terdengar jelas.
"Walau suaramu tidak jelas tapi aku tahu kalau kamu ingin minta di bu nuh tapi sayang sekali aku masih suka menyiksamu sampai kamu ma ti dengan sendirinya," ucap Daddy Alvaro .
Daddy Alvaro merobek pakaian milik Valen hingga memperlihatkan dua bungkusan gunung kembar. Daddy Alvaro mulai melukis di tubuh wanita tersebut membuat wanita itu meringis menahan rasa sakit dan tidak berapa lama dirinya tidak merasakan sakit sedikitpun bersamaan dirinya tidak sadarkan diri.
Sedangkan Benekditus melakukan apa yang dilakukan oleh Daddy Alvaro yaitu memotong ke dua tangan Ririn membuat Ririn berteriak tidak jelas hingga beberapa saat dirinya tidak sadarkan diri. Benekditus tidak memperdulikannya kemudian melanjutkan kembali melukis di tubuh Ririn.
"Pingsan, sekarang ke siapa ya? Moko." ucap Daddy Alvaro sambil menepuk keningnya.
"Pria yang tidak punya rasa malu," celetuk Benekditus.
"Lebih baik tinggalkan Mereka saja, karena Brian dan cucuku Adelio yang akan melanjutkan hukuman ke tiga orang itu," ucap Daddy Alvaro yang tiba-tiba berubah pikiran.
"Baiklah, kalau begitu kita mandi dulu agar istri kita tidak mencium bau darah di tubuh kita," ucap Benekditus.
"Ok," jawab Daddy Alvaro singkat.
Daddy Alvaro dan Benekditus pergi meninggalkan tempat tersebut menuju ke ruang pribadi masing-masing untuk membersihkan tubuh mereka hingga lima belas menit kemudian tubuh mereka sudah segar dan harum tidak lagi tercium bau anyir darah.
Mereka berjalan ke arah garasi mobil, sebelum masuk ke dalam mobil Daddy Alvaro memerintahkan ketiga tawanannya dimasukkan ke dalam satu sel dan tidak diberikan makanan dan minuman.
__ADS_1
Kematian Valen, Moko dan Ririn kini di ujung tanduk karena darah Mereka tidak berhenti keluar belum lagi luka - luka di tubuh Mereka.