
"Selama ini aku ingin nonton film horor tapi aku takut jadi bisakah Kak Brian menemaniku menonton film horor?" Tanya Calista sambil tersenyum malu.
"Memangnya selama ini kamu nonton film horor sama siapa?" Tanya Brian tanpa menjawab pertanyaan Calista.
"Selama ini aku hanya mendengar suara musik yang sangat menyeramkan dari balik pintu kamarku karena saat itu aku tidak boleh menonton film horor." Jawab Calista dengan wajah sedih karena keluarganya sangat jahat terhadap dirinya.
"Kalau begitu Kakak akan menemanimu menonton film horor." Ucap Brian yang tidak tega melihat kesedihan Calista sambil berdiri.
Cup
Calista ikut berdiri kemudian mengecup pipi Brian singkat lalu berlari meninggalkan ruang makan.
"Terima kasih Kak, itu upah karena mau menemaniku menonton film horor." Ucap Calista sambil masih berlari.
Brian langsung diam membatu sambil memegangi pipinya yang baru saja di cium oleh Calista karena selama ini tidak ada yang berani mencium dirinya waktu Brian belum menyamar menjadi pria miskin karena sudah dihalangi oleh para bodyguardnya.
Sedangkan waktu Brian menjadi pria miskin, Brian melarang semua gadis dan wanita mencium pipinya. Hal itu dikarenakan pernah ada wanita yang berani menciumnya dan Brian langsung memaki gadis itu sambil menghapus bekas ciuman tersebut dengan sapu tangan yang dibawanya dan langsung membuang sapu tangan tersebut di wajah gadis tersebut.
Namun ketika Calista mencium pipinya Brian tidak marah malah membuat Brian tersenyum bahagia karena mendapatkan ciuman pertama walau hanya pipi.
Bagi Brian, Calista sangat menggemaskan dimatanya bersamaan dirinya menahan amarahnya secara bersamaan.
'Kakak akan melakukan apapun asalkan kamu bahagia dan mengenai mereka tenang saja Calista, besok mereka akan mendapatkan hukuman yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Penderitaan yang kamu alami akan di alami oleh mereka.' Ucap Brian dalam hati.
Brian berjalan menuju ke arah ruang keluarga di mana Calista sedang menunggu dirinya. Brian melihat Calista sedang menggonta-ganti Chanel televisi untuk mencari film horor.
"Kok tidak ada film horor ya Kak?" Tanya Calista dengan wajah lesu.
"Mungkin filmnya sudah habis." Jawab Brian sambil duduk di samping Calista.
"Padahal aku ingin sekali menonton horor dan kebetulan ada yang menemaniku nonton film horor." Ucap Calista dan tanpa sadar Calista menyandarkan kepalanya di bahu Brian.
Grep
Brian sempat terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Calista dan tanpa sadar tangan Brian memeluk bahu Calista.
"Kakak ada film horor." Ucap Brian.
"Benarkah?" Tanya Calista sambil mengangkat kepalanya kemudian menatap ke arah wajah tampan Brian.
"Tentu saja benar." Jawab Brian.
"Di mana kak film horor nya?" Tanya Calista sambil tersenyum bahagia.
"Ada di laptop milik Kakak." Jawab Brian tanpa sadar.
'Aduh aku lupa kalau akukan menyamar menjadi pria miskin, kira-kira Calista nanyain tidak ya?' Tanya Brian dalam hati ketika dirinya baru tersadar akan perkataannya.
"Laptopnya ada di mana?'' Tanya Calista.
"Ada di kamar Kakak." Jawab Brian.
'Untung tidak curiga kalau aku punya laptop.' Sambung Brian dalam hati.
Grep
"Ayo Kak, kita ke kamar Kakak." Ucap Calista sambil berdiri kemudian menarik tangan Brian.
"Ayo." Jawab Brian sambil membiarkan Calista memegang tangannya.
'Rejeki nomplok.' Sambung Brian dalam hati yang membiarkan Calista memegangi tangannya.
"Oh ya kamar Kak Brian di mana?" Tanya Calista setelah tersadar kalau dirinya tidak tahu kamar Brian.
Brian hanya menunjuk kamarnya sedangkan Calista hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Mereka berdua masuk ke dalam kamar Brian kemudian Calista dan Brian berjalan ke arah ranjang.
"Mau nonton di mana?" Tanya Brian sambil mengambil laptopnya kemudian diletakkan di ranjang.
"Terserah Kakak saja." Jawab Calista.
"Ok, kalau begitu kita nonton di ranjang." Ucap Brian sambil mencari film horor dan untungnya dirinya suka mengoleksi film horor hingga akhirnya Brian memperlihatkan salah satu film horor ke arah Calista lewat laptopnya.
Tanpa curiga sedikitpun Calista hanya menganggukkan kepalanya kemudian Calista berbaring dengan posisi tengkurap sedangkan Brian dengan posisi miring menghadap Calista. Brian melakukan itu agar dirinya bisa melihat wajah ketakutan Calista.
Awalnya Calista bersikap biasa saja namun ketika muncul gambar yang sangat mengerikan di tambah iringan musik menambah kesan horor membuat Calista berteriak saking takutnya.
"Akhhhhhhhh ..." Teriak Calista sambil memejamkan matanya dengan menggunakan ke dua tangannya.
"Kenapa berteriak? Itukan hantu bohongan." Ucap Brian sambil menutupi telinganya karena Calista berteriak dengan kencang.
"Serem tahu Kak." ucap Calista sambil memiringkan tubuhnya menghadap Brian.
Grep
__ADS_1
Jantung Calista berdetak kencang gara-gara melihat hantu di laptop milik Brian membuat Calista tanpa sadar memeluk tubuh Brian. Brian sangat terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Calista namun lima detik kemudian dirinya membalas pelukan Calista.
'Rejeki nomplok.' Ucap Brian dalam hati sambil tersenyum menyeringai.
Calista perlahan membuka matanya kemudian menatap ke arah laptop hingga beberapa saat muncul kembali wajah hantu yang memenuhi layar laptopnya.
Membuat Calista memeluk erat tubuh Brian dan tanpa sengaja bagian privasinya menyentuh wortel import milik Brian. Brian berusaha menahan diri untuk tidak melakukan hubungan suami istri karena dirinya tidak ingin merusak Calista.
Calista menghirup aroma tubuh Brian membuat Calista merasakan nyaman dan tanpa sadar Calista menggesek hidungnya ke tubuh Brian.
"Calista, apa yang kamu lakukan?" Tanya Brian sambil berusaha menahan hasratnya yang sudah mulai naik.
"Tubuh Kak Brian wangi dan membuatku sangat nyaman." Jawab Calista sambil masih menggesek hidungnya ke tubuh Brian.
"Stop, jangan lakukan itu." Pinta Brian sambil memejamkan matanya untuk menahan diri.
Sungguh Brian sangat tersiksa menahan ha x srat x nya namun demi gadis yang dicintainya dirinya rela melakukan apapun. Ya Brian sudah mulai mencintai Calista karena itulah dirinya tidak akan merusak Calista.
"Kena..." Ucapan Calista terpotong ketika mendengar suara merdu dari laptop milik Brian.
Brian dan Calista serempak menatap ke arah laptop di mana wanita berada di bawah sedangkan prianya berada di atas di mana di film tersebut tubuh mereka disatukan.
Pria tersebut menggerakkan pinggulnya secara berulang-ulang membuat wanita tersebut mengeluarkan suara merduanya dan terlihat jelas kalau wajah wanita tersebut terlihat menikmati.
"Apakah seenak itu?" Tanya Calista polos.
"Maksudnya?" Tanya Brian pura-pura tidak mengerti.
"Wanita itu berteriak tapi wajahnya seperti menikmati nya dan merem melek begitu pula dengan pria itu." Ucap Calista menjelaskan.
'Mau mencobanya?' Tanya Brian dengan suara berbisik di telinga Calista.
Cup
Calista memalingkan wajahnya ke arah Brian dan tanpa sengaja Calista mencium bibir Brian secara singkat.
Cup
Ketika Calista ingin menarik wajahnya bersamaan tangan Brian menahan tengkuk Calista kemudian Brian mencium bibir Calista lebih tepatnya me x lu x mat bibirnya.
Brian menaiki tubuh Calista sambil tangan kanannya melepaskan satu persatu kancing kemeja Calista sambil masih berciuman hingga beberapa saat kemudian Calista menepuk bahu Brian kalau dirinya kehabisan nafas.
Brian yang mengerti langsung melepaskan ciumannya kemudian berpindah ke leher mulus Calista dan memberikan tanda kepemilikan sedangkan Calista menghirup dan membuang udara sebanyak-banyaknya.
Brian tersenyum sambil membuka kaitan pembungkus dua gunung kembar milik Calista yang tadi sempat dinaikkan ke atas kemudian membuangnya secara asal.
Entah bagaimana kini ke duanya tidak menggunakan sehelai benang pun hingga akhirnya masuk ke permainan inti.
"Bolehkah aku masukkan?" Tanya Brian penuh harap.
"Tapi ..." Ucapan Calista terpotong oleh Brian.
"Kakak akan tanggung jawab terlebih Kakak sudah mulai mencintaimu." Ucap Brian yang akan menjadikan Calista sebagai istrinya.
"Aku ..." Ucap Calista dengan wajah bingung.
"Kakak gesek saja tanpa dimasukkan asal punya Kakak bisa keluar, bolehkah?" tanya Brian penuh harap.
Calista hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju tanpa mengetahui kalau itu bisa saja membahayakan dirinya yaitu kehilangan harta berharga yang selama ini di jaganya.
Brian tersenyum kemudian mulai menuntun tombak saktinya ke area depan goa milik Calista. Gesekan demi gesekan membuat Calista merem melek dan tidak bisa menahannya.
"Kak Brian, aku mohon masukkan." Mohon Calista.
"Kamu tidak menyesal?" Tanya Brian.
"Tidak, lakukanlah Kak." Pinta Calista yang ingin tubuh mereka disatukan.
"Baik." Jawab Brian singkat.
Brian mulai mencoba memasukkan tombak saktinya ke dalam goa milik Calista yang belum pernah terjamah. Di hentakkan pertama Brian gagal dan di hentakkan ke dua Calista meringis sambil mengeluarkan air matanya karena kepala tombak saktinya masuk ke dalam goa.
Hal itu membuat Brian menarik tombak saktinya kemudian kembali menggesek tombak saktinya ke arah pinggiran goa hingga beberapa saat tombak saktinya mengeluarkan laharnya.
Brian sengaja menumpahkan laharnya di perut Calista sambil tersenyum bahagia. Walau belum bisa melakukan hubungan suami istri bagi Brian sudah lebih dari cukup.
Brian menggulingkan tubuhnya ke arah samping kemudian membersihkan lahar yang ada di perut Calista dengan menggunakan tissue yang berada di atas meja dekat ranjang.
"Kak, aku belum ..." Ucap Calista menggantungkan kalimatnya karena dirinya sangat malu dan wajahnya memerah.
Brian yang mengerti kalimat selanjutnya membuat Brian memasukkan jari telunjuk setelah beberapa saat jari tengah ikut masuk dan di susul jari manis.
Calista menggoyangkan pinggulnya sambil mengeluarkan suara merdunya hingga Calista memeluk leher Brian dan diarahkan ke salah satu gunung kembarnya.
__ADS_1
Brian yang mengerti memasukkan mulutnya ke salah satu gunung kembar milik Calista tanpa melepaskan jari telunjuk, jari tengah dan jari manis masuk ke dalam bagian privasi milik Calista.
"Ahhhhhhhh..." Suara merdu keluar dari mulut Calista.
Calista mendapatkan pelepasan untuk pertama kalinya membuat Brian menarik ke tiga jarinya sambil tersenyum mendengar suara merdu Calista.
"Kak Brian, kenapa bekas punyaku di jilat?" Tanya Calista dengan wajah terkejut.
"Sangat gurih dan harum." Ucap Brian sambil menghirup jarinya tanpa ada rasa jijik sedikitpun.
"Tapi itukan menjijikkan." Ucap Calista.
"Bagi Kakak tidak menjijikan." Jawab Brian.
Tiba - tiba dirinya baru sadar kalau dirinya bukan siapa-siapa Brian membuat Calista menarik selimutnya untuk menutupi tubuh polosnya kemudian membelakangi Brian sambil terisak.
"Hiks ... Hiks ... Hiks ..."
Grep
Brian sangat terkejut melihat perubahan pada Calista membuat Brian memeluk tubuh Calista dari arah belakang.
"Ada apa?" Tanya Brian dengan nada lembut.
"Kita hampir saja melakukan hubungan suami istri dan aku seperti wanita mu x ra x han." Jawab Calista sambil mengeluarkan air matanya.
Calista sangat terpukul karena selama ini dirinya selalu menjaga kehormatannya. Mantan calon suaminya sampai meminta berciuman bahkan ingin melakukan hubungan suami istri selalu ditolaknya. Hingga akhirnya mantan calon suaminya selingkuh dengan adik tirinya bahkan mereka menikah.
"Kak Brian, aku akan pindah dari apartemen ini untuk melupakan apa yang telah terjadi." Sambung Calista sambil melepaskan pelukan Brian namun Brian tidak ingin melepaskan pelukannya.
"Kakak tidak pernah menganggap mu seperti wanita mu x ra x han karena Kakak sudah mulai mencintaimu. Maafkan Kakak, kalau Kakak tadi tidak bisa menahan diri." Ucap Brian sambil tetap memeluk Calista tanpa mau dilepaskan.
"Kamu jangan pergi dari apartemen ini karena Kakak tidak bisa jauh darimu." Sambung Brian dengan nada tulus.
Calista sangat terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Brian membuat Calista membalikkan badannya dan menatap wajah tampan Brian.
"Sejak kapan Kak Brian menyukai diriku? Apakah tidak terlalu cepat? Kita kan baru kenal, Kak Brian bohongkan?" tanya Calista beruntun.
"Sejak kamu merawat Kakak yang sedang sakit, Kakak ada perasaan nyaman dan kamu sangat tulus mau berteman dengan orang miskin seperti diriku." Ucap Brian dengan jujur.
"Kalau seandainya ada gadis yang merawat Kak Brian dan juga tulus berteman dengan Kak Brian, apakah Kak Brian juga akan mencintai gadis itu dan mengusir aku karena ada yang lebih baik dari Aku?" Tanya Calista sambil masih menatap wajah tampan Brian.
"Tentu tidak." Jawab Brian tegas tanpa banyak berpikir.
"Kenapa tidak?" Tanya Calista penasaran.
"Jika Kakak mencintai satu orang maka Kakak akan mencintainya seumur hidup Kakak. Jadi mana mungkin kalau Kakak mengusir gadis yang Kakak cintai." Jawab Brian sambil menatap wajah cantik Calista.
Calista ikut menatap Brian dan tidak ada kebohongan di matanya membuat wajah Calista memerah dan tersenyum malu.
Grep
Cup
Brian memeluk tubuh polos Calista kemudian mengecup pucuk kepala Calista.
"Mulai sekarang dan seterusnya kita menjadi pasangan kekasih. Kakak janji untuk selalu melindungi, menjaga dan kita tidak akan melakukan hubungan suami istri sebelum kita resmi menikah." Ucap Brian dengan nada tulus.
"Kamu juga mencintai Kakak kan?" Tanya Brian.
Calista hanya membalas pelukan Brian kemudian menganggukkan kepalanya sambil tersenyum bahagia.
"Apa yang membuat dirimu mencintai Kakak?" Tanya Brian.
"Ketika semua orang penghuni kontrakan memakiku dan merendahkan diriku hanya Kak Brian yang membelaku padahal di situ ada pemilik kontrakan. Di saat itu aku merasa di lindungi dan merasa nyaman dekat dengan Kak Brian. Memang ini terlalu cepat tapi jujur jika dekat dengan Kak Brian jantungku berdetak kencang dan aku ingin mengatakan kalau aku suka dengan Kak Brian tapi aku berusaha untuk menepis perasaan itu." Jawab Calista dengan jujur sambil memejamkan matanya karena dirinya sangat mengantuk.
"Jantung Kakak juga berdetak kencang jika dekat denganmu. Ternyata kita sama-sama ada perasaan suka. Kakak janji untuk selalu setia dan melindungi dari orang yang berniat jahat padamu." Ucap Brian.
Hening
"Calista." Panggil Brian.
Hening
Brian mendorong perlahan tubuh Calista dan ternyata Calista sudah tidur dengan pulas membuat Brian tersenyum.
'Kamu tidur dengan pulas tanpa ada rasa takut kalau aku akan berbuat jahat. Terima kasih kamu percaya padaku dan tenang saja besok mereka akan merasakan apa yang selama ini kamu rasakan.' Ucap Brian dalam hati.
Brian mengangkat selimutnya untuk masuk ke dalam selimut karena tubuhnya polos tanpa sehelai benangpun sama seperti Calista.
'Walau tubuh kita polos tanpa sehelai benangpun, aku tidak akan memakan dirimu karena aku sudah berjanji kita akan melakukan hubungan suami istri setelah kita resmi menikah.' Ucap Brian dalam hati.
'Terima kasih sudah mencintaiku apa adanya dan bukan ada apanya.' Sambung Brian dalam hati sambil memejamkan matanya.
__ADS_1
Tanpa memerlukan waktu lama Brian tidur dengan pulas dan saling berpelukan dan memberikan kehangatan masing-masing.