
Calista menghembuskan nafasnya dengan perlahan mendengar suara makian yang super pedas dari mulut para tetangga. Pemilik kontrakan yang melihat kejadian tersebut hanya diam dan tidak berani komentar karena mereka juga takut jika seandainya para tetangga memarahi dan mengusir pemilik kontrakan.
"Baik aku akan pergi dari sini tapi sebelum pergi aku akan mengemasi barang ku terlebih dahulu." Ucap Calista akhirnya.
"Tidak boleh! Lebih baik kamu pergi dari sini!" Usir salah satu tetangganya.
"Betul, lebih baik pergi!" teriak para tetangga lainnya.
"Ada apa ini?" Tanya Brian sambil berjalan ke arah Calista.
"Perempuan yang tidak malu ini, keluar dari kamar kak Brian dan kami mengusirnya." Jawab salah satu dari mereka menceritakan apa yang telah terjadi.
"Betul." Jawab mereka bersamaan.
Brian terdiam namun arah pandangan matanya ke arah Calista yang sedang menundukkan wajahnya.
'Tidak ada orang yang membelaku, pemilik kontrakan yang sudah tahu saja tidak perduli apalagi dengan Kak Brian.' Ucap Calista dalam hati.
'Tidak ada satupun yang tulus menyayangiku, sebaik apapun Aku melakukan tidak ada satupun yang perduli.' Sambung Calista dalam hati dengan mata berkaca-kaca.
'Calista kamu jangan bermimpi jika Kak Brian yang kamu tolong, mana mungkin membelamu karena kamu memang tidak pantas untuk di bela.' Ucap Calista dalam hati sambil memaki dan menutupi kebodohan dirinya sendiri.
__ADS_1
"Jika aku pergi dari sini tanpa membawa barang-barang milikku, bagaimana aku bisa mengganti pakaian? Lalu di mana aku tinggal? Karena uang dan pakaian milikku ada di kamar." Ucap Calista dengan mata masih berkaca-kaca.
Tes
Tes
Tes
Selesai mengatakan hal itu akhirnya air mata yang sejak tadi di tahannya akhirnya keluar juga.
"Tidak bisa, kamu harus pergi!" teriak salah satu tetangga tanpa punya rasa empati sedikitpun karena dirinya ingin Calista pergi begitu pula dengan yang lainnya.
Grep
'Maaf, aku terpaksa melakukan ini agar kamu tidak di hina lagi.' Bisik Brian.
Calista hanya diam sambil menganggukkan kepalanya tanda mengerti namun dalam hatinya yang paling dalam, dirinya sangat bahagia karena ternyata perkiraannya salah sedangkan Brian entah kenapa hatinya sangat sakit ketika Calista di maki oleh banyak orang.
Dirinya merasa berhutang budi karena Calista sudah menolong dirinya ketika dirinya sakit demam apalagi Calista di usir karena ada hubungannya dengan dirinya.
"Kak Brian, jangan membela wanita yang tidak malu itu." Ucap salah satu tetangganya sambil menahan amarahnya karena dirinya tergila-gila dengan Brian namun Brian selalu cuek padanya.
__ADS_1
"Justru yang tidak tahu malu itu kamu, sudah jelas-jelas aku menolak mu tapi kamu selalu datang ke tempat kontrakan ku dengan berbagai alasan." Ucap Brian sambil menatap tajam ke arah gadis tersebut.
"Kak Brian jahat." ucap tetangga tersebut sambil membalikkan badannya dan meninggalkan tempat tersebut menuju ke arah kontrakannya sambil menahan amarahnya terhadap Calista.
"Kalau dia memang adik sepupumu kenapa berada di dalam kamar kak Brian?" Tanya tetangga lainnya.
"Aku lagi demam dan adik sepupuku merawat ku. Jadi apakah salah adik sepupuku merawat Kakaknya yang sedang sakit?" Tanya Brian.
Brian tanpa sengaja melihat pakaiannya yang sudah di jemur oleh Calista membuat Brian menatap ke arah Calista.
'Kamu mencuci pakaian milikku?' Tanya Brian dengan suara berbisik agar tidak di dengar oleh yang lain.
'Iya, maaf kalau aku lancang.' Bisik Calista.
'Tidak, justru Kakak sangat senang dan terima kasih atas semuanya.' Jawab Brian sambil tersenyum untuk pertama kalinya.
Brian sangat bahagia karena baru kali ini dirinya bertemu dengan seorang gadis yang baru dikenalnya sangat baik dan perhatian pada dirinya.
"Karena adik sepupuku di usir maka aku sebagai Kakaknya juga akan pergi dari kontrakan ini." Ucap Brian setelah beberapa saat mereka terdiam dengan ucapan Brian.
"Maafkan aku, aku tidak tahu kalau kalian adalah saudara sepupu dan kuminta tetaplah tinggal di sini." Ucap salah satu tetangga yang merasa tidak rela jika pria tampan pergi dari kontrakannya.
__ADS_1
"Benar, maafkan aku juga." Jawab mereka bersamaan
"Tetaplah tinggal di sini." sambung yang lainnya.