
Adelio duduk di lantai kamar mandi tanpa memperdulikan pakaiannya yang basah sambil memangku Clarisa dengan posisi miring karena Adelio ingin melakukan bantuan nafas buatan.
Adelio menekan hidung kemudian mendekatkan bibirnya ke bibir Clarisa dan terkadang menekan dada Clarisa hingga berulang kali secara bergantian.
"Aku mohon sadarlah." mohon Adelio untuk pertama kalinya dirinya memohon.
"Uhuk .... Uhuk .... Uhuk ..."
Tidak berapa lama Clarisa mulai ter batuk-batuk membuat Adelio bernafas lega. Adelio bangun sambil menggendong Clarisa kemudian mendudukkan nya di lemari dekat kamar mandi.
Tangan kanan Adelio menahan tubuh Clarisa sedangkan tangan kirinya membuka lemari untuk mengambil jubah handuk bersamaan Clarisa membuka matanya.
"Kakak siapa?" tanya Clarisa dengan nada lirih.
"Adelio, pakailah jubah handuk biar kamu tidak masuk angin," jawab Adelio sambil memakaikan jubah handuknya.
"Dingin," ucap Clarisa dengan tubuh menggigil.
"Itu karena kamu terlalu lama berendam di bathtub," jawab Adelio sambil menggendong kembali tubuh Clarisa.
Adelio berjalan ke arah ranjang kemudian membaringkan tubuh Clarisa di ranjang dengan perlahan kemudian menyelimutinya dengan menggunakan selimut tebal.
Grep
"Mau kemana?" tanya Clarisa sambil menggenggam tangan Adelio.
"Pakaianku basah, aku pinjam jubah handuk mu ya." ucap Adelio sambil melepaskan genggaman tangan Clarisa.
Clarisa hanya menganggukkan kepalanya pikirannya belum begitu jernih siapa Adelio apakah pria baik atau jahat karena saat ini dirinya ingin berbagi kesedihan. Sedangkan Adelio membalikkan badannya menuju ke arah kamar mandi.
Clarisa tidak perduli jika pria itu jahat karena dirinya sudah merasa kotor melakukan hubungan suami istri bersama pria asing dan parahnya dirinya tidak mengenal siapa pria tersebut karena ketika kejadian tersebut suasana kamarnya sangat gelap dan tidak jelas hanya terdengar suara merdu dari mulut mereka berdua.
"Hiks .... Hiks .... Hiks ...." isak Clarisa ketika mengingat kejadian tersebut.
ceklek
Adelio keluar dari kamar mandi dan berjalan ke arah ranjang di mana Clarisa sedang berbaring sambil terisak.
"Ada apa?" tanya Adelio sambil duduk di sisi ranjang.
"Boleh aku memeluk kakak?" tanya Clarisa.
Adelio hanya menganggukkan kepalanya walau dirinya bingung kenapa Clarisa memintanya untuk memeluk dirinya. Clarisa bangun dari ranjang kemudian memeluk Adelio sambil terisak membuat Adelio membalas pelukan Clarisa dan membelai punggungnya. Setelah lima menit kemudian Clarisa melepaskan pelukannya begitu pula dengan Adelio.
__ADS_1
"Kenapa kamu ingin bunuh diri dengan berendam di dalam bathub?" tanya Adelio pura - pura tidak tahu.
'Apakah Clarisa tidak mengenaliku? Padahal kami melakukan hubungan suami istri sampai lima kali.' ucap Adelio dalam hati.
"Aku ..."ucap Clarisa menggantungkan kalimatnya dengan air mata kembali keluar.
Adelio mengarahkan ke dua tangannya ke pipi Clarisa kemudian menghapusnya dengan menggunakan ke dua ibu jarinya. Tiba - tiba Adelio menatap bibir Clarisa dan ingin melakukannya seperti tadi malam hingga pagi menjelang.
'Aku ingin melakukannya lagi.' ucap Adelio dalam hati.
Adelio yang tidak bisa menahan ha srat nya membuat Adelio mendekatkan wajahnya ke wajah Clarisa sedangkan Clarisa hanya diam karena pikirannya masih kosong.
Adelio mendorong tubuh Clarisa kemudian menarik jubah handuk milik Clarisa hingga terlihat tubuh polos Clarisa. Adelio mencium bibir Clarisa lebih tepatnya me x lu x mat x nya sambil tangan kanannya memainkan salah satu gunung kembar milik Clarisa sedangkan tangan kirinya menahannya.
Hal itu membuat Clarisa mengeluarkan suara merdunya dan terlarut dengan permainan Adelio. Hingga beberapa saat kemudian tubuh mereka disatukan, suara merdu keluar dari mulut mereka berdua hingga setengah jam kemudian keluarlah lahar dari tombak sakti milik Adelio.
Setelah beberapa saat Adelio menggulingkan tubuhnya ke arah samping kemudian memeluknya.Sedangkan Clarisa melepaskan pelukan Adelio lalu mengikat jubah handuk dan berusaha turun dari ranjang membuat Adelio menahan tangan Clarisa.
"Mau kemana?" tanya Adelio yang tidak ingin jauh dari Clarisa.
"Aku ingin pergi dari negara ini melupakan apa yang telah terjadi," jawab Clarisa sambil berusaha melepaskan tangan Adelio.
Bruk
Grep
"Ya," jawab Clarisa singkat sambil berusaha melepaskan pelukan Adelio.
"Aku akan bertanggung jawab untuk menikah denganmu," ucap Adelio tanpa melepaskan pelukannya.
"Sebelum kak Adelio, ada pria lain yang tidur denganku dan aku tidak tahu siapa pria itu." Ucap Clarisa dengan suara tercekat.
Adelio terdiam dan mendengarkan kalimat selanjutnya dari mulut Clarisa.
"Karena saat itu susananya gelap jadi Aku tidak tahu wajah pria itu. Jadi aku tidak pantas menikah dengan kak Adelio," jawab Clarisa dengan jujur dan matanya berkaca-kaca.
"Aku tidak perduli karena aku akan tetap menikah dengan mu," ucap Adelio.
'Maaf untuk sementara ini aku belum bisa mengatakan kalau akulah pria itu.' ucap Adelio dalam hati.
"Kak Adelio, bagiku menikah hanya cukup sekali seumur hidup karena aku tidak ingin setelah kita menikah ada kata perceraian dari mulut kita. Jadi sebelum memutuskannya pikirkan sekali lagi," ucap Clarisa.
"Tidak perlu berfikir, secepatnya kita menikah aku akan mengatakan ke orang tuaku untuk melamar dirimu di depan orang tuamu," ucap Adelio.
__ADS_1
Clarisa mendongakkan kepalanya ke atas untuk melihat wajah tampan Adelio.
"Kenapa kak Adelio mau menikah denganku? Kita baru saja kenal dan belum tahu sifat masing-masing apalagi harta berharga yang selama ini aku jaga di ambil oleh orang yang tidak aku kenal," ucap Clarisa dengan nada lirih namun terdengar jelas di telinga Adelio.
"Karena selama ini aku selalu mengagumi dirimu secara diam - diam dan baru sekarang ada keberanian untuk mengatakannya," jawab Adelio berbohong.
Krucuk krucuk krucuk
Clarisa yang ingin mengatakan sesuatu tiba - tiba perutnya bernyanyi membuat Clarisa menutupi wajahnya karena malu.
"Kenapa wajahnya di tutup? Malu ya karena cacingnya demo," goda Adelio.
Bugh
Clarisa memukul dada Adelio hal itu tentu saja membuat Adelio tertawa senang karena bisa menggoda Clarisa.
'Kenapa bersama Veni aku tidak bisa seperti ini? Padahal hubungan kami sudah satu bulan lebih sedangkan bersama Clarisa aku merasa nyaman dan melupakan kekesalan ku pada Veni. Perasaanku pada Veni juga menghilang digantikan dengan kehadiran Clarisa tapi apakah secepat itu ?' tanya Adelio dalam hati.
"Aku ingin memasak lapar," ucap Clarisa.
"Memang bisa memasak? Bukannya tinggal menyuruh pelayan untuk memasak ?" tanya Adelio tidak percaya pasalnya pernah Adelio meminta Veni untuk memasak namun Veni mengatakan tidak suka memasak lebih suka membeli makanan matang.
"Bisa dong," jawab Clarisa.
"Tapi tubuhmu masih lemah jadi lebih baik untuk kali ini Aku yang memasak tapi lain kali kamu yang memasak," ucap Adelio.
"Memang bisa memasak?" tanya Clarisa tidak percaya karena jarang cowok bisa memasak.
"Bisa dong, kan aku pernah berkerja sebagai koki di cafe tapi seminggu ini bekerja sebagai sopir taksi.'' Jawab Adelio sambil melepaskan pelukannya kemudian menarik dagu Clarisa agar menatap ke arahnya.
'Aku ingin tahu apa jawabanmu? tanya Adelio dalam hati.
"Wah enak dong," jawab Clarisa.
"Enak kenapa?" tanya Adelio dengan wajah terkejut.
"Aku bisa belajar masakan lain jadi menunya bisa ganti - ganti," jawab Clarisa sambil tersenyum melupakan apa yang telah terjadi.
'Waktu Aku bertanya sama Ririn, Ririn hanya diam sambil tersenyum tanpa mengeluarkan suara sedikitpun namun terlihat jelas wajah kecewanya. Waktu itu Aku tidak memperdulikannya yang penting Kami saling suka.' Ucap Adelio dalam hati.
'Sekarang Aku sadar ternyata itu hanya sekedar suka bukan karena cinta seperti yang Aku rasakan sekarang. Apalagi Aku sangat nyaman bersama Clarisa daripada bersama Ririn.' Sambung Adelio dalam hati.
'Kenapa dulu aku tidak bertemu denganmu? Terlebih aku merasa nyaman denganmu.' Sambung Adelio dalam hati.
__ADS_1