
"Ketagihan kalau tidak bertemu dengan Clarisa," jawab Adelio terpaksa berbohong.
Clarisa yang mendengar ucapan Adelio langsung menundukkan kepalanya karena malu sekaligus bahagia.
"Sepertinya besok saja kita menikahkan mereka berdua," ucap mommy Calista.
"Daddy juga setuju mom," jawab daddy Brian.
"Baiklah, sekarang kita makan dan nanti kalian pergilah untuk membeli cincin pernikahan sekalian ke butik untuk memilih gaun untuk pernikahan," ucap mommy Calista.
"Sekalian hubungi keluargamu kalau kamu akan menikah dengan putraku," sambung Daddy Brian.
"Baik mom, dad," jawab Clarisa sambil tersenyum bahagia karena mommy Calista dan Daddy Brian setuju dengan hubungan mereka.
"Sekarang kita makan dulu," ucap mommy Calista sambil memeluk Clarisa dari arah samping dengan nada lembut.
"Padahal biasanya Daddy yang di peluk dari arah samping tapi kenapa sekarang yang di peluk calon menantu?'' tanya daddy Brian dengan nada protes.
"Padahal Adelio ingin memeluk Clarisa tapi Mommy sudah memeluk duluan," ucap Adelio dengan wajah di tekuk.
"Kamu jangan ke sini setiap hari," ucap Daddy Brian.
"Kalau begitu aku tidak ke sini setiap hari," ucap Adelio.
Mereka berdua berbicara secara bersamaan namun kata - katanya hampir mirip sedangkan sang pelaku siapa lagi kalau bukan mommy Calista yang mendengar ucapan suami dan putranya hanya tersenyum begitu pula dengan Clarisa.
Daddy Brian menarik kursi kemudian mommy Calista duduk begitu pula dengan Adelio. Kini mereka makan bersama hingga lima belas menit kemudian mereka sudah selesai makan dan minum.
Seperti yang dikatakan oleh mommy Calista Adelio dan Clarisa pergi meninggalkan mansion tapi sebelumnya mereka berpamitan dengan Daddy Brian dan mommy Calista menuju ke mall milik keluarganya untuk membeli cincin pernikahan.
*****
Di negara yang berbeda Ririn baru sampai di bandara dan di sambut oleh asistennya yang sejak tadi menunggunya.
"Bukannya nona syuting besok sabtu?" tanya asistennya.
"Memang benar tapi aku ingin jalan - jalan," ucap Ririn.
"Oh ya nona, nona di undang sutradara untuk datang dalam acara pertemuan para penggemar," ucap asistennya tersebut.
"Ok jam berapa dan pestanya di mana?" tanya Ririn sambil masuk ke dalam mobil dengan angkuhnya.
"Jam sembilan malam dan pestanya berada di aula hotel 🏨 xxxx," ucap asistennya.
"Baiklah aku akan datang," Jawab Ririn.
Jam sembilan malam Ririn sudah berada di aula hotel 🏨 xxxx banyak para artis, aktor, produser, sutradara dan semua kru film berkumpul di pesta tersebut.
Dua pasang mata menatap Ririn tanpa berkedip karena di antara semua para artis, Ririn yang paling menonjol yaitu wajahnya yang sangat cantik dan seksi membuat dua orang tersebut saling berbisik.
Setelah dikatakan sepakat salah satu dari mereka menjentikkan ke arah pelayan dan pelayan tersebut mengerti kode tersebut.
"Maaf nona, silahkan minum anggur 🍷 ini," ucap pelayan tersebut mendekati Ririn.
"Aku juga mau anggur itu," ucap temannya Ririn sambil merebutnya dan langsung meminumnya dengan cepat.
"Tolong ambilkan aku anggur 🍷.'' ucap Ririn dengan nada merendah tapi sorotan matanya tajam sambil mencengkram ke dua tangannya dengan erat menahan amarahnya terhadap wanita tersebut.
'Dia selalu mencari masalah denganku, awas saja akan aku balas kamu.' ucap Ririn dalam hati.
'Apa yang menjadi milikmu akan Aku rebut termasuk minuman tadi. Sayang kekasihnya miskin kalau kaya sudah Aku rebut juga," ucap gadis tersebut dalam hati sambil tersenyum menyeringai ke arah Ririn.
Pelayan itupun pergi meninggalkan ruang pesta tersebut sambil menahan amarah terhadap gadis tersebut yang telah menggagalkan rencananya yang diperintahkan oleh bosnya.
Pelayan itupun mengambil gelas baru dan mengisi kembali anggur 🍷 merah yang terkenal sangat mahal kemudian memasukkan sesuatu ke dalam minuman tersebut.
"Rencana ini harus berhasil," ucap pelayan tersebut.
Pelayan itu pun pergi ke ruangan pesta dan berjalan ke arah Ririn namun lagi - lagi seorang artis mengambil anggur 🍷 tersebut membuat pelayan tersebut menahan amarahnya kembali karena dirinya tidak mungkin marah di depan gadis tersebut.
"Bagaimana nih? Sudah dua kali pelayan itu gagal," ucap pria pertama.
"Ke dua gadis itu tahu kalau anggur yang dikeluarkan oleh pelayan itu sangat mahal dari pada anggur yang ada di pesta ini," jawab teman satunya.
"Aku ada ide," ucap pria pertama.
"Ide apa?" tanya pria ke dua.
Pria pertama membisikkan sesuatu ke temannya sedangkan temannya yang sudah mendengarkan bisikan temannya langsung tersenyum bahagia karena idenya sangat bagus.
"Bagus tidak ide ku?" tanya pria pertama.
"Bagus banget," jawab pria ke dua sambil tersenyum mesum.
Pria pertama menjentikkan jarinya dua kali kemudian dua anak buahnya datang menemui dirinya. Pria pertama membisikkan sesuatu ke anak buah pertama setelah mengatakan sesuatu anak buah pertama pergi ke arah asisten Ririn kemudian menarik tangannya dengan pelan.
Sedangkan pria pertama membisikkan sesuatu ke telinga anak buahnya yang ke dua sedangkan anak buahnya hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Maaf nona, sutradara Toni ingin nona Ririn untuk datang ke kamar nomer 808 untuk membicarakan pemeran utama wanita," ucap pria tersebut dengan suara pelan agar tidak terdengar orang lain.
"Baik, saya akan sampaikan," jawab asisten tersebut.
"Aku tunggu," jawab orang tersebut.
"Ok," jawab asisten tersebut.
Asisten tersebut berjalan mendekati Ririn kemudian membisikkan sesuatu. Ririn hanya menganggukkan kepalanya kemudian berjalan mengikuti pria tersebut.
Ririn berjalan menuju ke arah lift dan pria tersebut menekan tombol paling atas dan tidak berapa pintu lift terbuka barulah mereka masuk ke dalam kotak persegi empat tersebut.
__ADS_1
Singkat cerita kini mereka sudah tiba di depan pintu kamar nomer 808, pria tersebut mengetuk pintu sebanyak tiga kali.
"Masuk," ucap pria dari dalam.
Ceklek.
Pria tersebut membuka pintu dengan lebar kemudian Ririn berjalan dengan angkuh masuk ke dalam kamar tersebut tanpa curiga sedikitpun.
Setelah Ririn masuk ke dalam pria tersebut menutup pintu dengan rapat hingga terdengar suara klik tanda pintu itu otomatis terkunci.
Ririn berjalan hingga dirinya melihat dua pria gendut, jelek dan botak di mana mereka adalah sutradara film dan satunya lagi adalah CEO di perusahaan yang mendanai film kakaknya. Mereka adalah kakak beradik sedang duduk di sofa dekat ranjang.
"Nona Ririn silahkan duduk," ucap sutradara.
Tanpa mengeluarkan sepatah katapun Ririn berjalan ke arah sofa hingga Ririn duduk dengan angkuh. Ririn duduk saling berhadapan yang hanya di batasi oleh meja membuat dua sutradara tersebut berusaha menahan amarahnya karena mereka tahu sikap Ririn yang terkenal dengan sifat sombong, angkuh dan sering bertengkar serta semena - mena dengan para artis yunior.
"Ada apa Tuan - Tuan?"tanya Ririn tanpa basa basi.
"Kami berencana ingin menjadikan dirimu sebagai bintang utama dalam film terbaru kami yang akan di rilis empat bulan lagi, apakah kamu bersedia?" tanya sutradara tersebut sambil mengambil gelas yang berisi anggur begitu pula dengan adiknya.
"Benarkah? Tentu saja aku setuju," jawab Ririn sambil tersenyum bahagia.
"Kalau begitu sebagai kerjasama kita maka mari kita bersulang," ucap sutradara film tersebut.
"Ok," jawab Ririn singkat.
Tanpa curiga sedikitpun Ririn mengambil gelas tersebut yang berada di meja kemudian mereka bersulang. Ke tiga orang tersebut meminum gelas tersebut hingga habis tanpa sisa sedikitpun kemudian sutradara film tersebut menuangkan kembali minuman anggur.
"Maaf tuan, saya hanya bisa minum dua gelas saja," ucap Ririn.
Di gelas ke dua mereka meminum tapi ketika sutradara film tersebut ingin menuangkan kembali Ririn menolaknya.
"Ok," jawab sutradara film tersebut sambil tersenyum menyeringai.
"Kalau begitu Aku boleh keluar?" tanya Ririn.
"Silahkan," jawab sutradara film tersebut sambil tersenyum devil begitu pula dengan saudaranya.
Ririn langsung turun dari sofa dan berjalan ke arah pintu kamar hotel. Tanpa sepengetahuan Ririn ke dua pria tersebut melepaskan satu persatu pakaiannya.
Ceklek
Ceklek
Ceklek
"Tuan kenapa pintu kamarnya di kunci?" tanya Ririn sambil masih menggenggam gagang pintu untuk membukanya.
"Ops ... lupa kalau pintu itu sudah terkunci," ucap sutradara tersebut sambil membuka segi tiga bermuda yang terakhir dan kini tubuhnya polos tanpa sehelai benangpun sama seperti adiknya.
"Maksud tuan, a ...." ucapan Ririn terhenti ketika Ririn memalingkan wajahnya ke arah samping di mana ke dua pria tersebut polos tanpa sehelai benangpun membuat wajah Ririn pucat.
"Menurut mu jika dua pria dan satu wanita dalam satu kamar, mau ngapain kalau bukan melakukan yang enak - enak," jawab pria tersebut.
Brak brak brak
"Kalian gi*a ..... Tolong ..... Tolong...." teriak Ririn sambil menggedor pintu kamar.
"Teriak lah sepuasnya karena kamar ini kedap suara jadi orang luar tidak mendengar suara teriakan mu," ucap sutradara film tersebut.
Ke dua pria tersebut hanya berdiri memperhatikan Ririn yang sedang berusaha membuka pintu dan terkadang menendang pintu tapi usahanya sia - sia saja dan tidak ada orang yang tahu dan pintu masih tetap tertutup.
'Si*l, Aku menjebak sahabatku dengan Adelio tapi kenapa aku juga di jebak oleh dua pria jelek, botak dan gendut? Lebih baik sama Adelio dari pada sama mereka berdua, apakah ini karma ku?' tanya Ririn dalam hati.
'Tidak .... Tidak aku tidak percaya dengan adanya karma," sambung Ririn dalam hati sambil berusaha menendang pintu tersebut yang tidak punya salah apa-apa.
"Aduh si*l kenapa tubuhku panas?" tanya Ririn sambil mengipasi wajahnya.
"Anggur 🍷 yang kamu minum sudah aku campur dengan obat perang sang," jawab sutradara tersebut.
"Kenapa kalian lakukan ini padaku? Aku tidak pernah merugikan kalian berdua?" tanya Ririn sambil menggigit bibir bawahnya agar dirinya sadar.
"Memang benar, tapi kami ingin merasakan nikmatnya ber cin ta dengan mu karena yang kami dengar kamu masih menjaga kehormatan mu," ucap sutradara tersebut.
"Sudahlah kak, aku tidak sabar ingin merasakan tubuhnya," ucap adiknya.
"Baik, tapi sesuai perjanjian aku pertama kali yang merasakan tubuhnya dan mengambil kehormatannya," ucap kakaknya.
"Ok," jawab adiknya singkat.
Ririn yang tidak bisa menahan lagi mulai membuka gaun pesta miliknya membuat ke dua pria tersebut langsung diam sambil memperhatikan Ririn.
Ririn berjalan ke arah ranjang sambil membuang asal gaun pesta tersebut kemudian melanjutkan membuka bungkusan yang menutupi dua gunung kembarnya.
sretttt
Adiknya yang tidak sabar menarik segi tiga bermuda milik Ririn hingga tubuh Ririn polos tanpa sehelai benangpun kemudian mendorong tubuh Ririn ke arah sutradara tersebut.
Bruk
Grep
Tubuh Ririn menabrak tubuh sutradara tersebut membuat sutradara tersebut menahannya agar tidak terjatuh.
Adik nya langsung mengangkat tubuh Ririn agar duduk di pangkuan kakak kandungnya membuat Ririn membalas pelukannya.
Jleb
"Akhhhhh...Sakitttt....." teriak Ririn kesakitan.
__ADS_1
Kakaknya langsung mengarahkan tombak saktinya ke arah goa yang masih sempit di hentakkan pertama gagal namun kakaknya tidak menyerah di hentakkan ke tiga barulah berhasil bersamaan Ririn menjerit kesakitan.
"Kakak beruntung dapat yang pertama," ucap adiknya sambil memainkan dua gunung kembar milik Ririn.
"Kamu kan bisa lewat belakang," ucap kakaknya dengan nada santai.
"Ahhhhhhh... Kakak ku memang pintar," ucap adiknya.
jleb
"Akhhhhh...Sakitttt....." teriak Ririn kesakitan lagi.
Antara sakit dan pengaruh obat perang sang dosis tinggi secara bersamaan lama - lama teriakan kesakitan berubah menjadi suara merdu.
"Kita main sampai kita lelah setelah itu lanjut lagi sampai kita benar - benar bosan," ucap kakaknya sambil menggoyangkan pinggulnya secara berulang-ulang sekaligus menikmati jepitan Ririn.
"Iya kak," jawab adiknya sambil menggoyangkan pinggulnya secara berulang-ulang sekaligus menikmati jepitan Ririn walau itu menggunakan lubang a x nus.
Hampir satu jam akhirnya mereka sama - sama mendapatkan pelepasan membuat ke dua pria tersebut dengan sengaja memasukkannya ke dalam sedangkan Ririn memejamkan matanya karena tubuhnya sangat lelah.
Dua pria tersebut menidurkan Ririn di ranjang sedangkan kakak beradik tersebut berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang lengket.
Setelah lima belas menit ke duanya keluar dari kamar mandi dan berbaring di ranjang sisi kiri dan kanan Ririn yang sudah tidur dengan pulas tanpa menggunakan sehelai benangpun hanya ditutupi selimut.
Belum ada dua jam Ririn terbangun dan ingin melakukannya kembali begitu pula dengan ke dua kakak beradik tersebut. Mereka kembali melanjutkan kembali hubungan suami istri hingga 5 ronde barulah mereka istirahat karena tubuh mereka sama-sama lelah.
****
Malam menjelang pagi dan pagi menjelang siang tepatnya pukul sebelas siang perlahan Ririn membuka matanya dan merasakan tubuhnya sakit semua seperti habis di pukuli sepuluh orang lebih.
"Tubuhku sakit sekali, aku di mana?" tanya Ririn sambil melihat sekeliling kamar.
Kamar yang sangat luas hingga dirinya berusaha mengingat apa yang terjadi.
"Jangan - jangan .... Tidak .... Tidak .... Aku harap hanya mimpi," ucap Ririn sambil perlahan membuka selimutnya.
Deg
Jantung Ririn berdetak kencang ketika melihat tubuhnya polos tanpa sehelai benangpun di tambah banyaknya totol - totol di tubuhnya.
"Tidak!!!!!! Kenapa harta yang aku jaga selama ini di ambil oleh mereka? Kenapa Aku menjebak sahabatku dengan kekasihku tapi kenapa Aku juga di jebak? Kenapa??? Clarisa, Aku tahu ini pasti ulah mu yang menyuruh orang untuk melakukan ini padaku," ucap Ririn sambil menahan amarahnya terhadap sahabatnya yang tidak berbuat salah.
"Tunggu saja pembalasanku," sambung Ririn sambil berusaha turun dari ranjang.
"Aku harus pergi dari sini sebelum mereka datang," ucap Ririn.
Bruk
"Akhhhhhhhh," teriak Ririn kesakitan.
Ketika ke dua kaki Ririn turun dari ranjang dan hendak berjalan tiba - tiba tubuhnya ambruk ke lantai.
ceklek
Salah satu pria membuka pintu dengan lebar dan seorang pria lainnya masuk ke dalam dengan di ikuti pria yang tadi membuka pintu.
"Terima kasih sayang, karena sudah memberikan harta berharga mu untuk ku," ucap sutradara tersebut.
Pagi - pagi ke dua pria tersebut bangun karena menyelesaikan urusan masing - masing. Selesai mandi dan berpakaian mereka meninggalkan Ririn sendirian di kamarnya namun pintunya di kunci agar Ririn tidak kabur dari kamar mereka.
"Dasar brengs*k kalian berdua, Aku akan menuntut kalian karena telah berani mengambil harta yang selama ini aku jaga," ancam Ririn sambil menarik selimutnya untuk menutupi tubuh polosnya.
"Silahkan saja tapi sebelum itu terjadi, kami akan mengundang semua anak buah ku untuk melakukannya secara bergiliran," ancam sutradara tersebut sambil tersenyum devil sambil melepaskan satu persatu pakaiannya hingga polos begitu pula dengan adik kandungnya.
"Dasar kamu gi*a!!!" teriak Ririn.
Plak
"Jangan pernah berteriak jika kamu tidak ingin di siksa," ancam sutradara tersebut kemudian menampar pipi mulus Ririn.
Sutradara tersebut menarik tangan Ririn kemudian di dorong ke arah ranjang hingga jatuh ter len tang kemudian sutradara tersebut menaiki tubuh Ririn.
Jleb
"Akhhhhh...Sakitttt....." teriak Ririn kesakitan.
Tanpa melakukan pemanasan terlebih dahulu sutradara tersebut melakukan hubungan suami istri hingga setengah jam kemudian pria tersebut menarik tombak saktinya karena laharnya sudah keluar dan berlanjut ke adiknya.
Teriak kan kesakitan tidak dipedulikan oleh ke dua pria tersebut hingga Ririn tidak sadarkan diri.
******
Di negara yang berbeda di mana Paman dan Tantenya Clarisa menghadiri pernikahan Clarisa dengan Adelio. Untuk orang tua Ririn tidak bisa datang karena masih sibuk mengurus bisnisnya.
Acara pesta dilaksanakan secara meriah dan mewah membuat Paman dan Tantenya Clarisa sangat bangga karena Clarisa mendapatkan laki - laki yang sangat kaya.
Orang tua Adelio mengundang beberapa stasiun televisi untuk meliput acara pernikahan Adelio dengan Clarisa dan banyak gadis dan para wanita sangat iri dengan Clarisa karena mendapatkan laki - laki kaya di tambah sangat tampan.
"Darling terima kasih atas semua yang darling lakukan untukku," ucap Clarisa sambil memeluk suaminya dari arah samping.
"Sama-sama sayang, aku sangat bahagia bisa menikah wanita sebaik dirimu," ucap Adelio.
"Terlebih diriku, aku lebih sangat bahagia karena bisa menikah dengan pria sebaik dirimu," ucap Clarisa sambil tersenyum bahagia.
"Ehem ... " ucap Daddy Brian berupa deheman.
"Daddy," panggil Adelio dan Clarisa serempak.
"Clarisa sepertinya lelah, kalian istirahat saja di kamar," ucap Daddy Brian.
__ADS_1
"Tapi tamu undangan bagaimana, Dad?" tanya Clarisa tidak enak hati.