
"Kamu saja kaget apalagi Kakak," ucap Daddy Brian dengan nada santai.
"Apakah Kakak senang kalau Kakak ipar hamil lagi?" tanya Benediktus.
"Tentu saja senang, Adelio sudah menikah sedangkan Adelia sering pergi ke luar negri mengurus perusahaan yang ada di luar negri. Mansion yang besar hanya ada Kakak dan Kakak Ipar membuat kami kesepian kalau anak kami lahir tentu mansion tidak akan sepi lagi," ucap Daddy Brian menjelaskan.
"Benediktus senang saja punya ponakan lagi tapi Benediktus tidak bisa membayangkan di usia Adelio dan Adelia yang sudah berumur dua puluh tujuh tahun akan mempunyai adik yang masih bayi. Jika Adelio dan Adelia menggendongnya orang akan mengira itu anak Adelio dengan Clarisa," ucap Benediktus sambil memijat keningnya yang tidak pusing.
"Tidak apa - apa dan untung saja Kakak masih terlihat muda walau usia Kakak sudah empat puluh lima tahun tapi terlihat seperti umur dua puluh lima tahun," ucap Daddy Brian dengan bangga.
Ketika Benediktus ingin menjawab tiba-tiba ponselnya berdering sekali tanda ada pesan masuk. Benediktus mengambil ponselnya kemudian membaca pesan tersebut.
"Maaf Kak, Istriku kirim pesan untuk minta di jemput di bandara." ucap Benediktus.
"Ok, hati-hati di jalan dan salam buat adik ipar." Ucap Daddy Brian.
"Terima kasih Kak, salam juga buat Kakak ipar dan ke dua ponakanku. Semoga Clarisa cepat sembuh." Ucap Benediktus.
"Ok. Terima kasih." Jawab Daddy Brian.
Benekditus berjalan meninggalkan rumah sakit tanpa memperdulikan tatapan para gadis dan wanita karena Benediktus sangat mencintai istrinya.
Sedangkan Daddy Brian berjalan ke ruang perawatan bersamaan kedatangan Adelio.
"Paman Benediktus kemana Dad?" Tanya Adelio sambil mengikuti langkah Daddy Brian.
"Jemput istrinya di bandara." Jawab Daddy Brian.
Adelio hanya menganggukkan kepalanya hingga di depan pintu Adelio membuka pintu dengan lebar kemudian Daddy Brian masuk ke dalam ruang perawatan diikuti oleh Adelio.
__ADS_1
Ke dua pria tampan tersebut berjalan ke arah Mommy Calista yang sedang berbaring dan melihat Adelio sedang duduk di kursi samping istrinya sambil menggenggam tangan istrinya.
"Bagaimana keadaan Mommy?" Tanya Daddy Brian dan Adelio bersamaan ketika melihat Mommy Calista membuka matanya.
"Sedikit pegal, Mommy tadi pingsan kenapa Dad? Apakah Mommy sakit?" tanya Mommy Calista.
"Mommy tidak sakit tapi Mommy hamil," ucap Daddy Brian menjelaskan.
"Mommy hamil?" tanya Mommy Calista dengan wajah terkejut sambil mengusap perutnya yang masih rata.
"Benar Mom, nanti pas lahiran kemungkinan bisa bareng dengan menantu kita," jawab Daddy Brian.
"Kalau bareng berarti Adelia mempunyai adik bayi dan ponakan kecil sedangkan Adelio mempunyai bayi mungil dan adik mungil. Jika kelak mereka sudah bisa jalan dan berbicara anaknya Adelio memanggil anak kita dengan sebutan Tante atau Paman padahal usianya sama," ucap Daddy Brian.
Adelio hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju karena itu memang benar adanya tanpa melepaskan pandangannya ke arah istrinya yang masih setia memejamkan matanya.
"Suka Mom," jawab Adelio.
"Syukurlah nanti setelah Mommy lahiran, Mommy berencana untuk steril," ucap Mommy Calista.
"Memangnya kenapa Mom?" tanya Daddy Brian dan Adelio serempak.
"Usia Mommy sudah sudah tua dan tidak lucu kalau Mommy hamil lagi," jawab Mommy Calista sambil tersenyum.
"Tapi Daddy sangat suka jika mansion kita ramai dengan anak," ucap Daddy Brian yang sangat suka anak-anak.
"Mommy juga ingin Dad, tapi usia Mommy sudah tua apalagi sebentar lagi kita akan mempunyai cucu. Kalau anak - anak kita datang membawa pasangan masing-masing sambil membawa anak-anak masing - masing pasti akan ramai," ucap Mommy Calista.
"Benar kata Mommy, Dad," ucap Adelio.
__ADS_1
"Apalagi kalau usia semakin bertambah tua terlalu beresiko jika mempunyai anak," sambung Adelio.
"Apa yang dikatakan Adelio benar karena Mommy pernah mendengar usia yang semakin bertambah tua bisa membahayakan nyawa Mommy jika Mommy hamil lagi," ucap Mommy Calista berusaha menasehati suaminya.
"Kalau begitu, Daddy setuju karena Daddy tidak mau kehilangan Mommy," jawab Daddy Brian.
"Terima kasih Dad," ucap Mommy Calista.
"Terima kasih untuk apa?" tanya Daddy Brian.
"Terima kasih karena Daddy setuju kalau Mommy di steril," jawab Mommy Calista.
"Karena Daddy sangat sayang sama Mommy dan Daddy tidak ingin terjadi sesuatu dengan Mommy," ucap Daddy Brian yang sangat mencintai istrinya.
Mommy Calista tersenyum mendengar ucapan suaminya yang sangat tulus mencintai dirinya. Daddy Brian bersedia kehilangan hartanya asalkan dirinya tidak kehilangan istri dan anak-anaknya yang sangat disayanginya.
"Oh ya, Mommy ingin tahu usia kandungan anak kita Dad," pinta Mommy Calista.
"Mommy sudah kuat? Kalau kuat Daddy akan mengambil kursi roda agar kita periksa ke dokter kandungan," ucap Daddy Brian.
"Kuat Dad," jawab Mommy Calista.
"Kalau begitu, Daddy akan ambil kursi roda." Ucap Daddy Brian.
"Ok." Jawab Mommy Calista.
Daddy Brian pergi meninggalkan ruang perawatan bersamaan Clarisa perlahan membuka matanya.
"Aku ada di mana?" Tanya Clarisa sambil memijat keningnya yang masih pusing.
__ADS_1